
Mentari pagi membawa kehangatan dan semangat bagi Dini untuk kembali sibuk dengan rutinitasnya sebagai pegawai di perusahaan besar milik papa Dimas.
Setelah mengantarkan Dini, Dimas segera pergi ke tempat kerjanya. Sedangkan Dini menghubungi Andi terlebih dahulu, mengabarinya jika ia sudah berangkat bersama Dimas.
"Dini!" panggil Cika setelah ia turun dari mobil.
Dini menoleh dan melambaikan tangannya pada Cika.
Mereka lalu masuk dan duduk di tempat mereka masing masing.
**
Di tempat lain, Andi sampai ke home store nya ketika Dimas sedang bersih bersih.
"Gue telat apa lo yang kepagian Dim?" tanya Andi dengan menaruh tasnya di atas meja kerjanya.
"Gue emang sengaja berangkat pagi buat jemput Andini," jawab Dimas.
"Oohh," balas Andi sambil mengangguk anggukkan kepalanya.
Sesaat kemudian Dimas ingat jika Andi memberi tahu Dini tentang klien mereka yang sering membawakan makanan untuk Dimas. Ide jahil untuk balas dendam pun muncul dalam otak Dimas.
Dimas segera masuk ke dapur dan membawakan dua gelas minuman hangat untuknya dan juga Andi.
"Gimana klien kemarin Dim?"
"Udah fix, gue juga udah bikin berkasnya, nih!" jawab Dimas sambil memberikan sebuah map pada Andi.
Andi membaca isi map itu sambil menyeruput minuman buatan Dimas, seketika itu juga ia menyemburkan minuman yang baru menyentuh lidahnya.
"Lo racunin gue Dim?" ucap Andi dengan berlari ke dapur mengambil air putih dan meminumnya dengan cepat.
"Hahaha..... sorry Ndi, gue nggak bisa bedain gula sama garam hahaha......."
"Sialan lo!" balas Andi dengan memukul Dimas menggunakan map.
"Itu karma buat cowok yang mulutnya ember, nggak bisa jaga rahasia!"
"Soal mbak Gita?" tanya Andi yang menyadari kesalahannya.
"Emang ada yang lain lagi? gue tendang lo ya sampe ngomong macem macem sama Andini!"
"Nggak ada, gue cuma bilang soal mbak Gita aja, lagian gue juga terpaksa bilang soal mbak Gita sama Dini!"
"Terpaksa? kenapa?"
"Dia kayaknya ada masalah, tapi dia nggak mau cerita sama gue, dia cuma nangis dan......"
"Dan peluk lo?" tanya Dimas memotong ucapan Andi.
Andi menoleh cepat dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, meski bukan itu yang akan Andi ucapkan, namun ucapan Dimas memang benar adanya.
"Gue udah biasa liat kalian pelukan Ndi, gue udah biasa liat kedekatan kalian, walaupun gue masih cemburu tapi gue nggak masalahin hal itu, gue percaya sama kalian!"
Andi hanya tersenyum canggung menanggapi ucapan Dimas.
__ADS_1
"Dia beruntung karena ada lo yang bisa nemenin dia waktu gue nggak ada," lanjut Dimas.
"Tapi dia nggak mau cerita masalahnya sama gue Dim dan kalau gue liat, kalian nggak lagi berantem," ucap Andi.
"Dia udah cerita sama gue, masalahnya ada sama ibunya," balas Dimas.
"Ibunya Dini? kenapa?"
"Nggak tau kenapa ibunya minta Andini buat jauhin gue dan resign dari kantor," jawab Dimas yang membuat Andi begitu terkejut.
"nggak tau kenapa ibu lebih percaya kalau Dini sama kamu daripada sama Dimas,"
Ucapan ibu Dini kemarin kembali terngiang di telinganya, membuat Andi mengerti kenapa tiba tiba ibu Dini mengatakan hal itu.
"Gue nggak tau kenapa, Andini juga nggak tau kenapa ibunya tiba tiba kayak gitu dan yang gue liat, ibunya lebih nerima lo daripada gue sekarang," ucap Dimas dengan senyum yang sulit diartikan.
"Jangan salah paham Dim, gue udah kenal Dini dan ibunya dari kecil jadi wajar kalau gue deket sama ibunya, tapi bukan berarti ibunya lebih nerima gue daripada lo!"
"Mungkin cuma perasaan gue aja," balas Dimas lalu beranjak dari duduknya.
"Selesaiin semuanya baik baik Dim, gue yakin akan ada jalan keluar!" ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dimas.
