
Tooookkk Tooookkk Tooookkk
Suara ketukan pintu membuat Dini segera menghapus air matanya. Tak lama kemudian pintu terbuka dan sang ibu masuk ke kamar Dini.
Ibu Dini duduk di tepi ranjang Dini bersama Dini yang kini duduk di sebelah ibunya.
"Jangan disembunyikan Din, ada ibu di sini," ucap sang ibu sambil menggenggam tangan Dini.
Ia tau anak semata wayangnya itu sedang menyembunyikan kesedihannya.
Dini lalu mendekat dan menangis dalam pelukan ibunya.
"Andi pasti baik baik aja kan bu?" tanya Dini dengan terisak.
"Pasti, karena dia harus bertahan demi kamu," jawab ibu Dini sambil membelai rambut Dini.
"Dini nggak mau kehilangan Andi bu, Dini nggak mau Andi pergi ninggalin Dini," ucap Dini.
"Dia nggak akan pergi, dia akan selalu ada buat kamu karena ibu tau dia sangat menyayangi kamu, apa kamu juga sayang sama dia?"
Dini menganggukkan kepalanya pelan dalam pelukan sang ibu.
"Dini sayang sama Andi bu, banyak hal yang udah Dini lewati sama Andi, Dini nggak bisa bayangin gimana kehidupan Dini tanpa Andi."
"Kalau kamu sayang sama dia, kenapa kamu pilih Dimas? kenapa harus ada Dimas diantara kalian berdua?"
"Kenapa ibu tanya kayak gitu?" tanya Dini yang langsung melepaskan dirinya dari pelukan sang ibu.
"Ibu cuma nggak ngerti sama hubungan yang kalian sebut sahabat itu, yang ibu tau kalian saling menyayangi, saling peduli dan mungkin saling mencintai," jawab ibu Dini.
"Andi sahabat Dini bu, kita udah sama sama dari kecil, wajar kalau kita punya perasaan kayak gitu," ucap Dini.
"Apa kamu yakin kalau perasaan yang kamu punya itu sebatas sahabat? apa kamu juga yakin kalau Andi juga beranggapan sama seperti kamu?"
Dini diam beberapa saat. Entah kenapa pertanyaan sang ibu membuatnya berpikir.
"Kamu bahkan nggak bisa pilih antara Dimas dan Andi, kenapa? bukannya hati kamu memilih Dimas, kenapa kamu nggak bisa lepasin Andi?"
"Kenapa Dini harus dipaksa memilih bu? mereka punya tempatnya sendiri sendiri di hati Dini."
"Ibu harap kamu nggak salah ambil keputusan Din, ibu cuma mau kamu bahagia," ucap ibu Dini dengan membelai rambut Dini.
"Kamu istirahat dulu, jangan terlalu dipikirkan ucapan ibu," lanjut ibu Dini lalu keluar dari kamar Dini.
Dini lalu segera menarik selimut dan menenggelamkan kepalanya ke dalam selimut.
"kita sahabat kan Ndi? kamu juga setuju kan sama aku kalau kita sahabat?" batin Dini dalam hati.
**
Masih di malam yang sama. Dimas mengendarai mobilnya ke arah rumah. Ya, malam itu ia tidak akan kembali ke apartemennya. Ia akan kembali ke rumah sakit esok hari bersama Dini dan ibunya.
Sesampainya di rumah, Dimas segera menemui mama dan papanya yang sedang berada di ruang tengah.
"Malem ma, Pa!" sapa Dimas lalu mencium kening sang mama.
"Malem sayang, mama pikir kamu langsung balik ke apartemen," balas mama Dimas.
"Gimana keadaan Andi Dim?" tanya papa Dimas.
"Transplantasi ginjalnya lancar Pa, tapi Dokter masih pantau keadaannya buat pastiin ginjal barunya berfungsi dengan baik," jawab Dimas.
"Syukurlah kalau begitu, semoga semuanya baik baik aja," ucap papa Dimas.
"Papa udah kasih tau kepala divisi kan kalau Dimas besok nggak masuk kerja?" tanya Dimas memastikan.
"Udah, kamu tenang aja," jawab papa Dimas.
