Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Perjanjian


__ADS_3

Goresan jingga senja sang pencipta terlukis indah saat Dini dan Dimas baru saja menginjakkan kaki di bandara.


Mereka sudah kembali dari liburan mereka, bersiap untuk memulai kembali aktivitas dan kesibukan mereka di dunia kerja.


Dimas lalu mengajak Dini untuk mampir ke rumah mama dan papanya sekedar untuk memberikan oleh oleh yang sudah mereka beli.


"Gimana liburannya? lancar?" tanya mama Dimas.


"Lancar ma, ini beberapa barang yang Dini dan Dimas beli buat mama sama papa," jawab Dimas sambil memberikan beberapa paper bag bertuliskan logo fashion ternama pada sang mama.


"Makasih sayang, papa masih ada keperluan di luar, mau nunggu papa?"


"Gimana sayang?" tanya Dimas pada Dini.


Belum sempat Dini menjawab, sebuah mobil masuk ke halaman rumah.


Tak lama kemudian papa Dimas datang, menghampiri sang istri, Dini dan Dimas yang ada di ruang tamu.


"Cepet banget liburannya, kalian kan bisa minta cuti!" ucap papa Dimas.


"Belum waktunya cuti pa, Dini juga masih banyak kerjaan," balas Dimas.


"Gimana 'liburannya'?" tanya papa Dimas dengan memainkan dua jarinya memberikan tanda kutip.


"Maksud papa, kenapa harus 'liburan'?" balas Dimas bertanya dengan menirukan gerakan dua jari sang papa.


"Kalian tinggal di satu kamar kan?" tanya papa Dimas dengan senyum nakalnya.


"Iya, biar nggak ribet aja, biar..... nggak terlalu banyak pengeluaran," jawab Dimas beralasan, karena ia tau jika ia tidak bisa berbohong pada sang papa.


"Kamu masih mau sama cowok perhitungan kayak gitu Din?" tanya papa Dimas pada Dini.


Dini hanya tersenyum menanggapi pertanyaan papa Dimas, ia tidak tau harus menjawab seperti apa.


"Walaupun mama nggak pernah kasih batasan sama kalian, tapi kalian harus ingat ya, kalian belum menikah, kalian pasti tau batas batas dalam berhubungan kan?" sahut mama Dimas.


"Kita nggak ngelakuin apa apa ma, kita tau batasannya kok," balas Dimas.


"Bagus, paling enggak kamu bisa pake pengaman hehe...." sahut papa Dimas yang dengan cepat mendapat cubitan dari sang istri di pinggangnya.


Dini dan Dimas hanya saling pandang lalu menunduk kepala mereka karena malu dengan ucapan sang papa.


"Papa bener dong ma, kita nggak bisa kontrol apa yang mereka lakuin di luar, mereka harus tau cara yang bijak melakukan......"


"Stop pa, stop, jangan dibahas lagi please, Dimas udah bukan anak SMA lagi, Dimas sama Dini mengerti batasan kita dalam berhubungan jadi jangan dibahas sedetail itu!" sahut Dimas.


"Jadi kalian udah 'berhubungan'?" tanya papa Dimas yang kembali menggerakkan dua jarinya sebagai tanda kutip.


"Papa harus cepet tidur deh kayaknya, Dimas sama Dini mau balik aja sebelum pikiran papa makin kotor," ucap Dimas dengan menarik tangan Dini.


"Dimas balik dulu ma," ucap Dimas lalu mencium kening sang mama.


"Apa kamu perlu supir sayang? biar nggak capek nyetir!" tanya mama Dimas.


"Nggak perlu ma, Dimas bisa sendiri," balas Dimas.


"Dini permisi pulang ma, pa," ucap Dini pada mama dan papa Dimas.


Mama Dimas lalu memeluk Dini, sedangkan papa Dimas masih tertawa puas karena sudah berhasil membuat anak dan calon menantunya tersipu malu.


"Jangan dengerin omongan papa sayang, papa emang suka ngaco!" ucap Dimas pada Dini saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Di sisi lain, mama Dimas memukul sang suami dengan apapun yang ada di dekatnya karena sudah membuat sang anak pergi dari rumah dengan cepat.


