Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Rencana (2)


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Dini, Andi dan Dimas masih berada di gedung home store Andi yang baru.


"Seperti yang udah kita bahas, kita bikin Anita merasa apa yang dia rencanain berjalan sesuai dengan rencananya," ucap Dimas saat mereka berjalan keluar gedung.


"Tapi kamu juga harus jaga jarak Dimas, jangan buat dia curiga dengan perubahan kamu yang tiba tiba," balas Dini.


"Bilang aja cemburu," sahut Andi.


"Enggak, aku.... aku cuma nggak mau dia tau aja," balas Dini memberi alasan.


"Tenang aja sayang, aku tau apa yang harus aku lakuin," ucap Dimas dengan merangkul pundak Dini dan mencium keningnya singkat.


"Tapi kamu juga harus cerita semuanya sama aku, jangan ngelakuin sesuatu tanpa kasih tau aku!" balas Dini.


"Iya, pasti," ucap Dimas dengan mencubit hidung Dini.


"tugasku cuma satu, tetep berada di dekat Anita buat pastiin kalau dia nggak akan ngelakuin hal yang buruk dan pelan pelan bikin Anita sadar kalau selama ini apa yang dia lakuin itu salah," batin Andi dalam hati.


"Pake mobil gue aja Ndi, biar Anita nggak liat mobil lo nanti!" ucap Dimas pada Andi.


"Oke, tapi gue nggak mau jadi supir ya!"


"Aku aja yang di belakang," ucap Dini lalu masuk dan duduk di bangku belakang.


Andi tersenyum lalu masuk dan duduk di sebelah Dimas yang malam itu menjadi supir.


"Lo udah hubungin Anita?" tanya Andi pada Dimas.


"Belum, nanti aja di sana," jawab Dimas.


"Kalau dia nggak bisa gimana?"


"Dia nggak mungkin nolak gue, liat aja nanti," balas Dimas penuh percaya diri.


"Iya, dia emang cinta buta sama kamu," balas Dini kesal.


Dimas hanya terkekeh melihat Dini kesal.


Tak lama kemudian mereka sampai. Dimas duduk di salah satu bangku dan segera menghubungi Anita, sedangkan Andi dan Dini duduk di bangku lain yang tidak terlihat dari bangku Dimas namun mereka bisa melihat dengan jelas ke arah Dimas.


Setelah beberapa lama menunggu, Anita datang dan duduk di samping Dimas. Sangat jelas terlihat kebahagiaan di wajahnya karena Dimas menghubunginya dan mengajaknya bertemu di kafe.


"Kamu dari tadi?" tanya Anita saat ia sudah duduk.


"Baru aja, mau pesen dulu?"


"Boleh," jawab Anita bersemangat.


Dimas lalu memanggil waiters dan memesan 2 minuman serta makanan ringan.


"Aku harap kamu nggak salah paham karena aku ajak kamu ketemu di sini," ucap Dimas memulai percakapan.


"Apa Dini yang minta kamu temui aku?" tanya Anita.


Dimas mengangguk pelan.


"Kalau Dini nggak minta kamu temui aku, apa kamu nggak akan temui aku?"


"Aku mungkin nggak akan temui kamu, tapi bisa jadi aku akan menyesali apa yang udah aku lakuin sama kamu," jawab Dimas.


"Kamu menyesal?" tanya Anita tak percaya.


"Aku minta maaf Nit," ucap Dimas yang membuat Anita begitu terkejut.


"Kenapa kamu tiba tiba kayak gini? apa Dini maksa kamu buat minta maaf?"


"Andini minta aku buat temui kamu dan bicarain semuanya baik baik, apa kamu keberatan?"


Anita menggeleng cepat.


"Enggak, aku seneng kamu mau temui aku," jawab Anita.


"Tapi ini bukan berarti kita bisa kayak dulu lagi Nit, jujur aku nggak bisa lupain semua yang udah kamu lakuin sama aku dan hubunganku sama Andini!"


Anita tersenyum tipis dengan menundukkan kepalanya lalu menatap Dimas.


