Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Rencana Dini


__ADS_3

Dini dan Dimas masih berada di dermaga kayu di hadapan laut yang tenang bersama sinar senja.


Dini menatap wajah laki laki yang dicintainya itu dari samping. Ia sangat mengenal Dimas, ia tau seperti apa Dimas mencintainya.


Ia akan menunggu Dimas menjelaskan kenapa Anita bisa berada di kamarnya. Ia hanya harus bersabar dan tidak mempedulikan pikiran negatif yang masih saja mengganggunya.


Ia percaya pada Dimas dan ia akan menunggu Dimas menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Sayang, kamu tau kenapa senja bisa seindah ini?" tanya Dimas pada Dini.


"Kenapa?"


"Karena senja adalah pengorbanan dari matahari yang rela tenggelam agar langit membentangkan gemerlap bintang dan bulan, dia adalah wujud pengorbanan yang indah, iya kan?"


"Kamu bener, terkadang memang diperlukan pengorbanan untuk sesuatu yang indah," balas Dini dengan tersenyum.


"Andini, aku nggak mau merusak hari kita sekarang, tapi aku harus bilang sesuatu sama kamu," ucap Dimas yang mulai serius.


"Kamu mau bilang apa?"


"Sesuatu yang mungkin akan bikin kamu marah sama aku," jawab Dimas.


"Kalau aku kasih kamu kebebasan buat cerita atau enggak, apa kamu akan tetep cerita?"


Dimas diam beberapa saat. Matanya menerawang ke arah laut yang tenang di hadapannya.


"Aku akan tetep cerita, lebih baik kamu tau apa yang sebenarnya terjadi daripada ada salah paham nantinya," jawab Dimas.


"Walaupun aku akan marah setelah denger cerita kamu?"


Dimas menganggukkan kepalanya yakin.


"Aku akan terima kalau kamu marah sama aku, kamu boleh pukul aku, tampar aku, asal kamu jangan ninggalin aku, jangan mengabaikan ku," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


Dini menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Ia siap mendengarkan apapun yang akan Dimas katakan meski itu akan membuatnya marah.


"Anita ada di apartemen ku semalem," ucap Dimas yang membuat Dini melepaskan tangannya dari genggaman Dimas.


"Kenapa dia ada di sana?" tanya Dini dengan pandangan kosong ke arah laut.


Dimas lalu menceritakan semua kejadian malam itu, mulai dari Anita yang menunggunya, Anita yang tiba tiba pingsan yang membuat Dimas tak punya pilihan lain selain membawa Anita ke kamarnya, sampai Dimas harus meninggalkan apartemennya tanpa membawa dompet dan kunci mobil.


"Jadi itu alasan kamu nggak bawa mobil?" tanya Dini.


"Iya, aku nggak mungkin balik buat ambil kunci mobil, aku nggak mau ketemu dia lagi di apartemen," jawab Dimas.


"Anita bilang apa aja sama kamu?" tanya Dini.


"Dia cuma bilang kalau dia minta maaf, tapi aku nggak mau dengerin dia dan lebih pilih buat ninggalin apartment daripada dengerin semua ucapannya," jawab Dimas.


"Kalau dia masih di apartemen kamu gimana?"


"Aku akan panggil pihak keamanan buat usir dia," jawab Dimas.


Dini hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Dimas.


"Kamu nggak marah?" tanya Dimas.


"Kenapa aku harus marah? kamu udah ceritain semuanya sama aku dan nggak ada yang salah dari apa yang udah kamu lakuin, aku percaya sama kamu Dimas," jawab Dini.


"Makasih sayang, makasih udah percaya sama aku," ucap Dimas dengan menarik tangan Dini ke dalam genggamannya dan menciumnya.


"Dompet kamu ketinggalan, kunci mobil kamu ketinggalan, makanya kamu naik bus?"


"Iya, untung banget masih ada beberapa uang di saku celana ku," jawab Dimas.


"Emang cukup buat naik taksi sama bus?"


"Mmmmm.... sebenarnya waktu pulang dari rumah kamu, uangku nggak cukup buat bayar taksi, jadi aku pinjem pak satpam waktu nyampe rumah hehe...."


