
Malam hadir bersama kerlip bintang berteman cahaya bulan.
Di kamar yang tidak terlalu luas itu, Dini mulai memasukkan beberapa barang miliknya ke dalam koper dan tas besar.
Esok adalah hari pernikahannya, setelah itu ia akan meninggalkan rumah yang sudah lama menjadi tempatnya tinggal bersama sang ibu.
Rumah yang tak hanya memiliki kenangan bersama sang ibu, namun juga kenangan bersama Andi, sahabat yang menemaninya sejak kecil.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Dini, pintu terbuka dan sang ibu masuk ke kamar Dini.
Ibu Dini tersenyum lalu duduk di tepi ranjang Dini.
"Akhirnya anak ibu akan menikah besok," ucap ibu Dini sambil mengusap rambut Dini.
"Ibu beneran nggak keberatan kan kalau Dini tinggal sama Dimas?" tanya Dini khawatir.
"Jangan pikirkan ibu Din, ibu baik baik saja, memang sudah sepatutnya kamu ikut Dimas dimanapun dia tinggal," jawab ibu Dini.
"Dini akan sering ke sini Bu, ibu juga bisa main ke tempat tinggal Dini nanti," ucap Dini.
"Iya, tapi apa kamu sudah tau dimana kamu dan Dimas akan tinggal?"
Dini menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan sang ibu.
"Dimas belum kasih tau Dini, Dimas cuma bilang dia udah siapin rumah buat kita tinggal setelah kita menikah," ucap Dini.
"Dimas memang laki laki yang baik Din, dia sangat mencintai kamu, setelah kalian menikah nanti kamu harus bisa jadi istri yang baik, menjaga harkat dan martabat suami kamu dan menghormati dia sebagai kepala rumah tangga kamu," ucap sang ibu memberi nasihat.
"Iya Bu, Dini akan jadi istri yang baik buat Dimas," balas Dini.
Ibu Dini lalu mendekat dan membawa Dini ke dalam dekapannya.
"Bu, kalau ayah masih ada, ayah pasti bahagia kan sekarang?" tanya Dini yang membuat sang ibu terdiam beberapa saat.
"Iya, ayah kamu akan sangat bahagia sekarang, sama seperti yang ibu rasakan," ucap ibu Dini.
Ibu Dini mendekap Dini dengan erat, ia tidak ingin menangis di hadapan Dini karena mengingat masa lalunya bersama laki laki yang dicintainya.
Masa lalu buruk itu ia biarkan tersimpan dalam memorinya sendiri tanpa Dini harus mengetahuinya.
Setelah menenangkan perasaan terpendamnya, ibu Dini melepaskan Dini dari pelukannya, membelai wajah anak semata wayangnya yang tak akan lama lagi akan pergi dari rumah.
"Ibu selalu berdo'a buat kebaikan kamu Din, cuma do'a yang bisa ibu kasih buat kamu, ibu berharap kamu bisa menjalani kehidupan kamu dengan lebih bahagia setelah kamu menikahi," ucap ibu Dini.
"Terima kasih Bu, semua kebahagiaan dalam hidup Dini adalah berkat dari do'a ibu," balas Dini lalu kembali memeluk sang ibu.
Mereka saling berpelukan untuk beberapa lama sebelum akhirnya sang ibu keluar dari kamar Dini.
Dinipun melanjutkan untuk memasukkan barangnya ke dalam koper. Saat ia membuka laci di lemarinya, ia melihat sebuah album foto.
Ia pun mengambilnya dan membukanya. Foto dirinya dan Andi terlihat memenuhi album itu, membuat memori Dini kembali mengulas kebersamaannya bersama Andi sejak mereka masih kecil.
Banyak hal yang sudah ia dan Andi lakukan selama mereka bersahabat, bahkan banyak hal yang pertama kali Dini lakukan saat ia bersama Andi.
Ia tumbuh bersama Andi sebagai sahabatnya tanpa pernah ia tau bagiamana perasaan Andi sesungguhnya.
Dini membawa pandangannya ke arah jam dinding di kamarnya, jarum pendeknya sudah berada di angka 8.
Dini lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Andi.
"Halo Ndi, kamu dimana?" tanya Dini saat Andi sudah menerima panggilannya.
