Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Menemui Dimas


__ADS_3

Adit masih berada di rumah Ana. Ia tau jika ia tidak bisa berbohong pada Ana, tapi ia tidak bisa menceritakan pada Ana tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya tidak ingin Ana terlalu memikirkan masalah itu dan pada akhirnya hanya akan membawa dampak buruk pada kehamilan Ana.


"Kamu bohong!" ucap Ana lalu melangkah pergi meninggalkan Adit.


Adit lalu menarik tangan Ana sebelum Ana meninggalkan kamarnya.


"Aku harus gimana biar kamu percaya?" tanya Adit pada Ana.


Ana lalu berbalik dan kembali menatap kedua mata Adit.


"Apa yang kamu sembunyikan dari aku Dit?" tanya Ana.


Adit menghela nafasnya lalu membawa Ana untuk duduk di ranjang. Adit berjongkok di hadapan Ana sambil mengusap perut Ana.


"Sayang, tolong kasih tau mama kalau papa nggak bohong," ucap Adit berbisik di perut Ana.


"Dari pagi aku kepikiran kamu terus Dit, nggak tau kenapa aku tiba tiba gelisah mikirin kamu, aku....."


"Itu karena kamu kangen sama aku An, nggak ada apapun yang perlu kamu khawatirkan, semuanya baik baik aja," ucap Adit berusaha meyakinkan Ana.


"Jangan bohong sama aku Adit," ucap Ana.


"Aku cuma mau persalinan kamu nanti lancar An, aku akan kasih semua yang terbaik buat kamu dan anak kita, kalau kamu nggak setuju sama apa yang aku sampaikan tadi nggak papa, aku nggak maksa kamu, tapi kamu nggak boleh berpikiran terlalu jauh cuma karena hal ini," ucap Adit.


Ana hanya diam mendengarkan ucapan Adit. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Adit, mungkin dirinya memang terlalu berlebihan dalam menanggapi pendapat Adit.


"An, kamu tau dia bisa denger apa yang kita bicarain sekarang, dia bisa ngerasain apa yang kamu rasain sekarang, kamu pasti nggak mau dia ikut sedih karena kamu sedih kan?" lanjut Adit.


Ana menganggukkan kepalanya pelan lalu menarik tangan Adit agar berdiri di hadapannya.


Adit lalu berdiri dan membawa Ana ke dalam dekapannya.


"Aku sayang sama kamu An, aku mau kasih semua yang terbaik buat kamu, aku minta maaf kalau caraku ini salah," ucap Adit dengan membelai rambut Ana.


"Aku akan baca baca dulu buku yang kamu kasih, tapi aku nggak janji kalau aku setuju sama pendapat kamu tadi," ucap Ana.


"Iya nggak papa," balas Adit lalu mencium kening Ana.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aditpun berpamitan untuk pulang.


"Tumben buru buru pulang!" protes Ana.


"Ada kerjaan yang harus aku selesaikan An, besok aku kesini lagi," ucap Adit beralasan.


"Kamu selesaiin aja pekerjaan kamu, kamu bisa kesini setelah pekerjaan kamu selesai," balas Ana.


Adit menganggukkan kepalanya lalu mencium kening Ana sebelum ia meninggalkan rumah Ana.


Sesampainya Adit di rumahnya ia segera masuk ke kamarnya, mengambil laptop dan membuka email yang masuk.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Adit berdering, sebuah panggilan masuk.


"Saya sudah terima email kamu, lanjutkan pekerjaan kamu sesuai perintah saya!" ucap Adit.


"Baik pak."


Panggilan berakhir. Adit kembali menatap layar laptop di hadapannya. Ia mengernyit dahinya dan tersenyum tipis melihat laporan orang suruhannya.


Partner kerjanya dari perusahaan lain ternyata selama ini telah membodohinya. Jika bukan karena mereka adalah teman baik mama dan papanya, Adit pasti sudah menjebloskan mereka ke penjara dan menghancurkan perusahaan mereka dengan begitu mudah.


