Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Secret Admirer


__ADS_3

Andi diam terpaku ditempatnya berdiri saat melihat siapa yang sedang bersama sang ibu.


Matanya seakan berhenti berkedip tak percaya pada apa yang dilihatnya saat itu.


Sedangkan ibu Andi dan gadis itu segera berdiri dari duduknya karena terkejut dengan kedatangan Andi.


Ibu Andi baru saja memberi tahu gadis itu jika Andi sudah berangkat ke luar negri tadi siang dan tiba tiba saja Andi datang begitu saja.


"Kamu di sini? ibu pikir kamu udah berangkat!" tanya ibu Andi membuyarkan lamunan Andi.


"Andi.... Andi... nggak jadi ke luar negeri Bu," jawab Andi yang masih gugup melihat gadis di samping sang ibu.


Ibu Andi lalu menghampiri Andi dan memeluknya. Dalam hatinya ia bersyukur karena Andi membatalkan niatnya untuk ke luar negeri.


"Kamu harus cerita sama ibu apa yang udah terjadi, tapi kamu temui dulu tamu kamu, dia cari kamu kesini," ucap ibu Andi.


Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu menghampiri gadis itu setelah kepergian sang ibu.


Andi membawa langkahnya dengan senyum di wajahnya. Ia menatap gadis di hadapannya dengan perasaan bahagia yang sudah lama tidak ia rasakan.


Sama seperti dulu, gadis itu selalu bisa membuat Andi bahagia, membuat Andi melupakan sakit dalam hatinya.


Mereka sama sama terdiam dengan saling menatap untuk beberapa saat. Rasa rindu telah tertuntaskan oleh pertemuan yang sudah lama dinantikan.


"Aletta," ucap Andi lalu memeluk Aletta dengan erat, begitupun Aletta yang membalas pelukan Andi dengan erat.


Mereka membiarkan pelukan membaurkan rasa rindu yang sudah lama tertahan. Meresapi setiap detik penuh kehangatan dalam hati mereka.


Andi lalu melepaskan Aletta dari pelukannya, memegang kedua bahu Aletta dan menatap wajah yang pernah mengisi hari harinya dengan kebahagiaan.


"Aletta, rambut panjang digerai, rok, lipstik, make up, jepit rambut, seriously?"


Aletta lalu memukul perut Andi dengan kencang, membuat Andi mengaduh kesakitan.


"Oke, aku sekarang percaya," ucap Andi dengan memegangi perutnya dan merekapun tertawa.


Andi dan Aletta lalu duduk berdua dengan sedikit kecanggungan diantara keduanya.


"Kamu apa kabar?" tanya Andi pada Aletta.


"Aku baik dan aku rasa kamu lagi nggak baik baik aja," jawab Aletta.


"Tadinya begitu, tapi sekarang aku baik baik aja, mungkin jauh lebih baik dari sebelumnya," ucap Andi.


"Kenapa?" tanya Aletta.


"Aku udah berdamai dengan hatiku dan aku ketemu kamu sekarang, dari dulu sampai sekarang kamu selalu bisa bikin aku bahagia Ta," jawab Andi.


Aletta hanya tersenyum malu mendengar jawaban Andi.


"Kayaknya banyak yang udah berubah dari kamu Ta," ucap Andi.


"Iya, kamu juga," balas Aletta.


"Kamu tau?"


"Siapa yang nggak kenal Andi, adik dari CEO muda paling terkenal di sini, Andi yang punya bisnis clothing arts nya sendiri dan......"


"Wait wait.... kamu tau dari mana?"


Aletta hanya menyunggingkan senyumnya tanpa menjawab pertanyaan Andi.


"A?" tanya Andi


Aletta menganggukkan kepalanya dengan menyembunyikan senyumnya.


Sudah beberapa bulan Aletta diam diam memperhatikan Andi. Ia mencari tau semua tentang Andi, termasuk fakta baru yang membuat kehidupan Andi berubah dan banyak hal lainnya tentang Andi.


"Dasar penguntit!" ucap Andi mengolok.


"Aku bukan penguntit, aku secret admirer hehe...."