"Aku cinta sama kamu Dimas, tapi kamu memilih yang lain, aku terlalu cinta sampe aku nggak bisa relain kamu sama siapapun selain aku," ucap Anita.


"Tapi Nit......"


"Permisi kak, ini minuman dan makanan yang sudah dipesan, selamat menikmati," ucap waiters yang tiba tiba datang menaruh makanan dan minuman di meja.


"Terima kasih," balas Dimas dengan tersenyum.


"Setidaknya kasih aku kesempatan buat bisa jadi teman kamu Dimas, nggak mudah buat aku bisa lupain kamu, tolong kamu mengerti posisiku!" ucap Anita setelah waiters pergi.


"Asalkan kamu tau batasannya," balas Dimas lalu menyeruput minuman di hadapannya.


"Jadi kita bisa berteman lagi?" tanya Anita penuh semangat.


"Sekedar teman biasa, bukan teman dekat apa lagi sahabat," balas Dimas.


"Apa itu artinya kamu udah maafin aku?"


"Aku ajak kamu ke sini karena aku mau minta maaf sama kamu Anita, tapi bukan berarti aku udah maafin semua yang udah kamu lakuin!"

__ADS_1


"Maaf Dimas, aku....."


"Aku butuh waktu buat bener bener maafin kamu Nit," ucap Dimas memotong ucapan Anita.


"Iya, nggak papa, setidaknya kamu nggak menghindar lagi dari aku," balas Anita dengan tersenyum.


"Tapi tolong jangan ganggu hubungan ku sama Andini Nit, aku sama Andini udah tunangan dan kita akan menikah!"


"Apa yang aku ucapin waktu di tempat parkir kemarin nggak serius kok, aku bilang gitu karena aku terlalu emosi sama kamu, aku sama Dini udah berteman baik sekarang, aku nggak mungkin punya niat jahat sama dia," ucap Anita.


"Apa aku bisa percaya ucapan kamu ini?"


"Tentu, kamu bisa percaya sama aku," jawab Anita tanpa ragu.


"Oke," balas Dimas dengan menganggukkan kepalanya.


Di tempat lain, Andi dan Dini masih memperhatikan Dimas dan Anita dari jauh. Meski mereka tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi mereka bisa melihat dengan jelas raut wajah Anita yang begitu bahagia.


"Apa yang kita lakuin ini nggak jahat?" tanya Dini pada Andi.


"Enggak, kamu tau Anita nggak akan menyerah buat dapetin Dimas bahkan saat kita udah nggak percaya lagi sama dia, dia selalu punya cara dia sendiri dan buat hadapin dia kita juga harus punya cara kita sendiri!" jawab Andi.


"Iya kamu bener, dia harus bener bener sadar kalau apa yang dia lakuin selama ini itu salah!"


"Itu tugasku, aku akan jadi teman yang baik buat dia, teman yang akan selalu denger ceritanya dan keluh kesahnya," ucap Andi.


Dini lalu tersenyum tipis dengan mengaduk aduk minuman di hadapannya.


"Kenapa Din? apa ada yang salah?" tanya Andi yang melihat raut wajah Dini berubah.


"nggak ada yang salah, tapi denger ucapan kamu bikin aku iri, kamu yang dulu satu satunya sahabatku, kamu yang dulu cuma peduli sama aku, sekarang harus peduli sama cewek lain, rasanya agak aneh aja," batin Dini dalam hati.


"Apa kamu akan jatuh cinta sama dia?" tanya Dini yang masih menundukkan kepalanya dengan mengaduk minuman di hadapannya.


"Kenapa kamu tanyain itu?" balas Andi bertanya.


"Kenapa kamu nggak langsung jawab? apa itu artinya iya?"


"aku cuma cinta sama kamu Din, jadi mana mungkin aku akan jatuh cinta sama Anita!" batin Andi dalam hati.


"Aku cuma mau jadi teman baiknya Din, aku yakin dia bisa dapetin seseorang yang lebih baik dari aku ataupun Dimas," jawab Andi.


"Kalau dia jatuh cinta sama kamu?"


Andi diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Dini. Ia tidak mengerti kenapa Dini menanyakan hal itu seolah Dini tidak ingin hal itu terjadi.


