Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Akad dan Resepsi


__ADS_3

Pagi hari di rumah sakit.


Andi mengerjap sebelum akhirnya ia membuka matanya. Pandangannya mengelilingi setiap sudut ruangan tempat ia terbaring.


"Kamu sudah bangun sayang," ucap mama Siska lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Andi.


"Kenapa Andi di sini ma?" tanya Andi.


"Semalam kamu pingsan dan Adit yang antar kamu ke rumah sakit," jawab mama Siska.


Andi diam beberapa saat mengingat kejadian semalam sebelum ia tak sadarkan diri.


"Ma, sekarang jam berapa?" tanya Andi tiba tiba.


"Jam setengah 9 sayang, kamu mau makan apa biar mama....."


"Andi harus pergi sekarang ma," ucap Andi lalu menarik infus yang ada ditangannya.


"Kamu mau kemana Ndi? dokter harus periksa keadaan kamu dulu!" ucap mama Siska dengan berusaha menahan Andi.


"Nggak ada waktu lagi ma, Andi harus pergi sekarang!" ucap Andi yang tiba tiba merasa pusing.


"Kamu masih sakit Ndi, jangan bikin mama khawatir!"


"Ma, Andi baik baik aja, Andi harus ke tempat Dini dan Dimas, mereka akad nikah pagi ini, Andi harus ada di sana ma!" ucap Andi dengan menggenggam tangan sang mama, berusaha meyakinkan sang mama.


"Kamu yakin sayang? apa kamu hati kamu akan baik baik saja nanti?"


Andi tersenyum dengan masih menggenggam tangan sang mama.


"Andi yakin ma, Andi akan baik baik aja, Andi nggak mau melewatkan hari bahagia Dini," ucap Andi.


Mama Siska menghela napas panjang lalu mengantarkan Andi untuk keluar rumah sakit.


"Kita ke rumah dulu ya, kamu harus ganti baju kan?"


"Nggak ada waktu lagi ma, kita harus ke sana sekarang," jawab Andi.


"Ya udah kita beli sambil perjalanan ke sana aja," ucap mama Siska.


Karena keadaan Andi yang masih belum benar benar sehat, Andi pergi ke tempat Dini dan Dimas dengan diantar oleh mama Siska dan pak Lukman.


Sialnya, mobil yang ditumpangi Andi terjebak macet tak jauh dari rumah Dini, tempat Dini dan Dimas melangsungkan akad.


"Ma, Andi duluan ya, mama nyusul aja sama pak Lukman!" ucap Andi sambil membuka pintu mobil.


"Tapi....."


Mama Siska menghentikan ucapannya karena Andi sudah keluar dari mobil dan berlari di trotoar.


"Padahal keadaan kamu belum benar benar sehat," ucap mama Siska.


Andi berlari tanpa berhenti sedetikpun, berharap ia masih bisa berada di sana sebelum akad dimulai.


Ia sudah berjanji pada Dini dan Dimas, ia tidak ingin merusak kebahagiaan Dini dan Dimas dengan ketidakhadirannya saat akad.


Setelah beberapa lama berlari, akhirnya Andi sampai. Andi terdiam sebelum akhirnya membawa langkahnya pelan memasuki halaman rumah Dini.


Dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing, Andi berharap ia tidak mengacaukan acara Dini dan Dimas pagi itu.


Sedangkan di dalam rumah Dini, mama Dimas sudah memaksa Dimas untuk segera melangsungkan akadnya sebelum penghulu memutuskan untuk menunda akad pagi itu.


"Andi akan datang kalau dia memang mau datang, pikirkan yang lainnya juga Dimas, jangan hanya memikirkan sahabat kamu!" ucap mama Dimas pelan.


"Bagaimana? apa bisa kita laksanakan sekarang akadnya?" tanya penghulu.


"Iya pak, silakan!" balas mama Dimas.


Penghulupun menjabat tangan Dimas dengan erat, tinggal menunggu beberapa detik lagi ikrar suci akan Dimas ucapkan untuk bisa menjadikan Dini istrinya.


Sedangkan Dini hanya diam dengan berharap Andi akan datang sebelum Dimas benar benar menyelesaikan janji sucinya.


"Saya nikahkan engkau Dimas.............."


Detik detik berlalu dengan perasaan gelisah bagi Dimas dan Dini.


Namun hentakan tangan penghulu pada Dimas membuat Dimas tersadar akan apa yang memang harus ia lakukan saat itu.


"Saya terima nikahnya Andini........"


"Maaf telat!" ucap Andi yang membuat semua mata tertuju padanya, termasuk Dimas, Dini dan keluarga mereka.


Dengan terengah-engah Andi membawa langkahnya untuk duduk di samping sang ibu, memberikan senyumnya pada Dimas dan Dini yang sudah siap untuk kembali melanjutkan akad.


Dimas dan Dinipun tersenyum senang melihat kedatangan Andi. Beban keraguan dan kegugupan yang sedari tadi dirasakan Dini dan Dimaspun menghilang.