"Kenapa kamu nggak bilang aku Dimas? aku kan bisa bantuin kamu!"


"Aku bingung gimana jelasinnya sayang, aku baru ketemu kamu, aku nggak mau cerita tentang Anita dulu," balas Dimas.


"Kamu nggak diketawain sama supirnya karena nggak punya uang?"


"Enggak lah, supirnya kan baik hehehe... "


Dini hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Dimas.


Sebelum gelap, Dini mengajak Dimas kembali ke perahu karena di sana tidak ada lampu penerangan sama sekali.


Dini berdiri dari duduknya diikuti oleh Dimas, namun Dimas menarik tangan Dini yang sudah lebih dulu berjalan.


Dimas memeluk Dini dengan erat sebelum mereka meninggalkan dermaga.


"Aku sayang sama kamu Andini, kamu tujuan hidupku, aku akan selalu ada buat kamu dan cuma aku yang akan jadi masa depan kamu," ucap Dimas.


Dini hanya terdiam dalam pelukan Dimas sebelum Dimas melepasnya dan memegang kedua pipinya.


Dimas semakin mendekat dan mendaratkan bibirnya di bibir Dini. Goresan senja sore itu mengantarkan Dini dan Dimas ke dalam tautan mesra yang indah.


Setelah beberapa lama terjatuh dalam romantisme yang Dimas ciptakan, mereka lalu berjalan bergandengan tangan meninggalkan dermaga dan kembali menaiki perahu mereka.


Gelap telah datang saat mereka sudah sampai di tempat parkir. Dimas dan Dini segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Dimas lalu menepikan mobilnya ke sebuah tempat makan ala Jepang. Di sana tersedia berbagai macam makanan khas Jepang yang Dini suka.


"Kamu yakin mau makan di sini?" tanya Dini saat mereka baru saja turun dari mobil.


"Yakin, ini kan kesukaan kamu, aku juga udah bawa kartu kredit mama kok, tenang aja!" jawab Dimas.


"Bawa kartu kredit mama? kenapa?"


"Kan aku nggak bawa dompet sayang, jadi aku minta uang ke mama sebelum kita keluar tadi, hehe...."


Dini hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Dimas. Bagaimana mungkin seorang Dimas yang merupakan calon CEO perusahaan besar masih meminta uang pada sang mama.


"Lain kali aku nggak mau kamu kayak gini lagi ya!" ucap Dini dengan menatap Dimas tajam.


"Kayak gini gimana?" tanya Dimas tak mengerti.


"Aku nggak mau kamu pinjem uang mama, apa lagi cuma buat keluar sama aku!"


"Aku terpaksa sayang, aku nggak punya pilihan lain," balas Dimas membela diri.


"Kan ada aku, kamu lupa?"


"Iya aku minta maaf, aku nggak akan gitu lagi," ucap Dimas dengan mencium kening Dini lalu menggandeng tangannya untuk diajak masuk ke dalam.


Merekapun menikmati makanan Jepang pesanan mereka. Setelah selesai, merekapun meninggalkan tempat itu.


"Dimas, gimana kalau besok kita liburan?"


"Boleh, liburan kemana?"


"Mmmmm.... belum tau, tapi ajak Andi sama Anita juga," jawab Dini yang membuat Dimas cukup terkejut.


"Andini, kamu kan tau aku....."


"Aku cuma mau kasih liat dia kalau aku sama kamu nggak akan goyah cuma karena dia," ucap Dini memotong ucapan Dimas.


Dimas hanya diam dengan memandang jalan di hadapannya.


"Dia kasih tau aku kalau dompet kamu ketinggalan dan dia kirimin aku foto selfie nya waktu di kamar kamu," ucap Dini yang membuat Dimas kembali terkejut.


"Kenapa kamu nggak bilang sama aku?"


"Dia kirim foto itu sebelum kamu cerita tentang Anita di dermaga tadi, aku sengaja nggak bilang kamu karena aku mau kamu cerita duluan sama aku," jawab Dini menjelaskan.