**
Jam makan siang telah tiba, Dini sudah bersiap merapikan tugasnya, menyimpan file yang sedikit lagi akan selesai ia kerjakan.
"Din, ini kamu kerjain ya, saya tunggu setelah makan siang!" ucap Kintan, sekretaris menejer Divisi Pemasaran.
Dini melihat jam di tangannya, 5 menit lagi jam makan siang dan ia harus menyelesaikan pekerjaannya setelah jam makan siang.
"Bisa mbak, bisa," jawab Dini dengan tersenyum.
"Makasih ya, kamu emang selalu bisa diandalkan!"
Dini hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu kembali sibuk dengan tugas barunya.
"Kerjaan lagi Din?" tanya Cika dengan berbisik.
Ya tempat duduk mereka berdekatan, membuat Dini sangat nyaman bekerja di sana karena ada satu teman dekatnya yang selalu menemaninya.
"Iya, kerjaan yang tadi pagi aja belum kelar," jawab Dini.
"Ada yang bisa gue bantu nggak?"
"Makasih Cik, aku bisa selesaiin sendiri," jawab Dini.
"Bentar lagi jam makan siang loh Din, kamu nggak makan siang?"
Dini menggeleng. Ia lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Dimas.
Makan siang nya lain kali ya, ada kerjaan yang aku harus aku selesaiin
Tak butuh waktu lama, Dimas membalas pesan Dini.
Aku kesana aja ya!
__ADS_1
Jangan, pulang kerja aja kamu jemput, gimana?
Oke
"Bukannya kamu mau makan siang sama Dimas ya?" tanya Cika.
"Cancel Cik, mau gimana lagi?"
"Semangat ya Din!"
Dini mengangguk lalu kembali sibuk dengan komputer dan berkas berkas di hadapannya.
**
10 menit sebelum jam pulang kerja, Dimas sudah menunggu Dini di lobby kantor papanya.
"Permisi mas, mau bertemu Bapak?" tanya seorang resepsionis pada Dimas.
"Oh enggak mbak, saya nunggu seseorang," jawab Dimas.
Tak lama kemudian seseorang yang ditunggunya datang. Dimaspun memamerkan senyum manisnya pada sang gadis.
"Dari tadi?" tanya Dini dengan menggandeng tangan Dimas, membuat Dimas sedikit terkejut.
Pasalnya, sejak pertama kali Dini bekerja di perusahaan papa Dimas, ia sengaja menyembunyikan hubungannya dengan Dimas dari para pegawai kantor.
Ia takut jika orang orang mengetahui hubungan mereka, mereka akan meremehkan kemampuan Dini karena mengira Dini bisa berada di perusahaan besar itu hanya karena statusnya sebagai tunangan dari anak sang pemilik perusahaan.
Namun setelah ia pikirkan baik baik, ia juga tak bisa membiarkan semua perempuan mendekati Dimas karena mengira Dimas sedang single.
"Baru aja," jawab Dimas dengan merapikan rambut Dini ke belakang telinga.
Melihat interaksi dua anak manusia itu, siapapun yang melihat akan dapat menyimpulkan jika mereka adalah sepasang kekasih.
Dini dan Dimas tidak mempedulikan banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka, mereka segera meninggalkan kantor dan pulang.
Sesampainya di rumah Dini, Dimas dan Dini segera masuk.
"Dini pulang bu!" ucap Dini sambil melangkah masuk bersama Dimas.
Melihat Dimas datang, ibu Dini beranjak dari duduknya berniat masuk ke kamar.
"Dimas kesini mau ketemu ibu!" ucap Dini berusaha menghentikan ibunya.
"Ibu capek, mau istirahat," jawab ibu Dini.
"Tante, Dimas ke sini cuma mau mastiin apa yang sebenarnya terjadi, Dimas....."
"Kamu pulang aja ya!" ucap ibu Dini lalu pergi ke kamarnya namun Dini menarik tangan ibunya.
"Kita bicarain baik baik bu, Dini mohon!"
"Dimas minta maaf kalau Dimas ada salah sama tante atau Dini, Dimas sama Dini juga butuh penjelasan tante, kita nggak bisa selesaiin hubungan kita tanpa alasan," ucap Dimas pada ibu Dini.
Ibu Dini hanya diam, ia tau bagaimana anaknya sangat mencintai laki laki di hadapannya itu, namun keputusannya tidak berubah. Dini harus meninggalkan Dimas.
__ADS_1