Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Keputusan Besar (3)


__ADS_3

Dimas masih berada di ruangannya sambil memegang surat dari Andi. Ia masih bimbang apakah ia harus memberi tahu Dini tentang kepergian Andi atau tidak.


Sejujurnya Dimas khawatir saat ia tau jika Andi mengungkapkan perasaannya pada Dini melalui surat.


Ia takut Andi akan merebut Dini darinya sebelum pernikahannya dengan Dini terjadi dan dengan kepergian Andi itu berarti Andi tidak akan lagi menganggu hubungannya dengan Dini.


Namun jauh dalam hatinya ia juga tidak ingin Andi pergi. Bagaimanapun juga Andi adalah sahabat terbaiknya, sahabat yang selalu ia percaya untuk menjaga Dini selama ia berada jauh dari Dini, sahabat yang sering menengahi pertengkarannya dengan Dini dan membantunya menyelesaikan masalahnya dengan Dini.


Gue sengaja nggak kasih tau Dini, karena gue yakin gue akan batalin kepergian gue saat gue liat dia menangis di depan gue.


"Aku harap apa yang aku lakukan ini nggak akan bikin aku menyesal nantinya, sekarang pilihan ada di tangan kamu Andini, dengan pilihan yang kamu buat itu aku bisa tau sejauh apa hubungan kamu dengan Andi sebenarnya," ucap Dimas lalu menyambar kunci mobilnya di atas meja lalu berlari keluar dari ruangannya


Tak lupa Dimas membawa kotak yang Andi berikan padanya. Ia akan memberikan kotak itu pada Dini terlebih dahulu.


Sesampainya Dimas di perusahaan Adit, Dimas segera menghubungi Dini dan memberi tahu Dini jika ia menunggunya di lobby.


Setelah beberapa lama menunggu, Dinipun datang dengan senyum di wajahnya. Dimas berdiri dari duduknya, memeluk Dini dan memberikan kecupan singkatnya.


"Kamu mau ajak aku makan siang?" tanya Dini.


Dimas menggelengkan kepalanya pelan menjawab pertanyaan Dini.


"Aku ke sini mau kasih ini," ucap Dimas dengan memberikan kotak yang ia bawa pada Dini.


"Apa ini? boleh aku buka sekarang?" tanya Dini yang hanya dibalas anggukan kepala Dimas.


Dini lalu membukanya dan begitu terkejut saat melihat isinya. Dini lalu mengeluarkan gaun itu dari dalam kotak dan memperhatikan setiap detail gaun yang ada di hadapannya.


"Dimas, kamu dapat ini dari mana? ini cantik banget!"


"Kamu suka?" tanya Dimas.


"Suka, suka banget," jawab Dini penuh semangat.


"Itu dari Andi," ucap Dimas yang membuat Dini segera membawa pandangannya pada Dimas.


"Andi?"


"Iya, dia tadi ke kantorku dan kasih itu buat kamu," jawab Dimas.


"Kenapa dia nggak langsung kasih ke aku?" tanya Dini dengan raut wajah yang tiba tiba berubah.


"Andini, ada yang harus aku kasih tau ke kamu, aku nggak tau apa aku boleh ucapin hal ini ke kamu atau enggak," ucap Dimas.


"Ada apa Dimas? apa yang terjadi?" tanya Dini khawatir karena melihat Dimas yang tampak serius.


"Sebelumnya aku mau tanya satu hal sama kamu, apa sampai sekarang kamu nggak bisa memilih antara aku dan Andi?" tanya Dimas


"Kenapa kamu tiba tiba tanyain hal itu? apa Andi bilang sesuatu sama kamu?" balas Dini bertanya


"Jawab pertanyaan aku Andini!"


"Aku memutuskan buat menikah sama kamu bukan tanpa alasan Dimas, aku mau menikah sama kamu karena aku percaya kamu adalah masa depan terbaik buat aku, aku memilih kamu sebagai pasangan hidupku, apa itu masih belum jelas?"


"Andi?"