"Kenapa nggak masuk kerja? bukannya kamu mau cepet pindah?" tanya mama Dimas pada Dimas.
"Dimas mau nemenin Andini jagain Andi ma, Andi kan sahabat Dimas juga, Dimas nggak bisa tenang kalau nggak liat keadaannya langsung," jawab Dimas.
"Kamu yakin Andi temen kamu? kamu jangan berlebihan Dimas, orang yang kamu anggap sahabat itu bisa nusuk kamu dari belakang!"
"Mama kok ngomong gitu sih, Andi itu sahabat Andini ma, sahabat Dimas juga, kita......"
"Kamu yakin mereka bersahabat? bukannya mama nggak percaya sama Dini, tapi mama tau kalau Andi punya perasaan lebih sama Dini, kamu juga tau itu kan?"
"Dimas tau dan Dimas nggak mempermasalahkan itu selagi Andi masih menghargai posisi Dimas diantara mereka," jawab Dimas.
"Jangan buang waktu kamu buat hal nggak penting Dimas, kamu harus balik kerja biar cepet dapet promosi dan pindah ke sini!"
"Ma, apa nggak bisa sedikit berempati sama keadaan Andi sekarang?" sahut papa Dimas.
"Mama cuma nggak suka dia deket sama Dini Pa, mama....."
"Ma, Andi sahabat Andini, Dimas percaya sama mereka, sama kedekatan mereka, sama hubungan mereka, jadi tolong mama hargai itu dan jangan memperkeruh keadaan," ucap Dimas lalu segera meninggalkan mama dan papanya untuk naik ke kamarnya.
__ADS_1
"Dimas terlalu percaya sama Andi, papa juga, papa kan nggak tau kalau....."
"Papa tau, papa juga setuju sama Dimas, papa percaya sama Andi dan Dini," ucap papa Dimas lalu berdiri dari duduknya dan melangkah pergi.
"Papa mau kemana? mama belum selesai ngomong!"
"Ke ruang kerja ma," jawab papa Dimas setengah berteriak.
"Iiiissshhh, anak sama bapak sama aja!" gerutu mama Dimas dengan mendengus kesal.
Di dalam kamar, Dimas mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Dini.
Sayang, udah tidur?
Sampai 10 menit berlalu, Dini belum membalas pesannya. Dimas lalu menaruh ponselnya, memejamkan matanya dan tiba tiba mengingat kejadian saat ia mengantarkan Dini pulang tadi, saat dia akan memeluk Dini namun Dini menolaknya.
"apa kamu sesedih itu Andini? apa kamu sebegitu takutnya kehilangan Andi? apa seberharga itu dia buat kamu?" tanya Dimas dalam hati.
**
Pagi telah datang menyambut hari baru. Adit masih menemani sang mama di ruang rawat.
Tak lama kemudian mamanya mengerjap, jari jarinya mulai bergerak pelan.
"Mama!"
"Adit, gimana keadaan Andi sayang?" tanya mama Siska khawatir.
"Transplantasi nya berjalan lancar ma, Dokter masih harus pantau keadaan Andi sampai dokter yakin kalau transplantasi ginjal yang dia lakukan nggak menyebabkan komplikasi ginjal."
"Mama mau ketemu dia sayang, boleh Kan?"
"Jangan dulu ma, keadaan mama juga belum stabil, mama baru boleh keluar dari sini 5 hari lagi," cegah Adit.
"5 hari? itu terlalu lama Adit, mama cuma mau liat keadaannya!"
"Adit mengerti ma, tapi mama juga nggak bisa bahayain diri mama sendiri, mama harus tetap sehat biar bisa ketemu Andi!"
"Tapi Dit...."
"Ma, Adit mohon, ini bukan saat yang mudah buat Adit liat mama sama Andi terbaring di ranjang rumah sakit," ucap Adit memohon.
"Baiklah kalau begitu, mama akan tetep di sini, mama akan ikuti perkataan Dokter," ucap mama Siska menyerah.
Adit hanya tersenyum dengan menggenggam tangan sang mama.
"Syarat apa ma?"
"Kamu harus tetep kerja, oke?"
