
Andi masih berada di ruang baca. Ia duduk di salah satu sudut ruangan itu. Ia menundukkan kepala dengan menutup wajah menggunakan kedua tangannya.
Ia tidak mengerti dosa apa yang sudah ia lakukan sehingga membuat semua kebahagiaan yang datang padanya selalu diiringi dengan kesedihan yang menyakitkan untuknya.
Untuk beberapa saat Andi hanya berdiam di sana, menuntaskan tangis yang sudah lama tertahan olehnya.
Bagaimanapun juga meninggalkan sang mama bukanlah hal yang mudah untuknya, namun ia tetap harus melakukannya jika memang itu yang mamanya inginkan.
Setelah hatinya lebih tenang, Andi beranjak dari duduknya dan mengambil beberapa buku yang akan ia bawa pergi.
Andi lalu kembali ke kamarnya, namun saat ia masuk ke kamar, ia hanya melihat mbak Asih.
"Alana dimana mbak?" tanya Andi panik.
"Dibawa non Ana ke kamar mama katanya," jawab mbak Asih.
Andipun menaruh buku bukunya dan segera berlari ke kamar sang mama, ia membuka pintu kamar sang mama tanpa diketuk ataupun permisi.
Saat ia masuk, dilihatnya Ana, Adit dan sang mama yang sedang menimang baby Alana. Andi lalu berjalan pelan menghampiri sang mama.
"Dia mirip sekali sama kamu," ucap mama Siska dengan menatap bayi mungil yang bergerak manja di gendongannya.
"Ma, Andi....."
"Dia cucu pertama mama yang cantik," ucap mama Siska.
Andi lalu membawa pandangannya pada Ana dan Adit dengan penuh tanda tanya. Sedangkan Ana dan Adit hanya tersenyum.
Mama Siska lalu memberikan baby Alana pada Ana.
"Apa kamu akan meninggalkan mama?" tanya mama Siska pada Andi.
"Andi udah mengecewakan mama, Andi udah menyakiti mama, Andi akan pergi kalau memang kepergian Andi bikin mama bahagia," jawab Andi.
Mama Siska menggelengkan kepalanya pelan dengan mata yang berkaca-kaca, untuk sekejap saja air mata luruh dari kedua sudut mata mama Siska.
Andi lalu kembali bersimpuh di kaki sang mama, menggenggam kedua tangan sang mama dan menciumnya.
"Berapa kalipun Andi minta maaf sama mama, Andi akan tetap jadi anak yang mengecewakan mama, Andi benar benar minta maaf ma, Andi minta maaf," ucap Andi dengan suara bergetar.
Mama Siska lalu menarik tangannya dari genggaman Andi, mama Siska memegang kedua bahu Andi agar Andi berdiri.
Saat Andi berdiri, mama Siska segera memeluk Andi dengan erat, tangisnya pecah dalam pelukan Andi.
Karena emosinya, ia akan kehilangan anak keduanya untuk kedua kali dan ia akan kembali hidup dengan rasa penyesalan dalam hatinya.
Ia tidak ingin hal itu terjadi lagi, meski apa yang dilakukan Andi adalah sebuah kesalahan yang tentu saja mengecewakan, tapi Andi tetaplah anaknya.
Sebagai seorang ibu, tidak pernah ada kata "benci" yang akan ia berikan, seberapa mengecewakanpun apa yang dilakukan anaknya.
"Berhenti minta maaf sayang, mama nggak mau kamu pergi, mama nggak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya," ucap mama Siska di tengah isak tangisnya.
"Tapi Andi udah menyakiti mama, Andi pantas meninggalkan rumah ini," balas Andi.
Mama Siska lalu melepaskan Andi dari pelukannya, menatap kedua mata Andi dengan dalam dan memegang pipinya dengan lembut.
"Kamu anak mama sayang, bagaimana mungkin mama bisa bahagia dengan kepergian kamu, mama memang kecewa dan sakit hati, tapi mama nggak akan mengulangi kesalahan mama dengan membiarkan kamu pergi," ucap mama Siska.
"Ma...."