"Aku di rumah Din, ada apa?"
"Aku pingin ketemu kamu," ucap Dini.
"Aku kesana sekarang," balas Andi lalu mengakhiri panggilan Dini.
Dini hanya tersenyum tipis lalu kembali mengemasi barang barangnya sembari menunggu kedatangan Andi.
Tak lama kemudian suara mobil berhenti di halaman rumahnya membuat Dini segera keluar dari kamarnya dan membuka pintu rumahnya.
"Ikut aku!" ucap Dini lalu menarik tangan Andi dan menggandengnya.
"Kemana?" tanya Andi sambil berjalan mengikuti langkah Dini.
"Aku mau ke bukit," jawab Dini yang membuat Andi seketika menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Dini.
"Ini udah malem Din, besok kamu akan menikah dan....."
"Justru karena itu, aku mau ke bukit sama kamu sebelum aku menikah, mungkin ini kali terakhir aku bisa ke bukit itu sama kamu," ucap Dini memotong ucapan Andi.
"Tapi Din........"
"Udah ayo!" paksa Dini dengan menarik tangan Andi kuat kuat.
Andipun pasrah dan kembali mengikuti langkah Dini.
Mereka berjalan bergandengan tangan ke arah bukit. Jejeran lampu lampu kecil yang berwarna warni menuntut langkah mereka untuk mencapai puncak bukit yang tidak terlalu tinggi itu.
__ADS_1
Sesampainya mereka di atas, Andi segera melepas jaketnya dan memakaikannya pada Dini yang saat itu sudah mengenakan sweater, sedangkan Andi kini hanya mengenakan kaos berlengan pendek.
"Aku udah pake sweater Ndi," ucap Dini sambil melepaskan jaket Andi dari badannya, namun Andi menahannya.
"Udara malem nggak baik Din, kamu harus tetap hangat," ucap Andi dengan menutup resleting jaketnya, memastikan Dini tetap hangat meski ia sendiri merasa kedinginan saat itu.
Dini tersenyum lalu memeluk Andi dengan erat.
"Kayak gini juga bisa bikin hangat," ucap Dini.
Andi hanya tersenyum tipis dan membalas pelukan Dini yang bisa jadi itu adalah pelukan terkahir yang bisa ia berikan pada Dini.
"Lihat deh, bintangnya banyak banget," ucap Dini dengan menunjuk gelap langit yang dihiasi kerlip bintang.
"Jangan hanya terpaku sama bintang Din, bulan itu juga indah," balas Andi.
"Iya, mereka sama sama indah kalau diliat waktu malem," ucap Dini.
"Setelah matahari datang mereka mereka memang nggak terlihat lagi, tapi waktu malam datang lagi, mereka akan keliatan lagi," ucap Andi.
Dini menganggukkan kepalanya lalu berdiri menghadap ke arah Andi. Ia mendongakkan kepalanya menatap wajah sahabat yang sudah menemaninya dari kecil itu.
"Kenapa?" tanya Andi dengan menundukkan kepalanya.
"Persahabatan kita nggak akan berkahir karena pernikahan ini kan?" tanya Dini.
"Persahabatan kita nggak akan pernah berakhir Din, aku akan tetap jadi sahabat terbaik kamu, aku akan selalu ada buat kamu," jawab Andi dengan menyibakkan sehelai rambut Dini yang menutupi wajah cantik di hadapan Andi.
"Apa kamu bahagia dengan pernikahan ku?" tanya Dini.
"aku bahagia Din, walaupun aku tau itu bukan hal yang mudah buat aku, tapi aku akan berbahagia untuk kebahagiaan kamu," jawab Andi dalam hati.
"Aku akan selalu bahagia dengan apapun yang membuat kamu bahagia Din," jawab Andi.
"Walaupun kita harus terpisah jauh?"
Andi menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku tau Dimas adalah laki laki yang tepat buat kamu, aku percaya dia bisa jaga kamu dengan baik dan kasih seluruh cintanya buat kamu, dia akan memberikan kamu kebahagiaan yang selama ini kamu impikan Din, jadi nggak ada alasan buat aku nggak bahagia, karena kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan buat aku," ucap Andi.