"Dimas emang harus cepet pulang ma, besok dia harus kerja," ucap papa Dimas membela diri.


"Tapi dia kan baru nyampe pa, dia juga butuh istirahat sebelum perjalanan jauh, gara gara ucapan papa Dimas sama Dini jadi nggak nyaman!"


"Tapi menurut mama apa mereka udah ngelakuin itu?" tanya papa Dimas.


"Nggak tau, mama nggak mau mikirin itu," jawab mama Dimas lalu pergi ke kamar dengan banyak barang yang sudah dibelikan oleh Dimas dan Dini.


"Mama nggak penasaran?" tanya papa Dimas yang mengikuti sang istri masuk ke kamar.


"Enggak, papa bisa nggak sih jangan bahas itu lagi?"


"Oke oke, gimana kalau kita kasih Dimas adik?" tanya papa Dimas dengan tersenyum nakal.


"Enggak," jawab mama Dimas singkat namun tersenyum malu.


Papa Dimas lalu menutup pintu kamar dan segera melepas kemejanya.


**


Di tempat lain, Adit baru saja sampai di rumah Ana.


Sepanjang perjalanan Ana masih memikirkan Dini yang melihat mereka di bandara beberapa waktu yang lalu.


Meski Adit selalu memintanya untuk tenang dan tak terlalu memikirkan nya, namun Ana tetap saja dipenuhi dengan berbagai macam kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"Tolong bawa masuk barang barang yang ada di bagasi ya!" perintah Adit pada Agus.


"Baik pak," balas Agus lalu mengeluarkan semua isi bagasi dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Yang ada di tas ini kamu bagi sama lainnya, itu oleh oleh buat kalian," ucap Adit sambil menunjuk sebuah tas besar.

__ADS_1


"Terima kasih banyak pak," balas Agus bersemangat.


Adit lalu mengantar Ana masuk ke dalam kamar. Ia membantu Ana melepas tas selempang dan jaketnya lalu mendudukkan nya di ranjang.


"Kamu masih mikirin Dini?" tanya Adit yang hanya dibalas anggukan kepala Ana.


"Kamu tau Dini itu perempuan yang baik kan? aku akan ceritain semuanya sama dia, dia pasti ngerti."


"Jangan, aku mohon jangan ceritain semuanya, aku nggak mau dia tau keadaan ku Dit, kamu harus cari alasan kenapa kita ada di sana berdua!"


"Alasan apa lagi An? semakin aku cari alasan, semakin Dini akan curiga, belum lagi Andi juga udah curiga sama kamu waktu di bioskop, aku harus kasih tau mereka An!"


"Mereka?"


"Iya, Andi dan Dini," jawab Adit.


"Enggak Dit, aku nggak mau mereka tau tentang hubungan kita, apa yang akan mereka pikirkan tentang aku, tentang kamu, mereka pasti nggak setuju kalau mereka tau tentang hubungan kita!"


"Aku nggak butuh persetujuan mereka buat berhubungan sama kamu An."


"Tapi Dit......"


"An, aku tau siapa Dini dan Andi, kamu juga kenal sama mereka, mereka pasti mengerti keadaan kita, jadi tolong biarin aku jujur sama mereka," ucap Adit memotong ucapan Ana.


"Gimana kalau ternyata mereka nggak suka sama hubungan kita?"


"Itu bukan masalah buat aku," jawab Adit.


"Gimana kalau mereka kasih tau mama dan orang lain lagi tentang hubungan kita? ini bukan cuma tentang kita Dit, tapi juga nama baik kamu dan perusahaan kamu yang dipertaruhkan!"


Adit menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya pelan lalu menggenggam kedua tangan Ana.


"Kamu percaya sama aku An, nggak akan ada hal buruk yang terjadi, kita akan baik baik aja, yang harus kamu lakukan sekarang adalah percaya sama aku dan jangan terlalu memikirkan masalah ini, oke?"


"Aku percaya sama kamu Dit, tapi...."


"An, beban pikiran kamu akan jadi beban juga buat dia, kamu tau itu kan?" ucap Adit dengan mengusap perut Ana.


Ana menganggukkan kepalanya mengerti.


"Aku akan selesaiin masalah ini sebaik mungkin, jadi kamu harus janji kalau kamu nggak akan mikirin masalah ini lagi, bisa?"


