Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Mimpi


__ADS_3

Malam masih melekat dalam gelap.


Di atas ranjang tampak seorang laki laki tengah terpejam, namun tampak ketakutan dan kesedihan dari raut wajahnya.


Perlahan keringat membasahi keningnya, bersama dengan cengkeraman tangan pada sprei di ranjangnya.


Dalam pejam matanya, ia melihat gadis yang dicintainya perlahan pergi meninggalkannya. Ia berteriak tanpa suara saat tangan hangat dalam genggamannya perlahan terlepas tanpa ia bisa menahannya.


Ia ingin berlari mengejar gadisnya, namun ada sesuatu yang menahannya dengan kuat hingga akhirnya ia melihat sebuah cahaya datang dan membawa sang gadis pergi dari hadapannya.


Bersamaan dengan itu, ia memegang dadanya yang tiba tiba basah oleh darah yang mengucur deras.


Langit tampak gelap bersama kesedihan dan ketakutan yang ia rasakan. Hanya tinggal dirinya sendiri bersama rasa sakit yang semakin memeluk erat dirinya saat itu.


Saat cahaya terang yang menyilaukan muncul di hadapannya, ia terbangun dari mimpinya.


Dimas terduduk dengan keringat bercucuran dan jantung yang masih berdetak kencang. Ia lalu pergi ke kamar mandi dan segera membasuh wajahnya, berusaha menghilangkan mimpi buruk itu dari pikirannya.


"itu cuma mimpi, tenang Dimas, itu cuma mimpi, nggak ada hal buruk yang akan terjadi," batin Dimas berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Dimas lalu keluar dari kamar mandi dan mengambil minum.


Jam menunjukkan pukul 2 dini hari, Dimas lalu mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi Dini.


"Andini pasti udah tidur, besok aja hubungin dia," batin Dimas dalam hati lalu kembali menaruh ponselnya.


Dimas mencoba untuk kembali memejamkan matanya, namun bayangan mimpinya masih saja mengganggunya saat ia mulai terpejam.


Dimas lalu kembali bangun dari ranjangnya, menyalakan laptopnya dan mengambil beberapa buku untuk ia pelajari.


Ia ingin membunuh waktu dengan mempelajari buku buku bisnis dari sang papa.


**


Di tempat lain, Dini sedang duduk di tepi jendela kamarnya. Menatap nanar ke arah rumah di hadapannya.


Rumah yang dulu sering ia datangi, rumah seorang laki laki yang selalu menemaninya kapanpun ia membutuhkan nya.


Dini tersenyum tipis mengingat masa kecilnya bersama Andi. Saat mereka terlalu senang bermain berdua sampai lupa waktu, sampai salah satu dari ibu mereka mengomel karena hal itu.


Namun senyum tipis itu perlahan memudar saat ia mengingat apa yang baru saja ia impikan.


Meski hanya mimpi, namun semua itu terasa nyata baginya. Bahkan sampai saat itu pun jantungnya masih berdetak kencang. Perasaan yang ia rasakan dalam mimpi masih terbawa sampai ia terbangun dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.


Laki laki yang selama ini bersamanya, laki laki yang selalu ada untuknya, laki laki yang mengajarkan banyak hal padanya, laki laki yang ia anggap sahabat selama ini tiba tiba menyatakan perasaan cinta padanya.


Dini memegang dadanya saat ia mengingat dengan jelas mimpi yang baru saja ia alami. Debaran itu masih nyata ia rasakan bahkan setelah ia terbangun.


Saat ia memejamkan matanya, bayangan kejadian itu kembali terulang tanpa bisa ia kendalikan.


Tiba tiba ia ingat ucapan Nico dan Aletta padanya, tentang persahabatan laki laki dan perempuan yang bisa jadi melibatkan perasaan dan menimbulkan rasa yang lebih dari sekedar sahabat.


Rasa cinta yang perlahan muncul seiring dengan kebersamaan yang terjalin bukanlah hal yang tidak mungkin. Tapi ia selalu menyangkal semua itu karena ia percaya pada persahabatan nya dengan Andi.


