Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Menjadi Detektif


__ADS_3

Setelah film selesai diputar, Dini dan Andi segera berdiri dari duduknya, begitu juga Adit.


"Kak Adit sama siapa?" tanya Dini pada Adit.


"Kakak sendirian, kalian kenapa bisa ke sini sih?"


"Lo sendiri kenapa jauh jauh kesini kalau cuma mau nonton sendiri?" balas Andi bertanya.


"Gue.... gue abis ada pertemuan di daerah sini," jawab Adit berbohong.


"Pertemuan apa kak? kok Dini nggak tau?" balas Dini bertanya.


"Pertemuan pribadi sama pacarnya," ucap Andi menjawab pertanyaan Dini.


"Beneran kak?" tanya Dini pada Adit.


"Enggak, sahabat kamu itu emang sok tau banget!" jawab Adit.


"Oh ya, Dini tadi liat mbak Ana di sini," ucap Dini pada Adit.


Adit hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu begitu saja.


"Kak Adit mau kemana?" tanya Dini.


"Kakak nggak mau ganggu kalian, bye!" jawab Adit tanpa menoleh ke arah Dini.


Dini dan Andi hanya saling pandang melihat sikap Adit. Dini dan Andi lalu pergi ke food court untuk membeli beberapa makanan.


"Kak Adit aneh banget sih!" ucap Dini.


"Apa dia sama mbak Ana?" tanya Andi menduga duga.


Dini lalu memutar otaknya, memikirkan hal hal kebetulan yang baru saja terjadi. Kebetulan bertemu Ana, kebetulan kalung punya Ana mirip dengan milik Adit, kebetulan melihat Adit sendirian, kebetulan kursi di sebelahnya kosong saat menonton film.


"Jadi apa bener kalung yang dipake mbak Ana itu sama dengan kalung milik kak Adit?" tanya Dini.


"Aku yakin itu kalung yang sama," jawab Andi penuh keyakinan.


"Kamu bikin jiwa detektif ku meronta ronta Ndi!" ucap Dini dengan menjilat ice cream di tangannya.


"Jadi apa yang kamu pikirin sekarang sama seperti apa yang aku pikirin?"


Dini menganggukkan kepalanya dengan tatapan tajam.


"Jadi kak Adit kasih kalung itu buat mbak Ana, mereka janji ketemu di bioskop diam diam, waktu mbak Ana liat kita, mbak Ana nggak jadi masuk ke bioskop, that's why kak Adit sendirian di sana dan tempat duduk di sebelahnya kosong, bener kan?"


"Itu juga yang aku pikirin," balas Andi menyetujui analisis Dini.


"Hmmmm, jadi mereka diam diam punya hubungan?"


"Yang jadi pertanyaan, kenapa Adit sembunyiin hubungannya sama mbak Ana dari mama, bukannya kamu bilang mama suka sama mbak Ana?"


Dini diam beberapa saat mendengarkan pertanyaan Andi. Ia lalu mengingat sesuatu dan membuatnya membelalak tak percaya.


"Apa Din? apa yang kamu pikirin?" tanya Andi penuh keingintahuan.


"Jangan jangan mereka punya hubungan gelap, mbak Ana selingkuh sama kak Adit!" jawab Dini dengan berbisik.


"Selingkuh? maksud kamu Adit jadi selingkuhan nya mbak Ana? mana mungkin Din?"


"Ndi, mbak Ana maksa aku bertahan sama kak Adit dulu karena mbak Ana mau menikah, kak Adit nggak mau lepasin mbak Ana keluar dari kantor sebelum mbak Ana dapet pengganti posisinya!"


"Tapi bisa jadi mbak Ana batal nikah kan?"


"Iya juga sih, nggak mungkin mbak Ana menikah tanpa kasih undangan ke kak Adit, aku tau mereka deket banget!"


"Jadi apa alasan Adit menurut kamu?"


"Ndi, apa mungkin mbak Ana hamil? kamu liat sendiri kan tadi mbak Ana kayak lagi hamil!" tanya Dini.


