
Dimas masih berada di kantin bersama Adit. Meski ia masih ragu pada ucapannya, respon Adit yang seketika terdiam membuatnya yakin jika apa yang ia pikirkan benar.
Biiippp Biiippp Biiippp
Tiba-tiba ponsel Adit berdering, sebuah panggilan dari Pak Lukman yang menyelamatkannya dari situasi saat itu.
"Halo pak, ada apa?"
"Mas Adit sudah pulang?"
"Belum pak, saya masih di kantin rumah sakit, ada apa pak?"
"Ibu nyariin mas Adit," jawab pak Lukman.
"Oh iya, saya ke sana sekarang pak," ucap Adit lalu segera berdiri dari duduknya.
"Gue harus ke ruangan mama," ucap Adit lalu pergi meninggalkan Dimas.
Dimas hanya tersenyum kecil lalu menyeruput minuman di depannya. Tak lama kemudian ponselnya juga berdering, sebuah panggilan dari Dini.
"Halo sayang, ada apa?"
"Kamu dimana?"
"Aku di kantin rumah sakit, kamu udah keluar dari ruangan Andi?"
"Udah, aku kesana sekarang, tunggu aku!"
"Oke."
Klik. Sambungan berakhir.
Tak lama kemudian Dini datang dan duduk di sebelah Dimas.
"Andi baik baik aja?" tanya Dimas.
"Aku nggak tau apa dia bisa dibilang baik baik aja," jawab Dini.
"Ada apa?"
"Ada rahasia besar yang baru terungkap, rahasia yang bahkan aku nggak pernah bayangin hal itu terjadi sama orang terdekat ku."
"Dari awal aku emang udah curiga sama mereka," ucap Dimas.
"Maksud kamu?"
"Andi sama mamanya Adit, mereka ada hubungan kan?"
"Kamu tau dari mana? apa Andi udah cerita sama kamu?"
Dimas menggeleng lalu menyeruput minuman di hadapannya.
"Aku cuma nebak aja dan aku makin yakin waktu aku tau kalau mamanya Adit donorin ginjalnya buat Andi dan ternyata tebakan ku bener," ucap Dimas.
"Aku nggak nyangka ada hal kayak gini di dunia nyata, aku pikir cuma ada dalam novel atau sinetron di tv."
"Kita nggak pernah tau kemana takdir membawa kita Andini, kita nggak tau apa yang akan kita hadapi di depan nanti, tapi kita harus yakin kalau kita bisa lewati semua itu dan menyelesaikannya dengan akhir yang bahagia," ucap Dimas.
Dini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Dimas.
"Kamu sampe kapan di sini?" tanya Dini.
"Nanti malem aku harus balik sayang, nggak papa kan?"
"Kenapa? besok kan masih hari Minggu!"
"Banyak yang harus aku kerjain, aku mau semuanya cepet selesai," jawab Dimas.
Dini lalu menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Hmmm.... ya udah kalau gitu," ucap Dini pasrah.
"Dua sampe tiga bulan ini aku bakalan sibuk banget sayang, setelah semuanya lebih longgar, aku akan sering pulang dan temui kamu," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
Dini hanya mengangguk tak bersemangat.
"Jangan marah dong!"
Dini menggeleng tanpa berucap satu katapun. Ia ingin Dimas tetap tinggal, ia masih merindukan laki laki yang sudah menjadi tunangannya itu.
"Sebelum aku balik, aku mau ajak kamu ketemu mama papa di rumah, mau kan?"
"Kapan?"
"Sekarang?"
"Ayo!" balas Dini penuh semangat.
Setelah berpamitan pada Andi dan ayah ibunya, Dini dan Dimas lalu meninggalkan rumah sakit.
Dimas membawa Dini pulang ke rumahnya untuk bertemu mama dan papanya.
Sesampainya di sana, Dini dan Dimas disambut dengan pelukan hangat oleh mama Dimas. Mereka lalu berbincang di ruang tengah.
"Gimana keadaan Andi?" tanya papa Dimas pada Dini dan Dimas.
