
Biiiippp Biiippp Biiippp
Sebuah panggilan membangunkan Dini dari tidurnya yang sangat pulas. Dengan mata yang masih terpejam ia meraba raba ponselnya yang berada di ranjangnya lalu menggeser layarnya untuk menerima panggilan meski ia belum melihat siapa yang menghubunginya saat itu.
"Pagi sayang, kamu udah bangun belum?" tanya Dimas dari ujung panggilan ponsel.
"Dimas, kamu bangunin aku lagi, aku masih ngantuk," jawab Dini dengan suara malas khas bangun tidur.
"Bangun sayang, waktunya kerja, emang semalem pulang jam berapa acaranya?"
"Nggak tau, aku nggak liat jam," jawab Dini.
"Ya udah buruan mandi, jangan tidur lagi!"
"Dimas," panggil Dini.
"Iya sayang, kenapa?"
"Kapan kamu pulang?"
"Aku masih sibuk banget di sini, sabar ya!"
"Hmmmm.... ya udah, aku mau mandi dulu, bye!"
"Bye sayang!"
Klik. Sambungan berakhir. Dini membuka matanya lebar lebar lalu bangun dan merapikan tempat tidurnya sebelum ia mandi.
Setelah sarapan dan bersiap siap, Dinipun berangkat ke halte seperti biasa. Ia duduk dengan beberapa orang yang juga sedang menunggu bus.
Saat bus datang, ia segera naik sampai di seberang kantornya. Saat ia baru saja turun, seseorang juga turun dan duduk di halte itu. Sedangkan Dini bersiap untuk menyebrang jalan.
Dini memilih berdiri agak jauh dari seseorang yang membuatnya curiga itu. Diam diam ia memperhatikan seseorang itu dengan detail, mulai dari topi, masker dan sepatu yang dikenakannya. Dini juga sudah menggenggam botol yang berisi bubuk merica dan cabe di tangannya, untuk berjaga jaga jika terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya.
Namun sampai ia masuk ke kantor, tak ada apapun yang terjadi. Ia bersyukur sekaligus bingung. Ia selalu merasa sedang diawasi seseorang namun tak pernah terjadi sesuatu yang aneh padanya.
"Dini!" panggil seorang perempuan saat Dini sedang berjalan di lobby.
"Jenny, ada apa?"
"Tolong sampe'in ke Adit ya, aku mau ketemu dia nanti siang, bisa kan?"
"Oke," balas Dini.
"Thanks Din, bye!" ucap Jenny lalu pergi begitu saja.
"sejak kapan aku akrab sama dia?" batin Dini dalam hati.
Dinipun kembali melangkahkan kakinya ke arah lift untuk naik ke ruangannya yang berada di lantai 3. Di dalam lift sudah ada Ica dan Aca.
"Pagi Din!"
"Pagi Din!" Sapa Ica dan Aca bersamaan.
"Pagi," balas Dini dengan senyum manisnya.
"Din, kamu tau nggak kalau Sela dikeluarin dari perusahaan?" tanya Ica.
"Serius? aku nggak tau, kapan? kenapa?"
"Kayaknya sih akhir bulan kemarin hari terakhir dia kerja dan yang harus kamu tau, sebab dia dikeluarin itu dia bilang gara gara kamu, tapi aku sih nggak percaya," jelas Ica.
"Kok aku? aku aja nggak tau apa apa, emang kenapa dia dikeluarin?"
"Kalau dia bilang sih gara gara kamu bilang pak Adit kalau dia maksa kamu ngerjain kerajaannya sampe malem, terus......"
"Jangan sok tau deh Ca, dari yang aku denger sih dia ketahuan ngelakuin hal yang nggak bener gitu, tapi aku nggak tau itu apa!" ucap Aca memotong ucapan Ica.
"Hmmmm..... terserah aja deh, aku nggak peduli," balas Dini santai.
Saat ia sudah sampai di lantai 3, ia segera membuat minuman hangat untuk Adit dan menaruhnya di meja kerja Adit.
Dini lalu masuk ke ruang kerjanya dan memikirkan ucapan Ica dan Aca tentang Sela.
