Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Persahabatan yang Tulus


__ADS_3

Andi dan Dini masih berada di bandara, mereka sedang mencari keberadaan Dimas.


Andi tidak percaya jika Dimas akan memberi tau Dini tentang kepergiannya. Ia berpikir jika Dimas akan senang dengan kepergiannya karena itu artinya tidak ada lagi laki laki lain yang mengancam keberadaan Dimas.


Apa yang dilakukan Dimas membuat Andi tersadar jika tidak ada yang lebih penting dibanding sebuah persahabatan yang tulus.


Hingga akhirnya Andi memilih untuk tetap tinggal, bukan hanya demi Dini tapi juga demi menjaga persahabatannya dengan Dimas.


Ia akan menjaga dan menyayangi Dini sebagaimana mestinya seorang sahabat, ia tidak akan melakukan hal yang membuat persahabatannya dengan Dimas terpecah.


Meski ia tau cinta dalam hatinya tetap tinggal tanpa bisa ia paksa untuk pergi. Ia akan tetap menjaga cinta itu sampai saatnya tiba nanti, sampai hatinya akan memilih cinta yang lain untuk tinggal dalam hatinya.


Sedangkan Dini, ia sangat bersyukur karena ia belum terlambat untuk mencegah kepergian Andi.


Itu semua karena Dimas, karena kepercayaan Dimas padanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk memberikan Dimas kepercayaan seperti Dimas mempercayainya.


"Dimas!" panggil Dini dengan melambaikan tangannya pada Dimas yang tampak berjalan ke arahnya dari kejauhan.


Dimas hanya tersenyum lalu berlari ke arah Dini dan Andi. Seketika Dini menghambur dalam pelukan Dimas. Berapa kalipun ucapan terima kasih yang akan Dini berikan pada Dimas tidak akan cukup untuk membalas apa yang sudah Dimas lakukan.


"Terima kasih Dimas," ucap Dini dengan mendongakkan kepalanya menatap Dimas.


"Apapun akan lakukan untuk kebahagiaan kamu Andini," balas Dimas lalu memberikan kecupan singkatnya pada Dini.


Dimas lalu melepaskan pelukannya pada Dini dan berganti memeluk Andi.


"Sorry Ndi, gue harus gagalin rencana lo!" ucap Dimas.


"Gue akan balas dendam sama lo," balas Andi yang membuat mereka bertiga tertawa.


"Jadi sekarang gimana? gue anter lo pulang?" tanya Dimas pada Andi.


"Iya, gue harus ketemu sama mama," jawab Andi.


"Aku ikut, aku akan jelasin semuanya sama mama Siska," sahut Dini.


Mereka lalu meninggalkan bandara dan pergi ke rumah Andi.


"Lo udah daftar kuliah?" tanya Dimas pada Andi saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Belum, mama minta gue buat santai dulu beberapa bulan sebelum daftar kuliah," jawab Andi.


Dimas menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Andi.


"Sayang, kamu nggak balik ke kantor?" tanya Dimas pada Dini.


"Enggak, kamu gimana?"


"Setelah anterin Andi aku harus balik ke kantor sayang, ada meeting yang nggak bisa ditinggal," jawab Dimas.


"Kamu balik ke kantor aja Din, kak Adit pasti marah kalau kamu nggak balik ke kantor!" sahut Andi.


"Kalaupun aku balik sekarang juga pasti kak Adit akan marah, jadi sekalian aja bolosnya hehe...."


Sesampainya di rumah Andi, mereka segera keluar dari mobil.


Melihat kedatangan Andi, asisten rumah tangga segera memberi tahu mama Siska yang sedang melukis di dekat kolam renang.


Mama Siskapun segera meninggalkan lukisannya dan berjalan cepat untuk menemui Andi.


Andi memang sengaja meminta sang mama, Adit, ayah dan ibunya untuk tidak mengantarkannya ke bandara. Ia sengaja berangkat ke bandara seorang diri dengan menggunakan taksi.


"Andi, ada apa sayang? apa ada masalah?" tanya mama Siska khawatir.