"Dia pasti mau bikin kita berantem lagi, dia pasti sengaja kirim foto itu biar kamu salah paham," ucap Dimas kesal.


"Itu dia Dimas, aku nggak mau dia ngelakuin itu lagi, aku mau dia berhenti ganggu kamu dan bikin kita berantem, kita tunjukin sama dia kalau apa yang dia lakuin itu percuma biar dia berhenti ngelakuin hal nggak berguna kayak gitu!"


"Dengan cara liburan bareng?"


"satu hal yang nggak kamu tau kenapa aku nggak mau kita liburan bareng, aku nggak mau kamu cemburu karena liat Anita deketin Andi, aku nggak mau kamu cemburu liat kedekatan mereka Andini," batin Dimas dalam hati.


"Oke, setelah anter kamu pulang, aku akan temuin Andi buat bicarain ini," balas Dimas yang membuat Dini bersorak senang.


Dimas hanya tersenyum tipis dan mengusap rambut Dini. Ia tidak akan membiarkan dirinya egois, ia tidak akan memberikan Dini kesempatan untuk merasakan cemburu pada kedekatan Anita dan Andi.


Setelah mengantar Dini, Dimas lalu membawa mobilnya ke arah rumah Andi, lebih tepatnya ke rumah mama Siska.


Ia sudah menghubungi Andi sebelumnya untuk memastikan keberadaan Andi.


Sesampainya di rumah mama Siska, Dimas segera keluar dari mobilnya dan menghampiri Andi yang sudah menunggunya di teras.


"Tumben, ada apa?" tanya Andi.


"Apa gue harus punya alasan buat ke sini?" balas Dimas bertanya.


"Gue kenal lo Dim, lo nyamperin gue ke rumah cuma kalau ada butuhnya aja!" jawab Andi.


"Hehe.... bener banget," balas Dimas terkekeh.


"Ada apa?" tanya Andi.


"Andini ngajak liburan," jawab Dimas.


"Bukannya kalian abis liburan ke luar negri?"


"Iya, sekarang dia ngajak kita liburan berempat," jawab Dimas.


"Berempat? sama siapa?"


"Sama gue?" sahut Adit yang tiba tiba datang dan duduk di antara Andi dan Dimas.


"Lo kenapa hobi banget ganggu sih?" tanya Andi dengan mendorong Adit agar menjauh.


"Bukannya lo udah liburan ke Singapura sama Jenny?" sahut Dimas.


"Jenny? ke Singapura?" tanya Andi pada Adit.


"Lo sok tau banget sih, siapa yang ke Singapura sama Jenny?" balas Adit pada Dimas.


"Gue liat lo makan malem sama Jenny, cewek jahat yang....."


"Sssstttt..... lo nggak tau apa apa diem aja!" ucap Adit memotong ucapan Dimas.


"Jadi lo ke Singapura sama Jenny juga?" tanya Andi pada Adit.

__ADS_1


"Enggak, gue nggak sama Jenny!" jawab Adit.


"Lo percaya sama gue kan Ndi? gue liat sendiri mereka lagi makan malem romantis di sana!" sahut Dimas.


"Gue kakak lo, lo pasti percaya sama gue kan?" sahut Adit.


Andi lalu menggeser duduknya dan menepuk pundak Dimas.


"Gue percaya sama lo," ucap Andi pada Dimas.


"Oke, kalau lo nggak percaya nggak papa," balas Adit lalu melangkah pergi.


"Lo hutang penjelasan sama gue atau gue kasih tau mama rahasia lo!" ucap Andi setengah berteriak yang membuat Adit segera kembali dan menutup mulut Andi dengan tangannya.


"Gue akan cerita semuanya, oke?"


"Oke, sekarang jangan ganggu gue," balas Andi lalu mendorong Adit menjauh.


"Dasar adik lucknut," gerutu Adit sambil berjalan meninggalkan Andi dan Dimas.


"Oke, balik ke topik awal, Andini ngajak kita liburan berempat, gue, Andini, lo dan Anita," ucap Dimas pada Andi.