"Udah lebih baik Pa, mungkin nggak lama lagi dia udah boleh keluar dari rumah sakit," jawab Dimas.
"Tapi dia masih nggak boleh banyak aktivitas Dim, biarin dia istirahat di rumahnya selama beberapa bulan sampe kesehatannya udah normal lagi!"
"Iya pa, Dimas juga udah bilang gitu sama Andi," balas Dimas.
"Gimana kerjaan kamu sayang? lancar?" tanya mama Dimas pada Dini.
"Lancar ma, nggak ada masalah di kantor," jawab Dini.
"Kamu pasti seneng ya bisa kerja sama CEO muda paling tampan, apa lagi jadi personal assistant nya, pasti banyak yang iri sama kamu!" ucap mama Dimas.
__ADS_1
"Mama kenapa ngomong gitu sih, dia nggak ada apa apanya dibanding Dimas!" sahut Dimas kesal.
"Justru kamu yang nggak ada apa apanya dibanding Adit," balas mama Dimas.
"Kok mama jadi belain Adit sih!"
"Mama bicara sesuai fakta sayang, Adit itu nggak cuma tampan tapi juga cerdas, kamu harus banyak belajar sama dia!"
"Enggak, Dimas pasti bisa lebih baik dari dia!"
"Buktikan!" sahut sang papa menantang.
"Oke, Dimas akan buktikan kalau Dimas bisa lebih baik dari Adit," balas Dimas penuh semangat.
Sedangkan sang papa dan sang mama hanya saling mengedipkan sebelah mata diam diam.
"Sayang, kamu nggak akan terpengaruh sama Adit kan?" tanya Dimas pada Dini.
"Tergantung," balas Dini.
"Kok tergantung? kamu....."
"Tergantung sikap kamu sama Chelsea," ucap Dini.
"Aku sama dia itu beda dunia sayang, dia model dan aku pekerja kantor, kita nggak sering ketemu, sedangkan kamu sama Adit hampir tiap hari ketemu!"
"Tapi Chelsea tiap ketemu selalu godain kamu kan? aku sama kak Adit ketemu karena masalah pekerjaan," balas Dini yang membuat Dimas mati kutu.
"Kamu tau kalau dia model kan? itu artinya dia deket sama media, kalau sampe media liat foto kamu sama dia, pasti akan jadi berita utama!" ucap Dini.
"Foto apa?" sahut mama Dimas bertanya.
"Foto Dimas pe...."
"Bukan foto apa apa, Andini cuma salah paham," ucap Dimas memotong ucapan Dini dan menutup mulut Dini dengan tangannya.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan terpaksa.
"Kamu harus lebih hati hati sama Chelsea sayang, bener kata Dini, dia model yang deket sama media, jangan sampe ada berita nggak bener antara kamu sama dia!"
"Iya ma, mama tenang aja, itu nggak akan terjadi," ucap Dimas pada sang mama.
"Gimana kalau kita umumin aja pertunangan kalian?" tanya mama memberi saran yang membuat Dini sedikit terkejut, begitu juga Dimas dan papanya.
"Ma, mama kan tau alasannya kenapa pertunangan kita nggak banyak yang tau," balas Dimas.
"Iya mama tau, tapi keadaannya sekarang berbeda Dimas, kalau publik tau hubungan kalian, Chelsea pasti nggak berani buat deketin kamu lagi, karena itu bisa turunin citra baiknya selama ini."
"Kita juga harus tanya sama ibunya Dini ma, kita nggak bisa bertindak sendiri sebelum diskusi," sahut papa Dimas.
"Oke, mama nggak keberatan, kamu gimana sayang?" tanya mama Dimas pada Dini.
Dini masih terdiam beberapa saat. Sejujurnya ia tidak setuju dengan usul yang diberikan oleh mama Dimas, tapi ia juga tidak berani menolak, terlebih papa Dimas tampak tidak menolak saran sang istri.
Ia sangat tau alasan sang ibu ingin merahasiakan hubungannya dengan Dimas dan ia juga sependapat dengan sang ibu tentang itu.