Tooookk tooookkk tooookkk


"Masuk!" ucap Adit saat mendengar pintu kamarnya diketuk.


"Makan malem, mama udah nunggu di bawah," ucap Andi dari balik pintu yang masih tertutup.


Adit lalu menutup laptopnya dan keluar dari kamarnya untuk makan malam bersama Andi dan sang mama.


Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Adit berniat untuk segera kembali ke kamarnya namun sang mama mencegahnya.


"Tentang foto tadi pagi gimana Dit?" tanya mama Siska.


"Adit udah tau siapa yang pertama kali dapat foto itu ma, mama tenang aja Adit akan urus semuanya," jawab Adit.


"Pastiin foto itu nggak akan kesebar ke media Dit, mama nggak mau apa yang sudah papa kamu bangun dari nol hancur hanya karena kesalahpahaman ini," ucap mama Siska.


"Iya ma, mama jangan khawatir, semuanya akan baik baik aja," balas Adit.


Adit lalu meninggalkan meja makan dan kembali masuk ke kamarnya diikuti oleh Andi.


"Lo udah temui orangnya?" tanya Andi yang duduk di tepi ranjang Adit.


"Udah, gue cuma kasih peringatan buat dia supaya lebih hati hati lagi kalau mau hancurin gue, karena kalau dia salah langkah perusahaannya yang nggak seberapa itu akan hancur di tangan gue dalam hitungan jam!" jawab Adit dengan menatap tajam laptop di hadapannya.


"Waaahhh ngeri....." ucap Andi bergidik melihat sang kakak yang begitu serius.


"Ini bisa jadi pelajaran buat lo juga Ndi, lo harus bener bener tau siapa yang kerja sama sama lo, nggak peduli sedeket apapun hubungan kalian, lo nggak boleh lengah!" ucap Adit pada Andi.


Andi mengangguk anggukan kepalanya mendengar ucapan Adit.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Andi keluar dari kamar Adit dan masuk ke kamarnya. Saat Andi baru saja membuka pintu, sang mama datang dan ikut masuk bersama Andi.


"Ada yang mau mama bicarain sama kamu!" ucap mama Siska.


"Ada apa ma?" tanya Andi.


"Apa kamu tau siapa perempuan yang lagi deket sama kakak kamu?" tanya mama Siska.


"Kenapa mama tiba-tiba tanyain itu?" balas Andi bertanya.


"Jawab aja Ndi, mama kan juga pingin tau perempuan seperti apa yang bisa merebut hati Adit, Adit itu bukan laki laki yang mudah jatuh cinta, jadi mama penasaran aja siapa perempuan itu?"


"Andi nggak tau ma, tapi pasti dia perempuan baik yang bisa mengerti dan memahami kak Adit, makanya kak Adit bisa jatuh cinta sama dia," jawab Andi.


"Selama ini setau mama Adit cuma dekat dengan Ana dan Dini," ucap mama Siska.


"Mungkin ada perempuan lain yang mama nggak tau," ucap Andi.


"Hmmm... mungkin, Adit nggak mungkin sama Ana karena Ana udah menikah, Adit juga nggak mungkin sama Dini karena Adit anggap Dini adiknya sendiri dan lagi Dini juga udah punya tunangan," ucap mama Siska.


"Mama tau darimana kalau mbak Ana udah menikah?" tanya Andi penasaran.


"Mama nggak tau pasti sih, tapi waktu ulang tahun mama kemarin mama lihat dia kayak lagi hamil, jadi pasti dia udah nikah kan?"


"Mungkin emang gendutan aja ma," ucap Andi.


"Mama ini udah dua kali hamil Ndi, dari pertama lihat mama udah tau kalau dia lagi hamil," balas mama Siska yakin.


Andi hanya diam mendengar ucapan mama Siska, ia tidak berani berkata lebih jauh lagi karena takut jika sang mama curiga padanya.