"Seiring dengan berjalannya waktu, rasa kecewa dan sakit yang mama rasain akan cepat hilang karena kebahagiaan baru yang kamu kasih buat mama, cucu pertama mama akan kasih mama kebahagiaan yang belum pernah mama rasakan sebelumnya," ucap mama Siska.
Andi hanya diam mendengar ucapan sang mama, matanya berkaca kaca karena bahagia. Ia lalu menjatuhkan dirinya pada pelukan sang mama.
Ia sangat bersyukur karena sang mama bisa mengerti keadaannya dan menerima anaknya dengan penuh kasih sayang.
Tiba tiba, suara tangisan baby Alana membuat Andi melepaskan dirinya dari pelukan sang mama.
Andi lalu mengambil baby Alana dari gendongan Ana dan menimangnya. Kini mereka semua tampak berbahagia, ditambah dengan tawa riang bayi mungil dalam gendongan Andi membuat suasana rumah itu kembali dipenuhi dengan kebahagiaan.
"Mama harus siapin kamar buat cucu pertama mama," ucap mama Siska bersemangat.
"Kamu udah ada perlengkapan bayi Ndi?" tanya Ana pada Andi.
"Cuma beberapa yang penting aja mbak, ada di mobil," jawab Andi.
"Terus itu mbak mbak yang di kamar lo siapa? baby sitter?" tanya Adit.
"Iya, dia yang akan jagain Alana selama gue nggak di rumah," jawab Andi.
"Kamu kenal dia dari mana? apa dia bisa dipercaya?" tanya mama Siska khawatir.
"Mama tenang aja, mbak Asih orang baik kok, mama bisa percaya sama mbak Asih," jawab Andi meyakinkan.
"Kayaknya Ana bakalan lebih sering main ke sini deh ma," ucap Ana pada mama Siska.
"Pasti karena Alana kan?" terka mama Siska yang hanya dibalas senyum dan anggukan kepala Ana.
__ADS_1
"Mbak bisa bantuin jaga Alana kalau kamu nggak di rumah," ucap Ana pada Andi.
"Makasih mbak," balas Andi.
"Iiiiihhh, gemes banget siiihh, mirip banget sama papa Andi," ucap Ana dengan mengusap pelan pipi baby Alana.
"Kapan nih mama punya cucu kedua? biar Alana ada temennya nanti!" tanya mama Siska dengan membawa pandangannya pada Adit dan Ana.
Adit dan Ana hanya saling pandang dan tersenyum tanpa mengucapkan apapun.
Andi lalu meminta mbak Asih dan salah satu asisten rumah tangganya untuk mengambil barang barang di mobilnya.
Hanya ada beberapa keperluan bayi yang penting yang sudah Andi siapkan. Masih banyak keperluan yang harus Andi siapkan untuk ia taruh di kamar baru baby Alana.
Setelah baby Alana tidur, Andi membaringkannya di ranjang lalu meminta mbak Asih untuk menjaganya.
Sedangkan ia menemui sang mama, Ana dan Adit di ruang tengah untuk membicarakan hal lain.
"Setelah ini apa rencana kamu sayang?" tanya mama Siska pada Andi.
"Andi belum tau ma, yang pasti Andi akan berusaha untuk jadi orangtua yang baik buat Alana, Andi juga harus selesaiin kuliah Andi dan tetap fokus sama home store," jawab Andi.
"Gimana sama Anita?" tanya Adit.
"Gue udah buat kesepakatan sama dia, gue nggak akan ganggu dia lagi," jawab Andi.
"Tapi gimanapun juga Alana itu anaknya, dia butuh perhatian seorang ibu," ucap Ana.
"Andi ngerti mbak, tapi nggak ada yang bisa Andi lakuin, Anita udah mempertaruhkan nyawanya buat melahirkan Alana meskipun dia nggak bisa menerima kehadirannya, cara Andi buat berterima kasih sama Anita adalah dengan membiarkan Anita lakuin apa yang dia mau dan yang dia mau adalah pergi tanpa terlibat apapun lagi dengan Andi dan Alana," balas Andi menjelaskan.
"Dia pasti akan menyesal," ucap Ana kesal pada sikap Anita.
