Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Rencana


__ADS_3

Dimas dan Dini sudah berada di dalam mobil, meninggalkan Andi yang masih berada di dalam gedung seorang diri.


"Selesaiin masalah kalian baik baik," ucap Dini sebelum Dimas menyalakan mesin mobilnya.


"Maksud kamu?" tanya Dimas tak mengerti.


"Aku nggak tau apa masalah kalian sebenarnya, tapi aku tau kalian lagi berantem, iya kan?"


"Enggak, kita....."


"Dimas, kamu nggak bisa bohong sama aku, you are a bad liar!" ucap Dini dengan menggenggam tangan Dimas.


Dimas menundukkan kepalanya lemah lalu menatap gadis di sampingnya. Ia tersenyum tipis dan mencium tangan Dini.


"Aku nggak akan tanya apa masalah kalian, tapi aku harap kalian bisa selesaiin baik baik, aku nggak mau kalian berantem," ucap Dini.


"Iya sayang, aku akan bicarain baik baik sama Andi," balas Dimas.


Mereka lalu meninggalkan tempat itu. Dimas mengantarkan Dini pulang dan segera kembali menemui Andi setelah mengantarkan Dini pulang.


Dimas membawa mobilnya ke arah gedung home store yang baru, ia yakin jika Andi masih berada di sana.


Dan benar saja, sesampainya Dimas di sana, ia masih melihat mobil Andi yang terparkir di sana.


Dimas lalu memarkir mobilnya dan masuk ke dalam gedung.


Dimas berjalan menaiki tangga ke arah lantai dua karena tidak melihat Andi di lantai satu.


Dimas menghentikan langkahnya saat ia melihat Andi yang masih berdiri di balkon.


"Ngapain lo kesini?" tanya Andi tanpa menoleh ke arah Dimas.


Ia sudah mengetahui kedatangan Dimas karena melihat mobil Dimas masuk ke tempat parkir.


Dimas tak menjawab, ia berjalan menghampiri Andi dan berdiri di sampingnya.


"Masalah kita adalah perbedaan sudut pandang yang bikin kita berbeda persepsi," ucap Dimas.


Andi hanya diam, membiarkan Dimas melanjutkan kata katanya.


"Gue liat semuanya dari sudut pandang gue sama Andini, kita kenal Anita dari SMA, kita tau dia baik dan ramah, tapi ternyata dia adalah orang yang teror Andini karena iri sama persahabatan kalian, dia cuma mau ganggu Andini waktu itu, tapi karena kehadiran gue yang tiba tiba dan sikap gue yang kurang bisa menempatkan posisi saat itu tanpa sadar gue bikin dia jatuh cinta sama gue saat gue berusaha buat deketin Andini dan mulai saat itu tujuannya berubah, bukan lagi buat ganggu persahabatan kalian tapi juga hubungan gue sama Andini," ucap Dimas panjang.


Andi masih diam, ia berusaha memahami dengan baik apa yang Dimas ucapakan.


"Sampai akhirnya Anita ungkapin semuanya yang bikin Andini benci sama gue, waktu gue koma dan hilang ingatan, Anita manfaatin itu buat bisa deketin gue dan hapus Andini dari gue, tapi akhirnya gue tau kebenaran nya dan nggak cuma sampai disitu, Anita bahkan kerja sama sama Ivan buat deketin gue, dia udah banyak ngelakuin hal buruk di hidup gue Ndi jadi jangan salahin gue kalau gue benci banget sama dia!"


"Dia ngelakuin itu karena dia cinta sama lo Dim, dia nggak tau harus pake cara apa buat bisa dapetin lo!" ucap Andi.


"Dan lo membenarkan apa yang dia lakuin sama gue?"


"Enggak, semua yang Anita lakuin salah, tapi sikap lo yang udah main fisik sama perempuan juga nggak bisa dibenarkan!" jawab Andi.


"Gue emang salah karena udah nampar dia, tapi apa itu jadi alasan buat lo pisahin gue sama Andini?"