Andi hanya menggelengkan kepalanya lalu memeluk sang mama dan membawa sang mama untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Ada apa Ndi? bukannya pesawat kamu harusnya take off 2 jam yang lalu?" tanya mama Siska.


"Pesawat Andi delay ma dan Andi memutuskan buat batalin kepergian Andi," jawab Andi yang membuat mama Siska terkejut.


"Dibatalin? kenapa?"


"Andi minta maaf karena udah kecewain mama," ucap Andi tanpa menjawab pertanyaan sang mama.


"Maaf ma, sebenarnya ini salah Dini," sahut Dini


"Ada apa ini sebenarnya? tolong jelasin sama mama apa yang udah terjadi sebenarnya?"


"Dini minta maaf karena udah cegah Andi buat ke luar negeri ma, saat Dini tau Andi akan pergi, Dini susulin Andi ke bandara dan minta Andi buat nggak pergi, sekali lagi Dini minta maaf ma," ucap Dini menjelaskan.


"Dan kamu memutuskan buat nggak jadi pergi?" tanya mama Siska dengan membawa pandangannya pada Andi.


Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan rasa bersalahnya pada sang mama.


"Maafin Andi ma," ucap Andi.


Mama Siska menghembuskan napasnya pelan. Sekarang ia tau jika kepergian Andi sebenarnya bukan semata mata ingin melanjutkan S2 nya, tapi juga untuk pergi menjauh dari keadaan yang menyulitkannya.


Hanya dengan bujukan Dini, Andi bisa dengan mudah membatalkan kepergian yang sudah ia rencanakan dengan matang.


"Kalian nggak perlu minta maaf, justru mama akan sangat sedih kalau sampai kamu menyesali kepergian kamu," ucap mama Siska pada Andi.


"Dan mama juga nggak akan marah sama kamu Din, mama mengerti kalian sudah bersahabat lama dan pasti sulit buat kamu membiarkan Andi pergi jauh dari kamu," ucap mama Siska pada Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Ia bersyukur karena mama Siska bisa mengerti apa yang ia rasakan saat itu.

__ADS_1


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Adit.


Dini terdiam beberapa saat sebelum menerima panggilan Adit.


"Halo pak....."


"Kamu dimana Din? kamu liat sekarang jam berapa? kenapa belum kembali ke kantor?" tanya Adit dengan nada tinggi.


"Maaf pak, sepertinya saya tidak bisa kembali ke kantor," jawab Dini.


"Apa maksud kamu? kamu tau sekarang masih jam kerja kan?"


"Iya pak saya tau, tapi saya tidak bisa kembali ke kantor sekarang, sebagai gantinya saya bersedia menerima sanksi apapun dari pak Adit," jawab Dini.


"Baiklah kalau itu mau kamu, saya harap kamu tidak akan menyesali perbuatan kamu!"


Tuuuuttt tuuuuttt tuuuuttt


Panggilan berkahir.


"Kak Adit?" tanya Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.


"Dia marahin kamu?" tanya Andi dan Dimas bersamaan.


"Yaaaa.... kalian kan tau gimana kak Adit kalau di kantor," jawab Dini.


"Tenang aja sayang, mama akan ngomong sama Adit supaya nggak terlalu keras sama kamu," sahut mama Siska.


"Nggak papa ma, ini memang kesalahan Dini yang tiba tiba ninggalin kantor di jam kerja," balas Dini.


Biiiippp Biiiiiipppp biiiipppp


Kali ini ponsel Dimas yang berdering, membuat Dini membawa pandangannya pada Dimas.


"Aku harus balik ke kantor sayang," ucap Dimas pada Dini.


"Sekarang?" tanya Dini.


"Iya, lo bisa anterin Andini pulang kan?" jawab Dimas sekaligus bertanya pada Andi.


"Iya bisa," jawab Andi.


Dimas lalu berpamitan pada mama Siska untuk kembali ke kantornya.


"Kamu pulang sama Andi ya sayang, aku nggak tau nanti meetingnya selesai jam berapa," ucap Dimas pada Dini saat mereka sudah berada di luar rumah mama Siska.