**


Hari berganti, pagi mengantarkan Dini untuk kembali sibuk dengan pekerjaannya. Saat jam makan siang tiba, Adit menghampiri Dini di ruangannya.


"Din, kamu bisa gantiin kakak ke pertemuan di kota X kan?" tanya Adit pada Dini.


"Loh bukannya kak Adit kesana sama pak Jaka? Dini kan harus ngerjain laporan buat besok pagi!"


"Meeting besok dipending aja, kamu dateng ke pertemuan di kota X sama Jaka setelah makan siang!"


"Kak Adit serius? itu pertemuan penting loh kak!"


"Justru karena itu pertemuan penting, kakak lebih percaya kalau Jaka berangkat sama kamu daripada yang lain karena kakak ada urusan lain yang harus kakak selesaiin!" ucap Adit.


Dini masih terdiam mendengar ucapan Adit. Ia berpikir jika Adit masih bertengkar dengan Ana dan membuat Adit tidak bisa menghadiri pertemuan penting di luar kota.


"Kenapa kamu ragu Din? pertemuan itu cuma 2 jam, sisanya kamu bisa temuin Dimas dan abisin waktu sama dia karena besok udah weekend!"


Dini lalu membelalakkan matanya mendengar ucapan Adit. Ia baru sadar jika ia akan melakukan pertemuan di kota yang sama dengan kota dimana Dimas tinggal.


"Hahaha..... dasar bocah banget!" ucap Adit terkekeh melihat sikap Dini yang tiba tiba berubah penuh semangat.


"Hehe...."


"Kamu berangkat setelah makan siang, jangan terlambat, kakak udah kasih tau Jaka, kamu tinggal konfirmasi lagi aja sama dia!" ucap Adit.


"Oke," balas Dini.


Adit lalu berbalik dan hendak keluar dari ruangan Dini sebelum ia mendengar ucapan Dini.


"Kak Adit jangan lama lama berantemnya, orang lagi hamil nggak boleh stres loh!" ucap Dini.


Adit lalu kembali berjalan ke meja Dini dan menatap Dini dengan pandangan penuh tanya.


"Berantem? maksud kamu?" tanya Adit.


"Kak Adit lagi berantem kan sama mbak Ana?" balas Dini bertanya.


"Kenapa kamu berpikir gitu?"


"Kak Adit dari kemarin kayak nggak fokus kerja gitu, abis makan siang nggak balik ke kantor juga, setau Dini kalau kak Adit udah ninggalin kerjaan berarti lagi ada masalah, karena mama Siska baik baik aja berarti kak Adit lagi ada masalah sama mbak Ana, iya kan?"


"Hahaha.... kamu pinter berteori juga ya ternyata hahaha......"


"Kok kak Adit ketawa sih, bener kan yang Dini bilang?"


"Jadi itu alasan kamu beli perlengkapan bayi buat Ana? buat hibur Ana biar nggak sedih?"


"Iya, biar mbak Ana nggak stres karena berantem sama kak Adit!"


"Hahaha..... terserah kamu aja lah, kakak pergi dulu!" ucap Adit lalu benar benar pergi dari ruangan Dini.


"apanya yang lucu sih? apa aku salah?" batin Dini bertanya tanya.


Waktu berlalu, setelah selesai makan Dini dan Jakapun meninggalkan kantor untuk melakukan pertemuan di kota X.


Tepat jam 6 petang Dini dan Jaka meninggalkan tempat pertemuan dan bersiap untuk kembali.


"Pak Jaka pulang duluan aja, saya masih ada perlu di sini," ucap Dini pada Jaka.


"Tunangan kamu tinggal di sini kan?" tanya Jaka.

__ADS_1


"Kok pak Jaka tau?"


"Pak Adit bilang mungkin kamu nggak ikut balik karena mau ketemu tunangan kamu di sini, bener apa yang dibilang pak Adit?"


"Hehe... bener pak," jawab Dini malu.


"Dia tinggal dimana? biar saya antar kamu ke tempatnya sekalian!"