Andi hanya diam. Ia tau Dini telah memilih Dimas dan ia percaya pada Dimas. Namun dalam hati kecilnya ia takut jika Dimas menyakiti Dini seperti Dimas menyakiti Anita.


"Ndi, lo tau sebesar apa gue cinta sama Andini, saat gue hilang ingatanpun bayangan Andini selalu ada dan orang pertama yang selalu gue inget ketika gue bangun tidur cuma Andini, lo pikir kenapa itu bisa terjadi? karena gue cinta sama Andini, karena gue sayang sama dia dan gue cuma mau jalanin masa depan gue sama Andini," ucap Dimas.


"Gue cuma nggak mau Andini sakit hati Dim," ucap Andi pelan.


"Gue tau, gue akan selalu berusaha bahagiain dia Ndi, tolong percaya sama gue!"


Andi kembali diam, matanya menatap nanar ke arah gelap malam.


"Gue akan lakuin apapun asal lo percaya lagi sama gue, termasuk minta maaf sama Anita!" ucap Dimas yang membuat Andi segera membawa pandangannya pada Dimas.


"Lo yakin?" tanya Andi yang dibalas anggukan kepala Dimas.


"Kenapa lo mau ngelakuin itu?" tanya Andi.


"karena gue nggak mau lo ambil Andini dari gue saat lo udah nggak percaya sama gue, gue akan buktiin sama lo, sama semua orang kalau gue adalah masa depan terbaik buat Andini, nggak akan ada orang lain selain gue yang akan jadi masa depan Andini," batin Dimas dalam hati.


"Gue tau apa yang gue lakuin sama Anita salah dan gue akan minta maaf sama dia, tapi itu bukan berarti gue mau temenan lagi sama dia!" jawab Dimas.


Andi mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Dimas.


"Lo liat sendiri apa yang ada di rekaman itu Ndi, dia masih Anita yang jahat, dia masih punya banyak rencana licik buat bisa sama gue dan gue nggak mau kasih celah buat dia bisa ganggu gue sama Andini!"


"Oke, gue mengerti," balas Andi.


"Gue juga nggak mau lo terpengaruh sama dia Ndi," ucap Dimas dengan menepuk bahu Andi.

__ADS_1


"Gue nggak terpengaruh sama dia, selama ini gue liat dia dari sudut pandang gue sendiri tanpa mikirin lo dan Dini, itu kesalahan gue!"


"Sekarang lo sadar kalau lo salah kan?"


Andi mengangguk pelan.


"Gue selalu anggap kalau Anita sama kayak gue, kita sama sama mencintai seseorang yang sudah memilih orang lain," ucap Andi.


"Kalian berbeda Ndi, lo jauh lebih baik dari dia, cara yang dia lakuin semuanya cuma demi tujuannya sendiri sedangkan lo demi kebahagiaan Andini."


"Iya gue tau," balas Andi.


"tapi Anita juga butuh temen yang bisa dia jadiin tempat berbagi cerita, berbagi kesedihan dan kebahagiaan nya, dia butuh seseorang yang bisa kasih tau dia kalau apa yang dia lakuin itu salah, dia butuh seseorang yang mengerti keadaanya yang bisa bantu dia buat jadi lebih baik," batin Andi dalam hati.


"Jadi apa rencana kita setelah ini?" tanya Dimas.


"Lo nggak berubah pikiran buat minta maaf sama dia kan?" balas Andi bertanya.


"Enggak, gue akan berusaha buat nggak terpengaruh sama dia," jawab Dimas.


"Lo juga harus bisa kendaliin emosi lo Dim!" ucap Andi.


"Iya, gue akan berusaha," balas Dimas.


Merekapun membicarakan apa langkah selanjutnya yang akan mereka ambil untuk menghadapi Anita dan keputusan final akan mereka dapatkan saat mereka membicarakan nya bersama Dini esok hari.


**


Malam telah berlalu bersama damainya Dimas dan Andi. Bersama sinar mentari yang mulai beranjak naik, Dimas menjemput Dini dan mengajaknya untuk ke dermaga yang pernah mereka kunjungi.