"Mungkin cuma gendutan aja Din, kamu jangan body...."


"Jangan jangan mbak Ana hamil anaknya kak Adit, mereka udah ngelakuin....."


"Sssstttt.....jangan ngaco deh Din, mana mungkin Adit kayak gitu!"


"Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin Ndi, buktinya udah jelas, kenapa kak Adit sembunyiin mbak Ana dari mama kalau bukan karena itu?"


"Udah udah.... jangan dibahas lagi, kamu udah kayak akun gosip kalau kayak gini!"


"Bulan akun gosip Ndi, detektif!" balas Dini membela diri sendiri.


"Ya udah terserah kamu, tapi soal hal ini jangan kasih tau mama dulu ya, kita belum tau kebenaran nya, takutnya malah jadi masalah besar!"


"Oke, tapi harus ada yang buat tutup mulut dong!" balas Dini dengan mengedipkan satu matanya.


"Iya, kita beli ice cream lagi!"


"Yeeeyyy, Andi emang baik banget," ucap Dini kegirangan.


Mereka lalu kembali membeli ice cream dan berjalan mengelilingi food court sebelum turun.


Di sisi lain, Adit sedang menemui Ana di sebuah taman yang tak jauh dari mall.


Ia segera berlari menghampiri Ana yang sedang duduk seorang diri.


Ana hanya menyunggingkan senyumnya saat melihat Adit datang.


"Kamu baik baik aja?" tanya Adit pada Ana.


"Aku baik baik aja, udah selesai filmnya?"

__ADS_1


"Udah, ayo kita pulang!"


Ana hanya mengangguk lalu berjalan bersama Adit ke arah tempat parkir.


"Gimana filmnya? seru?" tanya Ana saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Aku nggak tau, aku nggak bisa fokus sama filmnya," jawab Adit.


"Kenapa?"


"Gimana aku bisa fokus liat film sedangkan kamu di luar sendirian!"


"Aku udah biasa sendirian Dit, aku...."


"Selama kamu punya aku, aku nggak akan biarin kamu sendirian An, harusnya kamu tadi nggak larang aku buat temuin kamu!"


"Andi sama Dini udah liat aku Dit, aku nggak mau mereka curiga karena hal itu!"


Adit hanya menghela napasnya, kesal pada dirinya sendiri.


"Kamu marah sama aku?" tanya Ana.


"Aku marah sama diriku sendiri An, aku nggak bisa tepati ucapanku sendiri kalau aku nggak akan bikin kamu sendirian," jawab Adit yang merasa bersalah.


"Ini bukan masalah besar Dit, jangan terlalu dipikirin, aku baik baik aja kok, aku mengerti ini yang terbaik buat kita."


"Maafin aku An," ucap Adit.


"Berhenti minta maaf Dit, aku nggak merasa kamu bersalah karena hal itu!"


"Tetep aja aku....."


"Aku mau beli bunga, anterin ya!"


Adit hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Maafin papa ya sayang," ucap Adit dengan mengusap perut Ana.


"Papa?" tanya Ana dengan mengernyitkan dahinya.


"Iya, kamu mau dia panggil aku apa? ayah? papi? daddy?"


Ana hanya menggelengkan kepalanya dengan menahan senyumnya.


Sesampainya mereka di toko bunga, Ana segera memilih beberapa bunga yang ia inginkan.


Setelah mendapatkan bunga bunga itu, Adit segera membawa Ana pulang dan meminta Agus untuk menanamnya.


"Aku bisa tanam sendiri kok!" ucap Ana.


"Biar Agus aja, angin malem nggak baik buat kamu!"


Semua yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum iri karena perhatian Adit yang begitu besar pada Ana.


"Kamu harus nurut sama aku Ana!" ucap Adit setelah ia menurunkan Ana di ranjang.


"Kenapa?"


"Karena aku akan jadi suami kamu," jawab Adit penuh percaya diri.


"Kalau aku nggak mau nurut?"