"Iya," jawab Dini singkat lalu memeluk Dimas.


"Kebahagiaan kamu adalah prioritas utamaku sayang," balas Dimas lalu memberikan kecupan di kening Dini sebelum melepaskan Dini dari pelukannya dan meninggalkan rumah Andi.


Dini lalu kembali masuk ke ruang tamu, duduk bersama Andi dan mama Siska.


"Kalian ngobrol aja dulu, mama harus selesaiin lukisan mama di belakang," ucap mama Siska lalu pergi meninggalkan Andi dan Dini.


"Ayo aku bantuin keluarin barang barang kamu di kamar!" ucap Andi pada Dini.


"Nanti aja Din, aku bisa minta tolong kak Adit nanti," balas Andi.


"Udah ayo!" ucap Dini dengan menarik koper Andi lalu menyeretnya ke arah tangga.


Andi lalu merebut kopernya dari tangan Dini dan membawanya ke kamarnya.


Dinipun membantu Andi mengeluarkan barang barang Andi dari dalam koper.


"Akhirnya aku nggak jadi ninggalin kamar ini," ucap Andi lalu duduk di tepi ranjangnya diikuti dengan Dini.


"Kenapa kamu bohong sama aku Ndi?" tanya Dini tanpa menoleh ke arah Andi.


Andi lalu mendekat pada Dini dan membawa Dini ke dalam dekapannya.


"Maafin aku Din, aku pikir setelah pernikahan kamu dan Dimas, aku udah nggak berguna lagi buat kamu," ucap Andi.


"Kenapa kamu bilang gitu? kamu sahabat aku dan Dimas, sampai kapanpun kita akan selalu bersahabat Ndi!"


"Iya Din, aku minta maaf," ucap Andi.


"Jangan ngelakuin ini lagi Ndi, aku mohon," ucap Dini dengan menatap kedua mata sahabatnya itu.


Andi tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.


"Aku akan selalu ada buat kamu Din, aku akan selalu ada di dekat kamu, aku nggak akan pergi, selamanya," ucap Andi


Tooookkk tooookkk tooookkk


Pintu kamar Andi diketuk, asisten rumah tangga datang dengan membawa makanan ringan dan minuman untuk Dini dan Andi.


"Makasih mbak," ucap Andi lalu menaruh makanan dan minuman itu di meja.


"Aku juga mau berterima kasih sama kamu," ucap Dini pada Andi.


"Buat apa?"


"Buat gaun yang kamu kasih ke Dimas," jawab Dini dengan tersenyum.

__ADS_1


"Kamu udah liat gaunnya?" tanya Andi.


"Udah, bagus banget," jawab Dini.


"Suka?"


"Suka banget, tapi aku belum coba pake'!"


"Kamu coba aja dulu, kalau ada yang kurang pas kamu bilang aku biar aku benerin," ucap Andi yang dibalas anggukan kepala Dini dengan tersenyum senang.


"Tapi gimana sama kuliah kamu? apa kamu beneran mau lanjutin S2?" tanya Dini.


"Iya, aku akan coba daftar di sini," jawab Andi.


"Maafin aku Ndi, aku nggak bermaksud buat menghambat keinginan kamu, aku...."


"Sssstttt.... jangan minta maaf, aku mengerti," ucap Andi dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Dini.


"Din, setelah kamu menikah sama Dimas, kita nggak bisa seperti dulu lagi, akan ada jarak yang bikin kita sedikit berjauhan karena aku nggak mau bikin Dimas cemburu dengan persahabatan kita," ucap Andi serius.


"Iya aku tau, aku juga udah mikirin hal itu, kita harus bisa jaga batasan yang ada biar nggak ada yang tersakiti dengan persahabatan kita," balas Dini.


"Dan kamu harus membuka hati kamu buat perempuan, jangan cuma fokus sama kuliah dan bisnis kamu!" lanjut Dini.


"Setelah aku kuliah aku akan lebih sibuk Din, aku nggak akan sempet buat pacaran," balas Andi.


"Kamu harus bisa atur waktu Ndi, work life balance," ucap Dini.


