
Sore itu Dini bersama Andi, Adit dan mamanya sedang berada di ruang tamu. Mama sangat senang dengan kedatangan Dini.
"Mama lihat kalian ini dekat banget ya!" ucap mama Siska pada Andi dan Dini.
"Kita udah sama sama dari kecil ma," balas Andi.
"Apa dari dulu hubungan kalian seperti ini?" tanya mama Siska.
"Iya, dari dulu kita emang kayak gini ma, mungkin itu yang bikin banyak orang salah paham," jawab Dini.
"Tapi kalian cocok loh, kenapa nggak pacaran aja sih?"
Andi dan Dini seketika saling pandang mendengar pertanyaan mama Siska. Mereka lalu tersenyum canggung.
"Kamu nggak suka sama Dini?" tanya mama Siska pada Andi.
"Mama kenapa jadi wawancara gini sih," sahut Adit.
"Banyak hal yang mama nggak tau dari Andi Dit, jadi mama harus banyak tanya," balas mama Siska.
"Andi suka sama Dini, Andi sayang sama Dini, sebagai sahabat yang udah dari kecil sama sama nggak mungkin kalau Andi nggak suka sama Dini, iya kan Din?"
"Ii... iya... kak Adit sama mbak Ana juga deket kan? cuma mbak Ana yang bisa ngomelin kak Adit di kantor," balas Dini dengan membawa pandangannya pada Adit.
"Kok jadi bawa bawa kakak?"
"Hehe..... Dini sama Andi juga sama kayak kak Adit sama mbak Ana," balas Dini.
"iya sama, bedanya Andi nggak berani ungkapin perasaannya ke kamu," batin Adit dalam hati.
"Lagian Dini juga udah tunangan ma, Andi juga kenal deket sama tunangannya," ucap Adit pada sang mama.
"Anaknya Adhitama itu?" tanya mama Siska yang dibalas anggukan kepala Adit.
"Kamu beruntung Din, banyak yang sayang sama kamu," ucap mama Siska pada Dini yang hanya dibalas senyum canggung oleh Dini.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, mereka sudah berada di meja makan saat itu. Beberapa menu makanan sudah tersedia di hadapan mereka.
Biiiiippp biiiipp biiipp
Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.
"Maaf, Dini keluar sebentar," ucap Dini lalu melangkah menjauh dari meja makan.
"Halo Dimas, kamu udah pulang?"
"Baru nyampe apartemen sayang," jawab Dimas.
"Mandi dulu biar seger, nanti hubungin aku kalau udah selesai mandi."
"Aku kangen sama kamu."
"Aku juga, tapi bau badan kamu udah nyampe sini, buruan mandi!"
"Hehe... oke oke, tunggu aku ya, love you."
"Love you too."
Klik. Sambungan berakhir. Saat Dini membalikkan badannya, ia menabrak Andi yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
"Aduuhh, bikin kaget aja!"
"Dimas?" tanya Andi.
"Iya," jawab Dini.
"Dia tau kamu di sini?"
Dini hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Andi.
"Abis ini aku harus pulang Ndi," ucap Dini.
"Ya udah ayo makan dulu, mama sama Adit udah nungguin."
Andi dan Dini lalu kembali ke meja makan. Setelah selesai makan malam, mereka masih mengobrol di meja makan.
"Dini harus pulang sekarang ma, udah malem," ucap Dini pada mama Siska.
"Biar Lukman yang antar kamu pulang ya!"
"Dini bisa naik taksi kok ma," balas Dini.
"Biar Adit aja yang anter Dini," sahut Adit.
"Enggak!" sahut Andi dengan cepat.
"Aku bisa anter kamu pulang," ucap Andi pada Dini.
"Kamu masih nggak boleh bawa mobil sendiri Andi, biar Adit yang antar Dini pulang," ucap mama Siska.
"Tapi ma....."
"Kenapa? kamu cemburu kalau Adit berdua aja sama Dini?" tanya mama Siska.
"Andi nggak mau biarin Dini berdua sama cowok mesum ini ma," jawab Andi dalam hati.