"Adit mau jagain mama di sini ma, mama....."
"Biar pak Lukman yang jagain mama, kamu harus tetep pergi ke kantor sayang, kamu nggak bisa ninggalin kantor terlalu lama!"
"Tapi mama harus janji ya, mama harus ikuti apa kata Dokter, mama nggak boleh kemana mana sebelum Dokter izinin mama!"
"Iya sayang, mama akan ikuti ucapan Dokter."
Pada akhirnya Adit mengalah, ia meninggalkan rumah sakit dan meminta Pak Lukman untuk menjaga sang mama.
Tak lama setelah Adit pergi, Dimas, Dini dan ibunya tiba di rumah sakit. Mereka segera menemui orang tua Andi.
"Gimana keadaan Andi tante?" tanya Dimas pada ibu Andi.
"Dokter masih terus pantau dia, kita cuma bisa menunggu kapan dia akan sadar," jawab ibu Andi.
"Andi pasti kuat, dia pasti bisa bertahan, kamu harus yakin!" ucap ibu Dini berusaha menguatkan ibu Andi.
Ibu Andi hanya menganggukkan kepalanya. Ia hanya bisa berharap semuanya akan kembali baik baik saja seperti semula.
Setelah mengetahui keadaan Andi, Dini segera menghampiri ruangan mama Adit.
"Dimas, aku mau ke ruangan mama Siska, kamu mau ikut?" tanya Dini pada Dimas.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Dini berjalan menyusui lorong untuk menemui mama Siska.
"Pak Lukman, saya boleh ketemu mama Siska?" tanya Dini pada Pak Lukman yang duduk di depan ruangan mama Siska.
"Silakan," jawab Pak Lukman.
Dini dan Dimaspun memasuki ruangan mama Siska.
"Dini, kamu di sini?" tanya mama Siska yang melihat Dini masuk ke ruangannya.
"Iya ma, Dini sama Dimas, gimana keadaan mama?"
"Mama baik baik aja sayang, gimana keadaan Andi? dia juga baik baik aja kan?"
__ADS_1
"Andi masih belum sadar ma, Dokter masih terus pantau keadaan Andi, kita cuma bisa berdo'a biar Andi cepat sadar," jawab Dini.
Mama Siska hanya terdiam mendengar jawaban Dini. Dalam hatinya ada rasa bersalah atas apa yang terjadi pada Andi. Ia membenarkan ucapan ibu Andi, jika saja ia tidak ke rumah Andi malam itu, Andi tidak akan mengalami kecelakaan parah seperti saat itu.
"Ma, jangan pikirin hal lain selain kesembuhan mama, Dokter bilang 5 atau 7 hari lagi mama udah bisa keluar dari sini kalau keadaan mama semakin baik," ucap Dini pada mama Siska.
Mama Siska hanya mengangguk, air mata sudah menggenang di kedua sudut matanya.
"Kak Adit ke kantor ma?" tanya Dini berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Iya sayang, mama minta dia ke kantor," jawab mama Siska.
Merekapun berbincang bincang beberapa lama. Mama Siska juga menanyakan beberapa hal pada Dimas.
Tak lama kemudian Dokter datang dan memeriksa keadaan mama Siska. Setelah minum obat, mama Siska mulai mengantuk dan tertidur.
Dini dan Dimaspun keluar dari ruangan mama Siska.
"Kamu deket banget ya sama Adit dan mamanya?" tanya Dimas pada Dini.
"Kak Adit udah anggap aku adiknya sendiri dan mama emang udah baik banget dari awal ketemu, mereka keluarga yang hangat Dimas," jawab Dini.
"Apa aku boleh cemburu?"
Dini lalu menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Dimas.
"Aku minta maaf kalau kedekatan aku sama kak Adit bikin kamu cemburu, apa kamu mau aku resign dari perusahaan kak Adit?"
Dimas menggeleng lalu menggandeng tangan Dini dan melanjutkan langkah mereka.
"Aku percaya sama kamu Andini," ucap Dimas dengan senyum manisnya.
"Makasih Dimas," balas Dini.
Mereka lalu kembali menemani orang tua Andi dan ibu Dini di depan ruangan Andi.
