
Dimas masih berada di rumah sakit. Keadaan Dimas yang tiba tiba down membuat semua orang khawatir.
Beruntung karena efek dari obat yang Dimas konsumsi belum sampai menyerang otaknya.
Mama dan papa Dimas menjelaskan pada Dimas semua penjelasan dari Dokter. Tentang bahaya obat yang Dimas konsumsi secara berlebihan, efeknya pada kesehatan Dimas dan apa yang harus Dimas lakukan agar tidak kecanduan obat itu.
"Jadi kapan Dimas boleh pulang ma?" tanya Dimas pada sang mama.
"Dokter masih harus pantau keadaan kamu sayang, mungkin besok kamu baru bisa pulang tapi harus bed rest di rumah," jawab mama Dimas.
"Dimas bosen di sini ma," ucap Dimas tak bersemangat.
"Itu kenapa kamu harus jaga kesehatan kamu biar nggak kayak gini lagi," ucap mama Dimas.
"Iya ma, Dimas nggak akan ngelakuin itu lagi," balas Dimas.
"Ya udah, mama sama papa harus ke kantor, setelah pekerjaan mama selesai mama akan ke sini lagi," ucap mama Dimas.
"Apa Andi dan Dini masih di sini ma?" tanya Dimas.
"Iya, mereka ada di depan," jawab mama Dimas.
"Tolong panggilin mereka ya ma kalau mama dan papa keluar!"
Mama Dimas menganggukkan kepalanya lalu keluar bersama sang suami.
Saat baru saja membuka pintu, mama Dimas begitu terkejut melihat Dini yang sedang menggenggam tangan Andi.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan saat itu, tapi mama Dimas yakin ada hal serius yang sedang mereka bicarakan.
"Dimas minta kalian masuk," ucap papa Dimas pada Dini dan Andi.
"Iya pa, papa sama mama mau pulang?"
"Iya, kamu juga harus jaga kesehatan kamu ya Din!"
"Iya pa," balas Dini.
"Mama pulang dulu ya sayang," ucap mama Dimas sambil memeluk Dini.
Mama dan papa Dimaspun meninggalkan rumah sakit, sedangkan Dini dan Andi masuk ke ruangan Dimas.
**
Waktu berlalu, hari telah berganti.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi saat Andi berada di rumah Dini. Pagi itu ia menjemput Dini untuk pergi ke rumah sakit, mereka akan menjemput Dimas dan mengantarnya pulang ke rumahnya.
"Kalian mau jemput Dimas?" tanya ibu Dini pada Dini dan Andi.
"Iya bu," jawab Andi.
"Kita pergi dulu ya Bu," ucap Dini sambil mencium tangan sang ibu dan diikuti oleh Andi.
Andipun mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit tempat Dimas dirawat.
Sesampainya mereka di sana, Dini dan Andi segera turun dari mobil. Namun tiba tiba Andi menghentikan langkahnya saat ia menyadari ponselnya tertinggal di mobil.
"Kamu duluan Din, hp ku ketinggalan di mobil kayaknya," ucap Andi lalu berbalik dan kembali ke tempat parkir untuk mengambil ponselnya.
Ketika Andi kembali masuk, tanpa sengaja ia bertemu mama Dimas yang baru saja mengurus biaya administrasi.
"Ngapain kamu di sini lagi?" tanya mama Dimas dengan pandangan tidak suka.
"Saya nganterin Dini buat jemput Dimas tante," jawab Andi yang masih berbicara sopan meski ia tau mama Dimas tidak menyukai kehadirannya.
"Kamu pulang aja, Dini udah nggak butuh kamu!" ucap mama Dimas lalu melangkah meninggalkan Andi.
Andi hanya tersenyum tipis dengan mengikuti langkah mama Dimas.
"Kamu pasti seneng karena Dimas sakit kan? kamu bisa deketin Dini semau kamu!"
"Justru saya khawatir sama Dimas, saya yakin alasan Dimas mengkonsumsi obat itu salah satunya karena tekanan pekerjaannya, om dan tante memeras waktu, tenaga dan otaknya buat bekerja terlalu keras, padahal tanpa om dan tante ngelakuin itu pun saya tau Dimas akan berusaha keras untuk mencapai tujuannya," ucap Andi.
