
Waktu berlalu, hari terus berganti tanpa berhenti.
Dini sudah resign dari perusahaan Adit karena keadaannya yang tidak memungkinkan untuk bekerja.
Setiap pagi ia mengalami morning sickness dan setiap ia mencium bau yang menyengat ia akan kembali muntah sampai badannya menjadi lemas.
Sedangkan Dimas setiap pagi selalu membuatkan Dini air lemon untuk mengurangi rasa mual akibat morning sickness yang dialami Dini.
Dimas benar benar menjadi suami yang bisa diandalkan meski terkadang Dini meminta sesuatu yang aneh dan pada akhirnya Dini menolaknya dengan alasan sudah tidak menginginkannya.
Terkadang Dini bisa tiba tiba kesal dan cemburu saat klien atau teman kantor Dimas yang perempuan menghubungi Dimas, namun Dimas bisa memahami semua itu.
Ia cukup tau bagaimana perubahan hormon selama kehamilan bisa mempengaruhi emosi seseorang.
Setiap hari Dimas semakin memanjakan Dini. Ia begitu menjaga dan melindungi Dini dengan baik, kasih sayang dan perhatian yang ia berikan membuat Dini semakin tak bisa jauh dari Dimas.
Sore itu, Dini sedang bersiap di depan meja riasnya. Ia akan menjemput Dimas di kantor dan melakukan pemeriksaan kandungannya bersama Dimas.
Setelah selesai bersiap, Dini segera menghampiri pak Yusman dan memintanya untuk mengantarkan dirinya ke kantor Dimas.
Sesampainya di kantor Dimas, Dini segera masuk dan berjalan ke arah ruangan Dimas. Saat ia sampai di depan pintu ruangan Dimas yang hanya dibatasi kaca, ia melihat Dimas yang tampak sedang serius membicarakan sesuatu bersama seorang wanita.
Dini hanya diam di tempatnya, menunggu wanita itu keluar dari ruangan Dimas.
"Selamat sore Bu Dini, nunggu pak Dimas?" tanya asisten pribadi Dimas.
"Iya, itu siapa?"
"Dia perwakilan dari klien kita, Bu Dini masuk aja!"
"Enggak, saya tunggu di sini," balas Dini.
Asisten pribadi Dimas lalu masuk ke ruangan Dimas, memberi tahu Dimas jika Dini menunggunya di luar ruangan.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya lalu mengakhiri obrolannya dengan perempuan di hadapannya.
"Selesaikan laporannya sekarang dan segera kirimkan ke email saya, saya harus pulang sekarang!" ucap Dimas pada asistennya sambil memberikan sebuah map.
"Baik pak," balas si asisten lalu keluar dari ruangan Dimas.
Dimas lalu mengemasi barang barangnya dan menghampiri Dini yang menunggunya di depan ruangannya.
"Kenapa berdiri di sini? kamu bisa masuk dan tunggu di dalam sayang!" ucap Dimas yang hendak mencium kening Dini, namun Dini menghindar.
"Nunggu di dalam dan liat kamu sama cewek tadi?"
"Dia perwakilan dari klien aku sayang, kita...."
"Nggak perlu dijelasin, aku udah tau!" balas Dini dengan nada kesal.
Dimas hanya tersenyum tipis, memegang kedua pipi Dini dan membawanya memandang ke arahnya.
"Kamu makin cantik kalau lagi cemburu," ucap Dimas dengan senyum manisnya.
"Aku nggak cemburu," ucap Dini dengan melepaskan kedua tangan Dimas lalu berjalan mendahului Dimas.
Jika sudah seperti itu Dimas hanya bisa pasrah dan menerima semua kekesalan Dini padanya. Tidak ada yang bisa ia lakukan karena Dini sudah tidak bisa lagi dibujuk dengan mudah.
Sesampainya di rumah sakit, mereka segera menemui dokter kandungan yang sudah beberapa kali memeriksa kandungan Dini.
Dokter menjelaskan jika keadaan Dini dan janinnya sehat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Dok, ada yang mau saya tanyakan," ucap Dimas malu malu.
"Baik, silakan!" balas Dokter.
