
"Papa..... ada ikan ikan kecil disana!" ucap Alana sambil berlari ke ruang tamu.
Alana menghentikan langkahnya saat ia melihat Dini yang tampak baru saja menangis. Alana lalu mendekati Dini dan menggenggam tangan Dini.
"Tante menangis lagi?" tanya Alana dengan menatap wajah Dini.
Dini hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.
"Om Dimas pasti sedih kalau liat Tante Dini menangis," ucap Alana yang membuat Dini kembali berkaca kaca.
Andi kemudian menarik tangan Alana agar Alana berhenti membicarakan Dimas di hadapan Dini.
"Alana mau pulang sekarang?" tanya Andi pada Alana.
"Tante Dini jangan menangis, nanti om Dimas sedih," ucap Alana tanpa menjawab pertanyaan Andi.
"Kita pulang dulu ya sayang, Tante Dini mau istirahat dulu," ucap Andi sambil beranjak dari duduknya dan menggendong Alana.
Alana hanya diam dengan menatap wajah sendu Dini.
"Kamu istirahat ya Din, aku sama Alana pulang dulu," ucap Andi pada Dini.
"Besok datang ke acara ulang tahun Alana ya Tante!" sahut Alana.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Setelah kepergian Andi dan Alana, Dini masuk ke kamarnya.
Ia duduk di depan meja, menatap fotonya bersama Dimas.
"Tante Dini jangan menangis, nanti om Dimas sedih,"
Dini tersenyum tipis mengingat ucapan Alana padanya.
"kenapa kamu nggak pernah temui aku lagi Dimas? kenapa kamu malah temui Andi dan Alana? tolong temui aku lagi, kasih tau aku apa yang harus aku lakukan," batin Dini dalam hati.
Dini kemudian beranjak dari duduknya dan membaringkan dirinya di ranjang, menarik selimut dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal.
"aku kangen sama kamu Dimas," ucap Dini dalam hati saat ia memejamkan matanya.
"aku juga kangen sama kamu,"
Sebuah suara yang sangat dikenal Dini terdengar dengan jelas di telinga Dini, hembusan nafasnya yang hangat bahkan terasa di telinga Dini, membuat Dini segera membuka matanya.
Dini membawa pandangannya mengelilingi setiap sudut kamarnya, namun tak ada siapapun disana.
Mata Dini kembali berkaca kaca karena ia semakin merindukan Dimas. Dini menekuk lututnya dan membenamkan kepalanya diantara kedua kakinya.
Tiba tiba sebuah tangan membelai rambutnya dan menariknya ke dalam sebuah pelukan yang menghangatkannya.
"Dimas......" ucap Dini dengan suara bergetar dan air mata yang seketika luruh begitu saja.
"Berhenti bersedih sayang, aku akan selalu ada di hati kamu, aku harap kamu bisa melanjutkan hidup kamu dengan baik walaupun tanpa aku di samping kamu," ucap Dimas dengan lembut.
Dimas kemudian melepaskan Dini dari pelukannya, tangan hangatnya memegang kedua pipi Dini dan kedua matanya yang penuh cinta menatap Dini dengan dalam.
"Yang harus kamu lakukan cuma satu, bahagia," ucap Dimas.
"Dan aku yakin Andi akan membahagiakan kamu lebih dari yang aku bisa, cintanya sangat besar buat kamu Andini, dia rela nahan semua perih di hatinya demi kebahagiaan kamu," lanjut Dimas.
"Tapi dia sahabat aku, dia juga sahabat kamu," ucap Dini.
"Dia sahabat yang mencintai kamu sayang, dia sahabat yang aku percaya buat gantiin aku untuk membahagiakan kamu," balas Dimas.
Dini hanya diam menatap laki laki yang dicintainya itu. Dimas lalu beranjak dari ranjang dan berjalan ke arah lemari pakaiannya.
Ia membuka laci yang ada disana, mengeluarkan sebuah buku dari dalam laci kemudian menunjukkan sebuah surat pada Dini.
"Apa itu?" tanya Dini.