"Kamu semalam langsung pulang setelah antar aku?" tanya Dini pada Dimas saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Enggak, aku nyamperin Andi lagi semalem," jawab Dimas.


"Apa kalian masih berantem?" tanya Dini.


"Enggak kok, kita udah baikan," jawab Dimas.


"Baguslah kalau gitu, aku seneng kalau kalian baikan," ucap Dini.


Dimas hanya tersenyum pada Dini. Dalam hati ia bersyukur karena hari liburnya lebih panjang berkat adanya tanggal merah di hari Senin. Ia senang karena bisa menyelesaikan masalahnya sebelum ia kembali ke apartemen.


"Kita kemana sekarang?" tanya Dini pada Dimas.


"Mmmm..... tapi ini bukan arah ke pantai," ucap Dini.


"Emang bukan," balas Dimas.


"Jadi?"


"Kita akan piknik, just you and me," balas Dimas dengan mengedipkan satu matanya pada Dini.


"Kamu udah siapain semuanya?" tanya Dini bersemangat.


"Udah dong, makanan, minuman, semuanya udah aku siapin termasuk powerbank, takut tiba tiba ada hp yang lowbatt!"


"Waaahhh, bener bener penuh persiapan ya!"


"Iya dong, aku nggak mau gagal bikin kamu bahagia setelah apa yang terjadi kemarin," ucap Dimas.


"Aku bahagia kok, kamu selalu bisa bikin aku bahagia Dimas, semua masalah bisa kita lewati selama kita hadapin semua itu sama sama," balas Dini.


Dimas menganggukkan kepalanya lalu menarik tangan Dini dan menciumnya.


Tak lama kemudian mereka sampai, Dimas memarkirkan mobilnya lalu turun bersama Dini.


"Kita ke dermaga lagi?" tanya Dini yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum Dimas.


Dimas lalu membuka bagasinya dan mengeluarkan barang barang yang sudah ia siapkan.


Mereka pun berangkat ke pulau diseberang dengan perahu. Sesampainya di sana, Dimas mengajak Dini berjalan diatas jembatan kayu namun tidak mengarah ke dermaga.


"Kenapa belok ke sini? bukannya dermaganya di sana?" tanya Dini.


"Aku udah cari tau tempat ini dan ada spot yang cocok buat piknik," jawab Dimas.


Merekapun sampai di sisi lain pulau itu. Di antara pohon cemara laut yang berjejer Dimas menaruh perlengkapan pikniknya.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Dini yang memperhatikan sekitarnya.


"Di sini nggak panas sayang, di dermaga jam segini pasti panas," jawab Dimas.

__ADS_1


"Banyak bekas api unggun di sini," ucap Dini.


"Iya, banyak yang bikin tenda di sini kalau malem, katanya pemandangan malemnya bagus, tapi emang nggak ada penerangan apapun selain peralatan yang dibawa sendiri," balas Dimas.


"Di sini ada listrik?" tanya Dini.


"Nggak ada, itu yang bikin tempat ini cuma disukai orang orang tertentu," jawab Dimas.


"Kenapa kamu jadi lebih tau tentang tempat ini daripada aku?"


"Aku udah baca baca semaleman tentang tempat ini hehe...."


Mereka lalu menikmati makanan dan minuman mereka dengan hembusan angin segar dari laut.


Sesekali mereka berjalan jalan untuk menyusuri tempat itu dan bermain di ayunan kayu yang berada di sana.


"Sayang, apa menurut kamu aku pantas buat kamu?" tanya Dimas dengan memeluk Dini dari belakang.


"Kenapa kamu tiba tiba tanya gitu?"


"Aku sayang dan cinta sama kamu Andini, tapi aku takut apa yang kamu lihat kemarin mempengaruhi penilaian kamu tentang aku," jawab Dimas.


Dini lalu berbalik dan mendongakkan kepalanya melihat laki laki yang dicintainya itu.


