Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Hari Ulang Tahun


__ADS_3

Malam itu bulan bersinar terang seolah memberi selamat pada mama Adit yang sedang berulang tahun. Pesta yang hanya didatangi orang orang terdekat itu tampak menyebarkan kebahagiaan pada setiap mereka yang datang.


Adit menghampiri mamanya setelah ia meninggalkan Ana di kamarnya.


"Kamu sendirian? Ana mana?" tanya mama Siska.


"Ana lagi nggak enak badan ma, dia istirahat di kamar Adit," jawab Adit.


"Apa perlu kita bawa ke rumah sakit?"


"Dia cuma butuh istirahat aja kok ma, ayo kita mulai tiup lilinnya!"


Acarapun dimulai dengan meniup lilin dan memotong kue. Satu potong kue kini telah berada di tangan mama Adit. Seperti biasa, sendokan pertama akan sang mama berikan pada Adit yang diikuti tepuk tangan semua yang hadir.


Saat sendokan kedua, tanpa ragu mama Siska memberikannya pada Andi. Andi yang terkejut dengan hal itu masih diam sebelum Dini menyenggol lengan Andi seolah sebagai isyarat agar Andi menerima suapan kue dari mama Siska.


Andipun membuka mulutnya dan menerima suapan kedua dari mama Siska. Sejenak semua yang hadir hening karena mereka pun tak menyangka jika Andi akan mendapatkan suapan kedua dari mama Siska.


Dini yang menyadari kecanggungan itu pun segera bertepuk tangan, membuat semua yang berada di sana ikut bertepuk tangan.


Merekapun mulai menikmati hidangan yang ada di meja, termasuk Dini dan Andi.


"Aku nggak nyangka loh kamu dapat suapan kedua mama Siska, biasanya yang dapat suapan dari yang ulang tahun itu seseorang yang istimewa, berarti kamu termasuk seseorang yang istimewa itu dong!" ucap Dini.


"Itu suapan random namanya!"


"Dari semua orang yang ada di sini, mama Siska pilih kamu Ndi, kamu....."


"Sssstttt.... jangan dibahas lagi!" ucap Andi memotong ucapan Dini.


Tak lama kemudian Adit datang menghampiri Andi dan Dini.


"Makasih kalian udah sempetin waktu buat dateng," ucap Adit pada Dini dan Andi.


Andi tak menjawab, ia berniat untuk pergi menjauh dari Adit.


"Sama sama kak," jawab Dini sambil menahan tangan Andi.


Dini sengaja memeluk tangan Andi dengan erat, menahan Andi agar tidak menjauh dari Adit.


Tiba tiba mama Siska datang.


"Adit, mama mau bicara sama kamu," ucap mama Siska pada Adit.


"Ada apa ma?" tanya Adit.


"Ikut mama!"


Adit pun meninggalkan Dini dan Andi untuk mengikuti sang mama masuk ke dalam rumah.


"Kamu sama Ana berdua aja?" tanya mama Siska pada Adit yang saat itu berada di bawah tangga.


"Iya, kenapa ma?"


"Kenapa cuma berdua? kamu udah izin sama suaminya?"


"Suami? maksud mama?"


"Ana udah menikah kan? dia udah punya suami kan? kenapa kamu bawa istri orang keluar malem malem Dit?"


"Ma, Ana belum....."


"Dulu mama emang suka sama Ana dan dulu mama berharap kalau Ana bisa jadi pacar kamu, tapi kamu sekarang harus tau posisi kalian Dit, kalian nggak bisa berhubungan seperti dulu lagi, kamu harus jaga jarak sama dia," ucap mama Siska.


"Tapi ma....."


"Adit, kamu pemimpin perusahaan besar, kamu punya nama baik yang harus kamu jaga, kamu nggak bisa berbuat semau kamu sendiri, mama yakin kamu mengerti maksud mama," ucap mama Adit.


Tanpa Adit dan mamanya tau, Ana yang hendak turun mendengar ucapan mama Adit, membuatnya mengurungkan niatnya untuk turun dan kembali masuk ke kamar Adit.