"Iya, aku janji, tapi kamu juga harus janji kasih tau aku semua yang terjadi, jangan sembunyiin apapun dari aku!"


"Iya, aku janji sama kamu," balas Adit lalu mencium kening Ana.


Malam itu Adit tidak pulang ke rumahnya, ia menghabiskan malamnya di rumah Ana.


**


Langit masih tampak gelap, cahaya mentari pagi belum tampak menerangi.


"Adit, bangun, kamu harus pulang," ucap Ana membangunkan Adit.


Adit hanya menggeliat dengan mata yang masih terpejam.


CUUUPPP


Sebuah kecupan singkat di bibir Adit membuat Adit segera membuka matanya dan tersenyum pada perempuan di hadapannya.


"Selamat pagi pak Adit, ini waktunya pak Adit untuk pulang karena sebentar lagi pak Adit harus kembali bekerja," ucap Ana dengan senyum manisnya.


Adit lalu beranjak dari tidurnya dan menarik Ana ke dalam pelukannya. Adit hanya diam, ia tidak mengucapkan sepatah katapun.


"Adit, kamu harus pulang," ucap Ana dengan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Adit.


"Bentar An, aku lagi men-charge tubuhku," balas Adit yang masih memeluk Ana.


"Berapa lama lagi penuhnya?" tanya Ana.


"Mungkin 2 atau 3 jam lagi," jawab Adit.


Ana lalu mendorong tubuh Adit dan memukulnya.


"Itu bukan men-charge, emang kamu cari kesempatan aja!" ucap Ana lalu berjalan ke arah pintu, namun Adit segera memeluknya dari belakang.


"Beberapa bulan lagi aku cuma bisa peluk kamu dari belakang karena dia akan semakin besar di sini," ucap Adit dengan mengusap perut Ana.


"Aku pasti jadi tambah gendut," ucap Ana.


"Nggak masalah, yang penting kalian sehat, di mata ku kamu selalu cantik An, jadi jangan khawatir," balas Adit dengan mencium leher jenjang Ana.


Ana lalu melepaskan dirinya dari pelukan Adit dan menarik tangan Adit untuk dibawa ke kamar mandi.


"Cuci muka dulu, aku udah siapin barang barang kamu di depan!" ucap Ana lalu segera keluar dari kamarnya.


Setelah selesai membasuh wajahnya, Adit lalu meninggalkan rumah Ana dan kembali pulang ke rumah mama Siska.


Tepat jam 6 pagi Adit sudah berada di meja makan bersama Andi dan mama Siska.


"Kamu pulang jam berapa? mama nggak liat kamu pulang!" tanya mama Siska pada Adit.


"Tadi pagi pagi banget ma, mama masih tidur kayaknya," jawab Adit.


"Gimana kaki lo? udah baikan?" lanjut Adit bertanya pada Andi.

__ADS_1


"Udah nggak papa kok, udah nggak kerasa sakit," jawab Andi.


"Baguslah kalau gitu, barang barang mama sama Andi masih ada di mobil, nanti Adit minta pak Lukman buat ambil," ucap Adit.


Setelah selesai sarapan, Adit lalu berpamitan untuk berangkat ke kantor. Sebelum itu ia meminta pak Lukman untuk mengeluarkan tas dan koper yang ada di bagasi mobilnya untuk dibawa masuk ke rumah.


"Nanti siang kita makan siang di kafe deket kantor ya!" ucap Adit pada Andi.


"Gue usahain," balas Andi.


"Gue juga ngajak Dini," ucap Adit yang membuat Andi tersenyum tipis lalu masuk ke mobilnya.


**


Menit demi menit berlalu merubah jam bersama mentari yang semakin meninggi.


Tepat jam 12 siang, Dini keluar dari ruangannya untuk menghampiri Adit.


"Kak Adit masih sibuk?" tanya Dini yang sudah berada di dalam ruangan Adit.


"Enggak, udah selesai kok, ada apa?"


"Ada apa? kak Adit punya hutang sama Dini, kak Adit harus jelasin soal kemarin di bandara!"


"Iya iya, kakak inget kok, kita bicarain itu sambil makan siang ya!"