Persahabatan anak SD, SMP, SMA, kuliah sampai dunia kerja nggak ada yang sama Din, setelah perjalanan kalian berdua yang sangat lama, mama yakin hubungan yang kamu sebut sahabat itu sudah berbeda, entah kamu yang belum sadar atau kamu yang nggak mau menyadarinya


Ucapan mama Siska kembali terngiang di telinga Dini, membuat Dini semakin resah dengan apa yang dirasakannya.


Dini lalu mengambil ponselnya, berniat untuk menghubungi Dimas agar ia bisa menghilangkan semua pikiran yang mengganggunya.


Namun saat melihat jam di ponselnya, ia mengurungkan niatnya dan kembali meletakkan ponselnya di meja.


Ia tidak ingin menganggu waktu istirahat Dimas karena ia juga tau jika Dimas selalu sibuk dengan pekerjaannya.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Dini tiba tiba berdering, sebuah pesan masuk. Dini segera mengambil ponselnya dan membuka pesan masuk dari Dimas.


Dimas mengirim sebuah foto saat ia memasangkan cincin di jari manis Dini.


Dini tersenyum tipis lalu menghubungi Dimas. Tak perlu menunggu lama, Dimas dengan cepat menerima panggilan Dini.


"Halo sayang, kamu belum tidur? atau aku ganggu kamu?" tanya Dimas saat ia menerima panggilan Dini.


"Kamu nggak ganggu kok, tadinya udah tidur tapi kebangun," jawab Dini.


"Karena pesanku?"


"Enggak, karena pingin buang air kecil hehe...." jawab Dini beralasan.


"Kamu sendiri belum tidur?" lanjut Dini bertanya.


"Udah, aku juga kebangun, sama kayak kamu!"


"Mau tidur lagi?" tanya Dini.

__ADS_1


"Enggak sayang, kamu tidur lagi aja, masih ada beberapa jam buat kamu lanjutin tidur," jawab Dimas.


"Kamu juga harus tidur Dimas!"


"Aku udah nggak ngantuk sayang, aku lagi baca baca buku papa!"


"Apa aku ganggu kamu?" tanya Dini.


"Enggak kok, aku malah seneng karena bisa ngobrol sama kamu," jawab Dimas.


"Aku juga, aku kangen sama kamu!"


"Aku juga kangen banget sama kamu, weekend nanti aku pasti pulang," ucap Dimas.


"Iya, kamu harus pulang ke sini karena aku mau kita ketemu berempat lagi!"


"Berempat? sama Anita?"


"Iya, nggak papa kan?"


"Nggak papa, biar dia bisa lihat kalau apapun yang dia lakuin, aku sama kamu akan tetep sama sama!"


Dimas dan Dini lalu membicarakan banyak hal lainnya sampai tak terasa kantuk mulai menyerang Dini.


Merekapun beralih menjadi panggilan video. Dini berbaring melihat Dimas di hadapannya. Meski hanya melalui ponsel, namun itu cukup untuk sedikit meredakan kerinduannya.


Yang terpenting adalah ia sudah melupakan apa yang menganggu pikirannya sedari tadi. Meski itu hanya sementara, nyatanya kehadiran Dimas mampu membuatnya kembali tertidur nyenyak.


Di sisi lain, Dimas masih terjaga dengan melanjutkan membaca buku saat ia melihat Dini tampak terlelap.


Ia sengaja membiarkan panggilan video itu tetap berjalan. Sesekali ia memperhatikan layar ponselnya, ia ingin berada di sana, memeluk dan mencium gadis yang dicintainya.


Dalam hatinya ia berjanji akan selalu menjaga gadisnya dalam dekapannya, tidak akan pernah sedetikpun ia melepaskannya darinya.


Ia akan pastikan jika ia bisa memberi kebahagiaan pada gadis yang dicintainya itu. Kebahagiaan yang bahkan ia sendiri belum pernah merasakan nya.


Detik jam perlahan merubah waktu. Sinar jingga perlahan muncul di ujung timur langit pagi.