"Citra yang kamu tunjukkan itu sangat berpengaruh sama masa depan perusahaan Dit, masa depan kamu dan juga mama, tolong jaga citra baik itu demi menjaga perusahaan yang sudah papa kamu bangun dengan susah payah selama bertahun bertahun ini!"


"Iya ma, Adit mengerti, mama nggak perlu khawatir, Adit nggak akan kecewain mama," ucap Adit sambil menggenggam kedua tangan mamanya.


"Kamu memang kebanggaan mama sayang," ucap mama Adit.


"Tapi Ana belum....."


"Mama!" panggil Dini tiba tiba, membuat Adit menghentikan ucapannya.


"Ada apa sayang?" tanya mama Siska.


"Dini sama Andi mau pamit pulang ma," jawab Dini sambil. menggandeng tangan Andi.


"Oh iya, mama berterima kasih sekali karena kalian mau datang," ucap mama Siska pada Dini dan Andi.


"Tahun tahun selanjutnya, Dini sama Andi juga akan dateng kok ma, Dini sama Andi pulang dulu ya ma!" ucap Dini.


"Iya sayang, hati hati di jalan ya!" balas mama Siska sambil memeluk Dini dan Andi bergantian.


"Kita pulang dulu ya kak!" pamit Dini pada Adit.


"Iya, hati hati!" balas Adit.


Mama Siska pun mengantar Dini dan Andi keluar, sedangkan Adit segera naik ke lantai dua untuk menemui Ana di kamarnya.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Adit pada Ana.

__ADS_1


"Gue udah nggak papa, gue mau pulang dulu ya Dit," ucap Ana.


"Ayo, aku anterin!" ucap Adit sambil membantu Ana berdiri.


"Nggak perlu," balas Ana sambil mendorong tubuh Adit.


"Kenapa? aku yang ngajak kamu ke sini, aku juga yang harus anter kamu pulang!"


"Enggak, gue bisa pulang sendiri," ucap Ana bersikeras.


"Aku anter kamu, kamu nggak bisa nolak!"


"Kenapa? kenapa gue nggak bisa nolak? selama ini gue selalu turutin kemauan lo, bahkan sampai sekarang saat gue bukan siapa siapa lo, lo tetep perlakuin gue sebagai bawahan yang harus nurut semua ucapan lo!"


"Bukan itu maksud aku, kamu jangan salah paham An, aku....."


Adit menghentikan ucapannya karena melihat Ana yang tiba tiba menangis. Ia tau Ana bukanlah tipe perempuan yang gampang menangis, itu kenapa ia akan sangat panik jika melihat Ana menangis.


"Kenapa? apa yang salah An? ada apa?" tanya Adit yang duduk di tepi ranjang bersama Ana.


"Gue nggak tau, gue nggak mau nangis tapi gue nggak bisa nahan......... gue jadi cengeng sekarang....... " jawab Ana dengan terisak.


Adit lalu mendekat dan memeluk Ana.


"Nggak papa, itu wajar, sekarang apa yang bikin kamu sedih An?" tanya Adit dengan lembut.


"Aku.... aku denger ucapan mama kamu, mama kamu bener nggak seharusnya kita sedeket ini, aku bukan perempuan baik baik, aku nggak mau nama baik kamu hancur gara gara aku," jawab Ana yang masih sesenggukan.


"aku kamu?" tanya Adit dalam hati.


"Nggak ada yang salah sama kedekatan kita, nggak akan ada yang hancur karena hubungan baik kita," ucap Adit berusaha menenangkan Ana.


"Tapi mama......"


"Mama bilang gitu karena mama pikir kamu udah nikah dan punya suami, kalau mama tau kamu belum nikah pasti mama nggak akan bilang gitu, percaya sama aku!"


"Beneran?"


Adit mengangguk lalu mencium kening Ana.


Entah mendapat dorongan dari mana, Ana semakin merapatkan dirinya pada Adit. Memeluk Adit dengan erat begitu membuatnya nyaman dan tenang.


**


Di tempat lain, Dini sedang bersama Andi di bukit. Andi melepaskan kemejanya dan memakaikannya pada Dini.


"Kenapa kita ke sini malem malem sih Din, kamu juga kan nggak pake baju panjang!" tanya Andi.