"Kenapa dia dikeluarkan dari perusahaan? gara gara aku? apa kak Adit......."
"Apa?" tanya Adit yang tiba tiba masuk.
Dini segera berdiri dari duduknya dan sedikit membungkukkan badannya.
"Selamat pagi pak," ucap Dini.
"Pagi," balas Adit lalu duduk di meja kerja Dini.
Kalau sudah begitu, Dini tau ia harus bersikap seperti apa. Ia pun melihat ke arah jam di ponselnya dan masih ada waktu 5 menit sebelum jam 7.
"Ada apa kak?" tanya Dini yang kembali duduk di kursinya.
"Kamu kenapa ngomong sendiri? mikirin kakak?"
"GR banget, kak Adit pecat Sela?" tanya Dini tanpa basa basi.
Adit hanya menganggukkan kepalanya santai.
"Kenapa?"
"Karena perbuatan dia udah nggak bisa ditolerir lagi," jawab Adit.
"Maksud kak Adit?"
"Lain kali kakak cerita, kakak kesini mau minta tolong sama kamu!"
"Minta tolong apa kak?"
__ADS_1
"Carikan beberapa agen ART yang paling bagus, kamu list kontak dan alamatnya, kakak tunggu sampe nanti siang!"
"Kak Adit cari ART buat mama?"
"Jangan banyak tanya, cari aja, oke?"
"Oke, oh iya kak, Jenny tadi pagi ke sini, dia mau ketemu kak Adit nanti siang!"
"Nggak bisa, kakak sibuk!" ucap Adit lalu keluar dari ruangan Dini begitu saja.
Sebelum jam makan siang tiba, Dini segera memberikan informasi yang diminta Adit tentang agen ART yang menurutnya bagus.
Saat jam makan siang tiba, Aditpun segera keluar dari ruangannya. Sedangkan Dini baru pergi ke kantin setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Dini!" panggil Jenny yang berlari ke arah Dini.
"Gimana Din? kamu udah bilang Adit?" lanjut Jenny bertanya.
"Kak Adit sibuk, baru aja keluar," jawab Dini.
"Keluar kemana? sama siapa?"
"Kayaknya sih sama pak Rudi, tapi aku nggak tau kemana," jawab Dini.
"Hmmmm, ya udah deh, aku balik aja kalau gitu!"
Jenny pun pergi meninggalkan Dini.
**
Di tempat lain, saat jam makan siang tiba. Dimas segera pergi ke kantin untuk sekedar membeli roti lalu kembali ke meja kerjanya.
Saat ia baru saja duduk, ada sebuah coklat berukuran cukup besar di meja kerjanya.
Semangat Dimas ❤
Dimas hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan pekerjaannya. Saat temannya kembali ke meja kerjanya yang berdekatan dengan Dimas, Dimaspun memberikan coklat itu pada temannya yang bernama Feri.
"Fer, mau coklat?" tanya Dimas.
"Coklat apaan?"
Dimas lalu menaruh coklat dengan kartu ucapan yang masih tertempel di atasnya pada Feri.
"Waaah, keren sih lo, belum ada satu bulan di sini tapi udah banyak yang ngejar lo, tinggal pilih aja tuh mana yang mau di ajak jalan hahaha....."
"Gue udah punya tunangan Fer, gue kan udah bilang!"
"Ya elah, tunangan lo kan nggak di sini Dim, lagian kalau lo jalan sama salah satu dari mereka, tunangan lo nggak bakalan tau kan?"
"Ini bukan soal tau atau nggak tau, tapi ini soal komitmen, jomblo kayak lo mana ngerti Hahaha....."
"Sialan lo! tapi....."
"Dimas aja nih, gue enggak?" tanya Feri.
"Kalau mau dateng, dateng aja!" jawab si perempuan lalu pergi.
"Gila lo Dim, sampe anak pak Direktur aja deketin lo, emang bener bener dahsyat sih aura lo!" ucap Feri dengan bertepuk tangan.
"Dia anak Direktur?" tanya Dimas.
"Lo nggak tau? Dimas, di sini itu nggak ada yang nggak kenal Chelsea, cewek cantik anak Direktur kita, masak lo nggak tau sih!"
