
Pagi itu adalah awal yang baru bagi Adit dan Ana. Adit berjanji tak hanya pada Ana namun juga pada dirinya sendiri jika ia tidak akan pernah melepaskan Ana darinya.
Ia akan memperjuangkan Ana agar sang mama dan Andi bisa menerima keberadaan Ana. Ia akan menunjukkan pada dunia bahwa Ana adalah miliknya.
"Kamu nggak pulang? kamu harus ke kantor kan?" tanya Ana pada Adit.
"Iya, tapi aku masih pingin di sini, aku masih kangen sama kamu," jawab Adit.
"Apa mama baik baik aja kamu tidur di sini semalem?"
"Ada Andi di rumah, mama pasti baik baik aja," jawab Ana.
"Ngomong ngomong kamu belum cerita sama aku tentang adik kamu itu," ucap Ana.
"Lain kali aja aku cerita," balas Adit.
"Kalau gitu kamu harus pulang sekarang!"
"Nggak mau!"
"Kamu harus ke kantor Adit!"
"Ya udah iya, jaga diri kamu baik baik ya, jangan pernah merasa sendirian karena ada aku yang selalu di samping kamu," ucap Adit dengan mencium kening Ana.
Ana hanya tersenyum lalu mencium pipi Adit. Merekapun berpelukan untuk beberapa saat sebelum Adit meninggalkan rumah itu.
Tak lupa Adit kembali menegaskan pada semua pekerjanya untuk menjaga Ana, ia tidak akan memberikan kesempatan lagi jika mereka gagal menjaga Ana.
Setelah itu, Aditpun meninggalkan rumah Ana dan kembali ke rumah sang mama.
Sepanjang perjalanan, Adit tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Setelah hal berat yang dilaluinya, akhirnya ia bisa merasakan cintanya yang berbalas.
Sesampainya di rumah, Adit segera berjalan ke arah kamarnya dengan bersenandung kecil. Mama Siska yang mendengar hal itu dari dapur segera mencari sumber suara yang ia dengar.
"Adit!" panggil mama Siska.
Adit lalu kembali menuruni tangga dan menghampiri sang mama.
"Pagi mama sayang," sapa Adit lalu mencium kening sang mama.
"Adit mandi dulu ya ma!" ucap Adit lalu kembali naik ke lantai dua.
Mama Siska hanya mengernyitkan dahinya melihat sikap anak pertamanya itu. Semalam ia melihat Adit yang tampak emosi dan panik, namun pagi harinya ia melihat Adit tampak bahagia.
Mama Siska lalu melanjutkan memasak, setelah selesai ia segera membawanya ke meja makan bersama asisten rumah tangganya.
Tak lama kemudian Andi turun dan duduk di hadapan sang mama.
"Adit belum pulang ma?" tanya Andi pada sang mama.
"Udah, dia lagi bahagia banget kayaknya," jawab mama Siska.
"Pagi semuanya," sapa Adit yang baru saja datang dan duduk di samping mamanya.
"Pagi sayang, kamu dari mana semalem nggak pulang?" tanya mama Siska.
"Mmmm.... ada masalah yang harus Adit selesaiin ma, tapi sekarang udah beres kok!"
"Masalah kantor?"
"Lain kali Adit ceritain, sekarang kita sarapan dulu," jawab Adit lalu mengambilkan sang mama nasi dan juga lauk di meja.
Setelah sarapan selesai, Adit segera berpamitan untuk berangkat ke kantor.
"Oh ya Ndi, lo nggak jenguk Dini? Dimas bilang dia sakit," tanya Adit pada Andi.
"Dini sakit? sakit apa?"
"Tanya aja sendiri!" balas Adit lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan Andi segera menghubungi Dini. Beberapa kali ia menghubungi Dini, namun tak ada jawaban.
Andipun segera menghubungi ibu Dini.
"Halo Bu, gimana keadaan Dini Bu? apa dia di rumah?" tanya Andi saat ibu Dini sudah menerima panggilannya.
"Dini lagi sama Dimas, emangnya dia kenapa?"