Dimas hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Dini. Ia kembali menghampiri Dini dan memeluknya erat.
Dini bisa merasakan hangat pelukan Dimas yang menyelimuti dirinya saat itu.
KRIIIIIIING KRIIIIING KRIIIIING
Suara alarm pagi membuat Dini segera membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamarnya namun tidak melihat siapapun disana.
Semua ucapan Dimas dalam mimpinya seolah kembali terngiang di telinganya. Dini kemudian mengingat ucapan Dimas sebelum Dimas menutup matanya untuk selamanya.
__ADS_1
"Andini, kamu harus tau yang sebenarnya terjadi selama ini, Andi mencintai kamu Andini, dia jauh lebih dulu mencintai kamu daripada aku, maaf karena aku harus hadir diantara kalian berdua, aku sangat mencintai kamu, tapi cinta Andi buat kamu jauh lebih besar,"
"Bahkan disaat saat terakhir kamu, kamu mengatakan hal itu," ucap Dini dengan mata yang berkaca-kaca.
Dini segera beranjak dari ranjangnya, ia membuka lemari yang berisi pakaian Dimas. Ia kemudian membuka lacinya dan melihat sebuah buku yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Dengan ragu Dini membuka buku itu dan benar saja, ada sebuah surat di dalamnya. Dinipun segera membukanya dan membacanya.
I love you Din, more than words
Andi, sahabat yang mencintai kamu
Dini terdiam tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Surat itu berisi ungkapan hati Andi yang sudah lama Andi simpan.
Dilihat dari tanggal surat itu ditulis, Andi menulisnya tepat sebelum Andi berniat pergi ke luar negeri dengan tiba tiba.
"kamu yang dari kecil selalu sama Andi tapi kamu nggak pernah tau gimana perasaan Andi sama kamu, apa kamu layak buat disebut sebagai sahabat?"
Tiba tiba Dini mengingat ucapan Anita saat Anita menyekapnya.
Dini kemudian menghubungi Andi, ia ingin menemui Andi saat itu juga.
"Kamu di rumah aja, biar aku yang kesana," balas Andi tanpa tau apa yang akan Dini bicarakan padanya.
Setelah beberapa lama menunggu, Andipun datang.
Dini segera membuka pintu utamanya dan memberikan surat itu pada Andi saat Andi baru saja masuk.
"Apa ini?" tanya Andi pada Dini.
"Kenapa cuma aku yang nggak tau?" balas Dini bertanya.
Andi membuka surat itu dan begitu terkejut setelah melihat isinya.
"Kamu..... kamu dapat dari mana surat ini?"
"Sebenarnya kamu anggap aku apa selama ini? lebih dari 20 tahun kita sama sama dan aku baru tau tentang hal ini!"
"Din, aku....."
"Dimas tau semuanya, bahkan Anita juga tau semuanya, apa emang bener yang Anita bilang, aku bukan sahabat yang baik buat kamu karena pada kenyataannya aku selalu menyakiti perasaan kamu tanpa aku sadari!"
"Alasan apa? kebahagiaan aku? apa kamu pikir aku adalah sahabat yang baik saat aku bahagia di atas penderitaan kamu?"
Andi menarik tangan Dini, membawa Dini untuk duduk di sofa. Ia tidak pernah menyangka jika hal itu akan terjadi, ia pikir Dimas sudah membuang surat itu, namun ternyata Dimas masih menyimpannya.
"Dengerin aku Din, awalnya mungkin aku ragu sama perasaan aku, tapi saat aku yakin sama apa yang aku rasain, ada Dimas yang datang deketin kamu, aku berpikir kalau dia jauh lebih baik daripada aku, dia yang lebih bisa bahagiain kamu daripada aku, itu kenapa aku menyerah sama perasaanku sendiri, aku akan selalu bahagia untuk kamu Din karena kebahagiaan kamu yang akan menyembuhkan lukaku," ucap Andi menjelaskan.
"Kamu bodoh Ndi, kamu bener bener bodoh!"