"Jam segini dia masih di kantor pak, saya bisa kesana pake taksi kok," jawab Dini.


"Saya anter aja sekalian, ayo kamu tunjukin alamatnya!"


Dini menganggukkan kepalanya lalu pergi ke tempat kerja Dimas bersama Jaka.


"Tunangan kamu kerja di sini?" tanya Jaka saat mereka sudah sampai di depan tempat kerja Dimas.


"Iya pak," jawab Dini.


"Waahh, pasti dia hebat banget karena bisa kerja di sini, ini perusahaan besar loh Din, perusahaan utamanya nggak jauh dari kantor kita!" ucap Jaka.


Dini hanya tersenyum menanggapi ucapan Jaka.


"Terima kasih tumpangannya pak Jaka, saya turun dulu!" ucap Dini.


"Oh iya iya!"


Dinipun turun dari mobil Jaka dan masuk ke kantor Dimas. Dini menunggu Dimas di lobby tanpa memberi tahu Dimas jika dirinya berada di sana.


Sebelumya ia sudah memastikan jika Dimas masih berada di kantor. 2 jam berlalu, Dimas tak kunjung memunculkan batang hidungnya.


Tiba tiba seseorang datang dan duduk di samping Dini.


"Kamu cari siapa? udah 2 jam kamu duduk di sini!"


"Saya nunggu Dimas," jawab Dini.


"Dimas? Dimas yang mana nih? ada banyak nama Dimas di sini!"


"Dimas Raditya Adhitama," jawab Dini.


"Jangan bilang kamu tunangan Dimas!"


Dini hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan membuat laki laki itu terkejut.


"Jadi bener kamu Dini? tunangan Dimas?" tanyanya tak percaya.


"Iya bener," jawab Dini.


"Kenapa kamu nunggu di sini? ayo aku anter ke ruangannya!"


"Nggak perlu, saya emang mau nunggu dia di sini kok," balas Dini menolak.


"Udah, ayo!" ucap seseorang itu lalu menarik tangan Dini.


Tepat saat seseorang itu menarik tangan Dini, Dimas datang.


"Apa apaan lo?"


"Nah ini yang ditunggu dateng, gue cuma mau anter dia ke ruangan lo Dim, dia udah 2 jam di sini nungguin lo!"


"Kamu dari tadi sayang? kenapa nggak hubungin aku?" tanya Dimas pada Dini.


"Aku sengaja kasih kejutan buat kamu," jawab Dini dengan senyum manisnya.


"Aahh elaah, jadi obat nyamuk gue di sini!" ucap teman Dimas.


"Pergi lo, jomblo kerja aja sana!" ucap Dimas lalu menarik tangan Dini dan mengajaknya keluar dari kantor.


Dimaspun mengendarai mobilnya ke arah sebuah restoran untuk mengajak Dini makan malam.


"Kamu pasti belum makan malam kan?" tanya Dimas saat mereka sampai di tujuan.


"Iya belum, yang di kantor tadi temen kamu?"


"Iya, kamu nggak diapa-apain kan sama dia?"


"Enggak kok."


Dimas tersenyum lalu membelai rambut Dini. Setelah makanan datang, merekapun menikmati makan malam mereka.


"Harusnya kamu kabarin aku kalau kamu mau dateng sayang, biar aku bisa pulang cepet!" ucap Dimas pada Dini.


"Aku tau kamu sibuk, aku nggak mau ganggu kesibukan kamu," balas Dini.


"Paling enggak kamu masuk ke ruanganku, jangan nunggu di lobby, banyak buaya berkeliaran di lobby loh!"


"Kayak temen kamu tadi?"


"Iya itu salah satunya," jawab Dimas.


Dini hanya terkekeh mendengar jawaban Dimas. Ia pun menjelaskan pada Dimas alasan ia bisa berada di sana.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Dimas membawa Dini ke apartemen nya. Sepanjang perjalanan Dimas tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Rasa lelah dan penatnya seketika musnah saat ia melihat Dini di hadapannya.


__ADS_2