"Anita? lo serius?" tanya Andi tak percaya.


Dimas hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Andi.


"Lo nggak keberatan liburan sama Anita?" tanya Andi, karena ia tau bagaimana Dimas sangat tidak menyukai Anita.


"Gue nggak bisa nolak permintaan Andini," jawab Dimas memberi alasan.


"Oke, nanti gue kasih tau Anita," balas Andi.


"ada untungnya juga alau Anita mau diajak liburan, itu artinya dia bakalan keluar dari apartemen ku, jadi aku nggak perlu ragu buat balik ke sana lagi," batin Dimas dalam hati.


"Gimana clothing arts lo?" tanya Dimas pada Andi.


"Mungkin Minggu depan udah bisa nempati gedung baru," jawab Andi.


"Setelah lo nempati gedung baru, serahin berkas berkasnya sama papa, biar papa yang urus semuanya," ucap Dimas.


"Gue udah banyak ngrepotin om Tama Dim!"


"Papa nggak ngerasa direpotin kok, gimanapun juga gue sama papa harus bertanggung jawab karena gue ninggalin bisnis kita karena perjanjian gue sama papa," balas Dimas.


"Thanks banget Dim, banyak hal yang udah gue pelajari dari lo selama kita kerja sama," ucap Dimas.


"Tapi lo nggak belajar cara dapetin Andini kan?" tanya Dimas bercanda.


"Itu juga udah gue pelajari diem diem," jawab Andi yang tampak serius.


"Lo jangan bercanda!"


Andi hanya diam dengan menatap taman bunga di hadapannya.


"Tapi gue yakin Andini nggak akan berpaling dari gue," ucap Dimas yang tampak yakin namun sebenarnya ragu.


"Lo bilang yakin tapi wajah lo tegang banget hahaha...."


"Ndi, lo....."


"Gue bercanda Dim, lo masih aja takut!"


"karena gue tau ada lo di hati Andini, ada lo yang bisa sewaktu waktu geser posisi gue di sana," batin Dimas dalam hati.


"Karena dia juga sayang sama lo," ucap Dimas.


"Sayangnya sebagai sahabat," balas Andi.


Dimas hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun.


"Dini bahagia sama lo Dim dan itu udah cukup buat gue," ucap Andi yang mulai serius.


"Lo yakin?"


"Gue yakin, gue cuma mau Dini bahagia, gue bukan mau milikin dia seutuhnya kayak yang lo mau, gue cuma mau dia bahagia walaupun bahagianya bukan sama gue," jawab Andi.


"Cinta lo terlalu besar buat seseorang yang udah milih orang lain Ndi," ucap Dimas.


"Gue nggak peduli Dim, cinta itu udah ada di hati gue jauh sebelum lo dateng, jadi gue udah terbiasa hidup sama cinta yang nggak bisa gue miliki," balas Andi.


"Buka hati lo buat cewek lain Ndi, lupain Andini yang......"


"Jangan minta gue buat lupain Dini Dim, ini bukan cuma tentang cinta, tapi dia sahabat gue, dia bagian terpenting dalam hidup gue, 25 tahun gue jalani hidup gue sama dia dan lo nggak bisa minta gue buat lupain dia gitu aja!" ucap Andi yang mulai tampak emosi.


"Sorry Ndi, gue cuma nggak mau lo berharap sama sesuatu yang akan nyakitin lo!"


"Gue nggak berharap apa apa selain kebahagiaan Dini," ucap Andi dengan tegas.


"Tapi lo juga harus buka hati lo buat cewek lain Ndi!"


"Gue udah coba dan sia sia, gue cuma nyakitin seseorang yang udah kasih hatinya buat gue," balas Andi.


"Aletta?" tanya Dimas.


Andi menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Dia cewek yang baik Dim, dia dewasa dan mengerti gue, mungkin gue suka sama dia, gue seneng bisa ngabisin waktu sama dia, tapi gue nggak bisa bener bener jatuh cinta sama dia, semakin lama gue sama dia, gue cuma akan nyakitin dia," jawab Andi.


__ADS_2