Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Malam Indah Andi


__ADS_3

Malam indah dipenuhi bintang yang bertebaran di atas hamparan langit gelap. Andi sedang berada di kamarnya, mengerjakan beberapa pekerjaannya.


Baru beberapa menit ia berkutat pada laptop di hadapannya, ia kembali memikirkan Dini. Ia lalu menghubungi Dimas, meminta Dimas untuk mengantar Dini berangkat ke kantor besok pagi.


"Halo Dim, lo besok berangkat jam berapa?" tanya Andi setelah Dimas menerima panggilannya.


"Pagi pagi banget Ndi, kenapa?"


"Lo nggak bisa nganterin Dini dulu?"


"Nggak keburu Ndi, pesawat gue pagi banget sebelum Dini berangkat, lo nggak bisa nganterin?"


"aku nggak mungkin bilang nggak bisa kan? Dini kayaknya sengaja nggak ngasih tau Dimas kalau lagi marah sama aku," ucap Andi dalam hati.


"Kalian nggak lagi berantem kan?" tanya Dimas.


"Enggak kok, ya udah kalau gitu gue lanjut ngerjain kerjaan gue!"


"Oke!"


Andi lalu kembali fokus pada laptop di hadapannya. Namun bukannya memikirkan pekerjaannya, Andi malah memikirkan Dini, alhasil ia sama sekali tidak bisa fokus.


Andi mencoba menghubungi Dini, sekali dua kali hingga tiga kali, Dini masih tidak menerima panggilannya.


"aku harus cari alasan yang tepat!"


Andi lalu menutup laptopnya dan segera keluar dari kamarnya. Ia berjalan ke arah rumah Dini.


Sesampainya di sana, ada ibu Dini yang sedang duduk di depan rumah.


"Cari Dini?" tanya ibu Dini sebelum Andi mengutarakan maksud kedatangannya.


"Iya bu, dia udah tidur?"


"Belum, dia ada di kamar, masuk aja!"


Andi pun masuk dan mengetuk pintu kamar Dini tanpa memanggilnya.


"Masuk bu!" ucap Dini dari dalam kamar, ia tidak tahu jika yang mengetuk pintu kamarnya adalah Andi.


Andi kembali mengetuk pintu kamar Dini lagi dengan harapan Dini akan membukakan pintu untuknya.


Benar saja, karena pintu masih saja diketuk, Dinipun beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya. Begitu ia menyadari jika yang berdiri di depan kamarnya adalah Andi, ia segera menutupnya kembali namun Andi menahannya.


"Aku mau ngomong sama kamu Din, dengerin aku dulu!" ucap Andi dengan memegang pintu yang hampir tertutup.


"Pulang aja sana! pembohong!" balas Dini.


"Kamu nggak kasian sama aku Din? kamu nggak kasian sama sahabat kamu yang jomblo ini?"


"Maksud kamu?" tanya Dini dengan masih menahan pintu kamarnya agar tak dibuka Andi.


"Sebenernya aku emang nggak ketemu Anita kemarin, aku ketemu seseorang, aku......"

__ADS_1


"Seseorang? siapa? Aletta?"


"Bukan, aku...... aku kemarin lagi blind date," jawab Andi mencari alasan.


Dini lalu membuka pintu kamarnya dan menarik tangan Andi agar masuk. Ia mendudukkan Andi di ranjangnya sedangkan ia sendiri duduk di kursi belajarnya dengan menghadap Andi.


"Blind date? seorang Andi blind date? aku nggak percaya, jelasin!"


"Dari beberapa hari yang lalu aku chatting sama seseorang, karena aku ngerasa nyaman dan nyambung ngobrol sama dia lewat chatting jadi aku ngajak dia ketemu malem itu," jelas Andi.


"Aku nggak percaya, mana HP kamu?"


"Mau ngapain?" tanya Andi sambil memberikan ponselnya pada Dini.


"Aku nggak akan liat chat kamu, aku cuma mau liat kamu......"


Dini menghentikan ucapannya begitu ia melihat beberapa aplikasi "pencari jodoh" di ponsel Andi.


"sesuai dugaan, Dini nggak akan percaya gitu aja, untung aku udah download aplikasinya," batin Andi dalam hati.


