
Cinta tak pernah salah, ia datang dan pergi tanpa permisi. Hanya saja terkadang seseorang tidak bisa membedakan antara ambisi dan cinta yang sejati.
Anita masih menunggu Dimas, tak peduli berapa lamapun ia akan duduk di sana menunggu.
"Anita, kamu ngapain di sini?" tanya mbak Dewi yang baru pulang dari rumah sakit.
"Anita nunggu Dimas mbak," jawab Anita.
"Ayo pulang, mbak yakin kamu udah lama duduk di sini!" ucap Dewi dengan menarik tangan Anita.
"Harusnya dia udah pulang dari tadi mbak," balas Anita tak bersemangat.
"Kamu boleh cinta sama Dimas, tapi jangan bodoh, berhenti mengejar cinta yang nggak pernah bisa kamu dapatkan!" ucap Dewi mengingatkan.
Anita hanya diam mengikuti Dewi berjalan.
"Mbak mau mandi dulu, kamu jangan kemana mana!" ucap Dewi lalu berjalan ke kamarnya.
"Apa yang harus Anita lakuin mbak?" tanya Anita dengan mata berkaca-kaca.
Dewi yang hendak mandi pun mengurungkan niatnya, ia kembali keluar dari kamar dan menghampiri Anita yang duduk merenung di depan tv.
"Lupakan Dimas Nit, jangan hanya terpaku sama cinta yang nggak pernah bisa kamu miliki, buka mata dan hati kamu buat laki laki lain," ucap Dewi pada Anita.
"Anita udah coba, tapi pada akhirnya Anita tetap kembali sama Dimas mbak, Dimas nggak bisa pergi gitu aja dari hidup Anita," balas Anita dengan menghapus air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.
"Apa kamu nggak ingat kejadian di Singapura dulu? dia bahkan nggak bisa cinta sama kamu walaupun kamu udah memanipulasi ingatannya!"
"Itu karena dia masih ingat Dini dan ragu sama Anita."
"Enggak, itu karena dia cuma cinta sama Dini dan dia nggak punya perasaan apapun sama kamu, sadar Anita kamu nggak bisa memaksakan cinta kamu untuk berbalas!"
"Anita cuma perjuangin apa yang harus Anita dapatkan mbak!"
"Percuma Anita, itu akan semakin menyakiti kamu, jadi berhenti berjuang untuk sesuatu yang sudah pasti tidak akan kamu dapatkan!" ucap Dewi lalu pergi meninggalkan Anita.
Sedangkan Anita hanya duduk dengan memeluk kedua kakinya. Ia menangis dalam kesedihan hatinya yang terlalu lama terluka.
"mulai semuanya dari awal."
Ucapan Ivan kembali terngiang di telinga Anita, membuat Anita semakin larut dalam kesedihannya.
Ia merutuki dunia yang sedang dipijaknya saat itu. Ia merasa dunia tak pernah berpihak kepadanya. Saat ia baru saja menemukan seseorang yang selalu mengerti dirinya, Tuhan mengambilnya dengan cepat tanpa membiarkan ia merasakan bahagianya.
"gimana aku harus memulai semuanya Ivan? semuanya udah hancur, semuanya udah jauh dari jalan yang aku harapkan," batin Anita dengan terisak.
Langit malam menghembuskan angin dinginnya. Membelai dan memeluk Anita dengan rasa dingin yang menyelimutinya. Membekukan kesedihan dalam hati yang tak pernah ia tau akan kapan mencair dan berubah menjadi kebahagiaan.
Anita memejamkan matanya, hanya gelap yang ia lihat. Namun ada Dimas dalam pikiran dan hatinya. Sejauh apapun ia melangkah, berapa kalipun ia coba pergi, bayangan sikap manis Dimas padanya tidak akan pernah hilang.
Laki laki yang tanpa sadar telah menjatuhkan benih cinta dalam hati Anita itu tak pernah berniat untuk menaburkannya, apa lagi merawat cinta itu dengan penuh kasih sayang seperti yang Anita harapkan.
Anita tau, bagi Dimas tak ada perempuan satupun yang bisa mengalahkan Dini dalam hidupnya. Tapi rasa yang Anita anggap cinta itu hanya memandang Dimas sebagai masa depan yang harus ia memiliki, bagaimanapun caranya.