Dini tersenyum lalu kembali memeluk Andi seolah tak ingin melepaskannya, karena ia tau ia akan merindukan kehangatan pelukan yang selalu menemaninya sejak lama.
Mereka masih saling berpelukan untuk beberapa saat sebelum akhirnya Andi melepaskan Dini dari pelukannya.
"Kita balik sekarang Din, anginnya makin dingin," ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
Merekapun melangkahkan kaki ke arah tangga untuk kembali turun, namun tiba tiba Dini menarik tangan Andi, membuat Andi menghentikan langkahnya.
"Apa aku masih bisa jadi tuan putri kamu?" tanya Dini dengan tersenyum manja.
"Silakan tuan putri," ucap Andi.
Dinipun bersorak kegirangan lalu menaiki punggung Andi sampai mereka tiba di bawah bukit.
"Udah, stop!" ucap Dini dengan menepuk bahu Andi.
Andipun kembali berjongkok untuk menurunkan Dini. Mereka lalu melanjutkan langkah mereka untuk kembali ke rumah dengan bergandengan tangan.
Tampak kebahagiaan dari raut wajah Dini, entah karena hari pernikahannya yang semakin dekat atau karena kebersamaannya dengan Andi.
Sesampainya di rumah Dini, Andi segera berpamitan untuk pulang.
"Besok jangan telat ya!" ucap Dini mengingatkan.
Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu kembali merengkuh Dini ke dalam pelukannya sebelum ia pulang.
"Aku selalu berdo'a buat kebahagiaan kamu Din," ucap Andi.
"Aku juga," balas Dini.
Saat Andi akan melepaskan Dini dari pelukannya, tiba tiba kepalanya pusing, membuatnya tetap memeluk Dini dengan erat.
Setelah dirasa pusingnya sudah mereda, ia lalu memberikan kecupan singkat di kening Dini sebelum ia benar benar meninggalkan rumah Dini.
Dini hanya diam terpaku di tempatnya sampai mobil Andi sudah tidak terlihat lagi. Ia lalu masuk ke dalam rumah dan menghempaskan badannya di ranjang setelah mencuci kaki.
Dini mengambil ponselnya, berniat untuk mengirimkan foto selfienya pada Dimas karena semenjak mereka tidak diperbolehkan untuk bertemu setiap malam Dini akan mengirimkan foto selfie nya pada Dimas, begitu juga dengan Dimas.
Love you
Tulis Dini pada foto yang ia kirim untuk Dimas.
Biiiippp Biiiiiipppp biiiipppp
Tak lama kemudian ponsel Dini berdering, tak butuh waktu lama bagi Dini untuk menerima balasan dari Dimas.
Love you more
Tulis Dimas bersama foto dirinya.
Itu bukannya jaket Andi ya?
Seketika Dini segera beranjak dari ranjangnya setelah membaca pesan Dimas. Ia baru menyadari jika ia masih mengenakan jaket milik Andi.
__ADS_1
"Duuuh, kenapa bisa lupa sih!" gerutu Dini kesal pada dirinya sendiri.
Dini lalu segera membuka penyimpanan kontaknya, bukan untuk menghubungi Dimas, melainkan menghubungi Andi.
"Halo Ndi, kamu udah di rumah?" tanya Dini saat Andi sudah menerima panggilannya
"Masih di jalan, kenapa?" jawab Andi sekaligus bertanya.
"Jaket kamu masih aku pake, aku kelupaan tadi!" ucap Dini.
"Nggak papa, kamu bawa aja," balas Andi santai.
"Tapi kamu baik baik aja kan? jangan sampe kamu sakit gara gara pinjemin jaket kamu buat aku!"
"Aku baik baik aja Din, nggak perlu khawatir, kamu istirahat aja sekarang, udah malem!"
"Ya udah kalau gitu, kamu juga langsung istirahat ya nanti, bye!"
"Bye!"
Dini lalu kembali membuka pesannya dan membalas pesan Dimas.
Iya ini jaket Andi, dia tadi ke sini, kamu nggak marah kan?
Enggak sayang, ya udah kamu istirahat, jangan tidur terlalu malam karena besok akan jadi hari bahagia kita!
