
Dini menggendong Alana untuk diajak ke kolam renang agar Alana berhenti menangis.
"Alana suka main air?" tanya Dini saat mereka sudah berada di dekat kolam renang.
"Suka..... tapi nggak dibolehin papa main air di kolam renang...." jawab Alana dengan menangis sesenggukan.
"Alana mau main air sama Tante?" tanya Dini.
"Mau..... tapi nanti papa marah....."
"Biar Tante yang bilang papanya Alana supaya nggak marahin Alana, gimana?"
Alana menganggukan kepalanya dengan semangat. Dini kemudian memasuki pinggiran kolam renang yang dangkal.
Dengan pelan dan hati hati Dini menurunkan Alana dan duduk bersama Alana disana. Setengah badan merekapun sudah basah oleh air kolam renang.
Alana tampak senang bermain air di kolam renang bersama Dini, ia menepuk nepuk air yang membuat wajahnya terkena cipratan air dan seluruh tubuhnya menjadi basah.
Melihat keceriaan Alana saat bermain air, membuat Dini tersenyum tipis. Entah sudah berapa lama senyum itu tak pernah terlihat di wajahnya.
Untuk pertama kali setelah kepergian Dimas, Dini akhirnya tersenyum karena melihat keceriaan Alana di hadapannya.
Alana kemudian mengambil air dengan tangannya dan mengarahkannya ke wajah Dini, membuat Dini sedikit terkejut.
Namun melihat Alana yang tertawa riang membuat Dini ikut tertawa lalu membalas dengan membuat cipratan air kecil yang membasahi wajah Alana.
"Alana pingin kesana Tante," ucap Alana sambil menunjuk ke arah kolam renang yang lebih dalam.
"Disana dalam sayang, Alana disini aja ya!" balas Dini.
Alana hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali membasahi wajah Dini dengan air dari tangannya.
Setelah beberapa lama bermain air, Alana mulai tampak menggigil.
"Kita naik ya, Alana harus ganti baju," ucap Dini.
"Alana masih mau main tante," balas Alana menolak.
"Tapi Alana kan udah kedinginan, jadi harus ganti baju, ya!"
"Nggak mau, Alana masih mau main......"
"Kita main di kamar Tante aja gimana? Setelah Alana mandi, Alana bisa pilih baju dari lemari Tante buat Alana pake', gimana?"
"Boleh tante?"
"Boleh dong," jawab Dini yang membuat Alana bersorak senang.
Dini lalu membawa Alana keluar dari kolam renang, saat ia akan mengambil handuk tiba tiba sang ibu datang dengan membawa dua handuk.
"Ibu juga udah minta pak Yusman buat beli baju ganti Alana," ucap ibu Dini.
"Makasih Bu," balas Dini lalu segera membalut Alana dengan handuk tebal.
Dini kemudian membawa Alana masuk dan memandikannya lalu memakaikan baju yang baru saja dibelikan sang ibu.
"Berarti Alana nggak jadi pake baju Tante dong," ucap Alana saat Dini menyisir rambutnya.
"Jadi dong, ayo kita pilih yang mana yang Alana suka!" jawab Dini lalu menggandeng tangan Alana ke depan lemarinya.
Dini membuka lemarinya, memperlihatkan pada Alana semua pakaian miliknya.
"Buka yang ini juga Tante!" pinta Alana sambil menunjuk pintu lemari yang berisi pakaian Dimas.
Dini terdiam beberapa saat sebelum membukanya, ia ragu apakah ia harus membukanya atau tidak.
"Ayo Tante, buka yang itu, Alana mau pilih!" ucap Alana membuyarkan lamunan Dini.
"Mmmm.... itu..... itu bukan pakaian Tante sayang," ucap Dini dengan raut wajah yang kembali sedih.
"Alana nggak boleh lihat?" tanya Alana yang masih penasaran.
"Itu.... pakaian om Dimas," ucap Dini dengan suara bergetar.
Dini mengalihkan pandangannya dengan mata berkaca-kaca. Ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak tumpah di depan Alana.