"Aku nggak akan maksa, aku yang akan nurut sama kamu," jawab Adit lalu merebahkan badannya di samping Ana.


"Kamu emang gila Dit!"


"Iya, aku emang tergila gila sama kamu!" balas Adit dengan senyum nakalnya.


"An, maaf malam ini aku nggak bisa tidur di sini," ucap Adit.


"Nggak papa, kamu emang nggak seharusnya di sini tiap hari, jangan bikin mama khawatir Dit!"


"Kamu tau apa yang mama pikirin?"


"Aku tau mama sayang banget sama kamu, mama pasti khawatir dan banyak berpikir kenapa kamu tiba tiba sering keluar dan nggak tidur di rumah, iya kan?"


Adit hanya tersenyum lalu mengusap rambut Ana.


"Kamu memang menantu yang baik, nggak cuma mengerti tentang aku, tapi juga mengerti tentang mama," ucap Adit yang bangga pada wanitanya itu.


"Sebaik apapun yang aku lakuin sekarang, nggak bisa menghapus fakta kalau aku cuma perempuan yang....."


"Jangan dilanjutin, aku nggak mau denger, buat aku kamu satu satunya yang terbaik selain mama di hidupku," ucap Adit memotong ucapan Ana.


Ana hanya tersenyum lalu memeluk Adit.


"Kamu harus pulang, tapi aku mau peluk kamu sebentar," ucap Ana.


**


Waktu berlalu, malam semakin larut. Andi masih berada di teras bersama sang mama.


"Mama masuk ya, biar Andi yang nunggu Adit pulang," ucap Andi pada sang mama.


"Mama mau nunggu Adit Ndi, kamu masuk aja!" balas sang mama.


"Kita tunggu di dalem aja kalau gitu!"


"Mama mau di sini aja," balas mama Siska yang masih bersikeras menunggu Adit di teras.


"lo kemana sih Dit, kenapa nggak bisa dihubungi? awas aja kalau lo nggak pulang!" batin Andi kesal.

__ADS_1


Tak lama kemudian gerbang terbuka, sebuah mobil masuk menuju ke garasi. Senyum mama Siska mulai terlihat saat melihat Adit menghampirinya dengan berlari.


"Mama kenapa di sini? udara malem nggak baik loh buat mama!" tanya Adit dengan membawa sang mama masuk ke dalam rumah.


"Mama nunggu kamu sayang," jawab mama Siska.


"Kenapa lo nggak ajak mama masuk sih? lo nggak tau angin malem nggak baik buat kesehatan mama!" ucap Adit pada Andi.


"Jangan marahin adik kamu, dia udah maksa mama masuk tapi mama yang nggak mau," balas mama Siska menjelaskan.


"Mama kenapa nunggu Adit di luar?" tanya Adit sambil membuka pintu kamar sang mama.


Adit dan mamanya lalu masuk, sedangkan Andi masuk ke kamarnya sendiri, membiarkan Adit dan mamanya menyelesaikan masalah mereka berdua.


Di kamar mama Siska, Adit menarik selimut untuk menghangatkan mamanya.


"Kamu tidur di rumah malam ini?" tanya mama Siska.


"Iya ma, maafin sikap Adit beberapa hari ini," jawab Adit.


"Kamu nggak salah sayang, mama yang salah karena terlalu mengkhawatirkan kamu," balas mama Siska.


"Adit baik baik aja kok ma, Adit akan tetap jadi anak kebanggan mama dan papa, Adit akan bertanggung jawab dengan janji Adit sama papa, mama jangan khawatirkan apapun tentang Adit ma, Adit nggak mau kekhawatiran mama mempengaruhi kesehatan mama," ucap Adit.


"Maafin mama sayang."


"Jangan minta maaf ma, mama bikin Adit semakin merasa bersalah," ucap Adit dengan menggenggam tangan mamanya.


"Dia perempuan baik baik kan? dia nggak akan jauhin kamu dari mama kan sayang?"


Adit mengangguk penuh keyakinan.