Mama Dimas yang mendengar ucapan Andi seketika menghentikan langkahnya dan menatap Andi dengan pandangan tidak suka.
"Kamu nggak tau apa apa tentang Dimas, kamu...."
"Kalau om dan tante sangat mengenal Dimas, om dan tante nggak akan biarin Dimas mengkonsumsi obat itu, tante sendiri denger kan penjelasan Dokter tentang efek jangka panjang obat itu?"
"Saya mengenal anak saya lebih dari siapapun, jadi jaga bicara kamu!" ucap mama Dimas kesal.
"Saya cuma nggak mau Dimas terlalu memaksakan dirinya karena kehendak dari om dan tante, saya yakin Dimas lebih berharga dari apapun yang om dan tante miliki," ucap Andi lalu berjalan mendahului mama Dimas.
__ADS_1
Sedangkan mama Dimas masih terdiam di tempatnya.
"Saya cuma nggak mau Dimas terlalu memaksakan dirinya karena kehendak dari om dan tante, saya yakin Dimas lebih berharga dari apapun yang om dan tante miliki,"
Ucapan Andi seolah menusuk dirinya dengan dalam. Sebagai seorang ibu ia sangat tau apa impian terbesar Dimas sejak lama.
Dimas sangat ingin memiliki bisnis yang dirintisnya dari nol, itu kenapa Dimas berani membuka bisnisnya sejak ia masih berada di bangku sekolah.
Namun semua itu hancur karena Dimas lebih memilih keluarganya daripada bisnis impiannya sendiri.
Dalam hati kecilnya, mama Dimas menyesalkan hal itu. Tanpa sadar mama dan papa Dimas memaksa Dimas untuk mengubur impiannya demi masa depan perusahaan yang sudah memiliki nama besar.
"apa mama egois Dimas? apa kamu terbebani dengan semua ini? maafkan mama dan papa sayang," batin mama Dimas dalam hati lalu duduk di kursi yang ada di dekatnya.
Tak lama kemudian Dini, Andi, Dimas dan papa Dimas berjalan keluar dari ruangan Dimas.
Mereka melihat mama Dimas yang duduk di kursi di dekat ruang administrasi.
"Mama kenapa di sini?" tanya papa Dimas pada istrinya.
"Maaf, mama sedikit pusing pa," jawab mama Dimas berbohong.
"Mama sakit? kita periksa sekalian ya!" ucap Dimas yang langsung duduk di samping sang mama.
"Enggak sayang, mama udah baik baik aja sekarang, ayo pulang!"
"Mama yakin?"
"Iya mama yakin," jawab mama Dimas lalu berdiri dari duduknya.
"Maaf karena Dimas bikin mama khawatir, Dimas nggak akan ngelakuin hal bodoh itu lagi, Dimas janji," ucap Dimas dengan memeluk sang mama.
Mama Dimas hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Dimas yang terdengar begitu tulus.
"Dimas ikut mobil Andi ya ma!" ucap Dimas yang hanya dibalas anggukan dan senyum sang mama.
Merekapun meninggalkan rumah sakit bersama. Dimas, Andi dan Dini dalam satu mobil. Sedangkan mama dan papa Dimas berdua di mobil yang lain.
"Mama kenapa?" tanya papa Dimas yang melihat sang istri sedang tidak baik baik saja.
"Kita bicarain nanti ya pa!" jawab mama Dimas dengan memejamkan matanya.
Papa Dimas lalu menggenggam tangan sang istri dan menciumnya.
Mama Dimas hanya menganggukkan kepalanya dengan mata yang masih terpejam.
Papa Dimas masih menggenggam tangan sang istri, ia tau istrinya itu sedang tidak baik baik saja saat itu.
**
Sesampainya di rumah Dimas, Dini dan Andi mengantar Dimas ke kamarnya bersama mama dan papa Dimas.