"Andi sahabatku, kamu dan Andi punya tempatnya masing masing jadi kenapa aku harus memilih salah satu? aku pilih kamu sebagai masa depanku dan aku pilih Andi sebagai sahabatku, apa itu nggak cukup bikin kamu mengerti?"


Dimas menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.


"Ada apa Dimas? kenapa kamu tiba tiba bahas masalah ini?" tanya Dini.


"Andi pergi," jawab Dimas singkat.


"Pergi? maksud kamu?"


"Andi pergi ke luar negeri, dia akan menetap di sana buat lanjutin S2 nya, di Amerika," jawab Dimas.


Dini yang mendengar ucapan Dimas seketika terdiam. Seperti ada beban berat yang tiba tiba menghantam dirinya.


"Kamu.... kamu bercanda kan?" tanya Dini yang tidak mempercayai ucapan Dimas.


"Aku serius Andini, dia kasih gaun pengantin ini buat kamu sebagai hadiah pernikahan juga sebagai hadiah perpisahan, dia...."


"Enggak, nggak mungkin, kamu pasti bohong Dimas, Andi nggak mungkin pergi gitu aja, dia bahkan nggak ngabarin aku selama beberapa hari ini, dia..... dia.... nggak mungkin pergi," ucap Dini dengan mata berkaca-kaca.


"Sekarang terserah kamu Andini, kamu mau tetap di sini sama aku dan memilih aku atau kamu kejar dia dan memilih dia, laki laki yang kamu sebut sahabat," ucap Dimas.

__ADS_1


Dini terdiam. Air mata sudah memenuhi kedua sudut matanya. Ia tidak menyangka jika Andi akan pergi meninggalkannnya dengan begitu mudahnya.


26 tahun kebersamaan mereka seperti sia sia karena pada akhirnya Andi pergi tanpa berpamitan padanya.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya tanpa Andi di dekatnya. Andi, sahabat yang sudah menemaninya sejak kecil, sahabat yang selalu menjaga dan menyayanginya kini telah pergi meninggalkannya.


Menyisakan pisau belati tajam yang menghunus jauh ke dalam hatinya. Sesak dan sakit yang ia rasakan membuatnya tidak dapat membendung air matanya.


"Kejar dia kalau memang kamu memilih dia Andini," ucap Dimas.


Dini lalu membawa pandangannya pada Dimas, laki laki yang sudah banyak berjuang dan berkorban untuknya. Laki laki yang sudah ia pilih sebagai masa depannya.


Dini meraih tangan Dimas dan menggenggamnya. Ia tidak mungkin meninggalkan Dimas begitu saja meski ia juga tidak ingin Andi pergi darinya.


"Kamu masa depan aku Dimas," ucap Dini dengan suara seraknya.


"Dan Andi sahabat kamu?" tanya Dimas yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Dini.


"Apapun yang terjadi aku yang akan jadi masa depan kamu Andini," ucap Dimas lalu membawa Dini ke dalam pelukannya.


Dini memeluk Dimas dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Dimas bisa merasakan kesedihan yang Dini rasakan saat itu dan ia tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Ia tidak akan membiarkan Dini hidup dengan kesedihannya seperti itu.


Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan menghapus air mata Dini.


"Kita pergi sekarang," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini, namun Dini menggelengkan kepalanya.


"Andi juga sahabat aku Andini, aku nggak akan biarin dia pergi," ucap Dimas lalu menarik tangan Dini dan membawanya berlari untuk meninggalkan kantornya.


Dimas mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh agar segera sampai di bandara sebelum pesawat Andi take off.


Sepanjang perjalanan, Dini hanya bisa berdo'a dalam hatinya agar ia tidak terlambat untuk menemui Andi.


Ia tidak peduli lagi, apakah ia bersikap egois atau tidak. Ia tidak ingin hidup dalam bayang bayang kenangannya bersama Andi, ia ingin Andi selamanya ada di hidupnya, bukan hanya sebagai kenangan.


Sesampainya di bandara, Dini segera turun terlebih dahulu sedangkan Dimas harus memarkirkan mobilnya.