"Iya.... aku tau, tapi kebodohan ini yang bikin aku bertahan, kebodohan ini yang bikin aku tetap ada disini buat kamu," balas Andi.
"Kenapa harus ada perasaan itu Ndi? kenapa kamu menyakiti diri kamu sendiri sama perasaan yang nggak seharusnya ada? kita bersahabat dari kecil Ndi, kenapa harus ada perasaan itu?"
"Aku juga nggak tau Din, nggak ada yang bisa aku lakuin buat nahan perasaan ini, aku sayang dan cinta sama kamu lebih dari sekedar sahabat Din, cinta itu datang tanpa aku minta dan aku nggak bisa memaksanya pergi," jawab Andi.
Dini menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tidak habis pikir dengan apa yang Andi dan Dimas lakukan di belakangnya.
Mereka bersahabat tapi mereka mencintai satu wanita yang sama, bahkan sampai akhir hidup Dimas, mereka masih menjadi sahabat yang baik untuk satu sama lain.
Andi yang berusaha menyelamatkan Dimas dan Dimas yang memberi tahu Dini semua perasaan Andi padanya.
"Aku cuma mau kamu bahagia Din, aku akan jaga cinta ini sendiri tanpa berharap apapun lagi dari kamu karena aku tau Dimas sudah memberikan kamu kebahagiaan yang kamu harapkan," ucap Andi pada Dini.
"Ini semua nggak bener Ndi!"
"Ini semua salahku, nggak seharusnya aku punya perasaan ini," ucap Andi dengan menundukkan kepalanya.
Dini kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Andi begitu saja.
"Aku minta maaf Din," ucap Andi dengan menahan tangan Dini, namun Dini menarik tangannya dengan kasar dan berlari masuk ke kamarnya.
Andi menghembuskan napasnya kasar lalu menghempaskan dirinya di sofa dengan kesal.
**
Waktu berlalu, Dini masih terdiam menatap surat di hadapannya. Memorinya mengulas kembali kebersamaan dirinya bersama Andi.
__ADS_1
Ia ingat ketika ia tiba tiba merasa jantungnya berdebar saat bersama Andi, namun ia selalu menghalau perasaan aneh yang ia rasakan saat itu.
Yang ia sadari saat itu adalah Andi sahabatnya dan ia hanya mencintai Dimas. Meski begitu ia tidak ingin kehilangan Andi, ia bahkan memohon pada Andi untuk mengurungkan niatnya pergi ke luar negeri.
Untuk beberapa saat ia sadar, banyak hal yang sudah Andi lakukan untuknya. Andi selalu menyayanginya, menjaganya dan begitu peduli padanya.
Dini hanya tau jika itu semua sebatas sahabat, tanpa Dini tau bahwa Andi melakukan semua itu karena Andi menyimpan cinta padanya.
Saat Dimas pergi, saat Dimas jauh darinya, bahkan saat Dimas hilang ingatan, Andi yang selalu ada untuknya. Andi selalu mengusahakan kebahagiaan untuknya.
"Kamu emang bodoh Ndi, harusnya kamu bilang, harusnya kamu ungkapin semua yang kamu rasain, kenapa kamu harus menyimpannya terlalu lama? kenapa kamu harus menyakiti hati kamu sendiri?"
Dini lalu membawa pandangannya pada foto Dimas dan dirinya.
"Dimas, Andi sahabat kamu, dia juga sahabat aku, aku mencintai kamu, tapi aku nggak mau Andi ninggalin aku, apa aku emang sejahat itu sama kalian berdua? apa aku layak mendapat cinta kalian berdua?"
Dini membaringkan kepalanya di meja, ia membelai wajah Dimas yang ada di foto.
"kamu nggak jahat sayang,"
Dini segera mengangkat kepalanya saat mendengar suara itu. Matanya berkaca-kaca melihat Dimas yang kembali ada di hadapannya.
"Andi udah terlalu lama tersakiti sama cinta di hatinya, ini saatnya dia bahagia dan kebahagiaannya adalah kamu, aku juga akan sangat bahagia kalau kalian berdua bahagia," ucap Dimas dengan mengusap rambut Dini.