"Coba pikirkan baik baik ya sayang, ini demi hubungan kalian," ucap mama Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum canggung.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Dini masih berada di rumah Dimas. Ia sedang berada di kamar Dimas saat itu.
"Aku anter kamu pulang ya sayang!" ucap Dimas yang baru keluar dari kamar mandi.
"Nggak mau," jawab Dini singkat.
"Kenapa? apa mau aku anter ke rumah sakit?" tanya Dimas sambil merapikan rambutnya di depan cermin.
"Kamu beneran balik ke apartemen sekarang?" tanya Dini dengan memeluk Dimas dari belakang.
Dimas lalu berbalik dan menggenggam kedua tangan Dini.
"Aku harus cepet selesaiin kerjaanku biar aku bisa cepet balik ke sini."
"Iya aku tau, aku cuma..... aku...."
Dimas lalu menarik kedua tangan Dini, membuat Dini kini berdiri sangat dekat dengan Dimas, sangat dekat hingga tak ada jarak diantara mereka berdua.
Dimas lalu melingkarkan tangannya di pinggang Dini dan menatapnya dengan tajam.
"Kamu mau aku tetep di sini?" tanya Dimas yang dibalas anggukan kepala Dini.
Dini hanya diam dengan degup jantung yang semakin bertambah cepat.
Untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap sampai tiba tiba seseorang mengetuk pintu.
"Maaf mas, ibu sama bapak panggil mas Dimas sama mbak Dini," ucap salah seorang ART di rumah Dimas.
"Iya mbak, sebentar," balas Dimas tanpa membuka pintu.
Dinipun segera menarik dirinya dari Dimas dan hendak membuka pintu sebelum Dimas menarik tangannya dan membuatnya jatuh di pelukan Dimas.
"Aku masih kangen sama kamu, kangen banget," ucap Dimas dengan memeluk Dini begitu erat.
"Aku juga Dimas, tapi....."
Cuuupppp
Satu kecupan singkat mendarat di bibir Dini, Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan keluar dari kamarnya begitu saja, meninggalkan Dini yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Sayang, buruan!" ucap Dimas dari luar kamar, membuat Dini segera berlari ke luar dari kamar Dimas dan memukul lengan Dimas dengan kencang karena perbuatannya itu.
Dimas hanya terkekeh lalu menggandeng tangan Dini.
Di bawah sudah ada mama dan papa Dimas.
__ADS_1
"Papa mau ajak kalian ke rumah sakit, mama sama papa belum jenguk Andi dari kemarin!" ucap papa Dimas.
"Sekarang?" tanya Dimas.
"Iya, kalau kalian nggak keberatan," jawab papa Dimas.
"Gimana sayang?" tanya Dimas pada Dini.
"Nggak papa, ayo!"
Merekapun berangkat bersama ke rumah sakit. Sesampainya di sana, papa Dimas segera masuk ke ruangan Andi.
"Hai Ndi, gimana keadaan kamu?" tanya papa Dimas.
"Baik om, terima kasih udah datang jenguk," balas Andi.
"Terima kasih juga udah bantu jagain home store," lanjut Andi.
"Itu bukan apa apa Ndi, kalau kamu butuh apa apa kamu bisa hubungin saya," balas papa Dimas.
"Terima kasih om," ucap Andi yang sekali lagi berterima kasih.
Setelah mengobrol dengan Andi, papa dan mama Dimaspun pulang.
"Kalian berdua bisa masuk barengan, Dokter udah izinin," ucap ibu Andi pada Dini dan Dimas.
"Makasih tante," balas Dimas lalu menarik tangan Dini untuk segera masuk.
Dimas mendudukkan Dini di samping Andi, sedangkan Dimas berdiri di samping Dini.
Untuk beberapa saat mereka bertiga hanya diam.
"Guys, kita nggak lagi lomba diem dieman kan?" tanya Dimas yang membuat Andi dan Dini terkekeh.
"Rasanya udah lama kita nggak ngumpul bertiga," ucap Dini.