Dini berlari dengan hanya mengikuti kata hatinya. Ia benar benar berharap bisa menemukan Andi diantara banyaknya orang yang berada di sana.


Sudah lebih dari 10 menit Dini berlari kesana dan kemari untuk menemukan Andi. Kakinya seperti tak pernah lelah berlari tanpa henti demi bisa menemukan Andi.


Tiba-tiba matanya tertuju pada seorang laki-laki yang sedang duduk dengan koper di hadapannya.


Perlahan Dini membawa langkahnya pada laki-laki gitu.


"Andi," ucap Dini pelan namun cukup bisa di dengar jelas oleh Andi yang duduk di samping Dini berdiri.


Andipun segera membawa pandangannya ke arah sumber suara yang memanggilnya. Ia begitu terkejut dengan kehadiran Dini disana.


Andi lalu beranjak dari duduknya dan berdiri dihadapan Dini yang tampak kacau saat itu.


"Din, kenapa kamu ada di sini?" tanya Andi.


PLAAAAKKKK


Bukannya mendapat sebuah jawaban Andi malah mendapat sebuah tamparan keras di pipinya.


"Pembohong! penipu!" ucap Dini dengan menatap tajam pada Andi.


Andi hanya diam lalu menarik Dini ke dalam dekapannya, namun Dini menolak dan mendorong Andi menjauh darinya.


"Apa persahabatan kita selama 26 tahun ini nggak berarti apa apa buat kamu? apa sebegitu nggak berartinya aku buat kamu? dengan mudahnya kamu bilang nggak akan pergi dan sekarang kamu pergi gitu aja tanpa kasih tau aku, kamu pergi seolah olah aku bukan siapa siapa buat kamu, ini yang kamu sebut sahabat Ndi?"


"Aku minta maaf Din, aku nggak kasih tau kamu karena aku nggak mau hal ini terjadi, aku nggak mau liat kamu kayak gini Din!"


"Tapi kamu yang bikin aku kayak gini Ndi, kamu pikir aku akan baik baik aja setelah kamu pergi? atau kamu bahkan nggak mikirin aku sama sekali?"


"Ada Dimas yang akan selalu jagain kamu Din, kalian akan menikah dan aku yakin kamu akan hidup bahagia dengan Dimas," ucap Andi.


"Apa artinya kebahagiaan aku tanpa kamu Ndi? selama ini kita selalu bersama, kita tertawa dan menangis bersama, apa semua itu nggak ada artinya lagi buat kamu? apa semua yang udah kita lewati berdua nggak berarti apa apa lagi buat kamu?"


"Din, kamu tau kamu satu satunya yang berharga dalam hidup aku, tapi aku harus pergi Din, aku akan kembali setelah aku yakin dengan jalan hidup yang aku pilih, aku janji."


"Kamu pernah berjanji buat nggak ninggalin aku Ndi dan sekarang kamu ninggalin aku jadi jangan minta aku buat percaya sama janji kamu lagi!"


"Din, aku..."

__ADS_1


"Aku mohon jangan pergi Ndi, apa aku harus berlutut supaya kamu nggak pergi?" ucap Dini dengan menjatuhkan dirinya di hadapan Andi.


Air matanya tumpah bersama ketakutan terbesar dalam dirinya. Ketakutan yang akan membawanya jauh dari sahabatnya.


Andi lalu segera memegang kedua bahu Dini dan membawa Dini kembali berdiri kemudian memeluknya.


"Aku minta maaf Din," ucap Andi dengan memeluk Dini erat.


"Aku mohon jangan pergi Ndi, aku nggak akan bisa ngerasain kebahagiaan aku tanpa kamu, jangan pergi, aku mohon," ucap Dini dengan terisak dalam pelukan Andi.


Andi hanya diam dengan masih memeluk Dini erat. Hatinya terasa sakit melihat kesedihan dari raut wajah Dini.


"Kamu udah janji buat nggak ninggalin aku Ndi, kamu udah janji buat nggak pergi dari aku, jadi tolong tepati janji kamu, aku bener bener nggak bisa jauh dari kamu, aku nggak bisa," ucap Dini dengan suara bergetar.