"Dia perempuan baik baik ma, dia yang paling mengerti Adit, dia yang paling memahami Adit, cuma dia yang bikin emosi Adit luruh, cuma dia yang mau menerima keegoisan dan keras kepalanya Adit," ucap Adit dengan tersenyum karena membayangkan Ana.


"Dia bener bener bikin kamu jatuh cinta, mama nggak pernah liat kamu sebahagia ini Dit."


"Dia pelengkap hidup Adit ma," balas Adit.


"Kalau dia sebaik itu, kenapa mama nggak bisa ketemu dia?"


"Hubungan kita baru aja di mulai ma, terlalu dini kalau harus ajak mama ketemu dia," jawab Adit.


"Setidaknya kasih tau mama siapa namanya, apa pekerjaannya dan bagaimana latar belakang nya!"


"Mama akan tau kalau saatnya udah tiba ma, buat saat ini mama cukup tau kalau dia perempuan baik baik dan perempuan yang berarti dalam hidup Adit selain mama," ucap Adit.


"Apa dia akan menggantikan posisi mama di hati kamu?"


"Enggak ma, mama adalah pemilik ruang di hati Adit, dia baru masuk, belum memilikinya!" jawab Adit berusaha menghilangkan kekhawatiran sang mama.


"Selama ini mama selalu minta kamu buat punya pacar, tapi setelah kamu bener bener punya pacar, mama malah takut kalau kamu pergi dari mama, mama memang payah Dit!"


"Mama yang terbaik buat Adit, yang penting sekarang mama jangan terlalu khawatir lagi sama Adit, Adit janji nggak akan ada yang berubah ma, Adit tetap anak mama dan papa yang selalu bisa mama dan papa banggakan!"


Mama Siska menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Meski tidak mengetahui siapa perempuan yang sudah berhasil mencairkan kebekuan hati Adit, setidaknya ia tau jika Adit masih menjadi anak pertamanya yang selalu ia banggakan.


Ia percaya pada Adit, ia yakin Adit akan menemukan perempuan yang benar benar baik, tidak hanya pada dirinya, tapi juga pada kehidupan Adit secara keseluruhan.


"Mama istirahat dulu, udah malem," ucap Adit pada mamanya.


"Kamu mau tidur sama mama?" tanya mama Siska.


"Tentu," balas Adit lalu hendak naik ke ranjang sang mama, namun segera dipukul dengan guling oleh sang mama.


"Cuci kaki dulu!"


Adit hanya terkekeh lalu segera ke kamar mandi, mencuci kakinya, berganti pakaian dan merebahkan badannya di samping sang mama.


Kini ia yakin, meski ada Andi bersamanya, kasih sayang sang mama tidak berkurang untuknya.


**


Di tempat lain, Dimas baru saja pulang dari mini market, ia sedang mengobrol dengan Dini melalui sambungan ponselnya.


"Jadi beli apa tadi?" tanya Dimas.


"Andi beli diary, aku beli baju, kamu?"


"Aku? kenapa?"


"Kamu juga kasih Anita hadiah kan?"


"Buat apa?"


"Ayo lah Dimas, kamu...."


"Jangan bahas dia lagi Andini, please!"


"Oke oke, ya udah aku mau tidur dulu ya, sukses buat meeting kamu besok!"


"Makasih sayang, love you!"


"Love you too Dimasku!"


Dimas lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Saat ia baru saja keluar dari lift, seseorang memanggil namanya, membuat Dimas segera mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara.


Seorang gadis tampak berlari ke arah Dimas dan memeluk Dimas begitu saja, membuat Dimas tanpa sengaja menjatuhkan barang berlanjaannya karena terlalu terkejut.


Ia tidak menyangka akan bertemu dengan gadis yang dikenalnya itu. Untuk beberapa saat ia menyesal sudah meluangkan waktunya yang hanya beberapa detik untuk menoleh saat gadis itu memanggilnya.


Namun bagian takdir itu telah terjadi dan Dimas tidak bisa mengulang waktu untuk memperbaiki apa yang ia sesalkan.

__ADS_1


__ADS_2