"Dini sama Dimas? berarti ibunya nggak tau kalau Dini sakit?" batin Dimas bertanya.
"Halo Andi, apa terjadi sesuatu sama Dini?" tanya ibu Dini.
"Enggak Bu, Andi cuma tiba tiba kepikiran Dini aja, soalnya dia nggak bisa dihubungi," jawab Andi beralasan.
"Coba kamu hubungin Dimas, barangkali hp nya Dini lowbatt!"
"Iya Bu."
Sambungan berkahir. Andi lalu segera menghubungi Dimas, namun sama saja, ponsel Dimas tidak aktif.
"kalian bener bener bikin aku khawatir," batin Andi kesal dalam hati.
"Ada apa sayang?" tanya mama Siska yang melihat Andi tampak kesal.
"Nggak ada apa apa ma, Andi ke home store dulu ya ma!"
"Iya, hati hati."
__ADS_1
Andi lalu keluar dari rumah bersama Rudi. Ia akan mampir ke home store sebelum melanjutkan mencari gedung.
**
Di tempat lain, Dimas dan Dini sedang duduk di sofa, mereka sedang menonton tv meski mereka sama sama tidak fokus pada apa yang mereka lihat.
"Andini," panggil Dimas dengan menarik tangan Dini ke dalam genggamannya.
"Hmm..." balas Dini tanpa menoleh ke arah Dimas.
"Maaf udah terlalu egois dengan semua pikiran negatif ku," ucap Dimas
Dini lalu membawa pandangannya pada Dimas dan menatap kedua mata laki laki yang dicintainya itu.
"Dimas, jujur sama aku, apa kamu bahagia dengan hubungan ini?"
"Kenapa kamu tanyain hal itu Andini, kamu tujuan hidupku selama ini, aku pasti bahagia bisa jalani hidupku sama kamu," jawab Dimas.
"Lalu gimana sama rasa takut kamu itu?"
Dimas terdiam, ia melepaskan tangan Dini dari genggamannya dan memalingkan wajahnya.
"Dimas jawab aku, apa yang sebenarnya kamu rasain selama ini? aku nggak mau kita pura pura bahagia cuma buat menyenangkan satu sama lain, hubungan yang seperti itu nggak akan bertahan Dimas!"
"Seperti yang aku bilang, aku adalah orang ketiga diantara kamu dan Andi, kalian memiliki hubungan yang lebih dalam dari sekedar sahabat dan dengan egoisnya aku masuk diantara hubungan kalian," ucap Dimas.
"Kamu menyesal karena udah bersikap egois?" balas Dini bertanya.
"Aku sayang sama kamu Andini, dari awal kedatangan ku cuma kamu tujuan ku, aku cinta sama kamu Andini bahkan setelah takdir menghapus ingatanku tentang kamu, hati aku masih mengingat kamu dan aku nggak pernah menyesali itu," jawab Dimas.
"Kamu emang orang ketiga diantara aku dan Andi, kamu datang diantara aku dan Andi, kamu kasih warna baru di hidupku yang sebelumnya hanya ada Andi, aku emang mengenal banyak hal baru bersama Andi, tapi bersama kamu aku mengenal cinta Dimas," ucap Dini.
"Dia lebih mengenal kamu daripada aku Andini, kadang dia bersikap lebih baik daripada aku, itu yang bikin aku iri, cemburu dan takut kehilangan kamu Andini."
"Aku nggak peduli siapa yang lebih baik, aku sama Andi cuma sahabat, aku nggak bisa ninggalin sahabat yang selalu nemenin aku dari kecil, tapi hati aku memilih kamu sebagai masa depanku Dimas, aku mau menikah dan jalani sisa hidupku sama kamu, bukan sama Andi," ucap Dini dengan penuh keyakinan.
Dimas tersenyum kecil lalu menarik Dini ke dalam dekapannya.
"Masalah seperti ini akan terulang kalau kamu nggak percaya dan ragu sama aku Dimas," ucap Dini.