"Kenapa kamu nggak temuin aku Ta? kenapa kamu harus kasih surat misterius kayak gitu!"


"Hari terakhir di taman aku mau temui kamu, tapi aku liat kamu lagi asik sama Dini jadi aku mutusin buat pergi karena nggak mau ganggu kebersamaan kalian," jawab Aletta.


"Di surat itu kamu bilang waktu kamu cuma seminggu karena kamu harus pergi, kamu pergi kemana?" tanya Andi.


"Aku kerja di Singapura Ndi, tapi beberapa bulan kemarin aku ditugasin di sini dan selama aku tugas di sini aku berusaha buat cari tau tentang kamu," jawab Aletta.


"Lalu kamu pergi lagi dan kembali lagi ke sini?"


"Iya, setelah aku balik ke Singapura lagi, mereka minta aku buat kembali ke sini and now i'm here!" jawab Aletta.


"Apa kamu akan balik ke Singapura lagi?"


"Aku nggak tau sampai kapan aku di sini, tapi karena perusahaan pusat adanya di Singapura jadi kemungkinan besar aku akan balik lagi ke sana," jawab Aletta.


Andi hanya menyunggingkan senyumnya datar karena sejujurnya ia tidak ingin Aletta kembali ke Singapura.


"Aku pikir aku nggak akan ketemu kamu lagi Ndi," ucap Aletta.

__ADS_1


"Takdir masih berpihak sama kita, kamu di sini tepat saat aku batal ke luar negeri," balas Andi.


"Tapi kenapa kamu batal ke luar negeri? ibu kamu bilang kamu mau kuliah di sana!"


Andi menghembuskan napasnya pelan lalu menyadarkan punggungnya di sofa.


"Banyak hal yang udah terjadi Ta, beberapa hari ini adalah hari terberatku yang bikin aku nggak bisa berpikir jernih," jawab Andi.


"Apa karena pernikahan Dini dan Dimas?" terka Aletta.


Andi hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.


"Aku tau ini berat kamu Ndi, tapi....."


"Tapi sekarang jangan bahas itu dulu, aku nggak mau ngerusak momen bahagia karena bahas hal itu," ucap Andi lalu berdiri dari duduknya.


"Oke, sorry," balas Aletta.


"It's okay, sekarang ayo ikut aku!" ajak Andi.


"Kemana?"


"Ikut aja," ucap Andi dengan menarik tangan Aletta yang masih duduk lalu membawanya masuk ke dalam mobil.


"Kamu tinggal dimana sekarang Ta?" tanya Andi saat mereka sudah berada di jalan raya


"Di apartemen daerah X, kamu mau anter aku pulang?" jawab Aletta sekaligus bertanya.


"Enggak, kamu mau pulang sekarang?"


"Enggak juga," jawab Aletta.


Andi mengendarai mobilnya sedikit jauh dari rumahnya. Ia lalu membawa mobilnya masuk ke sebuah gang di pinggiran kota.


"Kita mau kemana sih?" tanya Aletta penasaran.


Andi tidak menjawab pertanyaan Aletta, ia hanya menunjukkan jarinya ke arah luar mobil.


Alettapun membawa pandangannya mengikuti arah jari Andi menunjuk dan ia tersenyum senang melihat cahaya putih yang bersinar dan menari dalam kegelapan malam.


"Kita kesana?" tanya Aletta yang hanya dibalas anggukan dan senyum Andi.


Sesampainya di tempat tujuannya, Andi memarkirkan mobilnya lalu membawa Aletta keluar dari mobil.


Andi menggandeng tangan Aletta untuk berjalan masuk ke arah lapangan luas dengan lampu sorot yang memecah kegelapan malam di sana.


Berbagai macam jajajan tampak berjejer menyapa kedatangan mereka, diikuti dengan deretan penjual pernak pernik, mainan dan banyak barang lainnya.


Semakin jauh mereka membawa langkahnya, mereka sampai diantara banyak wahana permainan. Ya, mereka sedang berada di pasar malam saat itu.


"Kamu mau naik itu?" tanya Andi dengan menunjuk ke arah bianglala.