"Hahaha.... oke oke," balas Andi menyerah.


**


Waktu berlalu, hari sudah gelap. Andipun mengantarkan Dini untuk pulang.


Sebelum itu, Andi mengajak Dini untuk pergi ke kafe dan membeli ice cream.


"Kamu harus ajak pacar kamu ke sini Ndi!" ucap Dini.


"Kalau dia nggak suka ice cream?"


"Emang ada ya yang nggak suka ice cream?"


"Ada dong Din, mereka yang giginya mudah ngilu nggak akan suka makan ice cream," jawab Andi yang membuat Dini tertawa.


Andi lalu mengajak Dini untuk pergi ke home store, sekedar bertemu Rama dan yang lainnya untuk memberi tau jika ia batal ke luar negeri.


Sesampainya mereka di home store, Rama dan yang lainnya begitu terkejut melihat kedatangan Andi.


"Jadi mereka tau kalau kamu mau kuliah ke luar negeri?" tanya Dini pada Andi.


"Iya, mereka tau karena setelah aku ke luar negeri nanti akan ada yang gantiin aku di sini," jawab Andi.


"Kenapa cuma aku yang nggak tau? kamu jahat banget!"


"Tapi kan kamu tau dari Dimas," balas Andi.


"Gimana kalau Dimas nggak kasih tau aku tadi? kamu pasti udah ninggalin aku, iya kan?"


"Sebenarnya aku minta Dimas buat kasih tau kamu setelah aku udah ada di sana, hehehe....." balas Andi yang membuat Dini semakin kesal.


"Aku sengaja nggak kasih tau kamu karena aku nggak mau liat kamu sedih Din, aku mana bisa biarin kamu nangis di depanku!" ucap Andi memberikan pembelaan.


"Kamu pikir setelah kamu udah di sana dan aku baru tau, apa aku nggak akan sedih? dasar cowok jahat!"


"Iya aku minta maaf, kan yang penting sekarang aku nggak jadi pergi," ucap Andi dengan mengusap kepala Dini.


"Jangan coba coba lagi ya, karena aku pasti akan ikutin kemanapun kamu pergi!" ucap Dini dengan memberikan tatapan tajam pada Andi.


Andi hanya terkekeh melihat sikap Dini yang dinilainya menggemaskan itu.


"Iiiiihhhh.... jangan ketawa, aku serius!"


"Iya iya... aku percaya.... hmmmppp!" balas Andi dengan masih menahan tawanya.


"Andiiiiii!"


Dini lalu memberikan pukulan bertubi tubi pada Andi, namun Andi hanya mengaduh dan membiarkan Dini memukulnya sepuasnya.


Seperti yang pepatah bilang, sebelum janur kuning melengkung, ia masih berhak untuk dekat dengan Dini.


Sebelum pernikahan terjadi, batas diantara ia dan Dini masih sangat tipis dan akan semakin tebal saat Dini sudah sah menjadi istri Dimas.


Andi sudah tidak memikirkan bagaimana perasaannya saat ia melihat pernikahan Dini dan Dimas karena ia hanya ingin Dini bahagia.


Kesedihan yang sudah ia berikan pada Dini beberapa waktu lalu menyadarkannya jika apa yang sudah ia lakukan itu adalah sebuah kesalahan yang membuat Dini bersedih.


Malampun semakin larut, Andi mengantarkan Dini pulang ke rumahnya. Andi juga berencana untuk menemui ayah dan ibunya dan memberi tahu mereka tentang apa yang sudah terjadi.


"Istirahat dan jaga kesehatan kamu Din!" ucap Andi sebelum ia meninggalkan rumah Dini.


"Iya, kamu juga," balas Dini.


Andi lalu membawa langkahnya ke arah rumahnya dan membiarkan mobilnya terparkir di depan rumah Dini.


Saat baru saja tiba di rumahnya, Andi begitu terkejut karena melihat sang ibu yang sedang duduk di ruang tamu bersama seorang gadis.

__ADS_1


Gadis cantik yang sudah lama tidak ia temui kini ada di hadapannya.


__ADS_2