
Waktu berlalu. Hari yang baik untuk kembali bekerja ditemani hangatnya sinar mentari.
Dini duduk di dalam bus yang mengantarnya berangkat ke kantor. Sesampainya di kantor, Dini segera melangkahkan kakinya dengan penuh semangat ke arah ruangannya.
Setelah menaruh tas, seperti biasa ia akan menyiapkan minuman untuk Adit lalu kembali ke ruangannya.
Dini menyalakan komputer di hadapannya dan memulai pekerjaan nya.
Ketika melihat Adit datang, Dini segera membawa jadwal Adit ke ruangan Adit.
"Permisi, ini jadwal harian pak Adit," ucap Dini sambil menyerahkan jadwal harian pada Adit.
Adit hanya menganggukkan kepalanya lalu memberi isyarat pada Dini agar Dini meninggalkan ruangannya.
Dinipun keluar dari ruangan Adit dan melanjutkan pekerjaannya di ruangannya.
Waktu terus berjalan sampai jam sudah menunjukkan waktunya makan siang. Dini masih berada di ruangannya dengan membolak balikkan ponsel di tangannya. Ia ingin menghubungi Anita, tapi ia ragu.
Tak lama kemudian Adit masuk ke ruangan Dini dengan membawa kotak makanan yang berisi sandwich.
"Makan dulu, jangan kerja terus!" ucap Adit sambil memberikan kotak makanannya pada Dini.
Dini lalu membuka kotak makanan di hadapannnya.
"Sandwich? kak Adit bawa sandwich?" tanya Dini meledek.
"Ada yang salah?"
"Enggak, cuma nggak cocok aja hehe...."
"Mama yang maksa bawa gara gara kakak nggak sempet sarapan," ucap Adit.
"Buat kak Adit aja kalau gitu, Dini bisa makan siang nanti kok," balas Dini.
"Itu terlalu banyak Din," ucap Adit lalu mengambil sepotong sandwich dan memakannya.
Dini juga mengikuti Adit, mengambil sepotong dan memakannya.
"Kamu kenapa sih, kayak banyak pikiran aja!" tanya Adit yang melihat Dini tampak resah.
"Dini mau tanya sesuatu kak, tapi kak Adit jangan bilang Andi ya kalau Dini tanyain hal ini ke kak Adit."
"Oke, kamu mau tanya apa?"
"Salah nggak sih kak kalau kita cinta sama pasangan orang lain?"
"Jangan ngada ngada deh Din, ya jelas salah lah!"
"Tapi kita nggak bisa kendaliin hati kita kan kak, kita nggak bisa memilih siapa yang akan bikin kita jatuh cinta," ucap Dini dengan menundukkan kepalanya, menyembunyikan kesedihannya.
"Kamu lagi serius ya? kakak pikir bercanda!"
"Kak Adiiittt!" balas Dini kesal.
"Yang pertama harus kamu pahami adalah makna cinta itu sendiri, kadang banyak orang yang salah mengartikan rasa di hatinya dan dengan mudahnya dia sebut itu cinta," ucap Adit yang mulai serius.
"Maksud kak Adit?"
"Apa yang ada di hati emang susah buat dimengerti Din, nggak semua rasa nyaman itu berarti cinta, nggak selalu rasa takut kehilangan itu disebut cinta, cinta lebih dari sekedar nyaman dan takut kehilangan, cinta jauh lebih dalam daripada itu," jawab Adit menjelaskan.
"Lalu darimana kita tau kalau apa yang kita rasain itu cinta atau bukan?" tanya Dini.
"Hati kamu yang tau, dia nggak akan pernah berbohong Din, cinta akan menunjukkan jalannya sendiri, cinta nggak akan bisa kasih alasan kenapa dia ada dalam hati kamu."
"Dini nggak ngerti," ucap Dini dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Adit lalu menarik tangan Dini dan meletakkan nya di dada Dini.
"Apa yang ada di sini emang susah dimengerti, tapi saat cinta itu datang, kamu bahkan nggak perlu berusaha mengerti buat bisa merasakannya," ucap Adit.