"Iya, kapan kapan kita harus punya jadwal buat liburan bareng," balas Dimas.
"Gimana kalau berempat sama Anita?" tanya Andi yang membuat Dini segera membawa pandangannya pada Dimas.
"Sorry," ucap Andi yang merasa bersalah karena membuat Dimas tampak kesal.
"Aku baru inget kalau aku belum kasih tau dia tentang kamu," ucap Dini pada Andi.
"Tolong kasih tau ya Din, aku pingin ketemu dia," ucap Andi yang dibalas anggukan kepala Dini.
"Lo mau CLBK sama dia?" tanya Dimas.
"Enggak, gue cuma mau berteman lagi sama dia, kalau lo masih benci sama dia itu masalah lo, gue nggak akan maksa lo buat maafin dia, begitu juga lo nggak bisa maksa gue buat ikutan benci sama dia," jawab Andi
"Terserah kalian aja, gue juga nggak peduli sama dia," balas Dimas.
"Udah udah, jangan dibahas lagi!" ucap Dini menengahi.
Setelah beberapa lama mengobrol, Dini dan Dimas keluar dari ruangan Andi.
"Aku harus balik sekarang sayang, kamu mau aku anter pulang apa disini aja?"
"Aku di sini aja, nggak papa kan?"
"Nggak papa, jaga kesehatan kamu Andini, jangan banyak begadang!"
Dini menganggukkan kepalanya lalu memeluk Dimas.
"Kamu harus cepet dapat promosi biar bisa cepet pindah!" ucap Dini manja.
"Aku usahain sayang, aku juga nggak mau lama lama disana!"
Dimas lalu melepaskan diri dari pelukan Dini dan mencium kening Dini.
"Love you," ucap Dimas sebelum dia pergi.
"Love you more," balas Dini.
Dimas lalu meninggalkan Dini, sedangkan Dini masih berdiri sampai Dimas sudah tak terlihat lagi dari pandangannya.
"Emang anak jaman sekarang suka berlebihan banget!" ucap Adit yang tiba tiba berdiri di samping Dini.
"Cowok yang nggak pernah punya pacar kayak kak Adit emang nggak pernah ngerti," balas Dini lalu berbalik meninggalkan Adit.
"duuhh, dasar, dua duanya nyakitin banget kalau ngomong," batin Adit dalam hati lalu mengikuti Dini.
"Mama gimana kak?" tanya Dini.
"Dari kemarin mama maksa ketemu Andi, sampe kakak harus kerja sama sama Dokter buat ngelarang mama keluar dari ruangannya," jawab Adit.
"Mama tau kalau Andi udah sadar?"
"Kayaknya sih belum, kakak juga nggak tau kenapa mama ngotot banget mau ketemu Andi."
"Hati seorang ibu emang nggak pernah salah kak," balas Dini dengan senyum manisnya.
"Iya kamu bener, mama...... tunggu..... maksud kamu apa?"
"Andi udah cerita tentang kejadian malam itu kak, tentang apa yang dia denger di rumahnya, percakapan ayah dan ibunya sama mama dan kak Adit," jawab Dini.
"Jadi kamu udah tau? apa kamu akan marah sama mama?"
"Enggak, nggak ada alasan buat Dini marah sama mama," balas Dini.
"Makasih atas pengertian kamu," ucap Adit.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Ia ingat apa yang pernah dilihatnya di rumah Adit dulu. Saat mama Siska sudah tidak bisa mengendalikan emosinya, Aditlah yang menjadi sasaran amukan mama Siska.
Sekarang ia lega karena Andi sudah datang dalam kehidupan mereka. Ia hanya bisa berharap jika dengan adanya Andi, semuanya akan menjadi lebih baik, tak hanya untuk mama Siska dan kak Adit, tapi juga untuk ibu dan ayah Andi yang mungkin merasa ditinggalkan.
Tapi ia yakin, Andi pasti bisa memilih jalan yang bijak tanpa harus ada yang merasa disakiti.
__ADS_1