"Apa itu artinya aku juga harus jatuh cinta sama dia?" balas Andi bertanya yang membuat Dini kesal.


"Terserah kamu aja lah, aku nggak peduli," ucap Dini lalu menyeruput minumannya sampai habis.


Di tempat lain, Dimas sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik dan berniat untuk pulang.


"Aku selalu maafin kamu bahkan sebelum kamu minta maaf," ucap Anita dengan senyumnya yang menggoda.


"Kalau gitu aku pulang dulu, aku harus ke bandara sekarang!" ucap Dimas lalu berdiri dari duduknya.


Anita lalu segera berdiri dan memeluk Dimas tiba tiba, membuat Dini dan Andi yang melihat dari cukup terkejut dan berharap jika Dimas bisa menahan emosinya saat itu.


"Lepas Nit, tolong jaga batasan kamu!" ucap Dimas dengan melepaskan Anita secara paksa.


Anita lalu melepaskan Dimas dan tersenyum tanpa merasa bersalah.


"Tolong jaga batasan kamu Anita!" ucap Dimas lalu pergi meninggalkan Anita.


Namun Anita berlari mengikuti Dimas.


"Kamu bisa antar aku pulang? aku nggak bawa mobil tadi!" ucap Anita pada Dimas.


Dimas menghembuskan napasnya kasar lalu menganggukkan kepalanya pelan.


Anitapun masuk ke dalam mobil Dimas dan duduk di samping Dimas.


"Ini mobil siapa?" tanya Anita karena ia tau itu bukan mobil yang biasa Dimas pakai.


"Papa," jawab Dimas singkat.


Sebelum menyalakan mesin mobilnya, Dimas mengirimkan pesan pada Andi.


Ndi, Anita minta anter pulang karena nggak bawa mobil, lo balik pake taksi ya sama Andini, ambil mobil lo dan anter Andini ke rumah gue karena gue harus ke bandara abis nganter Anita


Dimas lalu melajukan mobilnya ke arah rumah Anita.


Andi yang masih berada di kafe lalu menunjukkan pesan Dimas pada Dini.


"Modus," ucap Dini dengan tersenyum tipis.


Andi lalu memesan taksi dan kembali ke gedung home store barunya untuk mengambil mobil.


"Kita ke rumah Dimas sekarang!" ucap Andi yang dibalas anggukan kepala Dini.


"Kenapa nggak semangat gitu?" tanya Andi.


"Siapa yang semangat kalau mau ditinggal pacarnya pergi jauh!"


Andi tersenyum kecil lalu mengacak acak rambut Dini.

__ADS_1


"Weekend nanti kan ketemu lagi," ucap Andi.


Andi lalu mengendarai mobilnya ke arah rumah Dimas.


"Pak, Dimasnya belum pulang?" tanya Dini pada satpam yang ada di rumah Dimas.


"Belum mbak, saya pikir keluar sama mbak Dini," balas si satpam.


"Saya....."


Dini menghentikan ucapannya saat melihat mobil papa Dimas datang.


Dimas lalu mengajak Dini dan Andi masuk ke rumahnya.


Setelah mengambil keperluannya di rumah, Dimas lalu berangkat ke bandara menggunakan mobil Andi bersama Dini.


"Aku nggak tau kalau kamu balik naik pesawat!" ucap Dini pada Dimas.


"Papa yang siapain semuanya sayang, aku juga baru tau," balas Dimas.


Sesampainya di bandara, Dimas memeluk Dini dengan erat sebelum ia pergi.


"Aku pasti kangen banget sama kamu," ucap Dini manja.


"Aku juga, weekend nanti aku pasti temui kamu lagi," balas Dimas.


Dimas lalu melepaskan pelukannya dan mencium kening Dini.


"Andi pasti bisa jaga kamu selama aku nggak ada," ucap Dimas dengan membawa pandangannya pada Andi.


"Aku bisa jaga diriku sendiri kok," balas Dini.


"Jangan pulang terlalu malem, hubungi aku kalau Andi nakal sama kamu!" ucap Dimas dengan berbisik di telinga Dini.