Aletta terdiam beberapa saat lalu memejamkan matanya. Traumanya tentang kematian sang mama menyisakan rasa yang tidak akan mudah hilang dari dalam dirinya.


"Maaf Ta, aku nggak bermaksud buat...."


"Nggak papa, aku nggak papa," ucap Aletta memotong ucapan Andi.


Andi lalu membawa tangannya ke belakang Aletta, merangkul pundak Aletta dan mengusapnya pelan.


"Aku minta maaf," ucap Andi.


Aletta hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Ia tidak ingin mengacaukan malam indahnya saat itu.


"Aletta yang dulu suka pake celana jeans, kemeja, rambut diikat, dia kemana?" tanya Andi menggoda Aletta.


"Apa aku keliatan aneh sekarang?" balas Aletta bertanya.


"Kamu cantik, dulu ataupun sekarang kamu tetap cantik, karena yang bikin kamu cantik itu bukan penampilan kamu, tapi hati kamu," jawab Andi.


"Aku kerja di perusahaan fashion Ndi dan aku dibagian fashion cewek, jadi mau nggak mau aku harus sesuaiin penampilanku dan jadi keterusan deh!" ucap Aletta.


"Pasti udah banyak cowok yang ngejar ngejar kamu ya sekarang? atau kamu sekarang udah punya cowok?"


Aletta menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum.


Andi lalu berdiri dari duduknya lalu mengajak Aletta untuk kembali berkeliling. Beberapa kali Andi mencoba bermain permainan untuk mendapatkan hadiah boneka, seperti melempar bola ke dalam gelas, melempar karet gelang dan sebagainya namun ia tak pernah bisa mendapatkan boneka yang ia inginkan.


"Kenapa di film film cowoknya selalu berhasil dapet boneka ya?" tanya Andi kesal karena selalu gagal.


"Hahaha.... itu kan film Ndi, lagian kalau kamu nggak bener bener hoki kamu nggak akan sadar kalau udah ngabisin banyak uang di sini!" balas Aletta.


"Iya kamu bener," ucap Andi.


Mereka lalu kembali berkeliling, Andi berhenti di depan sebuah stand yang menjual pernak pernik perempuan.


Ia lalu membeli sebuah ikat rambut dan jepit rambut untuk Aletta.


"Diem sini!" ucap Andi dengan memegang kedua bahu Aletta agar berdiri membelakanginya


Dengan rapi Andi mengikat rambut Aletta ke belakang lalu memakaikan jepit rambut di bagian atasnya.

__ADS_1


Aletta hanya diam saat Andi melakukan hal itu. Ia sangat bahagia dengan apa yang Andi lakukan padanya.


Meski ia tau jika Andi tidak pernah benar benar memberikan cinta padanya, tapi sikap manis Andi membuat hatinya melambung jauh bersama kerlip bintang dalam gelapnya malam.


Karena malam sudah sangat larut, Andipun mengajak Aletta untuk meninggalkan pasar malam. Ia mengantarkan Aletta untuk pulang ke apartemennya.


Andi lalu pulang ke rumah mama Siska setelah mengantarkan Aletta pulang.


**


Hari berganti. Dini sudah berada di ruangan kerjanya sebelum jam 7. Ia tau hari itu ia akan mendapatkan omelan dari Adit karena ia sudah meninggalkan pekerjaannya begitu saja.


Namun saat ia menyerahkan jadwal harian Adit, Adit tidak mengungkit tentang apa yang ia lakukan kemarin.


Adit tetap bersikap seperti biasanya padanya.


"air tenang bukan berarti nggak ada buaya kan di dalamnya? jangan seneng dulu Din, kak Adit nggak mungkin biarin kamu gitu aja," batin Dini dalam hati.


Saat sudah kembali ke ruangannya, Dini terkejut karena banyak email yang masuk di komputernya. Dinipun membukanya satu per satu dan menggeram kesal dengan membawa pandangannya pada Adit yang berada di ruangan sebelahnya.


Adit hanya menatap Dini dengan tatapan datar tanpa ekspresi seolah tidak terjadi apa apa, membuat Dini semakin kesal.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Pintu ruangan Dini diketuk oleh seseorang, Jaka lalu masuk dan memberikan Dini beberapa berkas yang harus Dini kerjakan.