"Tante Dini menangis?" tanya Alana yang membuat air mata Dini seketika meluncur begitu saja.
"Alana nggak akan minta baju om Dimas kok, Alana minta maaf," ucap Alana dengan menggenggam tangan Dini.
Dini masih mengalihkan pandangannya dari Alana untuk menyembunyikan air matanya, meski Alana sudah melihatnya.
"Alana janji nggak nakal lagi," ucap Alana yang merasa bersalah karena berpikir telah membuat Dini menangis.
"Tante, Alana nggak akan nakal lagi, Alana janji," ucap Alana dengan memeluk Dini.
Dini kemudian menjatuhkan dirinya di depan Alana, ia menatap gadis mungil di hadapannya dengan tersenyum meski matanya berkaca kaca.
"Alana mau baju yang mana?" tanya Dini pada Alana.
Alana hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.
"Alana mau buka yang ini?" tanya Dini dengan menunjuk pintu lemari yang berisi pakaian Dimas.
"Alana pake' baju ini aja," jawab Alana dengan mengusap pakaian yang dikenakannya.
Dini tersenyum lalu mengambil salah satu hoodie miliknya dan memakaikannya pada Alana.
"Cantik, Alana bisa pakai ini kalau kedinginan," ucap Dini.
"Terima kasih Tante," balas Alana senang.
Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu mengajak Alana berbaring di ranjangnya.
__ADS_1
"Om Dimas sudah di surga ya Tante?" tanya Alana tiba tiba yang membuat hati Dini kembali terasa perih.
Dini hanya diam tak mampu menjawab pertanyaan Alana.
"Mama Anita juga ada di surga Tante, papa bilang mama Anita bahagia di surga, tapi kalau Alana menangis, mama Anita akan sedih, jadi Alana nggak boleh menangis biar mama Anita bahagia terus," ucap Alana pada Dini.
"Om Dimas pasti juga gitu kan?" lanjut Alana.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca. Selama ini ia hanya memikirkan bagaimana ia bisa bertemu Dimas dengan mengabaikan takdir yang sudah ditetapkan padanya.
Ia seolah membenci takdir yang sudah membuatnya terpisah dengan Dimas. Namun ucapan Alana padanya seperti memberinya sebuah pintu baru dalam kesedihannya.
Pintu yang bisa membawanya keluar dari rasa sakit dan penderitaan yang selama ini ia rasakan karena kepergian Dimas.
Ia sadar, apapun yang ia lakukan tidak akan bisa mengembalikan Dimas dalam hidupnya. Ia harus bisa melanjutkan hidupnya dengan lebih baik.
Meski tanpa Dimas di sampingnya, Dimas akan selalu ada di hatinya.
"Alana dari tadi nunggu Tante, tapi Oma Ranti bilang Tante sibuk," ucap Alana membuyarkan lamunan Dini.
"Kenapa kamu nunggu Tante?" tanya Dini.
"Alana mau ketemu Tante," jawab Alana.
"Kenapa?"
"Karena papa bilang Tante Dini cantik, padahal papa nggak pernah bilang kalau mama cantik, tapi papa malah bilang Tante Dini cantik," jawab Alana yang membuat Dini terkekeh.
"Papanya Alana bilang gitu?"
"Iya, padahal yang paling cantik kan Alana," jawab Alana.
"Iya.... Alana memang paling cantik, cantik wajahnya dan hatinya," balas Dini lalu memeluk Alana.
"Tapi papa bener, Tante Dini emang cantik," ucap Alana dengan menatap wajah Dini.
"Alana lebih cantik," balas Dini.
"Mungkin Alana akan seperti Tante kalau Alana sudah besar," ucap Alana yang membuat Dini kembali terkekeh.
"Alana ngantuk Tante," ucap Alana sambil menguap.
"Iya, kamu tidur, Tante akan jagain kamu," balas Dini dengan mengusap pelan punggung Alana.
"Tapi Tante jangan menangis lagi ya," ucap Alana dengan mata terpejam.
"Iya, Tante nggak akan menangis lagi," balas Dini lalu mencium kening Alana dan ikut tertidur bersama Alana.