**
Di rumah Dini, Dimas masih menikmati nasi goreng buatan Dini yang tentu saja tanpa telur mata sapi.
Meski rasa nasi goreng buatan Dini terlalu asin, Dimas masih menikmatinya dengan lahap. Ia tidak ingin mengecewakan gadis yang dicintainya itu.
Saat Dini akan menyendok nasi goreng buatannya, Dimas menahannya. Ia tidak ingin Dini merasakan nasi goreng yang terlalu asin itu.
"Jangan, aku udah pesen makanan buat kamu," ucap Dimas dengan mengambil sendok dari tangan Dini.
"Kenapa pesen makanan? kita bisa makan nasi goreng ini berdua kan?"
"Porsinya terlalu sedikit Andini, aku laper!" jawab Dimas memberi alasan.
"Aku juga laper, makanya aku masak!"
"Tahan sayang, sebentar lagi makanan kamu dateng!" ucap Dimas mengusap kepala Dini.
Benar saja, tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu. Dini segera membuka pintu dan makanan yang dipesan Dimas telah datang.
Satu porsi nasi dengan ayam bakar lengkap dengan sambal dan lalapan, cukup untuk membuat Dini kenyang malam itu.
"Kamu mau tuker nggak?" tanya Dini pada Dimas.
"Enggak, buat kamu aja," jawab Dimas.
Setelah selesai makan, Dimas membuka kulkas Dini dan mengambil timun yang ada di dalamnya.
"Sayang, aku ambil ini ya!" ucap Dimas pada Dini dengan menunjukkan timun yang ia pegang.
"Buat apa?"
"Dimakan lah," jawab Dimas.
"Ambil aja, tapi kenapa kamu makan timun malem malem?"
"buat netralisir nasi goreng kamu yang terlalu asin, aku nggak mau darah tinggi cuma karena nasi goreng hehe," batin Dimas dalam hati.
"Nggak papa, suka aja," jawab Dimas.
Dini hanya menganggukkan kepalanya. Setelah selesai makan, mereka lalu ke kamar mandi untuk gosok gigi dan mencuci kaki sebelum masuk ke kamar.
"Kamu yakin mau tidur di sini?" tanya Dini pada Dimas.
"Yakin, kenapa?"
"Kamarku kecil, nggak kayak kamar kamu," jawab Dini.
"Yang penting ada kamu di sampingku," balas Dimas.
__ADS_1
"Kamu tidur di bawah Dimas, aku di atas!"
"Kok gitu?"
"Apa aku yang harus di bawah, kamu di atas?"
"Ya jangan, ya udah aku aja yang di bawah," balas Dimas mengalah.
Dini hanya terkekeh, lalu masuk ke dalam selimutnya.
"Tapi aku belum mau tidur, nggak papa kan aku di sini?" tanya Dimas dengan menepuk ranjang Dini.
Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu menarik tangan Dimas.
Dimaspun menaiki ranjang Dini dan duduk di samping Dini.
"Sayang, kamu nggak nanya gimana hasil meetingnya?" tanya Dimas.
"Aku pingin tau sih, tapi aku nunggu kamu cerita aja," jawab Dini.
"Kenapa? kamu tanya dong!"
"Ya udah, gimana hasil meetingnya tadi?" tanya Dini.
"Apa kamu akan kecewa kalau aku gagal?"
"Enggak dong, apapun hasilnya aku nggak akan kecewa karena aku tau kamu udah berusaha dengan sangat baik, kalaupun hasilnya belum sesuai dengan apa yang kamu harapkan, itu bukan berarti kamu gagal selamanya kan? masih banyak waktu buat memperbaiki kesalahan Dimas, jangan khawatir," jawab Dini.
"Bijak banget sih tunangan ku ini," ucap Dimas dengan mencubit hidung Dini.
"Jadi gimana hasilnya?" tanya Dini pemasaran.
"I got it," jawab Dimas dengan senyumnya.
"Really?" tanya Dini tak percaya.
Dimas menganggukkan kepalanya dengan yakin.
Dini lalu memeluk Dimas dengan erat. Ia yakin Dimas akan berhasil dan keyakinannya sekarang terbukti.
"Jadi kamu dapet promosi buat naik jabatan?" tanya Dini menyakinkan.
"Iya, mulai bulan depan aku udah punya ruangan sendiri, manajer pemasaran," jawab Dimas dengan percaya diri.