Saat Dini membuka matanya, sang ibu sudah ada di hadapannya dengan membelai rambutnya, membangunkannya.
"Kenapa tidur disini?" tanya ibu Dini.
Dini hanya menggelengkan kepalanya lalu beranjak dan duduk di tepi ranjangnya.
"Ada sesuatu yang mau Dini ceritain Bu," ucap Dini pada sang ibu.
"Tentang Andi?" terka ibu Dini.
"Ibu tau?"
"Iya, ibu udah lama tau, dia memang sangat mencintai kamu Din, dia nggak pernah berharap apapun selain kebahagiaan kamu, itu kenapa dia merelakan kamu sama Dimas, dia lebih memilih hatinya tersakiti demi kebahagiaan kamu," ucap ibu Dini.
Dini hanya terdiam mendengarkan ucapan sang ibu.
"Kamu harus tau kenapa Andi nggak pernah mengungkapkan perasaannya sama kamu, saat dia tau kamu dan Dimas saling mencintai, dia nggak mau bikin kamu bingung, dia nggak mau merusak kebahagiaan kamu sama Dimas," lanjut ibu Dini.
"apa memang sebesar itu cinta kamu buat aku?" tanya Dini dalam hati.
"Ibu tau kamu sangat mencintai Dimas Din, tapi ibu juga yakin kalau masih ada tempat untuk Andi di hati kamu, kamu selalu menganggapnya sebagai sahabat terbaik kamu dan menganggap Dimas sebagai masa depan kamu, pemikiran itu yang membuat kamu menutup mata atas perasaan lebih dari sahabat yang kamu punya untuk Andi," ucap ibu Dini.
"Perasaan lebih dari sahabat?"
"Iya, rasa takut kehilangan yang kamu rasakan itu adalah bagian dari cinta yang kamu punya buat Andi," jawab ibu Dini.
**
Di tempat lain, acara ulang tahun Alana sudah dimulai. Selain, Andi dan mama Siska, disana juga ada Adit, Ana, ibu dan ayah Andi.
Mama Siska juga mendatangkan anak anak dari yayasan panti asuhan untuk meramaikan acara ulang tahun Alana.
Setelah mereka semua bernyanyi, kini tiba saatnya untuk Alana meniup lilinnya.
"Alana mau nunggu Tante Dini," ucap Alana yang enggan meniup lilinnya.
Andi melihat ke arah jam di tangan kirinya, acara ulang tahun itu seharusnya sudah dilakukan 30 menit yang lalu, namun karena Alana bersikeras untuk menunggu Dini, acarapun terpaksa diundur.
Setelah berhasil membujuk Alana agar segera memulai acaranya, Alana masih tetap bersikeras untuk menunggu Dini sebelum ia meniup lilinnya.
"Sayang, kakak kakaknya udah nunggu lama loh, Alana tiup lilinnya terus potong kuenya ya!" ucap Andi pada Alana.
"Kakak kakak itu bisa makan cup cake nya dulu pa, Alana mau tiup lilin sama Tante Dini," balas Alana.
"Mungkin Tante Dini sibuk jadi nggak bisa kesini," sahut Adit yang ikut berusaha membujuk Alana.
"Enggak om, Tante Dini udah janji sama Alana buat dateng!" balas Alana.
Sudah hampir 30 menit berlalu, namun Dini tak kunjung menampakan batang hidungnya membuat Alana mulai berkaca-kaca.
"Tante Dini bohong ya sama Alana?" tanya Alana pada sang papa.
"Enggak sayang, mungkin Tante Dini emang tiba tiba sibuk, jadi nggak bisa kesini, tiup lilinnya sama papa aja ya?"
__ADS_1
"Nggak mau...... Alana mau sama Tante Dini......" ucap Alana yang mulai menangis.
Semua yang ada disana berusaha untuk menenangkan Alana, namun tangisnya semakin pecah karena ia benar benar berharap jika Dini akan datang saat itu.