"Maafin aku sayang, aku udah berusaha, tapi ternyata tanpa sadar aku cuma bohongin diriku sendiri!"
"Apa aku harus ninggalin Andi supaya kamu percaya sama aku? aku harus pergi dari Andi?"
"Enggak sayang, jangan, aku tau dia sahabat yang baik buat kamu, dia juga sahabat yang baik buat aku, aku bener bener minta maaf karena sikapku yang egois."
"Kamu harus percaya sama aku Dimas," ucap Dini dengan merapatkan pelukannya pada Dimas.
"Aku percaya sayang, aku percaya sama kamu, sama Andi dan sama persahabatan kalian," balas Dimas dengan mencium kening Dini.
"Apa kamu udah jujur sama diri kamu sendiri?"
Dini lalu menganggukkan kepalanya dalam dekapan Dimas.
"Makasih sayang, makasih udah mengerti aku sepenuhnya," ucap Dimas.
"Jangan ada yang dipendam lagi Dimas, kita selesaikan semuanya baik baik tanpa harus ada yang tersakiti."
"Iya sayang," balas Dimas lalu kembali mencium kening Dini.
Hujan deras yang menerpa Dini dan Dimas kini sudah reda. Meninggalkan lukisan indah sang pelangi yang tergambar dalam hati mereka.
Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan membopongnya ke kamar. Ia membaringkan Dini di ranjangnya.
Dimas duduk di tepi ranjang dengan membelai wajah cantik Dini. Mereka saling menatap dalam diam. Dimas lalu mendekat, berniat untuk mencium bibir Dini namun Dini mendorongnya.
"Jangan, aku nggak mau kamu ikutan sakit," ucap Dini dengan menutup mulutnya.
Dimas hanya terkekeh lalu merebahkan badannya di samping Dini.
Dimas memiringkan badannya, menghadap Dini dengan menopang kepalanya menggunakan tangannya.
"Apa setelah menikah nanti aku akan liat kamu setiap bangun tidur?" tanya Dimas.
"Iya, setiap kamu bangun dan setiap kamu akan tidur, jadi jangan bosen ya!"
"Aku mana bisa bosen liat kamu sayang," balas Dimas sambil mendekatkan dirinya ke arah Dini lalu menarik pinggang Dini agar menghadap ke arahnya.
Saat Dimas kembali melancarkan niatnya untuk mencium Dini, Dini segera mendorong tubuh Dimas.
"Tunggu, kamu nggak bilang ibu kan kalau aku sakit?" tanya Dini pada Dimas.
"Enggak sayang, aku cuma bilang Adit kalau kamu sakit jadi nggak bisa masuk kerja, aku udah kasih surat dari Dokter juga!"
"Tapi kenapa kamu nggak kerja?"
"Aku nggak akan bisa fokus karena ninggalin kamu sendirian di sini dalam keadaan sakit lagian aku semalem nggak tidur sama sekali jadi ngantuk banget hehe...."
"Kamu memanfaatkan status kamu buat dapat izin libur kan?"
"Enggak kok, tapi ya gimana lagi hehe..."
"Gimana materi meeting kamu, udah selesai kan?"
"Udah kok, tinggal dipelajari ulang biar lancar waktu presentasi nanti," jawab Dimas.
"Dimas, apa nanti kamu anterin aku pulang?"
__ADS_1
"Kenapa harus buru buru? kamu bisa di sini sampai weekend!"
"Aku harus kerja Dimas, kamu juga!"
"Tapi kamu masih demam Andini, masih pusing juga kan?"
"Enggak, aku udah nggak pusing!"
"Tetep aja kamu harus istirahat Andini."
"Besok pagi demamnya pasti udah hilang, aku harus pulang Dimas, aku nggak mau bikin ibu khawatir."
"Hmmmm.... ya udah kalau gitu, nanti sore aku anter kamu pulang!"
**
Di home store, Andi sedang mempelajari banyak hal dari orang suruhan papa Dimas.
"Mas Andi, ada yang nyariin!" ucap Rama pada Andi.