Tanpa sadar, Dimas terlelap di meja dengan keadaan ponselnya yang sudah kehabisan daya. Beruntung ia masih bisa terbangun tepat waktu meski tanpa alarm yang membangunkannya.


**


Di tempat lain, pagi pagi sekali Adit pulang ke rumahnya.


Saat ia baru saja menaiki tangga, sang mama keluar dari dapur.


"Iya ma," jawab Adit lalu kembali turun dan mencium kening sang mama.


"Kamu udah mandi?" tanya mama Adit yang mengetahui jika Adit baru saja mandi.


"Hehe.... mama kok tau?"


"Kamu jangan macem macem ya Dit, kamu...."


"Ma, Adit nggak macem macem kok, mama tenang aja, Adit mau ganti baju dulu!" ucap Adit lalu kembali naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya.


Setelah semua menu masakan di hidangkan di meja makan, Andi dan Adit turun.


"Anak anak mama ini sibuk banget di luar sampe nggak ada waktu buat di rumah sama mamanya," ucap mama Siska sambil menyendokkan nasi untuk Adit dan Andi.


"Maaf ma, Andi lagi gencar kembangin home store, jadi masih banyak kerjaan yang harus Andi kerjain," ucap Andi.


"Adit juga emang sibuk banget ma, beberapa hari ini sering lembur sama Dini, Andi juga tau itu, iya kan?" ucap Adit sambil menendang pelan kaki Andi di bawah meja.


"Iya ma, tapi kita masih ada waktu kok buat mama," balas Andi.


"Iya mama mengerti, kalian fokus aja sama karir kalian, mama cuma bisa berdo'a supaya semua kerja keras kalian membuahkan hasil yang baik," ucap mama Siska.


"Makasih ma," balas Andi.


"Lain kali kita akan libur dan ngabisin waktu di rumah sama mama," ucap Adit.


"Setuju," sahut Andi menyetujui ucapan Adit.


Mama Siska hanya tersenyum lalu melanjutkan sarapannya.


Setelah selesai sarapan, Andi dan Aditpun berpamitan untuk berangkat bekerja.


"Tunggu bentar, mama mau ngomong sama kamu," ucap mama Siska pada Adit.


Adit hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali duduk, sedangkan Andi segera keluar dan meninggalkan rumah.


"Ada apa ma?" tanya Adit pada sang mama.


"Waktu mama ke kantor kamu kemarin mama liat kamu sama Dini!"

__ADS_1


"Kita lagi ngerjain pekerjaan bareng ma, emang lebih cepat selesai kalau dikerjain di satu tempat makanya Dini ada di ruangan Adit," ucap Adit menjelaskan sebelum sang mama salah paham.


"Apa kerja harus pake pegangan tangan?"


"Siapa.yang pegangan tangan? mama pasti salah lihat!"


"Adit, pintu ruangan kamu itu terbuat dari kaca dan mata mama masih sehat buat bisa lihat dengan jelas!"


"Mama jangan salah paham, Adit sama Dini nggak punya hubungan seperti yang mama pikirkan!"


"Jadi siapa perempuan yang tiap malem selalu kamu temenin itu? bukan Dini?"


"Bukanlah ma, Dini kan udah punya tunangan, Dini udah mau nikah sama Dimas, lagian Adit kan juga pernah bilang kalau Adit cuma anggap Dini kayak adik Adit sendiri!"


"Kalau gitu cepetan kenalin mama sama pacar kamu biar mama nggak menduga duga siapa sebenarnya pacar kamu!"


"Adit akan kenalin sama mama, tapi nggak sekarang, Adit akan cari waktu yang tepat!"


"Kapan Dit? dari dulu kamu bilang kayak gitu!"


"Adit butuh waktu ma, tapi yang pasti tolong jangan berharap apapun dari Dini ma, dia udah punya tunangan, bentar lagi dia akan menikah, kalau mama masih berpikir Dini akan jadi menantu mama, itu akan bikin Dini nggak nyaman sama mama, sama Adit juga Andi, mama mengerti maksud Adit kan?"