"Di rumah mama Siska?"


"Enggak, kita ke kafe deket sini," jawab Adit lalu menyambar jasnya dan mengenakannya lalu keluar dari ruangannya diikuti oleh Dini.


Adit mengendarai mobilnya ke arah kafe yang tak jauh dari kantornya. Saat memasuki kafe itu, Adit melihat Andi yang sudah menunggunya di salah satu bangku di sana.


"Kenapa kak Adit nggak bilang kalau ada Andi juga?" tanya Dini berbisik.


Adit hanya tersenyum tipis lalu berjalan menghampiri Andi.


"Udah dari tadi?" tanya Adit pada Andi.


"Barusan," jawab Andi singkat.


"Oke, kita pesen makan dulu," ucap Adit sambil memanggil waiters.


Setelah memesan makanan, Adit sengaja pergi ke toilet untuk membiarkan Andi dan Dini berbicara berdua.


Namun selama beberapa menit Andi dan Dini hanya saling diam. Entah kenapa suasana menjadi lebih dingin dari sebelum nya.


"Gimana kaki kamu? udah sembuh?" tanya Dini pada Andi dengan nada suara yang sedikit canggung.


"Udah, gimana liburan kamu kemarin?" jawab Andi sekaligus bertanya.


"Menyenangkan," jawab Dini singkat.


Mereka kembali terdiam dengan pikiran masing masing.


"Din, soal Anita aku....."


"Aku ke sini bukan buat bicarain hal itu," ucap Dini memotong ucapan Andi.


"Tapi kita harus bicarain ini Din, aku nggak bisa lama lama kayak gini sama kamu," ucap Andi.


"Tolong jangan rusak mood ku Ndi, aku bener bener nggak mau bahas Anita sekarang," balas Dini yang tampak kesal.


"Oke, aku jemput kamu pulang kerja nanti!"


"Aku nggak bisa, aku....."


"Kamu nggak bisa nolak, kamu sendiri yang bilang nggak akan menghindar dari aku," ucap Andi.


Dini hanya diam, ia tidak bisa berkata kata lagi.


"kak Adit pasti sengaja ninggalin aku sama Andi di sini, kak Adit nyebelin banget," batin Dini dalam hati.


"Aku pergi dulu," ucap Dini lalu berdiri dari duduknya, namun Adit segera datang dan mencegah Dini untuk pergi.


"Kalau kamu pergi kakak nggak akan ceritain semuanya sama kamu," ucap Adit dengan memegang tangan Dini.


Andi lalu berdiri dan memukul pelan tangan Adit yang memegang Dini.


"Hehe, sorry," ucap Adit lalu meminta Dini kembali duduk.


Dinipun kembali duduk.


"Sebelum kakak cerita, kita harus bikin perjanjian, kakak, kamu dan Andi," ucap Adit.


"Perjanjian apa?"


"Perjanjian apa?" tanya Andi dan Dini bersamaan.


"Kompak banget sih, kakak akan cerita dan jawab semua pertanyaan kalian tentang hubungan kakak dan Ana, asalkan kalian janji kalau kalian akan selesaiin masalah kalian sekarang juga!" ucap Adit.


"Tapi kak...."


"Din, kakak minta kamu menenangkan diri bukan buat menghindar dari masalah, kakak pikir kamu udah cukup dewasa buat mengerti hal itu dan kamu Ndi, jangan melihat semuanya hanya dari satu sudut pandang, kalau kamu udah tau cerita sebenarnya harusnya kamu bisa lebih bijak!" ucap Adit dengan tegas.


Dini dan Andi hanya diam. Mereka tau Adit sedang serius saat itu.

__ADS_1


"Kakak nggak mau ikut campur masalah kalian Din, Ndi, tapi kakak juga nggak mau liat kalian kayak gini terus, bicarain masalah kalian baik baik, pikirkan dengan kepala dingin dan simpan ego kalian, kakak yakin hubungan kalian lebih kuat dari sekedar kata 'sahabat' dan masalah ini akan selesai dengan baik," lanjut Adit.


Dini dan Andi hanya saling pandang dan terdiam. Dalam hati mereka membenarkan ucapan Adit, hubungan mereka lebih kuat dari sekedar kata "sahabat".


__ADS_2