Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Sebuah Pelukan


__ADS_3

Masih di malam yang sama. Malam itu Adit menginap di rumah sang mama.


Saat itu Adit, Andi dan mama Siska sedang menonton televisi di ruang tengah.


"Ma, ada yang mau Andi sampe'in," ucap Andi ragu.


"Ada apa sayang?" tanya mama Siska.


Andi masih diam, ia ragu untuk mengatakan penolakannya pada sang mama.


"Bilang aja Ndi, mama pasti ngerti kok," ucap Adit.


"Mmmm.... sebelumnya Andi minta maaf ma, apa Andi boleh buat nggak masuk ke perusahaan Adit?"


"Kenapa? apa kamu belum siap? kamu bisa masuk setelah kamu benar benar sehat, nggak harus dalam waktu dekat."


"Mungkin Andi udah ada rencana lain ma," sahut Adit.


"Bener apa yang Adit bilang?" tanya mama Siska pada Andi.


"Iya ma, Andi mau tetep lanjutin home store, Andi ngerasa passion Andi di sana dan Andi bahagia ngejalaninya, tapi kalau mama nggak setuju Andi akan ikuti permintaan mama buat masuk ke perusahaan," jawab Andi.


"Kamu yakin sama pilihan kamu?"


"Andi yakin ma, dari awal Andi masuk fakultas Seni Andi tau minat dan bakat Andi di sana," jawab Andi yakin.


"Baiklah kalau itu memang keputusan kamu, mama akan dukung."


"Mama nggak marah?"


"Kenapa mama harus marah? justru mama bangga karena kamu sudah bisa menentukan pilihan kamu sendiri dan bertanggung jawab sama pilihan kamu itu," jawab mama Siska.


"Terima kasih ma," balas Andi dengan senyumnya.


"Lo kuliah jurusan apa?" tanya Adit.


"Desain komunikasi visual dan desain grafis," jawab Andi.


"Dimas juga?"


"Enggak, dia anak bisnis sama kayak Dini."


"Oh ya Dit, kamu bisa carikan supir buat Andi?" tanya mama Siska pada Adit.


"Bisa ma, nanti Adit minta tolong sama Rudi," jawab Adit.


"Supir buat Andi? nggak perlu ma, Andi bisa bawa mobil sendiri kok," sahut Andi.


"Mama nggak akan biarin kamu bawa mobil sendiri, besok mobil kamu akan datang, kamu bisa pake asalkan diantar sama supir," balas mama Siska yang membuat Andi begitu terkejut.


"Mobil Andi?"


"Iya, mama udah siapkan mobil pribadi buat kamu karena mama tau mobil yang di rumah kamu itu mobil home store kan?"


"Iya, itu pemberian papanya Dimas, tapi...."


"Kamu anak mama Andi, kamu harus terima apa yang mama kasih buat kamu, mama kan kecewa kalau kamu menolaknya."


"Terima kasih banyak ma, tapi kenapa harus sama supir? Andi biasa bawa mobil sendiri."


"Keadaan kamu belum sepenuhnya baik baik aja, setelah semuanya kembali normal kamu bisa bawa mobil sendiri, ya?"


Andi menganggukkan kepalanya, menurut pada sang mama.


"Kalau cuma buat sementara, biar Rudi aja ma!" ucap Adit.


"Kamu gimana?" tanya mama Siska.


"Adit bisa bawa mobil sendiri, kasian supirnya kalau cuma dipekerjakan sementara ma."


"Ya udah kamu atur aja gimana enaknya."


Biiiipp biiipp biiipp


Ponsel Adit berdering, panggilan dari Rudi.


"Nah, ini Rudi, baru aja diomongin," ucap Adit.


"Sekalian kamu kasih tau sayang, biar besok dia udah siap," ucap mama Siska.


"Iya ma."


Adit lalu menerima panggilan Rudi.


"Halo Rud, ada apa?"


"Maaf pak Adit, ini ada motor dateng katanya buat saya, ini dari pak Adit?"


"Iya, anggap aja hadiah buat kamu."


"Tapi pak....."


"Saya lagi bahagia sekarang Rud, jadi jangan rusak kebahagiaan saya!"