Dini hanya terdiam melihat sikap Adit yang tampak lain dari yang selama ini ia lihat. Ia tau Adit adalah laki laki yang baik dibalik sikap tegasnya itu. Namun sikap manis dan romantis itu yang Dini baru tau.
"Kalau kamu tanya apa salah kita cinta sama pasangan orang lain? jawaban kakak enggak," ucap Adit yang membuat Dini sedikit terkejut.
"Cinta yang sebenarnya nggak akan menuntut apapun Din, dia bahkan nggak menuntut balasan ataupun perasaan yang sama, cukup dengan adanya cinta di hati kita itu udah bikin kita bahagia, dan hanya cukup dengan melihat orang yang kita cintai bahagia, itu adalah cinta yang sesungguhnya, bukan ambisi untuk memiliki yang mengatasnamakan cinta," ucap Adit.
"Lalu apa artinya perjuangan kak? bukannya cinta juga harus diperjuangkan?"
"Perjuangan seperti apa yang kamu maksud Din? perjuangan buat memaksa kehendak Tuhan agar cintanya berbalas? itu bukan perjuangan, itu pemaksaan, perjuangan cinta yang sesungguhnya adalah saat kita bertahan merasakan sakit dan bahagia secara bersamaan, saat kita terluka oleh cinta dan disembuhkan juga oleh cinta yang sama, itu yang namanya perjuangan cinta!"
Kata kata Adit benar benar membuat Dini tidak berkutik. Semua ucapan Adit berbanding terbalik dengan apa yang selama ini ia mengerti dan ia pahami.
"kalau emang definisi cinta seperti yang kak Adit bilang, apa ada cinta yang seperti itu? cinta yang merelakan hatinya terluka demi kebahagiaan seseorang yang ia cintai," batin Dini dalam hati.
"Kamu nggak bisa menyalahkan cinta Din, dia datang dan tumbuh tanpa bisa kita cegah, yang patut untuk disalahkan adalah sikap seseorang yang mengatasnamakan cinta dibalik ambisinya dan melalukan segala hal untuk mendapatkan cintanya," ucap Adit.
__ADS_1
Dini hanya menganggukkan kepalanya pelan mendengarkan dengan seksama setiap kata yang Adit jelaskan padanya.
"Cinta memang sulit diterima akal dan logika Din, itu kenapa dia sangat berharga buat seseorang yang benar benar memahami arti cinta yang sesungguhnya," ucap Adit.
Dini terdiam dengan menatap laki laki di hadapannya itu. Setiap kata yang diucapkan Adit membuatnya merinding.
Ia tidak menyangka akan mendengarkan setiap kata penuh makna itu dari seorang laki laki yang baru dikenalnya.
"Jangan liatin kakak kayak gitu!" ucap Adit yang merasa diperhatikan oleh Dini.
"Kenapa?" tanya Dini tanpa mengalihkan pandangannya dari Adit.
"Awas jatuh cinta, mending kamu jatuh cinta aja sama Andi!" jawab Adit.
"Kak Adit gimana sih, Dini kan tunangan Dimas," balas Dini.
"Oh iya, lupa hahaha....."
Dini hanya memutar kedua bola matanya melihat sikap Adit yang sudah kembali normal seperti Adit yang ia kenal.
"siapapun yang bisa dapetin hatinya kak Adit pasti beruntung banget, bukan cuma secara fisik dan finansial tapi juga karena kedewasaan dan cara berpikir kak Adit," ucap Dini dalam hati.
"Mbak Ana pasti beruntung banget punya suami kak Adit," ucap Dini.
"Iya dong, kakak kan...."
Adit menghentikan ucapannya saat ia menyadari kesalahannya. Ia baru saja masuk dalam perangkap Dini.
"Jadi bener kak Adit nikah diam diam sama mbak Ana?" tanya Dini yang begitu terkejut dengan respon Adit yang mengiyakan ucapannya.
"Enggak, kamu jangan sebarin berita nggak bener deh!" ucap Adit yang tampak gugup.
"Udah deh kak jujur aja, kemarin kak Adit mau nonton sama mbak Ana kan, karena mbak Ana dan kak Adit liat Dini sama Andi, makanya kalian pisah, iya kan?"