"Gue nggak tau!" balas Dimas sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Denger denger yang dateng di acara ulang tahunnya tuh orang orang high class gitu, nggak semua orang bisa dateng di party mewahnya Dim dan lo adalah salah satu orang yang beruntung!"
"Nih, buat lo aja!" ucap Dimas sambil memberikan undangan itu pada Feri.
"Lo seriusan? lo nggak mau dateng kesana?"
"Nggak tertarik!"
"Pestanya meriah banget Dim, banyak cewek cewek cantik, banyak 'minuman' dan yang pasti ada tamu 'plus plus' nya juga Hahaha....."
Dimas hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan teman barunya itu. Baginya tidak ada waktu untuk ia melakukan hal hal di luar pekerjaannya selain yang berhubungan dengan Dini dan keluarganya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Andi sudah berada di depan tempat kerja Dini untuk menunggu Dini.
Tak lama kemudian tampak Dini dan Adit yang sedang berjalan keluar.
"Tuh, ditungguin pacar kamu!" ucap Adit pada Dini.
"Pacar dari mana? itu kan Andi!" balas Dini.
"Ya kalian berdua emang kayak orang pacaran, dia kayaknya suka deh sama kamu!"
"Kak Adit jangan sok tau, nggak cuma kak Adit yang bilang gitu, jadi Dini nggak kaget!"
"Tapi kalau dia Beneran suka sama kamu gimana?"
"Kak Adit ngaco, Dini duluan kak, bye!"
"Bye!"
"keliatan banget, masak Dini nggak tau!" batin Adit dalam hati.
Dini dan Andipun segera meninggalkan kantor untuk segera pulang.
Biiiiippp Biiippp Biiippp
__ADS_1
Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.
"Halo sayang, udah pulang kerja?" tanya Dimas.
"Ini lagi di jalan sama Andi, kamu udah pulang?"
"Belum, bentar lagi!"
"Ya udah buruan di selesaiin, nanti telfon lagi!"
"Oke, love you sayang!"
"Love you too," balas Dini lalu mengakhiri panggilannya.
Sesampainya di rumah, setelah mandi Dini segera menghubungi Dimas menggunakan panggilan video.
"Halo sayang, aku baru aja nyampe' apartemen!" ucap Dimas yang tampak sedang melepas sepatunya.
"Capek banget ya!"
"Tadinya capek, tapi setelah liat kamu capeknya hilang," jawab Dimas sambil melepas kemejanya dan menaruh ponselnya di meja.
"Eh, itu ada yang jatuh," ucap Dini yang melihat sesuatu jatuh dari kemeja yang digunakan Dimas.
Dimaspun berjongkok dan mengambil sesuatu lalu menunjukkannya pada Dini.
"Apa itu? undangan ulang tahun?" tanya Dini yang dibalas anggukan kepala Dimas.
"Kenapa ada tulisan 21+ nya?"
"Ini undangan dari anaknya pak Direktur sayang, katanya Feri sih pestanya emang bebas gitu, ada 'minum minuman' sama yang 'plus plus' gitu lah pokoknya!"
"Kamu dateng?"
"Enggak lah sayang, ngapain aku buang waktuku buat hal kayak gitu!"
"Beneran?"
"Beneran sayang, kamu nggak percaya?"
"Iya iya, aku percaya."
**
Di tempat lain, malam itu Adit sedang berada di suatu rumah yang akan Ana tempati. Tampak rumah itu sudah 100% siap untuk ditempati.
Di sana juga sudah ada Candra yang akan menjadi supir pribadi Ana dan Agus yang menjadi satpam di rumah itu. Tinggal menunggu ART yang akan menyiapkan semua kebutuhan Ana nantinya.
Tak lama kemudian yang ditunggu Adit datang, Bu Desi dan anaknya yang bernama Lisa. Mereka adalah dua orang yang sudah Adit seleksi dengan ketat untuk ia percaya menjaga dan menyiapkan semua kebutuhan Ana. Mereka juga sudah menandatangani kontrak perjanjian dengan Adit.
Setelah memastikan semuanya selesai, Adit meninggalkan rumah itu dan pergi ke rumah Ana.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Anapun keluar.