**
Di tempat lain, Andi baru saja keluar dari ruangan meeting kliennya. Andi melihat ponselnya dan begitu terkejut karena ada panggilan tak terjawab dari ibu Dini.
Andipun segera menghubungi ibu Dini.
"Halo Bu, maaf Andi baru selesai meeting, apa Alana rewel Bu?"
"Di kamar sama Dini?" tanya Andi tak percaya.
"Iya, Dini yang nenangin Alana waktu Alana rewel tadi," jawab ibu Dini.
"Andi kesana sekarang Bu," balas Andi.
Panggilan berakhir, Andi segera mengendarai mobilnya ke arah rumah Dini.
Sesampainya disana, ia segera masuk untuk menjemput Alana.
"Dia di kamar Dini, kamu masuk aja," ucap ibu Dini.
"Apa Dini nggak akan marah Bu?" tanya Andi ragu.
"Enggak, banyak yang berubah dari Dini setelah dia ketemu sama Alana," ucap ibu Dini.
"Maksud ibu?"
Ibu Dini kemudian menjelaskan apa yang dilakukan Dini pada Alana saat Alana rewel, mulai dari menggendong Alana, mengajaknya main di kolam renang, sampai memandikannya.
"Setelah kepergian Dimas baru pertama kali ini ibu liat Dini tersenyum Ndi dan itu karena Alana," ucap ibu Dini.
Andi tersenyum senang mendengar cerita ibu Dini. Ia yakin lambat laun kesedihan Dini akan memudar seiring dengan berjalannya waktu.
"Kamu coba masuk aja, mungkin Alana udah nunggu kamu," ucap ibu Dini.
"Baik Bu, Andi permisi," balas Andi lalu membawa langkahnya ke kamar Dini.
Andi mengetuk pintu kamar Dini sebelum membukanya.
"Din, aku masuk ya!" ucap Andi lalu membuka pintu kamar Dini dengan perlahan.
Dilihatnya Dini yang sedang terlelap dengan memeluk Alana yang juga sedang terlelap.
Dengan langkah pelan Andi mendekat ke arah ranjang Dini untuk melihat dua perempuan yang dicintainya tidur bersama dengan berpelukan.
Andi mengulurkan tangannya berniat untuk membelai rambut Dini, namun ia menahannya, ia kembali menarik tangannya dan mengurungkan niatnya itu.
Beberapa saat kemudian Dini menggeliat dan mengerjapkan matanya. Ia begitu terkejut karena ada Andi di sampingnya.
"Maaf Din, aku akan keluar," ucap Andi lalu segera berdiri dan keluar dari kamar Dini.
Dini kemudian beranjak dari tidurnya. Ia membawa pandangannya ke arah fotonya bersama Dimas yang ada di meja.
Dini tersenyum lalu keluar dari kamarnya untuk menghampiri Andi yang duduk di ruang tengah.
Dini menghampiri Andi dengan membawakan minum untuk Andi.
__ADS_1
"Makasih," ucap Andi setelah menerima minuman dari Dini.
"Alana masih tidur," ucap Dini yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
"Kamu apa kabar?" tanya Dini pada Andi.
"Aku.... aku baik," jawab Andi.
Setelah lama mereka tidak pernah bertemu dan berkomunikasi, mereka menjadi canggung satu sama lain.
"Apa Alana ngrepotin kamu?" tanya Andi.
"Enggak, justru aku berterima kasih sama kamu karena udah bawa Alana kesini," jawab Dini.
"Kenapa?"
Dini menggelengkan kepalanya pelan, banyak hal yang berubah setelah ia bertemu dengan Alana namun ia tidak bisa menjelaskannya pada Andi.
"Kamu berhasil mendidik Alana dengan baik Ndi," ucap Dini.
"Aku masih harus banyak belajar Din, tapi aku akan selalu berusaha buat kasih semua yang terbaik buat dia," balas Andi.
"Dia pasti bangga punya papa seperti kamu!" ucap Dini.
Andi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Suasana kembali hening untuk beberapa saat karena kecanggungan mereka berdua.