Kamu juga harus cepat tidur ya, love you
Love you more sayang
Dini lalu menaruh ponselnya di meja, saat akan melepaskan jaket milik Andi, ia mengurungkannya.
Ia lalu menarik selimut dan membiarkan dirinya tertidur dengan mengenakan jaket milik Andi.
"karena bau kamu nempel banget di jaket ini, jadi aku akan pake ini tidur hehehe..." batin Dini lalu memejamkan matanya dan tertidur dengan nyenyak.
**
Di tempat lain, Andi yang baru saja sampai di rumah masih duduk di dalam mobilnya yang sudah terparkir di garasi.
Ia memegangi kepalanya yang kembali terasa pusing. Setelah berdiam diri selama beberapa saat, Andipun keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah.
Andi melangkahkan kakinya sangat pelan saat melewati ruang tamu karena rasa pusing yang kembali dirasakannya.
"Dari mana lo?" tanya Adit yang baru saja keluar dari kamar sang mama.
"Ketemu Dini," jawab Andi singkat.
Adit hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan menaiki tangga. Sebelum Adit masuk ke kamarnya, ia memperhatikan Andi yang terlihat sedang tidak baik baik saja.
"Lo kenapa?" tanya Adit namun tidak mendapat jawaban dari Andi.
Saat Andi membuka pintu kamarnya, ia hampir saja terjatuh jika Adit tidak memegangi Andi dengan tepat waktu.
"Badan lo panas Ndi," ucap Adit sambil membantu Andi masuk ke kamarnya.
"Kayak bocah banget sih hahaha...." ucap Adit meledek Andi.
Namun sebelum Andi sampai di ranjangnya, tiba tiba Andi kehilangan kesadarannya.
"Jangan bercanda deh, bangun nggak!" ucap Adit dengan menepuk nepuk pipi Andi namun tak ada respon.
Tanpa pikir panjang, Adit segera meminta pak satpam untuk membantunya membawa Andi masuk ke dalam mobil lalu segera mengendarai mobilnya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Andi segera mendapat penanganan dari dokter.
Adit lalu menghubungi sang mama dan memberi tahu sang mama jika ia sedang berada di rumah sakit bersama Andi.
**
Pagi yang cerah di hari yang indah. Dengan balutan busana pengantin putihnya Dini sudah berada di tempat dimana Dimas akan mengikrarkan janji sucinya di hadapan penghulu.
Dengan make up yang yang tidak terlalu tebal, Dini tampak sangat cantik bak bunga mawar yang baru merekah menyebarkan aroma wanginya.
Sedangkan Dimas duduk dengan degupan jantung yang terasa akan lepas dari dadanya karena sebentar lagi ia akan mengucapkan rangkaian kata yang akan menjadikan Dini miliknya seutuhnya.
Di sisi lain, mama dan papa Dimas, ibu Dini, ibu dan ayah Andi sudah duduk menunggu acara yang sudah siap untuk segera dilaksanakan.
Sepasang pengantin sudah siap, penghulu sudah datang, wali dan saksi sudah ada, namun acara belum juga dimulai karena ada seseorang yang belum menampakkan batang hidungnya di tempat itu.
Senyum di wajah Dini perlahan mulai memudar seiring dengan berlalunya waktu dari yang sudah ditentukan.
"Apakah sudah bisa kita mulai akadnya?" tanya penghulu pada Dimas
"Maaf pak, sebentar lagi ya pak," jawab Dimas sambil menyapu pandangannya ke segala arah.
"Kamu nunggu apa lagi sayang, ini sudah lebih dari jam yang ditentukan!" ucap mama Dimas.
"Andi belum datang ma, Dimas harus nunggu dia," balas Dimas.
"Apa sebaiknya kita tunda saja karena saya juga ada jadwal di tempat lain setelah ini," ucap penghulu.
"Tidak pak, kita lakukan sekarang saja," ucap mama Dimas.
__ADS_1
Dimas lalu membawa pandangannya pada Dini, terlihat kesedihan dari raut wajah Dini meski Dini hanya diam.
Dimas tidak ingin pernikahannya diliputi oleh kesedihan bagi Dini, namun ia juga tidak ingin menunda pernikahan yang sudah ada di depan mata.