"Mmmm..... apakah selama istri saya hamil, kita masih boleh 'berhubungan'?" tanya Dimas yang membuat Dini mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Dimas.
"Boleh saja, selama kehamilannya sehat kalian boleh melakukannya, hanya saja jangan terlalu sering dan harus dalam keadaan yang nyaman tanpa memaksa dan tentunya melakukannya dengan hati hati ya!" jawab Dokter dengan tersenyum.
"Apa itu tidak berpengaruh dengan janinnya dok?" tanya Dini khawatir.
"Selama janinnya sehat, itu tidak jadi masalah, tapi mengingat usia kandungannya yang masih muda jadi harus dilakukan dengan hati hati," jawab Dokter.
Setelah mendengarkan semua penjelasan Dokter, Dini dan Dimaspun pulang ke rumah.
Dimas tidak bisa menahan senyumnya mengingat jawaban Dokter tadi, karena sudah lama ia menahan dirinya agar tidak melakukannya.
"Jangan berpikir yang enggak enggak!" ucap Dini yang bisa mengerti isi pikiran Dimas.
"Hehehe..... kan Dokter bilang nggak papa," balas Dimas.
"Aku masih marah sama kamu!" ucap Dini.
"Aku harus gimana biar kamu nggak marah lagi?"
"Aku mau makan daging!" jawab Dini.
__ADS_1
"Oke siap!" balas Dimas penuh semangat.
Sesampainya di rumah, Dimas segera berjalan ke dapur dan memanggang daging untuk Dini.
Sejak hamil, Dini memang lebih suka makan daging daripada makanan lainnya.
Setelah selesai, Dimas membawanya ke ruang tengah dimana Dini menunggunya.
"Hmmmm..... dagiiiing!" ucap Dini sambil bertepuk tangan kecil.
Dimas lalu menyuapi Dini satu per satu potongan daging yang sudah dipanggangnya.
"Enak sayang?" tanya Dimas yang hanya dibalas Dini dengan anggukan kepalanya penuh semangat.
Setelah semua daging habis, Dimas memberikan air minum pada Dini.
"Aku udah masakin kamu daging, apa aku bisa dapat hadiah?" tanya Dimas.
Dini tersenyum lalu memberikan kecupan singkatnya di bibir Dimas, namun saat Dini akan melepasnya tiba tiba Dimas memegang tengkuk Dini seolah menahan agar Dini tidak melepaskan kecupannya.
Merekapun saling bertaut dengan semakin dalam. Tangan Dimas mulai menyusuri setiap area yang membuat Dini merasa geli.
Tanpa menunggu lama, Dimas membopong Dini ke dalam kamarnya, membaringkannya dengan hati hati di atas ranjang.
Setelah dirasa pemanasan yang mereka lakukan sudah cukup, Dimaspun menuntaskan hasrat terpendammya selama beberapa hari ini.
Ia melakukannya dengan pelan dan hati hati sampai akhirnya mendapatkan puncak surga dunia yang sudah lama dirindukannya.
Dimas menjatuhkan dirinya di samping Dini, mengecup kening Dini dan mengusap perut Dini.
"Apa aku menyakiti kamu sayang?" tanya Dimas memastikan.
Dini hanya menggelengkan kepalanya dengan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dimas.
"Dimas, apa aku boleh minta sesuatu?" tanya Dini manja.
"Tentu, apa yang kamu mau sayang?"
"Kamu jangan berduaan sama perempuan lain di satu ruangan, kalau memang itu pertemuan penting tentang perusahaan, kamu bisa ajak asisten kamu kan biar kamu nggak cuma berdua sama perempuan lain!" jawab Dini.
"Iya sayang, maaf karena udah bikin cemburu," balas Dimas.
"Aku nggak cemburu Dimas!" ucap Dini dengan memukul dada Dimas.
"Hahaha.... oke oke, maaf udah bikin kamu nunggu lama tadi," ucap Dimas meralat ucapannya.
"Oke, aku maafin," balas Dini dengan kembali memeluk Dimas manja.
Di tempat lain, Adit baru saja sampai di depan rumah Ana.