"Maaf Din, sebenarnya aku nggak enak ngelakuin ini, tapi pak Adit yang minta aku buat kasih kamu berkas yang seharusnya aku kerjain," ucap Jaka pada Dini.


"Nggak papa pak, saya mengerti," balas Dini dengan tetap tersenyum padahal hatinya memaki maki Adit dan mengumpat Adit dengan kesal.


Adit memang tidak menegurnya karena kesalahannya kemarin, tapi Adit memberinya banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan hari itu juga.


"Oke, aku akan selesaiin ini dengan cepat tanpa harus lembur," ucap Dini lalu segera mengerjakan pekerjaannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang namun Dini tidak bergeming sama sekali. Dini masih fokus pada pekerjaannya karena tidak ingin berada di kantor sampai malam.


Tak lama kemudian Adit datang dengan membawa 2 kotak makanan dan minuman lalu menaruhnya di meja kerja Dini.


"Kak Adit nggak usah sok perhatian, kak Adit balas dendam sama Dini kan?" ucap Dini kesal.


"Hahaha.... balas dendam kenapa? ini kan sanksi buat kamu!" balas Adit tanpa rasa bersalah.


"Tapi ini keterlaluan kak, Dini mana bisa selesaiin semua ini hari ini juga," ucap Dini dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Makan aja dulu, biar kerjanya fokus," ucap Adit dengan menggeser kotak makanan ke arah Dini.


"Enggak, kak Adit emang jahat, diktator!" ucap Dini kesal.


"Ya udah ayo kakak suapin," ucap Adit yang hendak menyuapi Dini, namun Dini mendorong tangan Adit menjauh.


Ia tidak ingin terjadi gosip tentang dirinya dan Adit lagi.


Dinipun membuka makanannya dan menikmati makan siangnya dengan perasaan yang masih kesal.


"Lagian kamu main pergi aja, kamu tau kan jam kerja di sini?"


"Gimana Dini nggak pergi kalau Dini tau Andi akan pergi? kak Adit juga jahat karena nggak kasih tau Dini tentang kepergian Andi!"


"Itu emang permintaan Andi sendiri Din, kamu juga liat sendiri kan nggak ada yang nganterin dia di bandara," ucap Adit.


"Kak Adit emang bukan kakak yang baik," ucap Dini yang masih kesal.


Sedangkan Adit hanya tertawa menertawakan sikap Dini yang tampak menggemaskan baginya.


"Kenapa kamu nggak mau Andi pergi?" tanya Adit.


"Karena dia udah janji buat nggak akan ninggalin Dini," jawab Dini.


"Gimana kalau suatu saat nanti dia menikah dan tinggal di luar negeri sama istrinya, apa kamu masih berhak buat ngelarang dia pergi?"


Seketika Dini terdiam dan menaruh sendoknya saat mendengar pertanyaan Adit.


"Din, ada kalanya seseorang harus pergi untuk menyembuhkan hatinya yang terluka, bukan karena dia pengecut tapi karena dia sudah merelakan apa yang membuatnya sakit hati," ucap Adit.


"Kenapa Andi sakit hati?" tanya Dini.


"Bukan apa, tapi siapa," jawab Adit.


"Siapa?" tanya Dini.


"Tanyakan sama diri kamu sendiri, kakak yakin kamu lebih mengenal Andi dibanding kakak," jawab Adit dengan tersenyum lalu keluar dari ruangan Dini.


Dini masih terdiam berusaha mencerna ucapan Adit dengan baik.


"Terluka dan sakit hati? siapa? apa karena....."


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Adit. Dini lalu membawa pandangannya pada Adit dan menerima panggilan Adit.


"Cepet selesaiin makan siang kamu dan lanjut kerja, kecuali kamu emang mau bermalam di sini hahaha....."

__ADS_1


Tuuuuttt tuuuuttt tuuuuttt


Panggilan berakhir sebelum Dini sempat mengucapkan apapun, membuat Dini semakin kesal pada Adit.


__ADS_2