Mama Siska menganggukkan kepalanya pelan tanpa bersuara.


Adit lalu mendekat pada sang mama dan menggenggam tangan mamanya.


"Ma, untuk saat ini Adit dan Andi masih mau fokus sama bisnis kita masing masing, bukan cuma buat kita tapi juga buat mama, Adit udah janji sama papa buat selalu jagain mama dan pastiin kalau mama selalu baik baik aja dan bahagia, Adit dan Andi sayang sama mama, Adit harap itu udah cukup buat mama untuk saat ini," ucap Adit.


"Maafin mama Dit, mama janji nggak akan ikut campur lagi sama urusan pribadi kalian," ucap mama Siska.


Adit hanya tersenyum lalu memeluk sang mama.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Adit mendatangi ruangan Dini lalu duduk di hadapan Dini.


"Kamu dari pagi lemes banget kenapa sih?" tanya Adit.


"Nggak papa kak, cuma kurang tidur," jawab Dini lalu menguap dan membaringkan kepalanya di meja.


"Apa semalem Andi nggak langsung pulang?" tanya Adit yang membuat Dini kembali mengingat mimpinya semalam.


"Pulang kok, Andi langsung pulang," jawab Dini.


"Jadi kamu begadang sama siapa?" tanya Adit.


"Dini nggak begadang, Dini cuma....."


Biiiiiippp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Dini berdering, sebuah pesan masuk dari Andi.


Din, mama ajak kamu makan siang di rumah, kamu mau aku jemput atau ke sini sama kak Adit?


Dini lalu membawa pandangannya pada Adit, ia yakin Adit menghampiri nya karena akan mengajaknya makan siang bersama mama Siska.


"Siapa? Andi?" tanya Adit yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.


"Oke, ayo berangkat!" ajak Adit.


"Maaf kak, Dini nggak bisa ikut," ucap Dini menolak.


"Kenapa?" tanya Adit.


"banyak alasan kenapa Dini nggak bisa ikut, Dini masih canggung buat ketemu mama Siska setelah apa yang mama Siska ucapin beberapa hari yang lalu, Dini juga takut ketemu Andi, rasanya apa yang Dini rasain bukan mimpi, denger nama Andi aja udah kebayang gimana rasanya kalau Andi bener bener ngelakuin apa yang ada di mimpi Dini," jawab Dini dalam hati.


"Kenapa Din? kenapa kamu nggak mau ikut?" tanya Adit.


"Dini.... Dini ngantuk kak, Dini mau tidur aja," jawab Dini memberi alasan.


"Apa karena mama?" tanya Adit menerka.


"Dini ngantuk kak, beneran!" ucap Dini dengan membaringkan kepalanya di meja dan memejamkan matanya.


"Kakak minta maaf kalau ucapan mama menyinggung kamu, kakak nggak membenarkan apa yang mama ucapin sama kamu tapi kamu pasti tau kalau mama bilang kayak gitu karena mama sayang sama Andi," ucap Adit.


"Kak Adit tau mama bilang apa?" tanya Dini.


"Kakak sangat mengenal mama Din dan kakak mengerti kalau kamu masih nggak mau ketemu mama saat ini," jawab Adit.


"Maafin Dini kak, Dini belum cukup dewasa buat menyikapi hal ini," ucap Dini.


"Dengan kamu nggak ceritain hal itu sama Andi, itu artinya kamu udah cukup dewasa, kakak bangga sama kamu," ucap Adit sambil mengusap rambut Dini.


Dini hanya diam dengan kembali memejamkan matanya. Ia ingin tidur tanpa memikirkan apapun lagi.

__ADS_1


Perlahan, waktu membiarkan Dini terlelap dalam tidurnya. Dengan sekejap Dini sudah benar benar tertidur dengan Adit yang masih duduk di hadapannya.


Adit lalu mengirimkan pesan pada Andi jika ia tidak bisa pulang untuk makan siang, begitu juga Dini.


__ADS_2