Ana menyambut kedatangan Adit dan memeluknya dengan erat. Ia memang belum bisa melupakan anak pertamanya yang telah tiada, tapi itu tidak menjadi alasan baginya untuk terus bersedih.
"Kamu cantik banget," ucap Adit lalu memberikan kecupan nya di kening Ana.
"Kamu bohong, aku kan nggak pernah dandan sekarang!" balas Ana.
"Dandan atau enggak, kamu tetap cantik, hati kamu yang membuat kamu terlihat cantik," ucap Adit.
"Ayo masuk, ada yang mau aku tunjukin ke kamu!" ucap Ana.
Ana lalu menarik tangan Adit, membawanya masuk ke kamarnya.
Ana mengambil laptopnya dan menunjukkan pada Adit sebuah video dari salah satu WO yang sedang diperbincangkan di internet.
"Bagus kan konsepnya?" tanya Ana pada Adit.
"Bagus, kamu mau pernikahan kita nanti kayak gitu?" jawab Adit sekaligus bertanya.
Ana hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Adit, ia lalu berjalan ke arah jendela kamarnya dan menatap keluar jendela.
"Sampai sekarang aku masih berpikir apa aku pantas buat kamu Dit, setelah aku kehilangan semua yang aku punya, aku merasa aku bukan perempuan yang baik, aku bahkan nggak bisa jaga anakku dengan baik," ucap Ana.
Adit lalu membawa langkahnya mendekat ke arah Ana, memegang kedua bahu Ana dan mengarahkannya padanya.
"Jangan pernah berpikir seperti itu An, kamu lebih dari sekedar baik, kamu perempuan yang hebat, kamu perempuan yang layak mendapatkan kebahagiaan dalam hidup kamu dan aku akan kasih kamu kebahagiaan itu," ucap Adit dengan menatap ke dalam mata Ana.
"Kamu jangan pernah menyesali ucapan kamu ini Dit, aku bener bener udah jatuh cinta sama kamu, aku nggak tau gimana hidupku tanpa kamu Adit," ucap Ana menatap mata laki laki di hadapannya.
"Aku nggak akan pernah menyesalinya An," balas Adit lalu mendaratkan kecupannya di bibir Ana.
Ana yang sedikit terkejut hanya bisa diam membiarkan apa yang Adit lakukan. Tangannya mencengkram erat jas yang dipakai Adit saat kecupan itu semakin dalam dan jauh.
Ia memejamkan matanya membiarkan dirinya merasakan kebahagiaan dan keindahan yang sudah lama pergi dari hidupnya.
Adit mengakhirinya dengan sebuah pelukan yang erat. Setelah sekian lama ia menunggu dan bersabar, akhirnya ia benar benar bisa mendapatkan hati Ana.
"Kapan kamu siap?" tanya Adit pada Ana.
__ADS_1
"Siap untuk?" tanya Ana tak mengerti.
"Pernikahan kita," jawab Adit.
Ana hanya tersenyum lalu melepaskan dirinya dari pelukan Adit dan duduk di tepi ranjangnya.
"Aku akan siapin semuanya sesuai yang kamu mau An, aku akan ambil cuti lama buat bulan madu kita, aku akan....."
"Bulan depan," ucap Ana dengan cepat.
"Bulan depan? bulan depan kita akan menikah?" tanya Adit tak percaya.
"Kalau kamu keberatan bisa tahun depan," jawab Ana.
"Oke bulan depan, aku akan siapin semuanya mulai sekarang," balas Adit penuh semangat.
"Kamu serius?" tanya Ana.
"Iya, aku nggak pernah main main sama kamu An!" jawab Adit.
"Kerjaan kamu gimana? kamu nggak bisa ninggalin kerjaan kamu gitu aja kan?"
"Ada Jaka dan timnya yang bisa handle kerjaanku selama aku cuti, aku akan pastiin nggak ada yang bisa ganggu kita selama kita bulan madu nanti," jawab Adit meyakinkan.
Ana hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang.
Mereka lalu keluar dari kamar untuk makan malam dan setelah itu menonton tv berdua.
"Kamu mau bulan madu kemana nanti?" tanya Adit dengan memeluk Ana yang duduk di hadapannya.