"Selamat Dimas, aku tau kamu pasti bisa," ucap Dini dengan penuh rasa bangga.
Dimas lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dini dan menggenggam kedua tangan Dini.
"Semua ini berkat kamu Andini, kamu yang selalu support aku, kamu yang udah banyak bantuin aku siapin materi itu," ucap Dimas lalu mencium tangan Dini.
"Aku cuma bantu semampu aku, keberhasilan kamu karena kerja keras kamu Dimas," balas Dini lalu kembali memeluk Dimas.
"Oh ya, besok ulang tahun Anita, dia minta aku sama Andi dateng ke kafe deket sini, kamu ikut ya!" ucap Dini lalu melepas pelukannya pada Dimas.
"Tapi dia minta aku buat ngajak kamu," ucap Dini.
"Aku nggak mau ketemu dia lagi Andini, aku nggak mau berhubungan sama dia lagi, entah sebagai teman atau apapun, aku nggak mau," balas Dimas.
"Jangan terlalu benci sama dia Dimas," ucap Dini.
"Semua yang udah dia lakuin itu kelewatan Andini, cuma orang jahat yang ngelakuin hal itu, lagian kamu sama Andi kenapa percaya aja sih sama dia!"
"People change Dimas, kamu tau itu!"
"Tapi itu nggak berlaku buat Anita sayang, dia nggak akan berubah semudah itu!"
"That's the point, dia nggak akan berubah dengan mudah, dia perlu bantuan kita, dia perlu teman buat dampingin dia berubah menjadi lebih baik," balas Dini.
"Nggak semua kebaikan yang kita berikan akan dibalas dengan kebaikan Andini," ucap Dimas lalu turun dari ranjang Dini.
Sebelum Dimas membuka pintu kamar Dini, Dini memeluknya dari belakang.
"Jangan pergi," ucap Dini.
"Berhenti bahas dia di depanku Andini, kamu nggak akan tau seberapa besar kebencian ku sama dia," ucap Dimas.
"Aku minta maaf, aku nggak akan bahas dia lagi," balas Dini dengan semakin erat memeluk Dimas.
Dimas lalu berbalik dan memeluk Dini beberapa saat sebelum ia menggendong Dini dan menjatuhkannya di ranjang.
"Kamu nggak takut satu kamar sama aku?" tanya Dimas dengan senyum nakalnya.
"Kita kan udah pernah beberapa kali, he.. he.." jawab Dini dengan tersenyum canggung, ia suduh cukup dewasa untuk mengerti pertanyaan Dimas yang sebenarnya.
"Apa menurut kamu aku bisa menahannya?" tanya Dimas dengan mencengkeram kuat kedua tangan Dini.
"Dimas, aku......"
Dini menghentikan ucapannya saat sebuah kecupan singkat mendarat di bibirnya.
"Tangan aku sakit," ucap Dini dengan sedikit menarik tangannya yang dicengkeram oleh Dimas.
Seketika Dimas segera melepaskan tangan Dini dan menjatuhkan badannya di sebelah Dini.
"Maaf sayang," ucap Dimas.
"Nggak papa," jawab Dini dengan menggenggam tangan Dimas.
"Apa sakit banget?" tanya Dimas dengan mengusap pelan tangan Dini.
"Enggak kok, aku sebenarnya mau bilang kalau aku lagi ada 'tamu'," jawab Dini.
"Tamu?" tanya Dimas yang segera berdiri dan merapikan pakaiannya.
__ADS_1
"Siapa yang bertamu malem malem gini Andini?" tanya Dimas.
Dini hanya terkekeh, lalu menarik Dimas agar kembali berbaring di ranjangnya.
"Kamu ngerjain aku ya!"
"Enggak, aku emang ada tamu, tamu 'bulanan'," balas Dini dengan mengerlingkan matanya.
Dimas lalu menepuk jidat Dini dan mencubit kedua pipi Dini dengan gemas.
"Kenapa kamu kasih tau aku itu? emang kamu pikir aku mau ngapain?" tanya Dimas menggoda.
"Kamu..... mungkin.... kamu...."
"Aku tidur di bawah aja deh, aku takut kamu ngapa-ngapain aku," ucap Dimas lalu menggelar tikar dan membaringkan badannya di atas tikar.