"Terima kasih banyak pak Adit, terima kasih."


"Sama sama, oh ya besok pagi kamu ke rumah mama ya, ada yang mau saya sampe'in!"


"Baik pak."


Klik. Sambungan berkahir.


"Kamu beliin dia apa?" tanya mama Siska.


"Motor ma, dia udah nabung buat beli motor tapi uangnya kepake buat berobat anaknya yang sakit, nggak jadi deh beli motornya," jelas Adit.


"orang kaya emang gampang banget ya keluarin duit," batin Andi dalam hati.


"Rudi itu udah lama jadi supir Adit, dia orangnya baik, kamu pasti suka sama dia!" ucap mama pada Andi.


"Iya ma," balas Andi.


"Oh ya ma, Adit besok cuti, mungkin 2 atau 3 hari," ucap Adit.


"Kita mau liburan?"


"Enggak ma, di rumah aja, Andi kan nggak boleh banyak kegiatan dulu," jawab Adit.

__ADS_1


"Iya sih, kita quality time aja di rumah."


Mama Siska lalu menceritakan pada Andi kehidupan sang papa sebelum meninggal dan penyebab papa meninggal.


"Kalau ada waktu kita ke makam papa ma? papa pasti seneng kalau kita ke sana sama Andi," sahut Adit.


"Iya mama setuju, kamu mau kan?" balas mama sekaligus bertanya pada Andi.


"Iya ma, Andi mau," jawab Andi.


Sesekali suasana tampak haru saat mama kembali menceritakan perjuangan mama papa dan Adit sewaktu dulu. Tak jarang mereka juga tertawa saat mama menceritakan kejadian kejadian lucu yang pernah mereka alami.


"Udah malem, mama harus tidur," ucap Adit.


"Antar mama ke kamar sayang," balas mama Siska.


Adit mengangguk lalu mengantar sang mama masuk ke dalam kamar, meninggalkan Andi yang masih duduk di depan televisi.


Mama Siska membuka rak yang ada di dekat ranjangnya lalu mengeluarkan beberapa botol obat obatan dan memberikannya pada Adit.


"Mama sudah nggak butuh ini Dit, mama sudah sehat sekarang," ucap mama.


"Mama yakin?"


Mama Siska menganggukkan kepalanya lalu memeluk Adit yang duduk di sampingnya.


"Maafin mama sayang, maafkan sikap buruk mama selama ini, mama janji nggak akan ngelakuin itu lagi, mama sayang sama kamu Adit, mama minta maaf," ucap mama Siska dengan terisak.


Ia tau luka yang ada di kepala Adit adalah karena perbuatannya. Ia yang dengan sengaja melemparkan lampu hias hingga membuat Adit terluka.


Ia bisa mengingatnya saat Adit datang bersamaan dengan Andi yang juga baru saja datang. Saat itu ia sangat bahagia sekaligus bersedih. Bahagia karena kedatangan Andi dan bersedih atas apa yang sudah ia lakukan pada Adit.


"Mama jangan minta maaf, Adit nggak pernah menganggap itu kesalahan, Adit mengerti dan memahami posisi mama saat itu, jadi Adit mohon mama jangan merasa bersalah karena hal itu."


Mama Siska mengangguk lalu melepaskan Adit dari pelukannya.


"Apa ini masih sakit?" tanya mama Siska sambil menyentuh dengan sangat pelan perban di kepala Adit.


"Enggak ma, mama jangan khawatir," jawab Adit sambil mencium tangan sang mama.


Mama Siska hanya tersenyum sambil membelai anak pertamanya itu.


"Buat sementara, mama simpan dulu obatnya, setelah kita periksain keadaan mama, baru kita buang obatnya," ucap Adit yang dibalas anggukan kepala sang mama.


"Ya udah mama tidur dulu, Adit mau ngobrol dulu sama Andi."


"Jangan berantem ya!"


"Enggak ma, good night," balas Adit lalu mengecup kening sang mama setelah memakaikan selimut untuk sang mama.


**


Hari telah berganti. Dini sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Ia menghubungi Dimas saat ia sedang menunggu bus di halte.