"Barang barang kamu udah papa pindahin semuanya, termasuk berkas berkas yang mungkin kamu butuhin saat kamu mulai masuk di perusahaan utama, kamu....."
"Pa, Dimas baru pulang dari rumah sakit, jangan diajak bicarain pekerjaan dong!" ucap mama Dimas menyela sang suami.
"Hahaha... iya maaf, kamu istirahat aja dulu, fokus sama kesehatan kamu, jangan mikirin pekerjaan dulu!" ucap papa Dimas.
"Iya pa," balas Dimas.
"Mama siapin sarapan dulu, kita sarapan bersama di bawah," ucap mama Dimas lalu keluar dari kamar Dimas bersama sang suami.
Kini hanya ada Dimas, Dini dan Andi di kamar Dimas.
"Kamu harus janji ya sama aku, harus minum obat sesuai resep Dokter, kalau emang masih pusing kita konsultasi lagi sama Dokternya," ucap Dini pada Dimas.
"Iya sayang, lagian kan ada Dokter Aziz juga di sini," balas Dimas.
"Lo juga harus istirahat dari kantor Dim, keluar dari rutinitas yang bikin lo stres!" ucap Andi.
"Iya, tapi gue juga nggak bisa lama lama ninggalin kantor, gue nggak mau pernikahan gue mundur," ucap Dimas dengan mengedipkan sebelah matanya pada Dini di akhir kalimatnya.
"Kesehatan kamu lebih penting Dimas!" ucap Dini dengan memukul lengan Dimas.
"Pernikahan kita juga penting sayang, jauh lebih penting dari apapun!" balas Dimas.
"Iya, tapi....."
"Aku akan baik baik aja Andini, percaya sama aku!" ucap Dimas dengan memegang kedua bahu Dini dan menatap ke dalam matanya.
"Kesehatan lo juga penting Dim, Dini mana mau nikah sama orang penyakitan hahaha....."
"Sialan lo!" balas Dimas sambil mengarahkan tendangannya pada Andi, namun tidak mengenai Andi.
__ADS_1
"Oh iya, gimana luka kamu? udah sembuh?" tanya Dimas sambil memperhatikan tangan Dini.
"Udah kok, cuma luka kecil," jawab Dini sambil menunjukkan bekas lukanya yang sudah mengering.
"Andini, tentang pak Yusman, aku...."
Tooookkk tooookkk tooookkk
"Permisi mas, sarapannya sudah siap," ucap salah satu asisten rumah tangga Dimas.
"Iya bi, kita turun sekarang," balas Dimas.
"Ayo!" ajak Dini dengan menarik tangan Dimas.
Merekapun turun dari kamar Dimas yang berada di lantai dua.
"Gimana clothing arts kamu Ndi?" tanya papa Dimas pada Andi saat mereka sudah berada di meja makan.
"Lancar om," balas Andi.
"Gue denger lo beli gedung di sebelahnya juga ya?" tanya Dimas.
"Iya, kak Adit bilang mending beli gedung di sebelahnya daripada pindah ke gedung yang lebih besar," jawab Andi.
"Kakak kamu bener, kalau om jadi kamu om juga akan melakukan hal yang sama," sahut papa Dimas.
Setelah menyelesaikan sarapan, papa Dimas mengajak Andi untuk mengobrol berdua, membicarakan banyak hal tentang bisnis.
Sedangkan Dini dan Dimas pergi ke gazebo di taman.
"Akhirnya aku balik ke rumah ini lagi," ucap Dimas lega.
"Dan kita bisa ketemu lebih sering kayak dulu," balas Dini.
"Itu yang paling penting!" ucap Dimas dengan mencubit hidung Dini.
Dini lalu duduk bersandar, sedangkan Dimas membaringkan kepalanya di paha Dini.
"Dimas, aku tau kamu selalu berusaha keras buat mencapai tujuan kamu, tapi kamu juga harus memikirkan diri kamu, bukan egois, tapi self love, aku nggak mau terjadi apa apa sama kamu Dimas," ucap Dini dengan memainkan rambut Dimas.