"Tergantung kamu liburnya berapa lama, kalau cuma sebentar kita bisa bulan madu di sini, kalau cukup lama kita bisa keluar negri," jawab Ana.
"Aku tau kamu mau kemana," ucap Adit.
"Kemana?" tanya Ana.
"Paris?" terka Adit yang hanya dibalas senyum dan anggukan kepala Ana.
"Oke, aku masih punya waktu buat beresin semua kerjaanku sebelum aku cuti, biar nggak ada yang ganggu kita nanti," ucap Adit.
"Tapi mama sama Andi gimana Dit? apa mereka bisa menerimaku?" tanya Ana khawatir.
"Jangan khawatir An, kamu tau mama sayang banget sama kamu, Andi juga," balas Adit.
"Kapan kita kasih tau mama dan Andi?" tanya Ana.
"Secepatnya, aku akan cari waktu yang tepat!" jawab Adit.
Ana lalu membalikkan badannya dan memeluk Adit dengan manja. Tak pernah terpikirkan dalam hidupnya jika ia akan menjatuhkan hatinya pada laki laki yang usianya lebih muda darinya.
Laki laki yang dulu adalah adik kelasnya saat sekolah, juniornya saat kuliah dan atasannya saat ia bekerja.
Takdir hidup memang tidak bisa ditebak kemana arahnya. Saat ia benar benar meyakini jika Deva adalah pelabuhan terakhir dalam hidupnya, ia malah mendapatkan fakta mengejutkan bahwa laki laki yang sudah ia percaya itu hanyalah seorang laki laki brengsek yang tidak bertanggung jawab.
"Adit, apa setelah menikah nanti aku boleh kerja?" tanya Ana.
"Boleh, kamu mau balik ke kantor?"
"Ke kantor kamu? emang boleh?"
"Kenapa enggak, aku pasti seneng banget kalau aku bisa kerja sama kamu di kantor, jadi aku bisa lebih sering ketemu kamu, nggak cuma di rumah tapi juga di kantor," jawab Adit.
"Tapi gimana sama Jaka? dia udah lama pingin ada di posisi itu kan?"
"Aku akan pindahin dia ke cabang dengan posisi yang lebih baik, sejauh ini dia emang selalu bisa diandalkan!" jawab Adit.
"Jadi di rumah aku akan jadi istri kamu, di kantor aku akan jadi bawahan kamu?" tanya Ana.
"Dimanapun kamu, kamu adalah istriku," jawab Adit dengan memeluk Ana erat.
"Terus gimana sama semua yang ada di sini? Bu Desi, Lisa, Pak Candra dan pak Agus?"
"Mereka akan ikut kita, aku akan siapin rumah yang nggak terlalu jauh dari kantor," jawab Adit.
"Waaahhhh, apa kamu udah lama pikirin semua ini?" tanya Ana.
Adit hanya menganggukkan kepalanya dengan terkekeh. Sejak ia mengetahui hal buruk yang terjadi pada Ana dan Deva, Adit sudah bertekad untuk bisa mendapatkan hati Ana.
Ia akan merelakan Ana jika Ana memutuskan untuk menikah dengan Deva, namun saat mengetahui seberapa buruknya Deva, Adit berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan membiarkan Ana jatuh ke tangan yang salah untuk kedua kalinya.
Ia akan memberikan kebahagiaan dan masa depan yang cerah untuk Ana. Tak peduli bagiamana masa lalu Ana, baginya Ana adalah cahaya masa depan untuk Adit.
Jalan masa depan memang tidak bisa diterka. Saat Adit sudah merelakan Ana dari genggamannya, takdir kembali mendekatkan Ana padanya.
Dengan semua batu rintangan yang telah mereka lewati, pada akhirnya akhir bahagia sudah ada di depan mata.
Saat Adit sudah merengkuh Ana ke dalam pelukannya, ia tidak akan membiarkan Ana pergi darinya.
__ADS_1
Adit akan terus menggenggam tangannya, menjaganya dan menyayanginya dengan seluruh cinta dalam hatinya.
Takdir telah berpihak kepadanya, ia akan menjaganya dengan baik dan tidak akan membiarkannya terlepas darinya.