Sampai beberapa kali ia coba, panggilannya tidak juga terhubung.


"Dimas kemana? apa hp nya mati?" batin Dini bertanya tanya.


Setelah Dini menaiki bus dan saat ia sampai di kantor, ia kembali menghubungi Dimas namun tetap saja tidak terhubung.


Dini lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas dan mulai fokus pada pekerjaannya.


"Hai Din, siap sibuk hari ini?" tanya Jaka yang masuk ke ruangan Dini.


"Siap nggak siap harus siap kan pak?"


"Iya, ini beberapa yang udah aku kerjain, kamu tinggal kerjain sisanya aja," ucap Jaka sambil menyerahkan beberapa map pada Dini.


"Waahh, terima kasih banyak pak Jaka," balas Dini.


"Sama sama, kalau ada apa apa yang susah kamu bisa minta tolong aku Din, kita kerjain semuanya sama sama, jangan terlalu memaksakan diri."


"Baik pak, terima kasih."


Dini kembali melanjutkan pekerjaannya setelah Jaka meninggalkan ruangannya.


**


Di tempat lain, Dimas sedang meminta tolong seseorang untuk membelikannya ponsel pagi itu. Ia baru mendapatkan ponsel barunya saat ia sudah sibuk dengan pekerjaannya dan memutuskan untuk menghubungi Dini saat jam makan siang.


Ia sudah melupakan kekesalannya tentang kejadian semalam. Hal kecil itu tidak akan membuatnya terbakar cemburu dan emosi yang berlebihan.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Dimas masih berada di meja kerjanya, menyelesaikan pekerjaan terakhirnya sebelum ia simpan.


Biiiipp biiipp biiipp


Ponsel Dimas berdering, panggilan dari Dini. Dimaspun segera menerima panggilan itu.


"Halo sayang."


"Akhirnya kamu angkat juga, kamu dimana sekarang?"


"Di kantor, kenapa?"


"Aku hubungin kamu dari tadi pagi nggak bisa, kenapa?"


"Maaf Andini, hp ku rusak, ini aku mau hubungin kamu tapi udah keduluan kamu!"


"Kenapa bisa rusak?"


"Mmmm.... jatuh terus pecah," jawab Dimas berbohong.


"Kamu bikin aku khawatir tau nggak!"


"Kamu khawatir sama aku?"


"Iya lah, nggak biasanya kamu susah dihubungi kayak gitu!"


"Semalem kamu tidur jam berapa?"


"Mmmm..... nggak tau, abis kamu matiin telfonnya, Andi telfon aku, jadi aku nggak langsung tidur."


"Oh, dia bilang apa?"


"Banyak, dia juga bilang kalau beberapa hari lagi mau pulang ke sini buat ambil beberapa barangnya," jawab Dini.


"makasih udah jujur Andini," batin Dimas dalam hati.

__ADS_1


"Halo, Dimas, kamu masih di sana?"


"Iya, maaf aku sambil ngerjain kerjaanku," jawab Dimas.


"Kamu nggak makan siang?"


"Bentar lagi sayang."


"Ya udah selesaiin kerjaan kamu terus makan siang, nanti hubungi aku kalau udah pulang."


"Oke, love you sayang."


"Love you too."


**


Di rumah mama Siska.


Andi, Adit, mama Siska dan Rudi sedang makan siang bersama setelah mobil milik Andi datang.


"Buat sementara kamu kerja sama Andi nggak papa kan?" tanya mama Siska pada Rudi.


"Nggak papa Bu, Pak Adit juga sudah kasih tau saya sebelumnya," jawab Rudi.


"Kalau kamu mau kamu bisa tinggal di sini, biar bisa antar Andi kapanpun Andi butuh kamu," ucap mama Siska.


Rudi lalu membawa pandangannya pada Adit, seolah meminta bantuan jawaban dari Adit.


"Ma, dia nggak bisa ninggalin anak istrinya di rumah, lagian rumahnya juga deket jadi biar dia pulang pergi aja tiap hari," ucap Adit.


"Gimana kalau Andi butuh Rudi waktu dia udah pulang?" tanya mama Siska.