"Kamu pinter juga ya ngarang cerita, kakak mau keluar dulu, ada urusan penting," ucap Adit lalu keluar dari ruangan Dini begitu saja.
Dini hanya terkekeh melihat sikap Adit yang tampak salah tingkah.
Dini lalu mengambil ponselnya dan memutuskan untuk menghubungi Anita.
"Halo Nit, aku mau ketemu kamu," ucap Dini saat Anita sudah menerima panggilannya.
"Sekarang?" tanya Anita.
"Setelah aku pulang kerja, bisa?"
"Kita ketemu di luar aja, nanti aku kasih tau alamatnya."
"Oh oke," balas Anita.
Panggilan berakhir, Dini lalu menghubungi Dimas.
"Halo sayang, aku baru aja mau hubungin kamu," ucap Dimas saat ia menerima panggilan Dini.
"Kamu udah makan siang?" tanya Dini.
"Udah, baru aja, kamu?"
"Udah juga, Dimas aku nanti mau ketemu Anita!"
"Kamu yakin Andini?"
"Iya aku yakin," jawab Dini penuh keyakinan.
"Kamu jangan terpengaruh sama ucapannya ya sayang!"
"Iya, kamu tenang aja, ya udah kalau gitu aku mau lanjut kerja lagi!"
"Oke, love you sayang!"
"Love you too," balas Dini lalu mengakhiri panggilannya pada Dimas.
Dini lalu melanjutkan pekerjaannya sampai jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Din, mau kakak anter nggak? sekalian kakak mau ketemu Andi di gedung home store yang baru!" tanya Adit yang baru saja masuk ke ruangan Dini.
"Dini mau ketemu temen dulu kak," jawab Dini sambil mengemasi barang barangnya.
"Siapa? dimana?"
"Jangan over protective deh, nanti mbak Ana cemburu loh!" jawab Dini yang sengaja menggoda Adit.
"Nggak ada hubungannya sama Ana Din!" balas Adit lalu keluar dari ruangan Dini, menghindar dari pembahasan tentang Ana.
Adit takut jika ia salah berbicara yang akan semakin membuat Dini curiga padanya.
__ADS_1
Adit lalu meninggalkan kantor dan menemui Andi di gedung home store yang baru.
Sedangkan Dini segera memesan taksi yang akan membawanya ke kafe yang tidak terlalu jauh dari kantor dan rumahnya.
Ia lalu menghubungi Anita dan memberi tau Anita kafe tempat mereka akan bertemu.
Dini sudah sampai di kafe itu terlebih dahulu, ia memilih tempat duduk yang berada di sudut roof top, ia sengaja menjauh dari keramaian agar tidak ada yang mendengar percakapannya dengan Anita, karena ia yakin akan ada sedikit perdebatan diantara mereka nantinya.
Dini tidak ingin menarik perhatian banyak orang karena hal itu. Dini lalu mengirimkan pesan pada Anita agar Anita segera naik ke roof top begitu ia sampai.
Aku di roof top
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Anita datang. Anita lalu duduk di hadapan Dini.
"Tumben ngajak ketemu di sini, ada apa?" tanya Anita.
"Kita pesen minum dulu ya!" ucap Dini sambil mengangkat tangannya memanggil waiters.
Setelah memesan minuman, mereka mengobrol ringan sekedar berbasa basi sampai minuman mereka datang.
"Ada sesuatu yang mau aku tanyain ke kamu Nit," ucap Dini saat minuman mereka baru saja datang.
"Soal apa?"
"Dimas, tolong kamu jawab jujur Nit."
"Oke, emang ada apa sama Dimas? apa dia cerita tentang aku ke kamu?"
"Jujur sama aku Nit, apa kamu masih punya perasaan sama Dimas? apa kamu masih berniat buat deketin dia?" tanya Dini to the point.
"Kenapa kamu tanyain hal itu lagi Din? kamu nggak percaya sama aku? apa kamu sebenarnya nggak mau temenan lagi sama aku?"
"Tolong jawab aja Nit!"