"Nggak ada yang berubah Dimas, walaupun apa yang kamu lakukan kemarin sedikit berlebihan, tapi aku tau kamu punya alasan kenapa kamu ngelakuin itu," ucap Dini.


"Aku janji Andini, aku bersumpah demi apapun aku nggak akan ngelakuin itu sama kamu, aku akan jaga kamu dalam pelukanku, aku akan selalu bahagiain kamu lebih dari yang aku bisa, aku akan kasih kamu seluruh hidupku Andini," ucap Dimas dengan menatap ke dalam mata Dini.


Dimas lalu menundukkan kepalanya dan mendaratkan kecupannya di bibir Dini. Bersama belaian angin siang itu, dua cinta kembali bertaut untuk beberapa lama.


Dini lalu melepaskan dirinya dan memeluk Dimas dengan erat. Dimas membalas pelukan Dini dengan erat. Ia bahagia karena bisa membahagiakan gadis yang dicintainya.


"Makasih Dimas, kamu udah kasih aku hal indah lebih dari yang aku harapkan," ucap Dini.


"Kamu pantas mendapatkan semua kebahagiaan itu Andini," balas Dimas lalu mencium kening Dini.


"aku emang nggak segila Anita, tapi aku juga akan lakuin apapun buat bisa sama kamu Andini, aku sayang dan cinta sama kamu, jadi aku nggak akan lepasin kamu setelah aku berhasil memiliki kamu, aku akan bahagiain kamu lebih dari apa yang kamu harapkan selama ini," ucap Dimas dalam hati.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Dimas dan Dini sudah kembali dari pulau dan berada di sebuah tempat makan.


Mereka makan siang berdua sebelum menemui Andi di gedung home store yang baru.


Mereka menghabiskan waktu mereka untuk berkeliling mall sebelum akhirnya menemui Andi.


Sebelum jam 4 Dini dan Dimas sampai di tempat tujuan mereka. Setelah memarkirkan mobilnya, Dimas dan Dini berjalan masuk ke dalam home store.


Mereka segera naik ke lantai dua dimana Andi sudah menunggu mereka.


"Udah beres nih pindahannya?" tanya Dimas pada Andi.


"Udah, besok atau lusa semua kegiatan udah bisa dikerjain di sini," jawab Dimas.


"Selamat Ndi, sorry gue nggak bisa dateng kalau nggak weekend!"


"Nggak papa, gue juga nggak bikin acara apa apa kok di sini," balas Andi.


Mereka lalu duduk di balkon. Di sana sudah ada satu meja bundar dan beberapa kursi yang mengelilinginya.


"Oke, jadi gimana?" tanya Andi memulai membuka pembahasan.


"Seperti rencana kita semalem, tinggal Andini setuju apa enggak," balas Dimas dengan membawa pandangannya pada Dini.


"Setuju tentang apa?" tanya Dini.


Andi dan Dimas lalu menjelaskan rencana mereka pada Dini. Mereka tidak akan memaksa Dini untuk menyetujui rencana mereka namun sangat berharap jika Dini menyetujuinya.


"Kalian yakin?" tanya Dini meyakinkan.


"Kalau aku sih yakin, nggak tau Dimas," balas Andi.


"Aku yakin sayang, aku sama Andi udah bicarain hal ini semalem dan setelah aku pikir pikir mungkin ini cara yang tepat buat hadapin Anita," ucap Dimas.


"Kalau kalian udah sama sama yakin, aku setuju aja," balas Dini.


"Kamu jangan setujui hal ini karena terpaksa ya Din? kalau kamu nggak setuju kita bisa cari cara lain!" ucap Andi.


"Enggak kok, aku sependapat sama kalian, mungkin emang itu cara yang tepat," balas Dini.


Andi dan Dimas lalu saling pandang dan melakukan tos.


"Malam ini kita lakuin apa yang udah kita rencanain," ucap Dimas.

__ADS_1


Andi dan Dini menganggukkan kepala mereka dengan kompak.


__ADS_2