Adit lalu membawa pandangannya pada Andi, seolah meminta dukungan.


"Andi nggak akan sering kemana mana kok ma," sahut Andi.


"Tapi....."


"Ma, tolong," ucap Adit memohon.


"Ya udah kalau gitu, terserah kalian aja!" balas mama Siska menyerah.


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Andi sedang duduk di teras rumah menunggu kedatangan seseorang.


Tak lama kemudian matanya menatap perempuan cantik yang sudah dirindukan nya berlari kecil ke arahnya.


Andipun berdiri dari duduknya dan menyambut Dini dengan sebuah pelukan hangat.


"Aku kangen banget sama kamu," ucap Dini dengan memeluk Andi sangat erat.


"Aku juga Din, tapi jangan kenceng kenceng, masih sakit," balas Andi dengan menahan rasa sakit.


"Maaf maaf, aku lupa, sakit banget ya!" ucap Dini sambil melepaskan pelukannya dan menjauh dari Andi.


Andi hanya tersenyum lalu menarik tangan Dini dan kembali memeluknya.


"Kalau pelan pelan nggak sakit," ucap Andi.


Dini hanya tersenyum dalam pelukan Andi. Untuk beberapa saat mereka hanya diam dalam pelukan hangat yang mereka rindukan.


Dini lalu melepaskan kembali pelukan Andi, namun tangan Andi masih melingkar di pinggang Dini.


"Wajah kamu udah nggak pucet lagi," ucap Dini dengan memegang kedua pipi Andi.


"Jangan bikin aku takut lagi Ndi, liat kamu terbaring tanpa aku tau kapan kamu akan bangun itu terlalu menyakitkan buat aku," lanjut Dini.


Andi lalu memegang kedua tangan Dini dan menggenggamnya.


"Kamu salah satu kekuatan yang bikin aku bertahan," ucap Andi lalu mencium kening Dini dan kembali memeluk Dini.


Tanpa Andi dan Dini tau, Adit melihat hal itu dari balik jendela ruang tamu.


"kayak gitu yang kamu sebut sahabat Din?" tanya Adit dalam hati.


"Apa mereka pacaran?" tanya mama Siska yang tiba tiba ada di samping Adit, membuat Adit begitu terkejut.


"Mama, sejak kapan mama di sini?"


"Sejak adegan romantis dimulai, mama jadi kangen sama papa kamu," jawab mama Siska.


"Ya udah sini Adit yang peluk," ucap Adit lalu memeluk sang mama.


"Besok kita ke makam papa ya sayang!"


"Iya ma," jawab Adit lalu membawa sang mama keluar untuk menemui Andi dan Dini, namun mama Siska menolak.


"Jangan ganggu mereka," ucap mama Siska.


"Oke," balas Adit lalu mengikuti sang mama duduk di ruang tamu.


"Adit, apa kamu beneran nggak ada perasaan apa apa sama Dini?" tanya mama Siska.


"Kenapa mama tiba tiba tanya gitu?"


"Mama takut kalian akan merebutkan satu perempuan yang sama," jawab mama Siska khawatir.


"Mama terlalu banyak liat drama di tv," ucap Adit dengan terkekeh.


"Drama biasanya diambil dari kisah nyata juga Dit, mama liat Andi sama Dini deket banget, kayak pacaran."


"Apa mama akan nolak Dini kalau Dini sama Andi pacaran?" tanya Adit.


"Enggak, justru mama seneng, tapi mama juga nggak mau kalau kamu sedih."


"Kenapa Adit harus sedih? Adit itu anggap Dini adik Adit sendiri ma, Adit nggak ada perasaan lebih dari itu sama Dini," ucap Adit menjelaskan.


"Kamu yakin?"


"sangat yakin ma, karena udah ada seseorang di hati Adit," jawab Adit dalam hati.


"Yakin lah ma."


"Baguslah kalau gitu, biar Dini sama Andi kalau gitu."


"Tapi mereka itu cuma sahabatan loh ma, Dini juga udah punya tunangan."


Mama Adit hanya tersenyum tak mempedulikan ucapan Adit.

__ADS_1


__ADS_2