Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Gaun (2)


__ADS_3

Dimas dan Dini masih berada di butik bersama mama Dimas.


"Kita pilih gaunnya bisa lain kali nggak ma, kayaknya belum ada yang cocok sama Dini!" ucap Dimas pada sang mama.


"Berarti nggak jadi fitting dong!" balas mama Dimas.


"Kita kan masih punya banyak waktu ma, kita harus cari yang benar-benar sesuai sama keinginan kita," ucap Dimas.


"Ya udah nggak papa, nanti kabarin mama aja kalau kalian udah dapat gaun yang cocok!"


"Iya ma," balas Dimas.


Dimas dan Dini lalu meninggalkan butik. Dimas mengantarkan Dini untuk pulang ke rumahnya.


"Mama nggak marah kan ya sama aku?" tanya Dini pada Dimas.


"Enggak lah sayang, mama emang excited banget sama pernikahan kita, jadi mama pengen siapin semuanya dengan cepat," jawab Dimas.


"Aku masih belum kepikiran gaun seperti apa yang akan aku pakai nanti," ucap Dini.


"Nggak papa, kamu coba cari cari aja di internet barangkali ada yang menarik, kamu bisa bilang sama aku atau sama mama nanti!" ucap Dimas yang dibalas anggukan kepala Dini.


Sesampainya di depan rumah Dini, Dimas dan Dinipun turun dari mobil.


Dimas memeluk dan mencium kening Dini sebelum ia meninggalkan rumah Dini.


Dimas selalu mengendarai mobilnya ke arah homestore Andi setelah ia memastikan Andi berada di sana.


Sesampainya di sana Dimas segera masuk ke home store untuk menemui Andi.


"Maaf kak kita sudah tutup mungkin bisa datang lagi besok pagi," ucap Rama pada Dimas.


"Andinya ada? saya udah ada janji sama Andi mau ketemu di sini," tanya Dimas pada Rama.


"Oh iya ada sebentar!"


Rama lalu masuk ke ruangan Andi untuk memberitahu Andi jika temannya datang. Andi pun keluar dari ruangannya dan menghampiri Dimas mereka lalu duduk dan mengobrol di balkon.


"Selamat Dim atas jabatan baru lo di perusahaan utama," ucap Andi pada Dimas.


"Thanks Ndi, selamat juga karena clothing arts lo semakin besar!"


"Lo kesini ada perlu apa? penting banget kayaknya!"


"Gue abis fitting baju sama Andini tapi ternyata nggak ada gaun yang cocok sama Andini!" ucap Dimas.


"Terus?"


"Gue pernah lihat file tersembunyi di laptop lo dan gue liat ada desain gaun pengantin yang lo sembunyiin," jawab Dimas.


"Gue emang udah lama bikin itu dan gue cuma iseng aja," balas Andi.


"Apa lo bikin gaun itu buat Andini?"


Andi hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Dimas. Jangankan untuk menikah dengan Dini menyatakan perasaannya saja ia tidak berani.


"Gue cuma iseng Dim, dari dulu kan emang gue suka bikin desain baju," jawab Andi.


"Apa desain gaun pengantin itu buat calon pengantin lo nanti?" tanya Dimas.


Andi menggelengkan kepalanya pelan.


"Gue cuma ngerasa kalau gaun pengantin itu masterpiece dari desain yang pernah gue buat jadi gue sembunyiin desain gaun pengantin itu," jawab Dimas.


"Lo nggak mau ngasih desain itu buat Andini? gue yakin dia pasti seneng banget dapat gaun pengantin dari sahabat terbaiknya."


Andi terdiam sebelum menjawab pertanyaan Dimas. Pertanyaan sederhana namun mampu menusuk hatinya dengan sangat dalam, meninggalkan luka yang membutuhkan waktu lama untuk bisa disembuhkan.


Desain gaun pengantin yang Dimas maksud itu sudah ia buat sejak ia menginjak bangku SMP. sejak ia menyadari bahwa dini adalah kebahagiaan dalam hidupnya.