Dini hanya menutup kedua matanya dan memukul pelan kepalanya.
"bodoh banget sih Din, kamu pikir Dimas mau ngapain? kotor banget pikirannya!" ucap Dini merutuki dirinya sendiri.
"Tidur sayang, udah malem," ucap Dimas dari bawah.
"Iya, kamu juga," balas Dini lalu segera memasukkan seluruh badannya ke dalam selimut.
Ia sangat malu pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa lama terpejam, Dini terbangun karena haus. Ia lupa belum membawa air minum ke dalam kamarnya, alhasil ia pun keluar untuk mengambil minum.
"lampu ruang tamu masih nyala? apa aku lupa matiin?" tanya Dini dalam hati sambil berjalan ke arah ruang tamu berniat untuk mematikan lampunya.
Namun ia begitu terkejut melihat Dimas yang tertidur di sofa. Dinipun segera menghampiri Dimas.
"Dimas bangun," ucap Dini dengan menyentuh tangan Dimas.
"Ada apa Andini?" tanya Dimas tanpa membuka matanya.
"Kenapa kamu tidur di sini?"
"Punggung ku sakit kalau harus tidur di lantai," jawab Dimas masih dengan mata terpejam.
"Tidur di ranjang aja kalau gitu, jangan di sini," ucap Dini dengan menarik tangan Dimas.
Dengan mata yang masih terpejam, Dimas berjalan mengikuti Dini dan berbaring di ranjang bersama Dini sampai pagi.
**
Pagi hari di rumah mama Siska. Adit dan Andi baru saja pulang dari bersepeda. Mereka sedang duduk di lantai teras rumah.
"Infused water kesukaan kamu," ucap mama Siska sambil memberikan satu botol infused water pada Adit.
"Makasih ma," balas Adit lalu mencium pipi mamanya.
"Kamu keringatan, jangan cium mama ih!" ucap mama Siska dengan memukul pelan lengan Adit.
"Buat kamu juga, cobain," ucap mama Siska sambil memberikan infused water pada Andi.
Dengan ragu Andi menerimanya dari sang mama.
"Enak kok, cobain aja, seger banget apalagi kalau sambil liat senyumnya mama," ucap Adit dengan menggoda sang mama.
Mama Siska hanya tersenyum malu dan kembali memukul lengan Adit.
Tak lama kemudian seseorang datang mencari Adit, Adit pun segera menghampiri seseorang itu lalu kembali dengan membawa sebuah map.
"Ndi, ikut gue!" ucap Adit lalu masuk ke dalam rumah.
"Ngapain?" tanya Andi.
Adit hanya mengangkat map yang ia pegang dan berjalan ke arah kamarnya.
Andipun segera mengikuti Adit ke kamarnya.
"Buat lo," ucap Adit sambil memberikan map itu pada Andi.
Andi lalu membuka map itu dan membaca berkas yang ada di dalamnya.
"Lo beli gedung yang gue ceritain kemarin?" tanya Andi tak percaya.
"Anggap aja itu hadiah dari gue," jawab Adit dengan memberi Andi sebuah pena.
"Lo tinggal tanda tangan, gue udah urus semuanya," ucap Adit.
"Lo serius? harganya nggak masuk akal Dit, kenapa lo mau beli gedung itu?"
"Karena cuma gedung itu yang lo mau, iya kan?"
"Tapi.... gue...."
"Tanda tangan aja!" ucap Adit dengan membawa tangan Andi ke atas berkas yang harus Andi tanda tangani.
Tanpa ragu Andi lalu menandatangani berkas itu dan memeluk Adit.
"Makasih Dit, makasih banget," ucap Andi yang begitu bahagia.
"Jangan ragu buat minta tolong apapun sama gue, gimanapun juga kita ini keluarga, udah seharusnya kita saling membantu," ucap Adit dengan melepaskan dirinya dari pelukan Andi.
"Makasih, kak Adit," ucap Andi dengan menundukkan kepalanya karena malu dengan apa yang ia ucapkan.
"Apa? gue kayaknya salah denger, coba diulangi!" ucap Adit dengan mendekatkan telinganya ke arah Andi.
"Kak Adit, makasih," ucap Andi lalu menutup kedua matanya karena benar benar malu.
Adit hanya terkekeh lalu memeluk adiknya itu.
__ADS_1