"Bukan begitu, Andi cuma.... cuma...."
"Aku sama kak Adit aja nggak papa," ucap Dini pada Andi.
"Tapi Din...... aku.... aku ikut!" ucap Dini yang membuat semua yang ada di sana melongo.
"Maksud lo?" tanya Adit.
"Gue ikut lo anter Dini, nggak papa kan ma?"
__ADS_1
"Ya udah nggak papa, tapi langsung pulang ya!"
"Makasih ma," balas Andi tersenyum penuh kemenangan.
Andi, Adit dan Dinipun keluar dari rumah mama Siska. Andi menggandeng tangan Dini dan membukakan pintu belakang agar Dini duduk di belakang bersama Andi. Sedangkan Adit duduk seorang diri di balik kemudi.
"Lo sengaja jadiin gue supir di sini?" tanya Adit kesal.
"Gue nggak akan biarin lo berduaan sama Dini," balas Andi.
"Emang lo tau apa yang bisa gue lakuin sama Dini waktu di kantor? dia lebih sering berduaan sama gue daripada sama lo!" balas Adit yang sengaja membuat Andi kesal.
"Lo gila!" ucap Andi dengan menendang bagian belakang kursi Adit.
"Kalian ini kenapa sih, ribut mulu kayak anak kecil!" sahut Dini
"Aku nggak mau kamu diapa-apain lagi sama dia Din!"
"Tolong kamu buang pikiran buruk kamu itu Ndi, kak Adit nggak kayak gitu dan kak Adit juga jangan memprovokasi Andi dong!"
"Kakak ngomong apa adanya, kita emang sering berduaan di kantor, bener kan?"
"Tapi kan itu urusan kerja kak!"
"Emang, tapi itu bikin Andi cemburu, iya kan Ndi?"
"Lo mau balik ke rumah sakit lagi?" tanya Andi dengan emosi yang sudah memuncak.
"Andi, jangan bilang gitu!" ucap Dini dengan memukul lengan Andi.
"Waaahhh, sahabat kamu ini emang jahat banget kalau ngomong," sahut Adit.
"Kak Adit juga kalau ngomong jangan dilebih lebihkan!" balas Dini kesal.
Sepanjang perjalanan, mereka masih saling berdebat. Andi dan Adit yang sama sama menyebalkan membuat Dini semakin kesal.
Saat sudah sampai di depan rumah Dini, Andi segera keluar dari mobil. Ketika Adit hendak membuka pintu mobilnya, Andi segera mendorong pintunya agar kembali tertutup, membuat Adit mengurungkan niatnya untuk ikut turun.
"Kamu marah sama aku?" tanya Andi dengan menarik tangan Dini ke dalam genggamannya.
"Aku kesel sama kalian berdua, kenapa nggak bisa bersikap dewasa!"
"Kakak yang kamu banggakan emang kayak gitu!"
"Nggak cuma kak Adit, kamu juga, bikin kesel!"
"Tapi aku cuma....."
Andi menarik napasnya dalam dalam lalu menghembuskannya pelan.
"Aku minta maaf," ucap Andi dengan memegang kedua bahu Dini.
"Kamu sekarang minta maaf, tapi kalian pasti masih ribut lagi kan nanti?"
"Kalau dia nggak mulai masalahnya, aku nggak akan ribut sama dia, aku cuma nggak suka kamu deket sama dia Din!"
"Ya udah lupain soal Adit, sekarang aku minta maaf udah bikin kamu kesel dan jangan marah lagi, ya!"
Dini mengangguk lalu memeluk Andi.
"Ibu sama ayah kamu lagi nggak di rumah, mereka ke rumah saudara kamu yang di luar kota beberapa hari, tapi mereka nitip kunci rumah kamu sama ibu, kamu mau ke sana?"
"Percuma aku ke sana kalau nggak ada ayah sama ibu, aku akan nunggu mereka pulang aja."
"Ya udah kalau gitu kamu pulang aja dan inget, jangan berantem!"
"Iya, bawel!"