"Kamu bilang apa sama Alana tentang aku?" tanya Dini pada Andi.
"Aku... aku nggak bilang apa apa," jawab Andi gugup.
Ia sudah bisa menduga jika gadis mungilnya itu pasti memberi tahu Dini sesuatu.
"Dia kesini mau ketemu aku karena dia cemburu kan?"
Andi hanya tersenyum tipis saat mendengar pertanyaan Dini.
"Dia cemburu karena kamu bilang aku cantik, sedangkan kamu nggak pernah bilang Anita cantik di depannya," ucap Dini.
"Dia emang anaknya kritis banget, dia selalu inget detail detail kecil di sekitarnya," balas Andi.
"Dia anak yang manis Ndi," ucap Dini.
"Iya, dia yang selalu hibur aku di rumah, semua penat rasanya hilang kalau udah denger ocehannya," balas Andi dengan tertawa kecil.
Tiba tiba terdengar suara Alana dari kamar Dini.
"Papa...... papa......"
Andi dan Dinipun beranjak dari duduk mereka, mereka segera menghampiri Alana di kamar Dini.
"Cantiknya papa udah bangun yaa...." ucap Andi saat melihat Alana yang masih berbaring di ranjang Dini.
Alana segera bangun dari tidurnya dan memeluk Andi yang duduk di tepi ranjang.
"Papa kenapa lama?" tanya Alana manja.
"Maaf sayang, Alana mau pulang sekarang?"
Alana hanya menganggukkan kepalanya dengan mengalungkan tangannya di leher Andi.
"Dilepas dulu dong bajunya tante Dini," ucap Andi yang membuat Alana seketika melepaskan tangannya dari leher Andi.
"Enggak, Alana mau pakai ini terus," balas Alana sambil menggelengkan kepalanya.
"Nggak papa Ndi, aku jarang pake itu kok," sahut Dini.
"Kamu yakin Din?" tanya Andi memastikan.
"Iya, ini buat Alana aja," jawab Dini sambil membelai rambut Alana.
"Terima kasih Tante Dini," ucap Alana senang.
"Makasih ya Din, maaf udah ngrepotin kamu sama ibu," ucap Andi pada Dini.
"Justru aku seneng karena ada Alana, kamu bisa sering sering titipin Alana disini," balas Dini.
"Alana boleh sering main kesini Tante?" tanya Alana bersemangat.
"Boleh dong sayang, Alana boleh kesini kapanpun Alana mau," jawab Dini.
"Yeeeeyyyy..... Alana boleh sering kesini....." ucap Alana bersorak gembira.
Andipun keluar dari kamar Dini dengan menggendong Alana. Ia kemudian berpamitan pada Dini dan ibunya.
Sepanjang perjalanan pulang Alana banyak bercerita tentang Dini, ia tidak bisa berhenti menceritakan apa yang ia lakukan bersama Dini beberapa waktu yang lalu.
"Pa, kapan kita ke rumah Tante Dini lagi?" tanya Alana pada Andi.
"Kita baru aja pulang sayang, belum juga nyampe rumah!"
"Tapi Alana pingin ketemu Tante Dini pa," ucap Alana manja.
"Iya sayang, nanti kalau ada waktu kita main ke rumah tante Dini lagi," balas Andi.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Alana sudah berbaring di ranjang bersama Andi.
"Alana belum mengantuk pa," ucap Alana pada sang papa.
"Kamu harus tidur sayang, papa mau lanjutin kerja setelah Alana tidur," balas Andi dengan mengusap kening Alana.
"Alana pingin tidur sama mama," ucap Alana yang membuat Andi terkejut, karena selama ini Alana tidak pernah mengucapkan hal itu sebelumnya.
"Kan udah ada papa disini, papa akan nemenin Alana sampai Alana tidur."
__ADS_1
"Tapi Alana pingin ada mama disini," ucap Alana yang mulai merindukan kehadiran seorang ibu.
"Apa Tante Dini nggak bisa jadi mamanya Alana?" lanjut Alana bertanya yang membuat Andi semakin terkejut dan tidak bisa berkata kata lagi.