"Aku suka tempat ini, di tempat ini aku bisa ngabisin waktu sama kamu sampe berjam-jam, di tempat ini aku bisa ceritain semua masalahku sama kamu, di tempat ini aku bisa berbagi kebahagiaan sama kamu dan yang pasti di tempat ini ada aku sama kamu," jawab Dini.


Andi mendekatkan dirinya pada Dini karena udara dingin yang semakin terasa. Ia lalu menarik Dini dan membawanya dalam dekapannya.


Dini lalu mendongakkan kepalanya menatap sahabatnya itu.


"Selamat ulang tahun Ndi, semua do'a terbaik untuk kamu, makasih udah nemenin aku selama ini, makasih karena udah jadi bagian terpenting dalam hidupku," ucap Dini.


Andi hanya tersenyum dengan membalas tatapan mata Dini. Mereka saling menatap dengan degup jantung yang berirama indah. Bergejolak namun terasa menyenangkan.


"aku cinta sama kamu Din, apa kamu nggak pernah tau itu?" tanya Andi dalam hati.


"aku nggak tau hubungan apa yang kita jalani sekarang, yang aku tau aku bahagia dengan hubungan ini," batin Dini dalam hati.


Dini lalu melonggarkan dekapan Andi dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Andi.


"Buat kamu," ucap Dini sambil memberikan sebuah kotak kecil pada Andi.


"Apa ini?" tanya Andi.


"Buka aja," jawab Dini.


Andipun membuka kotak itu dan melihat gelang berwarna merah muda dan biru.


"Gelang ini masih ada? kenapa dua duanya bisa sama. kamu?" tanya Andi.


Ia tau, gelang itu adalah gelang yang dulu ia berikan pada Dini saat mereka baru saja menginjak bangku SD.


"Kamu ingat kan kenapa gelang ini hilang?"


"Aku sengaja buang gelang itu," jawab Andi.


"Kenapa kamu buang?"


"Karena aku pikir aku nggak bisa jadi sahabat yang baik buat kamu, aku gagal jagain kamu dari keusilan Dimas waktu itu," jawab Andi.


"Pemikiran yang bodoh, sangat bodoh!"


"Itu kan masih SD Din!"


"Sekarang aku mau kamu pake ini lagi, bukan cuma karena kamu sahabat terbaikku, tapi karena kamu adalah bagian terpenting di hidupku," ucap Dini dengan memakaikan kembali gelang mereka saat SD dulu.


Andi memakai gelang berwarna biru dan Dini memakai gelang berwarna merah muda.


"Aku nggak akan buang ini lagi, aku akan selalu berusaha yang terbaik untuk kamu Din," ucap Andi.


"Ndi, apa kamu juga ngerasain apa yang aku rasain?" tanya Dini.


"Apa?" balas Andi bertanya.

__ADS_1


Dini lalu menarik satu tangan Andi dan meletakkannya di dadanya.


"Aku nggak tau sejak kapan dan aku nggak tau kenapa aku sering ngerasain ini waktu sama kamu," ucap Dini yang membuat Andi semakin gugup.


Andi masih membiarkan Dini membawa tangannya di dadanya. Ia bisa merasakan bagaimana detak jantung mereka begitu cepat berdetak, semakin cepat seperti bom yang telah siap untuk meledak.


Dini lalu melepaskan tangan Andi dari genggamannya lalu mencium pipi Andi.


"Selamat ulang tahun Ndi," ucap Dini dengan senyum manis di tengah debaran dahsyat dalam hatinya.


"Aku sayang sama kamu Din," ucap Andi lalu memeluk Dini.


"aku cinta sama kamu," lanjut Andi dalam hati.


"Aku juga sayang banget sama kamu Ndi," balas Dini.


"Makasih atas 25 tahun yang indah ini, hadiah terbesar buat aku adalah kamu, dengan adanya kamu di sini sama aku, itu udah jadi hadiah terindah buat aku," ucap Andi.


Dini hanya diam mendengarkan ucapan Andi. Dalam hatinya ia masih tidak mengerti kenapa jantungnya berdebar kencang saat itu.


**


Di tempat lain. Adit sedang mengantarkan Ana pulang. Saat baru saja sampai di rumah Ana, mereka begitu terkejut karena ada beberapa ibu ibu yang sedang berjejer di depan rumahnya.