Andi menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan lalu melepaskan Dini dari pelukannya, namun Dini tidak ingin lepas dari pelukan Andi.


Ia masih memeluk Andi dengan erat dan berusaha menahan Andi dalam pelukannya.


"Jangan pergi," ucap Dini dengan erat memeluk Andi.


"Din, Dimas bisa salah paham kalau liat kamu kayak gini," ucap Andi.


"Dimas juga nggak mau kamu pergi, dia yang kasih tau aku kepergian kamu, dia yang anter aku ke sini, banyak yang sayang sama kamu di sini Ndi, jadi jangan pergi."


Andi terdiam mendengar ucapan Dini, sekarang ia tau jika Dini bisa menghampirinya saat itu karena Dimas.


Ia pikir Dimas akan senang dengan kepergiannya, yang artinya tidak ada lagi orang lain yang diam diam mencintai Dini disekitarnya.


Andi lalu melepaskan pelukan Dini dengan pelan, mereka saling menatap dalam diam. Ada jutaan kata tersirat dari dua pasang mata yang hanya saling menatap itu.


Sebuah ketulusan cinta yang tidak bisa hilang dengan mudahnya membuat Andi luluh pada Dini.


Ia tidak bisa membayangkan seperti apa kesedihan Dini saat ia benar benar sudah pergi.


"Jangan pergi, aku mohon," ucap Dini dengan mata yang berkaca-kaca.


Entah sudah berapa kali Andi mendengar kata "Jangan pergi" yang Dini ucapkan dan itu membuat hatinya terasa perih, terlebih melihat kesedihan Dini yang tampak nyata di hadapannya.


"Aku nggak akan pergi," ucap Andi dengan tersenyum tipis.


Dini masih terdiam mendengar apa yang Andi ucapkan, ia ingin memastikan pendengarannya karena bisa jadi pendengarannya bermasalah karena terlalu banyak menangis.


Andi kembali tersenyum dengan memegang kedua bahu Dini dan menatap matanya.


"Aku akan tetap di sini dan nggak akan pernah pergi dari kamu," ucap Andi yang seketika membuat Dini segera memeluk Andi.


"Kamu nggak boleh pergi, selamanya!" ucap Dini.


Andi menganggukkan kepalanya lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan menghapus sisa air mata di pipi Dini.


Mereka saling menatap dalam diam, seperti ada beban berat yang tiba tiba hilang dari pundak mereka.


Luka yang menganga dalam hati pun terasa tertutup sedikit demi sedikit, membuka sedikit kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Mama pasti marah karena udah siapin semua ini buat aku," ucap Andi dengan tertawa kecil.


"Aku yang akan jelasin semuanya sama mama Siska," balas Dini dengan tersenyum senang karena ia berhasil mencegah Andi pergi.


Andi lalu menggenggam tangan Dini dan membawa Dini keluar dari bandara.


"Dimas dimana?" tanya Andi


"Aku nggak tau, aku tadi langsung lari cari kamu waktu dia ke tempat parkir," jawab Dini.


"Tadi pesawatku delay 2 jam, kalau nggak delay mungkin kamu nggak akan temuin aku tadi," ucap Andi.


"Itu artinya Tuhan kasih aku waktu buat temuin kamu dan itu artinya kamu emang nggak boleh ninggalin aku," balas Dini.


Andi hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum mendengar ucapan Dini


Di sisi lain, Dimas yang dari jauh melihat semua yang terjadi antara Dini dan Andi hanya tersenyum tipis.


Ia tau hatinya terluka saat itu, namun ia lebih memilih itu daripada harus melihat kesedihan Dini setiap hari karena kepergian Andi.


Dini sudah memilihnya untuk menjadi masa depannya, sedangkan Andi adalah sahabat bagi Dini dan juga dirinya.


Ia yakin jika ia tidak akan menyesali keputusannya untuk memberi tahu Dini tentang kepergian Andi.

__ADS_1


__ADS_2