**
Waktu berlalu terasa begitu lambat namun tak bisa berhenti berjalan. Detik jam masih berputar, meninggalkan waktu yang telah berlalu.
Adit masih berada di kantornya dengan berbagai pekerjaan yang sudah menumpuk di hadapannya.
Setengah konsentrasi nya hilang meski ia sudah berusaha untuk fokus.
Tak hanya mengkhawatirkan sang mama, ia juga mengkhawatirkan Andi. Tak pernah terbayangkan olehnya, laki laki yang sudah ia kenal selama beberapa bulan itu ternyata adik kandungnya yang sudah lama ia cari.
Tepat saat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Adit segera membereskan pekerjaannya dan keluar dari kantor.
Ia pergi ke rumah sakit bersama Rudi, setelah sebelumnya mengambil beberapa berkas di apartemennya.
Sesampainya di rumah sakit, Adit segera berjalan ke arah ruangan sang mama. Namun baru saja ia membuka pintu, ia menutupnya kembali karena melihat sang mama yang tampak terlelap.
"Mama baik baik aja kan pak?" tanya Adit pada Pak Lukman.
"Ibu baik baik aja mas, Dokter juga bilang kalau keadaan ibu stabil," jawab Lukman.
"Syukurlah kalau begitu, saya mau ke ruangan Andi, Pak Lukman tetap di sini ya!"
"Baik mas."
Adit lalu berjalan ke arah ruangan Andi. Ia ingin menemui kedua orang tua Andi dan berdiskusi secara baik baik dengan mereka.
Sesampainya ia depan ruangan Andi, Adit melihat Dini dan Dimas juga berada di sana.
"Gimana keadaan Andi Din?" tanya Adit pada Dini.
"Masih belum sadar kak, kita cuma bisa nunggu," jawab Dini.
Adit menganggukkan kepalanya lalu menghampiri ibu dan ayah Andi.
"Om, tante, ada yang mau Adit bicarain, bisa ikut Adit sebentar?"
"Saya nggak akan tinggalin Andi, sekejappun," ucap ibu Andi dingin.
Adit lalu membawa pandangannya pada Dini dan Dimas, seolah memberi isyarat agar mereka meninggalkan tempat itu untuk sementara waktu.
Dini dan Dimaspun memahaminya. Dini dan Dimas lalu meninggalkan tempat itu, begitu juga ibu Dini.
"Om, tante, Adit ke sini cuma mau meluruskan apa yang om dan tante belum tau," ucap Adit, namun seperti tak dihiraukan oleh ibu dan ayah Andi.
"Om dan tante pasti tau alasan mama melakukan hal itu, bukan karena mama mau membuangnya, tapi karena keadaan saat itu memaksa mama untuk memilih salah satu diantara Adit dan Andi, itu bukan pilihan mudah buat mama dan sampai saat ini mama nggak pernah berhenti menyesali hal itu."
"Jangan coba coba memengaruhi kami, sampai kapanpun Andi akan tetap jadi anak kami," ucap ibu Andi.
"Adit tau om dan tante sangat menyayangi Andi seperti anak kandung, tapi tolong lihat posisi mama om tante, sejak saat itu Adit nggak pernah ngerasain kasih sayang yang utuh dari seorang mama, mama depresi berat sampai harus ke psikiater dan psikolog, beberapa dari mereka bahkan menyarankan Adit buat bawa mama ke rumah sakit jiwa," ucap Adit dengan mata berkaca kaca.
"Mungkin mama terlihat normal seperti seorang ibu pada umumnya, tapi yang orang lain nggak pernah tau, mama selalu lampiasin penyesalannya sama Adit, berkali kali Adit harus masuk rumah sakit karena keadaan emosi mama yang nggak terkendali, kalau om dan tante nggak percaya, om dan tante bisa lihat ini, ini laporan kesehatan mama dari 20 tahun yang lalu sampai sekarang," ucap Adit sambil memberikan berkas yang sudah ia siapkan.
__ADS_1
Ibu dan ayah Andi hanya saling pandang lalu menerima berkas itu dan membacanya dengan seksama.