"Andi mohon sama mama, kak Adit dan mbak Ana, tolong jangan libatin Anita dalam masalah ini, dia udah cukup tersiksa dengan harus menyembunyikan kehamilannya selama 9 bulan, dia udah berbaik hati buat tetap mau melahirkan Alana jadi Andi mohon jangan ungkit masalah ini lagi," ucap Andi memohon.
"Mama mengerti, mama yang akan jaga Alana dengan baik, dia akan tumbuh dengan penuh kasih sayang dan cinta walaupun tanpa ada Anita," ucap mama Siska.
"Kak Adit, mbak Ana, Andi mohon," ucap Andi yang masih memohon pada Adit dan Ana yang masih terlihat kesal pada Anita.
"Hmmmm.... mbak cuma berharap kalian akan selalu bahagia," ucap Ana.
"Yaaa, anggap aja ibu yang melahirkannya udah meninggal," ucap Adit yang segera mendapat pukulan dari Ana.
"Andi sangat berterima kasih karena mama, kak Adit dan mbak Ana bisa memahami masalah ini," ucap Andi berterima kasih.
Waktu berlalu, Ana lalu mengajak Adit untuk meninggalkan rumah mama Siska. Ia sudah tidak sabar untuk pergi ke baby shop, membeli segala perlengkapan bayi yang akan mereka berikan pada baby Alana.
Di tempat lain, Dimas dan Dini baru saja meninggalkan rumah orangtua Dimas. Dimas mengendarai mobilnya ke arah pantai.
Mereka akan menghabiskan hari Minggu mereka di pantai setelah menemui mama dan papa Dimas.
Sesampainya di pantai, Dimas dan Dini melepas sepatu mereka dan berjalan ke arah bibir pantai dengan bergandengan tangan.
"Hmmmm..... bau air laut," ucap Dini dengan mendongakkan kepalanya dan memejamkan matanya.
Dimas lalu menahan tangan Dini, kemudian berjongkok di hadapan Dini.
"Ayo!"
Dini menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat keadaan di sekitarnya.
"Banyak orang Dimas, malu," ucap Dini.
"Nggak papa, mereka sibuk sama pasangan mereka masing masing," balas Dimas.
Dini lalu menaiki punggung Dimas, membiarkan Dimas membawanya berlari ke bibir pantai.
Dimas berdiri di bibir pantai, menunggu ombak yang akan menyentuh kakinya. Saat ombak semakin dekat, Dimas berlari menghindar agar kakinya tidak menyentuh air laut yang mengejarnya.
Begitu seterusnya, membuat Dini tertawa bahagia bersama angin laut yang membelai rambutnya.
"Udah Dimas, turun," ucap Dini dengan menepuk bahu Dimas.
"Kenapa? aku bisa gendong kamu sampai besok!"
"Turun turun, aku mau main air," ucap Dini pada Dimas.
Dimas lalu menurunkan Dini, membiarkan Dini bermain kejar kejaran bersama ombak seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Setelah puas berlari, Dini dan Dimas menjatuhkan diri di atas pasir pantai. Matahari siang itu tidak terlalu terik karena terhalang oleh awan mendung yang terlihat semakin gelap.
"Mau pulang sekarang?" tanya Dimas pada Dini.
"Enggak," jawab Dini sambil bermain pasir pantai.
"Bentar lagi hujan sayang," ucap Dimas.
"Justru aku mau nunggu hujan di sini," balas Dini yang masih sibuk bermain pasir.
__ADS_1
Dimas hanya tersenyum tipis lalu menutup kaki Dini dengan tumpukan pasir. Hari itu mereka seperti dua anak kecil yang sedang bermain di tepi pantai.
Mereka melepaskan semua kesedihan dan duka yang sudah lama tinggal dalam hati mereka. Meski masih tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi, tetapi mereka sudah berdamai dengan kesedihan mereka.
Tiba tiba tetes hujan mulai turun, tetes kecil yang kemudian menjadi rintik yang semakin padat.
"Kamu yakin sayang?" tanya Dimas yang mengkhawatirkan Dini.