"Din, semua orang bisa berubah, nggak ada orang yang nggak pernah berbuat salah selama hidupnya, aku berhak buat dapat kesempatan kedua, aku bisa berubah lebih baik demi persahabatan kita, tapi kenapa kamu masih ragu sama aku? apa menurut kamu aku nggak akan bisa berubah?"
"Kalau kamu emang anggap aku sahabat kamu, jawab jujur pertanyaan aku tadi Anita!"
"Kamu berharap aku jawab apa? aku masih cinta sama Dimas? atau aku udah lupain Dimas? percuma aku jawab karena apapun jawaban aku, kamu nggak akan percaya jadi buat apa kamu tanyain itu sama aku?"
"Kalau kamu emang udah nggak berharap lagi sama Dimas, tolong jauhi dia, jangan bikin aku berpikiran buruk tentang kamu dan Dimas!"
"Aku mau kita berempat berteman lagi Din, aku kamu Andi dan Dimas, aku udah minta maaf dan mengakui kesalahanku, Andi udah maafin aku dan nerima aku, begitu juga kamu, tapi sekarang aku sadar kalau kamu nggak beneran maafin aku, kamu masih menganggap aku cewek jahat yang akan rebut Dimas dari kamu, iya kan?"
"Bukan itu maksud ku Nit, aku cuma....."
"Stop Din, aku emang bukan cewek baik kayak kamu dan mungkin menurut kamu aku lebih hina dibanding kamu, tapi aku juga berhak dapat kesempatan kedua buat perbaiki kesalahan ku!"
"Aku minta maaf kalau pertanyaan ku menyinggung kamu Anita, tapi bukan itu maksud ku!"
"Kamu bisa terus terang sama aku kalau kamu emang belum bisa maafin aku, jangan pura pura baik sama aku di depan Andi, jangan bohongi Andi dengan kepura puraan kamu Din!"
"Pura pura? aku nggak pernah pura pura dan aku nggak pernah bohong sama Andi, tolong jangan berlebihan Anita, tujuan aku ke sini bukan buat bahas hal itu, jangan mengalihkan pembicaraan dengan merasa kalau aku menyudutkan kamu!" ucap Dini yang mulai geram dengan ucapan Anita.
"Aku kecewa sama kamu Din!" ucap Anita lalu pergi begitu saja meninggalkan Dini.
Anita lalu mengendarai mobilnya menuju ke rumah Andi. Sesampainya di sana, ia segera menghubungi Andi.
"Kamu dimana? aku di depan rumah kamu sekarang!"
"Aku di rumah, kamu masuk aja!"
Anita lalu membawa masuk mobilnya dan segera turun untuk menghampiri Andi yang sudah menunggunya di teras.
Anita berlari kecil lalu memeluk Andi dengan menangis.
"Ada apa Nit? kamu kenapa?" tanya Andi yang terkejut dengan keadaan Anita.
Anita tak menjawab, ia hanya terisak dalam pelukan Andi.
"Ayo masuk, aku nggak mau mama sama kak Adit salah paham karena liat kamu menangis di sini!" ucap Andi dengan mengajak Anita masuk ke kamarnya.
Andi lalu mendudukkan Anita di ranjangnya dan Andi sendiri berjongkok di depan Anita.
"Cerita sama aku Nit, ada apa? kamu berantem sama papa kamu?"
Anita menggeleng dengan air mata yang masih menetes dari kedua sudut matanya.
"Ada apa Nit? cerita sama aku!" ucap Andi dengan menggenggam tangan Anita.
"Kamu pasti nggak percaya sama cerita aku, jadi percuma kalau aku cerita," ucap Anita dengan terisak.
"Ini tentang apa? kamu cerita dulu biar aku bisa ngerti!"
"Dini, dia nuduh aku mau rebut Dimas dari dia, dia maksa aku buat ngaku kalau aku masih ngejar Dimas, padahal aku nggak gitu Ndi, kenapa dia nggak bisa percaya sama aku, kenapa nggak ada yang percaya kalau aku udah berubah," jelas Anita dengan terisak.
__ADS_1
Andi lalu berdiri dan membawa Anita ke dalam dekapannya. Ia diam beberapa saat dengan mengusap rambut Anita, berusaha untuk menenangkan Anita.