Andi sengaja menyimpan desain itu tanpa memberitahu Dini ataupun orang lain karena jauh dalam hatinya ia berharap jika Dini bisa mengenakan gaun pengantin itu dan berdiri bersamanya di pelaminan.


Namun itu hanyalah harapan seorang anak laki-laki SMP yang baru puber. semakin lama ia menjalani hari-harinya bersama Dini ketakutannya semakin besar jika ia mengungkapkan perasaannya pada Dini.


Ia tidak ingin persahabatannya bersama Dini hancur hanya karena perasaan egois yang ia miliki. Terlebih setelah Dini bersama Dimas, Andi semakin yakin untuk tidak mengungkapkan perasaannya pada dini.


Meski begitu ia masih menyimpan desain gaun pengantin itu dengan baik.


Namun membayangkan Dini yang memakai gaun itu bersama laki-laki lain membuat hatinya terasa perih apalagi jika ia benar-benar melihat hal itu terjadi, ia tidak yakin dirinya akan baik-baik saja.


"Kalau lo keberatan nggak apa-apa gue bisa cariin Andini designer gaun pengantin yang terbaik di sini," ucap Dimas yang melihat Andi seperti tidak setuju pada ucapannya.

__ADS_1


Andi hanya diam dengan tersenyum tipis tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Gue balik duluan Ndi, sorry udah ganggu waktu lo!" ucap Dimas lalu pergi begitu saja.


Sedangkan Andi hanya diam di tempatnya menatap nanar langit malam tanpa bintang.


Andi lalu turun dari balkon dan meninggalkan home store. Ia mengendarai mobilnya ke arah rumah Dini.


Sesampainya di depan rumah Dini ia segera turun dari mobilnya dan mengetuk pintu rumah Dini beberapa kali sebelum akhirnya terbuka.


"Malam Bu, Dini ada di rumah?" tanya Andi pada ibu Dini.


"Dia baru aja keluar ke minimarket, kamu tunggu aja di dalam," jawab ibu Dini.


Andi menganggukkan kepalanya lalu masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Gimana pekerjaan kamu Ndi, lancar?"


"Lancar bu, banyak yang bantuin Andi sekarang," jawab Andi.


"Ndi, ibu sangat berterima kasih sama kamu karena selama ini kamu sudah menjaga Dini dengan baik, sebentar lagi Dini akan menikah dan dia akan menjadi istri dari sahabat kamu ibu harap kamu akan baik-baik saja dan bahagia dengan kehidupan kamu yang sekarang."


Andi hanya tersenyum mendengar ucapan ibu Dini, ia pun berharap jika ia bisa benar-benar bahagia melihat kebahagiaan dini.


"Pilihan ada di tangan kamu Ndi, kamu bisa pergi dan mencari kebahagiaan kamu sendiri, jangan hanya terpaku pada Dini dan biarkan diri kamu merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, ibu benar-benar berharap kalau kamu juga akan merasakan kebahagiaan seperti yang Dini rasakan!"


"Tapi apa Andi bisa pergi tanpa Dini?"


"Kamu pasti bisa Ndi, kamu laki-laki yang baik, ibu yakin kamu akan mendapatkan perempuan yang baik yang akan menjadi masa depan kamu dan memberikan kebahagiaan yang layak untuk kamu dapatkan!"


Andi kembali terdiam mendengarkan ucapan ibu Dini.


"Berhenti melukai diri kamu sendiri Ndi, kamu berhak bahagia, jika dengan kepergian kamu kamu akan lebih bahagia maka kamu harus memilih pergi meskipun pada awalnya terasa berat!"


"Ibu kenapa bilang gitu?" tanya Dini yang tiba-tiba datang.


"Kenapa Andi harus pergi? kenapa ibu minta Andi untuk pergi?" tanya Dini yang terlihat marah dengan ucapan sang ibu pada Andi.


"Duduk dulu Din, jaga ucapan kamu sama ibu kamu!" ucap Andi dengan menarik tangan Dini agar duduk.