Andi lalu masuk ke dalam mobil, lagi lagi ia duduk di belakang membuat Adit kembali menjadi supir.
"Ayo jalan!" ucap Andi.
"Waaahh, bener bener lo ya!" balas Adit yang tak habis pikir dengan sikap sang adik.
Andi hanya menahan tawanya melihat Adit kesal.
**
Setelah Dini mandi, ia baru menyadari jika ponselnya kehabisan daya baterai, ia pun segera mengisi daya baterainya.
Setelah terisi beberapa persen, ia segera mengaktifkan ponselnya dan menghubungi Dimas.
"Halo sayang, kenapa tadi nggak bisa dihubungi?" tanya Dimas.
"Maaf, lowbatt hehe...."
"Masalah kamu dari dulu selalu sama ya!"
"Iya maaf, gimana hari ini di kantor?"
"Lancar sayang, semua kerjaanku udah beres, tinggal fokus sama materi meeting nya aja."
"Belum selesai?"
"Belum, banyak data data yang harus aku kumpulin dulu sayang."
"Semangat Dimasku, kamu pasti bisa!"
"Makasih sayang."
**
Hari telah berganti. Dini kembali sibuk di tempat kerjanya karena Adit yang masih cuti. Ia bahkan harus mendatangi beberapa pertemuan bersama Jaka tanpa Adit dan tentunya atas izin Adit.
Siang itu, setelah selesai melakukan pertemuan bersama Jaka, Dini menunggu Jaka di trotoar jalan raya. Saat ia sedang berdiri, tiba tiba seseorang menabraknya.
__ADS_1
"Hp ku!!!" teriak perempuan yang menabrak Dini sambil memungut ponselnya yang pecah karena terjatuh.
"Sayang, ini gara gara dia, dia yang bikin hp ku pecah!" ucap si perempuan pada seorang laki laki di sampingnya yang merupakan kekasihnya.
"Ganti!" ucap si laki laki pada Dini.
"Saya dari tadi berdiri di sini, mbaknya aja yang nggak hati hati!" balas Dini.
"Eh lo berani ngelawan gue? ganti nggak?"
"Enggak!" balas Dini dengan menatap tanpa rasa takut.
"Dasar cewek kurang ajar, ambil semua isi tasnya sayang!" ucap si perempuan sambil menarik rambut Dini dengan kencang.
"Lepasiin!!!" teriak Dini dengan memegang rambutnya yang ditarik oleh si perempuan.
Sedangkan si laki laki berusaha merogoh ke dalam tas Dini. Namun tiba tiba seseorang datang dan menepuk punggung si laki laki laki lalu menamparnya dengan keras.
"Apa apaan ini!" teriak si laki laki dengan memegangi pipinya yang memar.
"Modus perampokan baru?" tanya seseorang yang mengenakan masker dan topi itu.
"Perampokan? perampokan apa sih? dia bikin hp pacar gue rusak, dia harus ganti rugi!"
"Pacar lo yang salah, dia yang nabrak!"
"Lo siapa sih ikut campur aja, pacarnya?"
Seseorang itu langsung mendekat ke arah laki laki itu dan menarik tangannya ke belakang dan memelintirnya, membuat si laki laki berteriak kesakitan.
"Kalau lo sayang nyawa lo, pergi dan jangan pernah ganggu perempuan ini lagi!" ucap seseorang itu lalu mendorong si laki laki jahat.
Si laki laki itu pun menarik tangan kekasihnya dan berlari sekencang mungkin.
Sedangkan Dini masih berdiri di tempatnya diam dan memperhatikan seseorang yang menolongnya itu.
"dia.........."
"Saya permisi," ucap seseorang itu lalu pergi begitu saja.
Dini hanya diam karena masih tidak yakin dengan apa yang ada dalam pikirannya.
"apa itu dia? apa dia yang selama ini ikuti aku?" batin Dini dalam hati.
Tiiiin tiiiiin tiiiiin
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Dini.
"Din, ayo!" panggil Jaka dari dalam mobil.
"Ii... iya pak," balas Dini lalu segera masuk ke dalam mobil.