"Oke, bentar lagi saya keluar," balas Andi.
Tak lama kemudian Andi meninggalkan meja kerjanya dan melihat Anita di depan.
"Anita, kok tau aku di sini?"
"Aku tadi ke rumah kamu, mama kamu bilang kamu di home store, jadi aku ke sini, kamu lagi sibuk?"
"Mmmm.... sebenarnya aku lagi mau liat beberapa gedung sih, kamu mau ikut?"
"Emang boleh?"
"Boleh lah, ayo!"
Anita pun mengikuti Andi untuk masuk ke mobil. Mereka akan mendatangi beberapa gedung yang sudah Andi cari tau sebelumnya.
"Ini daftar gedungnya pak, pak Rudi tau lokasinya kan?" tanya Andi pada Rudi.
"Iya mas, saya tau," balas Rudi.
"Ke tempat yang paling deket dulu ya pak!"
"Baik mas."
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Selama hampir 30 menit berkeliling gedung itu, Andi belum merasakan kecocokan pada gedung itu.
Mereka pun pindah ke tempat lain.
"Kita makan siang dulu aja pak," ucap Andi pada Rudi.
"Baik mas, mas Andi mau makan siang apa?"
"Pak Rudi ada rekomendasi?"
"Mmmm..... ada mas, saya tau tempat makan siang yang enak di sekitar sini!"
"Oke, kita ke sana."
Sesampainya di tempat makan, mereka segera keluar, termasuk Rudi. Mereka makan siang bersama meski Rudi memilih meja yang berbeda dengan Andi dan Anita.
"Kamu sekarang pake supir?" tanya Anita pada Andi.
"Cuma buat sementara, mama yang maksa," jawab Andi.
"Aku nggak nyangka kehidupan kamu sekarang udah berubah Ndi, kamu punya mobil mewah, kamu punya supir, kamu tinggal di kawasan elit dan keluarga kamu adalah pemilik perusahaan terbesar setelah papanya Dimas, keren banget!"
"Dari luar mungkin berubah, tapi aku tetep Andi yang kamu kenal, nggak ada yang berubah dari diri aku Nit!"
"Iya, kamu tetep jadi Andi yang baik," balas Anita dengan senyum manisnya.
"Kamu ada perlu apa cari aku ke rumah?" tanya Andi pada Anita.
"Nggak ada, aku cuma mau jenguk kamu aja, aku pikir kamu masih belum boleh berkegiatan di luar!"
"Aku udah mulai sibuk sama home store sekarang, cuma belum bisa seratus persen aja, setelah beberapa kali cek up baru aku bisa jalani kehidupan normal ku di home store!"
"Cewek yang bisa dapetin hati kamu pasti sangat beruntung Ndi, sayangnya kamu belum bisa buka hati kamu buat cewek lain!"
"Aku mau fokus sama apa yang ada di depanku Nit, aku mau ngabisin waktuku sama keluarga dan bisnis yang mau aku kembangin," ucap Andi.
Anita hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Andi.
"Dimas sama Dini apa kabar ya, aku udah lama nggak ketemu mereka!"
"Mereka baik baik aja, walaupun sekarang Dimas jauh sama Dini, tapi hubungan mereka baik baik aja," balas Andi.
"Apa kamu bisa kasih tau aku alamat tempat tinggal Dimas?"
"Buat apa? apa kamu mau ke sana sendiri?"
"Enggak lah, aku.... aku cuma pingin tau aja, mbak Dewi pindah ke rumah sakit yang deket sama perusahaan om Tama, jadi mungkin deket juga sama tempat tinggal Dimas."
"Aku nggak tau pasti sih alamatnya, aku cuma tau kalau apartemennya nggak jauh dari tempat kerjanya," ucap Andi.
"Di daerah sana emang banyak apartemen Ndi, maklum itu kan di tengah kota besar."
"Iya, jalanan juga lebih padat daripada di sini."
__ADS_1
Setelah menyelesaikan makan siang, mereka segera meninggalkan tempat itu dan kembali mendatangi gedung yang lain.