"Ibu ada masalah apa sama Andi? kenapa ibu minta Andi pergi Bu?" tanya Dini pada sang ibu.


"Kamu pasti salah paham Din, kasih tau aku apa yang kamu dengar tadi!" ucap Andi pada Dini.


Ibu Dini hanya diam membawa pandangannya pada Andi seolah meminta Andi untuk menjelaskan pada dini.


"Tuh kan kamu salah paham, makanya dengerin semuanya dari awal!" ucap Andi pada Dini.


"Emang ibu tadi bilang apa sama Andi?" tanya Dini pada sang ibu yang dari tadi hanya diam.


"Ibu....."


"Aku tadi cerita sama ibu kamu tentang masalah pekerjaan dan ibu kamu kasih saran aku buat pergi maksudnya buat melepas klien besarku yang bermasalah biar nggak ada masalah yang lebih besar di depan nanti," ucap Andi yang terpaksa berbohong pada dini.


"Bener apa yang Andi bilang Bu?" tanya Dini pada ibunya.


"Iya bener, dia mau cerita sama kamu tapi kamu nggak pulang-pulang jadi dia cerita sama ibu," jawab ibu Dini berusaha meyakinkan sang anak.


"Tapi ibu nggak ada masalah sama Andi kan?"


"Enggak ada lah, justru ibu sangat berterima kasih sama Andi karena selama ini dia sudah menjaga kamu dengan baik," jawab ibu Dini.


Dini lalu membawa pandangannya pada Andi, dalam hatinya ia juga berterima kasih karena Andi sudah menjadi sahabat terbaiknya selama ini.


"Ya udah ibu masuk dulu kalian ngobrol aja berdua," ucap ibu Dini lalu beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya.


Sekarang hanya tinggal Andi dan Dini di ruang tamu.


"Kamu udah dari tadi ya?" tanya Dini pada Andi.


"Ya lumayan, ibu kamu bilang kamu ke minimarket jadi aku tunggu kamu di sini," jawab Andi.


Dini hanya menganggukkan kepalanya, .mereka sama-sama diam dengan pikiran mereka masing-masing.


M.lereka tiba-tiba merasa canggung dengan pikiran mereka sendiri. Dini yang merasa harus menjaga jarak dengan Andi karena tidak ingin menyakiti Dimas dan Andi yang merasa takut dan ragu jika harus pergi meninggalkan Dini.


"Din!"


"Ndi!"


Mereka saling memanggil dengan bersamaan membuat mereka berdua tertawa kecil karena hal itu.

__ADS_1


"Kamu aja dulu," ucapan Andi.


"Kita bicara di luar ya!" ajak Dini lalu keluar dari rumah dan duduk di depan rumah bersama Andi.


"Dimas tadi ngajak aku fitting gaun pengantin sama mama Angel tapi nggak ada satupun dari gaun yang ada di sana yang cocok sama keinginan aku," ucap Dini pada Andi.


"Emang kamu mau gaun yang kayak gimana?" tanya Andi.


"Aku juga nggak tau Ndi, aku nggak pernah kepikiran mau pakai gaun yang kayak gimana di pernikahanku nanti, tapi yang pasti dari semua gaun yang ada di katalog butik tadi nggak ada satupun yang menarik perhatianku," jawab Dini.


"lo nggak mau ngasih desain itu buat Andini? gue yakin dia pasti suka dapat gaun pengantin dari sahabat terbaiknya."


ucapan Dimas kembali terngiang di kepala Andi. Gaun itu memang untuk Dini, tapi apakah Andi rela memberikan gaun itu pada Dini jika Dini akan mengenakannya bersama laki-laki lain?


"Mama Siska bilang aku bisa kasih desain sesuai yang aku mau tapi aku sama sekali nggak tau seperti apa sebenarnya gaun yang aku pengen, aku bingung Ndi!"


"Udah coba cari di internet?" tanya Andi.