"Ada apa An?" tanya Adit.


"Aku juga nggak tau, aku turun dulu Dit!"


"Jangan, aku aja, kamu langsung masuk rumah aja!" ucap Adit lalu segera keluar dan menemui beberapa ibu ibu itu.


"Permisi bu, ada perlu apa ya?" tanya Adit sopan.


"Kamu siapa? suaminya?" tanya salah satu ibu ibu.


"Saya....."


"Bukan bu, dia pasti selingkuhan Ana" sahut ibu ibu yang lain.


"Bisa jadi tuh, makanya Ana ditinggalin, pasti dia ketahuan selingkuh!" sahut yang lain.


"Padahal Deva kan baik banget ya, kasian banget Deva!" ucap ibu yang lain.


"Maaf bu, kalau ibu ibu semuanya tidak ada kepentingan lain, silakan kembali ke rumah masing masing, ini sudah sangat malam dan ibu ibu bisa mengganggu ketenangan Ana di sini," ucap Adit.


"Iiihh, nggak sopan banget ya, sombong," ucap salah seorang dari mereka dengan berbisik namun sangat jelas di dengar oleh Adit.


"Bu, tolong ibu ibu semuanya pergi sebelum saya panggilkan pihak keamanan," ucap Adit dengan tegas.


"Ayo bu kita pergi aja, kalau sampe kita lihat dia beneran hamil dan nggak ada suaminya, kita usir dia rame rame!" ucap salah satu ibu ibu di sana.


"Iya, saya setuju!" sahut yang lainnya.


Mereka lalu pergi dengan berkacak pinggang. Aditpun segera masuk ke rumah Ana. Ia tidak mengerti kenapa mereka bisa tau tentang kehamilan Ana dan mengenal Deva sebagai sosok yang baik di mata mereka.


"Ada apa Dit?" tanya Ana yang masih menunggu Adit di ruang tamunya.


"Nggak ada apa apa, kamu istirahat aja, kalau bisa kamu jangan keluar rumah dulu, semua kebutuhan kamu biar Rudi yang beliin, Oke?"


"Kenapa? apa mereka....."


"Kamu ingat kata Dokter kan An, kandungan kamu lemah, kamu udah beberapa kali pendarahan jadi jangan sampe terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi sama kandungan kamu!"


Ana lalu mengangguk lemah.


"Aku akan sering ke sini buat ajak kamu jalan jalan kalau kamu bosen di rumah, tapi jangan pernah keluar tanpa aku, kapanpun kamu butuh sesuatu, hubungin aku atau Rudi, oke?"


"Aku kan nggak bisa ganggu kamu kerja Dit, aku kadang tiba tiba pingin makan buah yang nggak ada di kulkas, pingin makan kue, pingin makan......"


"Apapun yang kamu mau, kamu bilang sama aku, kapanpun itu aku pasti bisa anterin ke rumah kamu, kalaupun aku sibuk, ada Rudi yang siap 24 jam buat terima perintah, jadi jangan khawatir!"


Ana lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Ya udah kamu istirahat aja, jangan pikirkan apapun yang bikin kamu sedih," ucap Adit yang dibalas anggukan kepala Ana.


"Aku pulang dulu," ucap Adit lalu mencium kening Ana.


Saat sudah di dalam mobil, Adit segera menghubungi seseorang.


"15 menit lagi kita ketemu di kafe X, saya butuh informasi kamu tentang Deva!" ucap Adit.


"Baik pak!"


Klik. Sambungan berakhir.


Adit lalu menghubungi seseorang yang lain lagi.


"Rumahnya sudah siap?" tanya Adit.


"80% pak, tinggal barang barang dapur dan beberapa furniture yang belum lengkap."


"Dua anak buah kamu sudah siap?"


"Sudah pak."


"Bagus, saya mau rumah itu sudah siap sebelum weekend dan anak buah kamu sudah berjaga di sana sebelum saya datang, bisa?"


"Bisa pak."

__ADS_1


"Oke, terima kasih!"


Adit lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan segera meninggalkan rumah Ana untuk menemui seseorang.


__ADS_2