"Kamu serius Ndi?" tanya Dini sambil mengembalikan ponsel Andi.


"Serius lah, nggak enak jadi jomblo nggak ada yang perhatiin hehe...."


"Maaf," ucap Dini dengan menundukkan kepalanya.


"Justru aku yang minta maaf karena udah bohong sama kamu, aku malu kalau kamu tau yang sebenernya," balas Andi.


Andi lalu berdiri dari duduknya, berjongkok di hadapan Dini dan menarik kedua tangan Dini ke dalam genggamannya.


"Din, kamu sahabat terbaik aku, selama aku masih bisa liat senyum kamu tiap hari itu udah cukup buat aku, aku bahagia karena kamu bahagia," ucap Andi dengan menatap mata sahabat yang dicintainya.


"Tapi aku ngerasa bukan sahabat yang baik buat kamu, aku....."


"Cuma kamu yang terbaik buat aku Din, cuma kamu yang paling mengerti aku, cuma kamu yang......."


"cuma kamu yang aku cintai," lanjut Andi dalam hati.


"Yang selalu bikin aku bahagia," lanjut Andi dengan senyum manisnya.


Andi lalu berdiri dan memeluk Dini yang masih duduk di kursi belajar.


"Aku sayang sama kamu Din, sebagai sahabat aku cuma mau kamu bahagia," ucap Andi.


"Aku juga mau kamu bahagia Ndi," balas Dini dengan melingkarkan tangannya di pinggang Andi.


"Liat kamu senyum aja aku udah bahagia Din," ucap Andi.


"Kamu gampangan banget sih!" ucap Dini dengan melepaskan dirinya dari pelukan Andi dan memukul perut Andi.


"Emang, aku jadi cowok gampangan kalau lagi sama kamu!" balas Andi.


"Jadi gimana? cocok sama yang kamu ajak blind date?"

__ADS_1


Andi menggeleng.


"Kenapa?"


"Nggak secantik kamu!" jawab Andi.


"Sejak kapan Andi jadi nilai orang dari fisiknya?"


"Hatinya juga nggak cantik," ucap Andi.


Dini lalu mengambil ponsel Andi yang berada di ranjangnya lalu menghapus aplikasi pencari jodoh yang ada di ponsel Andi.


"Udah aku hapus, ini bukan Andi yang aku kenal!" ucap Dini.


"Andi yang kamu kenal gimana?"


"Dia nggak genit, dia nggak pernah ngajak cewek kenalan, apalagi ngajak blind date duluan, coba deh buka mata kamu lebar lebar, kamu nggak perlu punya aplikasi kayak gitu buat punya pacar, kamu tinggal pilih yang mana yang kamu mau sekarang!"


"Aku pilih kamu!" ucap Andi cepat.


"Pilihan yang tepat, aku emang yang terbaik buat kamu!"


"Jadi, apa aku diterima?"


"Mmmmm......" Dini mengetuk ngetuk dagunya dengan jari telunjuk sambil memperhatikan Andi dari atas sampai bawah, ia juga mengelilingi Andi, memperhatikan Andi dengan detail.


Andi hanya tersenyum melihat sikap Dini.


Ketika Dini berdiri di belakang Andi, ia lalu memeluk Andi dengan erat.


"Kamu diterima, sebagai sahabat yang selalu sayang sama aku dan nggak akan pernah ninggalin aku, gimana? setuju?"


Andi lalu membalikkan badannya dan membalas pelukan Dini.


"Setuju, sangat setuju," jawab Andi dengan semakin erat memeluk Dini.


Mereka lalu tertawa dan melepaskan pelukan masing masing.


"Gimana persiapan kamu buat besok?" tanya Andi.


"Udah siap semua kok, kamu anterin aku kan?"


"Iya, aku anterin kamu walaupun naik bus hehe...."


"Nggak masalah, tapi aku jadi deg deg'an deh Ndi!"


"Tenang aja, sahabat ku ini kan lulusan terbaik dari Universitas X, harus percaya diri dong!"


Dini menganggukkan kepalanya lalu kembali memeluk Andi.


"Makasih Ndi," ucap Dini yang dibalas dengan sebuah kecupan di kening Dini.


Sungguh malam yang indah bagi hati yang telah lama menyimpan luka.

__ADS_1


__ADS_2