Dini menganggukan kepalanya lalu menarik kakinya dari tumpukan pasir, ia berdiri dan berlari menikmati hujan yang membasahi dirinya.
Dimas lalu mengejar Dini, memeluk Dini dari belakang dan mengangkat tubuh Dini kemudian berputar putar di bawah hujan.
Kebahagiaan yang sempat terpendam kini kembali datang bersama rintik hujan yang semakin membasahi Dini dan Dimas.
Mereka berlarian di bawah hujan saat orang lain berlari untuk menghindar dari hujan. Dini bisa merasakan setiap tetes hujan yang menyentuh dirinya akan memberinya kebahagiaan dalam dirinya.
Setelah lelah berlari, Dini menjatuhkan dirinya di atas pasir pantai bersama Dimas. Ia menutup matanya, membiarkan rintik hujan memeluk dirinya dengan kebahagiaan.
"Sayang, ayo berteduh," ucap Dimas pada Dini.
"Kita udah basah Dimas, ngapain berteduh?"
"Kamu harus ganti baju sayang!"
"Aku masih mau di sini," balas Dini dengan masih berbaring di atas hamparan pasir pantai di bawah hujan.
Dimas lalu menarik tangan Dini agar Dini berdiri.
"Aku masih mau disini Dimas!" rengek Dini seperti anak kecil yang diambil mainannya.
Tanpa banyak bicara Dimas segara menggendong Dini dan membawanya untuk berteduh.
Dimas lalu memesan dua coklat hangat di kedai yang ada di sana.
"Hmmm.... perfect combination," ucap Dini saat coklat panas sudah ada di hadapannya.
Dimas lalu memegang gelas coklat panas miliknya lalu menempelkan tangannya di pipi Dini, berusaha memberikan kehangatan untuk Dini.
Dini lalu melakukan hal yang sama pada Dimas, mereka lalu tertawa dan meminum coklat mereka masing masing.
"Sayang, Andi nggak pernah hubungi kamu?" tanya Dimas pada Dini.
"Enggak, kenapa?"
"Dia juga nggak pernah hubungi aku, apa menurut kamu dia baik baik aja?"
"Aku nggak tau, tapi aku harap dia baik baik aja," jawab Dini.
"Aku nggak pernah melarang kamu buat berhubungan sama Andi sayang, jangan karena pernikahan kita hubungan kamu dan Andi jadi semakin jauh," ucap Dimas pada Dini.
"Kita cuma saling memahami satu sama lain aja, karena aku udah jadi istri kamu, aku dan Andi nggak bisa sedeket dulu lagi," balas Dini.
"Tapi bukan berarti kalian jadi lost contact kan?"
"Enggak gitu juga sih, tapi kamu kan tau sendiri Andi sekarang makin sibuk karena kuliah juga," balas Dini.
"Iya sih, aku salut sama dia, dia masih bisa fokus kuliah sambil jalanin clothing arts nya!" ucap Dimas.
"Dia pernah bilang sama aku kalau dia udah banyak belajar dari kamu dan kak Adit buat jalanin clothing arts nya!"
"Temen kamu itu emang cepet belajar!" ucap Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Dini
"Sayang, gimana kalau kita rencanain liburan bareng lagi?"
"Boleh, kamu coba bilang aja sama Andi!"
"Sama Anita juga?"
"Anita? terserah kamu," balas Dini.
"Kalau nggak ada Anita, kasian Andi jadi obat nyamuk nanti hehe...."
"Iya, kamu bener hehe...."
Setelah coklat di hadapan mereka sudah habis, Dini dan Dimaspun meninggalkan pantai. Dimas mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, ia segera menyiapkan air hangat untuk Dini berendam.
"Kamu mau kemana?" tanya Dini saat Dimas keluar dari kamar mandi.
"Aku mau cari pakaian yang hangat buat kamu," jawab Dimas.
Dini menggelengkan kepalanya lalu menarik tangan Dimas agar kembali masuk ke kamar mandi.
"Kamu juga harus mandi," ucap Dini sambil menyalakan shower.
Merekapun mandi bersama di bawah guyuran air hangat dari shower.
__ADS_1