"Kamu kenapa sering ngelamun di jalan sih? bahaya Din!"
"Saya nggak ngelamun kok pak, saya cuma lagi mikirin sesuatu aja hehe...."
"Kamu kalau lagi sendirian harus selalu fokus dan waspada, jaman sekarang orang jahat nggak lihat waktu dan tempat, mereka makin nekat!" ucap Jaka menasihati.
"Iya pak."
Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, Dini masih memikirkan laki laki yang menolongnya tadi. Ia sangat yakin dia adalah laki laki yang sering dilihatnya dan tiba tiba menghilang.
"kenapa tadi aku nggak kejar dia aja sih, kenapa aku cuma diem aja, arrrghhh bodohnya Dini!" batin Dini kesal pada dirinya sendiri.
**
Di tempat lain, Andi, Adit dan sang mama sedang menuju ke sebuah pemakaman umum. Sesampainya di sana, mereka berjalan ke arah sebuah makam yang tampak begitu terawat dengan baik.
Mereka duduk di tepi gundukan itu lalu menaburkan bunga dan air.
"Pa, mama datang sama Andi dan Adit, ini Andi pa, anak kita," ucap mama Siska dengan suara serak menahan tangis.
"Dia anak yang baik pa, dia tampan dan cerdas seperti papa, dia suka kesenian seperti mama."
Adit memegang pundak sang mama, berusaha menguatkan mamanya.
"Mama sekarang bahagia pa, mama punya Adit dan Andi dalam hidup mama, mereka kehidupan mama, mereka nafas bagi mama, apa papa di sana juga bisa ngerasain kebahagiaan mama sekarang?"
"Adit udah penuhin janji Adit pa, Adit udah bawa Andi pulang ke rumah kita," ucap Adit.
"Sayang, kamu nggak mau bilang sesuatu sama papa?" tanya mama Siska pada Andi yang sudah berkaca kaca kedua matanya.
Dalam seluruh hidupnya selama ini, ia tak pernah sekalipun bertemu papanya. Menurut cerita sang mama, saat mama Siska baru melahirkannya, ibu Andi sudah membawanya pergi dari rumah sakit sebelum papa dan Adit melihat Andi.
"Andi di sini pa, maaf karena belum bisa jadi anak yang membanggakan buat papa, tapi kalau boleh Andi minta, Andi pingin ketemu papa, sekali aja Andi pingin peluk papa, Andi pingin ngerasain pelukan papa, mama dan Adit," ucap Andi yang berkali kali mengusap air matanya yang sudah tidak bisa ia bendung.
"Rasanya menyakitkan karena Andi merindukan seseorang yang bahkan belum pernah Andi temui seumur hidup Andi, seseorang yang cuma pernah Andi dengar namanya, ceritanya dan kisah hidupnya."
"Apa yang bisa Andi lakukan sekarang pa? apa yang harus Andi lakukan saat Andi merindukan papa yang bahkan belum pernah Andi temui."
Adit lalu menepuk nepuk pundak Andi, berusaha menguatkan adik laki lakinya itu.
"Sekali aja pa, biarin Andi ngerasain pelukan papa walaupun cuma dalam mimpi," ucap Andi yang masih merasa sesak di dadanya karena rasa rindunya pada sang papa yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.
Setelah suasana hati mereka mulai membaik, merekapun meninggalkan makam sang papa. Mereka kembali ke mobil dan pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan tak banyak percakapan yang terjadi karena suasana yang masih sedih.
"Papa pasti udah bahagia di sana ma, papa pasti seneng liat mama sekarang bahagia," ucap Adit.
"Dan papa pasti sangat bangga sama kamu sayang," ucap mama Siska pada Adit.
"Apa Andi bisa ketemu papa ma? apa Andi bisa peluk papa?" tanya Andi dengan suara serak.
Mama Siska hanya diam dan menarik Andi ke dalam pelukannya membuat Andi menumpahkan semua tangisnya dalam dekapan hangat sang mama.
__ADS_1
**
pingin peluk Andi 🥺