"Iya sayang, aku nggak akan kayak gitu lagi," balas Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
"Tentang pak Yusman, aku emang kecewa banget sama kamu, tapi aku akan dengerin semua penjelasan kamu," ucap Dini yang membuat Dimas segera beranjak dan duduk di hadapan Dini.
"Aku minta maaf Andini, tapi tolong jangan berpikir kalau aku nggak percaya sama kamu, aku percaya sama kamu, sama Andi dan persahabatan kalian, aku sama sekali ggak bermaksud buat mengintai kamu," ucap Dimas dengan serius.
"Terus kenapa kamu minta banyak orang buat ngikutin aku, bahkan mereka juga ada di sekitar rumah ku, iya kan?"
"Iya, aku emang nugasin mereka buat ke awasin kamu dimanapun kamu berada, tapi aku ngelakuin itu buat jagain kamu Andini, bukan buat hal lain."
"Apa kamu sadar kalau yang kamu lakukan itu berlebihan?"
"Aku minta maaf Andini, aku cuma nggak mau terjadi sesuatu yang buruk sama kamu," jawab Dimas yang menyesali perbuatannya.
"Aku bisa jaga diri aku sendiri Dimas, aku bukan anak kecil yang harus diawasi kemanapun aku pergi, sikap kamu itu bikin aku berpikir kalau kamu nggak pernah kasih aku kepercayaan selama kamu jauh dari aku," ucap Dini.
"Enggak sayang, itu nggak bener, aku percaya sama kamu, aku minta mereka cuma buat jagain kamu, mereka akan hubungin aku kalau terjadi sesuatu sama kamu, mereka nggak pernah kasih tau aku tentang apa yang kamu lakuin, kemana kamu pergi, mereka cuma jagain kamu dari jauh Andini," ucap Dimas menjelaskan.
Dini mengernyitkan dahinya mendengarkan penjelasan Dimas. Sebelumnya ia berpikir jika Dimas meminta pak Yusman dan lainnya untuk mengintainya dan memberi tau Dimas tentang apapun yang ia lakukan.
"Jadi mereka nggak selalu kasih tau kamu aku kemana, aku sama siapa, aku....."
"Enggak Andini, enggak sama sekali, tugas mereka cuma jagain kamu dan pastiin nggak ada yang ganggu kamu, aku sama mereka udah bikin perjanjian tentang hal itu, mereka cuma hubungi aku kalau terjadi apa apa sama kamu!" ucap Dimas menjelaskan.
"Jadi......"
Dini menyadari jika ia sudah salah mengartikan maksud Dimas melakukan hal itu.
"Jadi aku nggak pernah tau kamu dimana, sama siapa dan ngapain aja, aku bukan laki laki seperti yang kamu pikirkan Andini, aku bisa membatasi diriku supaya tetap bikin kamu nyaman sama aku, aku cuma mau pastiin kalau kamu selalu aman, itu aja," ucap Dimas.
Dini terdiam mendengarkan penjelasan Dimas. Dalam hatinya ia merasa bersalah, tidak hanya karena telah menampar Dimas, tapi juga karena ucapannya yang mungkin kurang sopan pada Pak Yusman.
"Aku minta maaf kalau cara yang aku pilih salah dan menyakiti kamu, tapi kamu jangan pernah ragu sama aku, jangan pernah ragu dengan hubungan yang udah lama kita jaga, aku sayang dan cinta sama kamu Andini, kamu percaya kan sama aku?"
Dini menganggukkan kepalanya lalu memeluk Dimas.
"Aku juga minta maaf atas sikapku kemarin waktu di rumah Andi, aku nggak akan ngelakuin itu lagi," ucap Dimas yang merasa bersalah karena sudah bersikap kasar pada Dini.
"Kamu cemburu sama Andi?"
Dimas menganggukkan kepalanya pelan.
"Harusnya aku tau, dia sahabat kamu, wajar kalau kamu datengin dia saat kamu kecewa sama aku, cuma dia yang bisa tenangin kamu," jawab Dimas.
__ADS_1
"Tapi waktu itu kamu bilang kalau Andi suka sama aku, kenapa kamu bilang gitu?" tanya Dini yang membuat Dimas terdiam.