"Ayo masuk!" Adit dan Anapun masuk, duduk di ruang tamu.
"Gimana hari ini? sakit lagi?" tanya Adit.
"Enggak kok, kamu ngapain malem malem ke sini?" jawab Ana sekaligus bertanya.
"Aku mau ngajak kamu pindah An," ucap Adit.
"Pindah? maksud kamu?"
"An, semakin lama perut kamu akan semakin besar dan kamu nggak bisa sembunyiin hal itu dari orang orang di sekitar sini, jadi aku udah siapin rumah buat kamu tinggal, kamu mau kan?"
"Tapi Dit...."
"Kamu cuma perlu bawa pakaian dan barang barang kamu yang penting, aku udah siapin semua yang kamu butuhin di rumah itu," ucap Adit.
"Makasih Dit, makasih buat semua kebaikan kamu sama aku, tapi aku nggak bisa, aku..... aku udah terlalu jauh ngebiarin hati aku nyaman sama kamu, aku takut kalau aku.... aku......"
"Aku jatuh cinta sama kamu," ucap Adit cepat membuat Ana begitu terkejut.
"Aku tau mungkin ini bikin kamu terkejut, tapi apa yang aku rasain sama kamu lebih dari sekedar partner kerja atau teman baik An, entah sejak kapan aku mulai cinta sama kamu, tapi aku nggak pernah bisa ungkapin itu karena kamu udah punya orang lain di hati kamu," lanjut Adit.
"Adit...."
"Kasih aku kesempatan buat buktiin perasaanku sama kamu, aku tau masih ada orang lain di hati kamu saat ini, tapi itu bukan masalah buat aku, aku yakin kalau aku bisa gantiin posisinya di hati kamu, aku mohon An, kasih aku kesempatan buat itu," ucap Adit.
"Kenapa aku Dit? aku cuma cewek biasa, sedangkan kamu, kamu seseorang yang bahkan mustahil untuk aku harapkan."
"Kita nggak bisa nentuin hati kita akan memilih siapa An, yang aku tau hati aku memilih kamu," ucap Adit.
"Kamu masih muda Dit, masa depan kamu cerah, kamu pasti bisa dapet seseorang yang sebanding dengan kamu, aku yang lebih tua dari kamu dan dengan keadaanku yang kayak gini, aku ngerasa nggak pantas buat kamu Dit."
"Cinta itu tentang hati An, bukan tentang perbedaan ataupun yang lainnya, lagian kita cuma beda 2 tahun, aku yakin aku bisa jadi suami yang baik buat kamu," ucap Adit penuh percaya diri.
"Suami?"
"Iya, aku mau jadi suami untuk kamu dan ayah untuk dia," jawab Adit sambil mengusap perut Ana.
"Adit, kamu ngelakuin ini bukan karena kasian kan sama aku? kamu....."
"Kamu nggak percaya sama aku? selama ini yang paling mengerti dan memahami aku cuma kamu An, setelah kamu pergi aku semakin yakin kalau aku seharusnya ungkapin perasaan ini lebih awal sebelum orang lain itu datang ke hati kamu!"
"Aku... aku nggak tau harus gimana, aku cuma cewek yang udah nggak punya masa depan, sedangkan kamu...."
"Aku masa depan kamu An, tolong kasih aku kesempatan buat buktiin keseriusan ku sama kamu, kita bukan anak SMA lagi, aku nggak mau pacaran, aku mau menikah sama kamu, jadi istri ku An, aku janji akan selalu kasih kebahagiaan buat kamu," ucap Adit bersungguh sungguh.
"Aku nggak bisa Dit, aku minta maaf," ucap Ana lalu segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya.
"Aku nggak akan maksa kamu An, kamu istirahat aja, jangan terlalu dipikirin, aku pulang ya, jangan lupa kunci pintu!" ucap Adit lalu keluar dari rumah Ana.
__ADS_1
"bodoh banget sih Dit, Ana mana mau kalau caranya kayak gitu, terlalu mendadak dan tanpa persiapan apapun, aaarrgghhh bodohnya......" batin Adit merutuki dirinya sendiri.