"Udah, aku juga udah lihat di sosial media designer yang khusus merancang gaun pernikahan, semuanya bagus tapi nggak ada yang menarik buat aku," jawab Dini.


Ucapan Dini seolah sebuah tanda bagi Andi untuk menunjukkan gaun yang sudah ia simpan lama untuk Dini.


Namun ia ragu untuk memberikannya pada Dini yang akan menikah dengan Dimas.


"Maaf aku jadi kebanyakan cerita, kamu tadi mau bilang apa?" tanya Dini pada Andi.


"Aku lupa hehehe....." jawab Andi beralasan.


Sebenarnya ia ingin memberitahu Dini jika Dimas baru saja menemuinya dan memberitahu tentang fitting yang baru saja dilakukan oleh Dini.


"Iiiissshh, dasar orang tua!" ucap Dini mencibir.


"Kalau aku orang tua, kamu juga orang tua, kita kan seumuran!"


"Iya, jadi kita akan menua bersama," balas Dini dengan tersenyum manis pada Andi.


Andi hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.


Malam semakin larut, Andipun berpamitan untuk pulang.


Dalam perjalanan pulang Andi memikirkan ucapan ibu Dini.


"berhenti melukai diri kamu sendiri Ndi, kamu berhak bahagia, jika dengan kepergian kamu kamu akan lebih bahagia maka kamu harus memilih pergi meskipun pada awalnya terasa berat!"


Andi menghembuskan nafasnya pelan menyesap semua rasa perih yang hinggap dalam hatinya.


"apa aku harus pergi ninggalin kamu Din? aku memang berharap kamu mendapatkan kebahagiaan yang kamu inginkan kan tapi setelah kamu mendapatkannya nya apakah itu waktunya bagi aku buat pergi dari kamu?" batin Andi dalam hati.


Sesampainya di rumah, Andi segera masuk ke ruang baca menjatuhkan dirinya di kursi yang ada di sudut ruang baca di lantai dua.


Andi memejamkan matanya mempertanyakan apa yang seharusnya ia lakukan. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan Dini namun ia juga tidak ingin meninggalkan Dini dan ia juga tidak ingin Dini pergi darinya.


Dalam hati kecilnya ia selalu menginginkan Dini menjadi miliknya namun kesadarannyanya memaksa mundur keinginannya itu.


"aku nggak mau kehilangan kamu dan aku nggak mau ninggalin kamu tapi apa aku sanggup lihat kamu sama Dimas duduk di pelaminan dengan menggunakan gaun yang sejak lama aku simpan buat kamu!" batin Andi dengan masih memejamkan matanya.


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Andi berdering, sebuah panggilan dari Adit.


"Lo di mana?" tanya Adit saat Andi sudah menerima panggilannya.


"Di ruang baca, kenapa?"


"Gue kekunci di kamar mandi kamar gua, tolong bukain dari luar hehehe...."


"Ok," balas Andi singkat lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruang baca.


Andi lalu masuk ke kamar Adit dan membuka pintu kamar mandi Adit dengan mudah.


"Apanya yang kekunci, lo ngerjain gue ya?"


"Pintu ini udah error dari kemarin tapi gue lupa belum panggil tukang buat benerin!" ucap Adit menjelaskan.


"Lo nggak ke rumah mbak Ana?" tanya Andi.


"Ada mama di sana, lagian gue mau nemenin adek gue yang lagi galau," jawab Adit sambil merangkul bahu Andi.


Andi lalu melepaskan tangan Adit dari bahunya dan merebahkan badannya di ranjang Adit.


"Mama pernah nawarin gue buat lanjutin S2 di Amerika di tempat lo kuliah dulu menurut lo gimana?" tanya Andi pada Adit.

__ADS_1


"Kuliah emang bagus Ndi, tapi kalau lo ngelakuin itu cuma buat pelarian mending jangan dilakuin!" jawab Adit.


Andi hanya diam mendengarkan ucapan Adit lalu beranjak dan keluar dari kamar Adit.


__ADS_2