Dini hanya tersenyum kecil lalu kembali memeluk Dimas.


Dimaspun pergi karena sebentar lagi pesawatnya akan take off.


Setelah Dimas menghilang dari pandangannya, Dini lalu meninggalkan bandara bersama Andi.


"Mau langsung pulang?" tanya Andi pada Dini.


"Terserah kamu aja," balas Dini.


Andi lalu mengarahkan mobilnya ke sebuah taman.


"Kenapa ke sini?" tanya Dini saat Andi menghentikan mobilnya.


"Katanya terserah aku!"


Dini menepuk jidatnya lalu keluar dan berjalan ke dalam taman bersama Andi. Mereka lalu duduk di ayunan yang berada di sana.


"Ada yang mau aku bicarain sama kamu Din!" ucap Andi pada Dini yang sedang asik bermain ayunan.


"Apa?" tanya Dini.


"Soal Dimas," jawab Andi yang membuat Dini segera menghentikan ayunannya dan membawa pandangannya pada Andi.


"Kamu masih berantem sama dia?" tanya Dini.


"Enggak, kita udah nggak ada masalah apa apa," jawab Andi.


"Lalu?"


"Din, kamu liat apa yang Dimas lakuin sama Anita kan? dan itu bukan yang pertama kali dia ngelakuin itu, apa....."


"Dia punya alasan kenapa dia ngelakuin itu Ndi!" ucap Dini memotong ucapan Andi.


"Aku tau Din, Anita emang jahat tapi apa yang Dimas lakuin tetep nggak bisa dibenarkan!"


"Iya, aku juga tau itu," balas Dini.


"Apa kamu nggak masalah dengan hal itu? apa kamu yakin Dimas nggak akan ngelakuin itu sama kamu?"


Dini diam beberapa saat. Sejujurnya ia takut, ia takut jika Dimas bisa kehilangan kendali atas dirinya dan melakukan hal menyakitkan itu padanya.


Namun dalam hati kecilnya ia yakin dan percaya pada Dimas. Ia tau Dimas mencintainya begitu juga dirinya. Ia yakin jika semua masalah yang akan mereka hadapi nantinya akan bisa terselesaikan dengan baik tanpa harus ada yang tersakiti.


"Aku percaya sama Dimas Ndi, dia nggak akan ngelakuin itu sama aku," ucap Dini dengan menatap Andi.


"Kamu percaya atau kamu berusaha percaya?" tanya Andi meyakinkan.


"Aku percaya, kita saling mencintai Ndi, apapun masalah yang akan kita hadapi nanti, aku yakin kalau aku dan Dimas bisa menghadapi nya bersama," jawab Dini penuh keyakinan.


"aku tau dia cinta sama kamu Din, dia selalu berusaha buat bahagiain kamu dan kamupun bahagia sama dia, tapi....."


"Ndi, tolong jangan ragu sama Dimas, kamu sendiri tau gimana perjuangannya dulu, kamu juga tau kalau aku bahagia sama dia, kita emang sering berantem dan berselisih paham, tapi kita masih bersama sampai sekarang, naik turunnya hubungan kita semakin memperkuat cinta kita Ndi, jadi aku harap kamu juga percaya sama Dimas, sama cintanya buat aku," ucap Dini dengan menggenggam tangan Andi.


"Aku nggak mau kamu terluka Din," ucap Andi.


"Aku selalu siap dengan apa yang terjadi di depan nanti Ndi, selama aku punya Dimas, selama ada kamu, aku akan baik baik aja," balas Dini dengan senyum manisnya.


"Kalau memang kamu yakin sama pilihan kamu dan kamu bahagia, aku juga akan bahagia, tapi satu yang harus kamu ingat, sekali aja Dimas nyakitin kamu, aku nggak akan tinggal diam Din, aku akan pastiin kalau Dimas nggak akan bisa temui kamu lagi, bahkan milikin kamu sekalipun!" ucap Andi penuh ketegasan.


Dini hanya diam mendengarkan ucapan Andi. Mereka saling menatap di bawah sinar bulan dan gemerlap bintang.

__ADS_1


__ADS_2