Dengan satu tarikan napas, Dimas bisa mengucapkan janji sucinya dengan baik di depan semua yang ada di sana.


"SAH!" ucap semua yang ada di sana dengan kompak.

__ADS_1


Semuanya menengadahkan tangan mereka saat penghulu membacakan do'a bagi pengantin baru.


Rasa haru bahagia semakin terasa memenuhi ruangan itu saat Dini mencium punggung tangan Dimas setelah ia sah menjadi istri Dimas.


Mereka semuapun berpelukan satu per satu dengan rasa bahagia yang memenuhi ruang hati mereka.


Tak terkecuali Andi yang pada akhirnya benar benar melepaskan Dini untuk bersama laki laki yang menurutnya terbaik bagi Dini.


"Selamat Dim, do'a gue selalu buat kalian berdua," ucap Andi saat ia memeluk Dimas.


"Thanks Ndi, gue harap kita masih bisa berhubungan baik sampai kapanpun," balas Dimas.


Dini meneteskan air matanya saat ia dan Andi saling menatap. Ada sedikit rasa perih dalam hatinya diantara rasa bahagia yang memenuhi setiap sudut ruang hatinya.


Sahabat yang sudah lama menemaninya, menyayanginya dan menjaganya dengan baik kini akan melangkah mundur darinya.


Bukan karena persahabatan mereka yang berakhir, tapi karena statusnya yang sudah berbeda setelah ia menikah dengan Dimas.


Andi lalu tersenyum dan menghapus air mata di pipi Dini, membuat Dini segera menghamburkan dirinya dalam pelukan Andi.


"Kamu harus selalu bahagia Din, Dimas akan menyayangi dan menjaga kamu dengan baik," ucap Andi lalu melepaskan Dini dari pelukannya.


Ia kembali menghapus air mata di pipi Dini. Ada sesak yang terasa menghimpit dadanya, perih dan sakit yang terasa meloloskan kekuatan dirinya menusuknya dengan sangat dalam.


Sekuat apapun ia mencoba, pada kenyataannya apa yang ia lihat tetap menyisakan sakit yang teramat dalam di hatinya.


"Hapus air mata kamu Din, ini hari bahagia kamu, semua orang ingin kamu tersenyum bahagia," ucap Andi dengan tersenyum menutupi luka dalam hatinya.


Mama Siska yang baru saja tiba langsung mendekat ke arah Dini dan memberikan pelukannya pada Dini.


Meski ia sempat berharap jika Dini akan menjadi menantunya, ia tetap akan berbahagia dengan keputusan Dini.


"Selamat sayang, semoga rumah tangga kalian langgeng sampai maut memisahkan," ucap mama Siska.


"Terima kasih ma," balas Dini.


Aura kebahagiaan semakin terasa memenuhi ruangan itu. Perjuangan Dimas sudah membuahkan hasil, namun itu bukanlah akhir dari segalanya.


Ia akan mempertahankan Dini dengan cinta yang ia miliki, tak peduli apapun yang terjadi.


"sorry Ndi, gue tau lo masih berusaha nahan sakit yang lo rasain, tapi gue nggak akan lepasin Andini buat siapapun, selama jantung gue masih berdetak, nggak akan ada seorangpun yang bisa dapetin Andini selain gue," ucap Dimas dalam hati.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Andi baru saja bersiap untuk menghadiri resepsi pernikahan Dini dan Dimas.


Ia menatap wajahnya di depan cermin beberapa saat sebelum keluar dari kamarnya.


Toookkk toookkk toookkk


"Masuk!" ucap Andi saat mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.


Adit lalu membuka pintu kamar Andi namun tetap berdiri di tempatnya dengan memperhatikan Andi.


"Kenapa? kaget ya liat adik lo yang lebih cakep daripada lo?" tanya Andi dengan bergaya di depan cermin.


Adit tersenyum tipis lalu melangkahkan kakinya menghampiri Andi dan merangkul pundak Andi.


"Lo emang cakep, tapi sayang masih jomblo hahaha....." balas Adit lalu melepaskan Andi dan berlari keluar dari kamar Andi.


Andi hanya tertawa kecil lalu keluar dari kamarnya.


"Mama mana?" tanya Andi pada Adit.


"Masih siap siap di kamar, lo jadi jemput Aletta?"


"Iya, lo berangkat sama mama kan?"


Adit hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Andi.


"Lo harus bahagia Ndi," ucap Adit dengan menatap Andi serius.


"Gue bahagia," balas Andi.


"Bukan karena Dini, tapi karena lo emang bener bener ngerasain bahagia yang sesungguhnya," ucap Adit.


Andi hanya tersenyum tipis lalu membawa langkahnya ke arah kamar sang mama.


"Ma, Andi jemput Aletta dulu ya!" ucap Andi dari depan pintu kamar sang mama.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, mama Siska keluar dari kamar dengan pakaian batiknya yang menawan.


"Iya, mama sama Adit aja," ucap mama Siska.


"Gue duluan," ucap Andi pada Adit lalu berjalan keluar dari rumah.


Mama Siska hanya menghembuskan napasnya yang terdengar berat setelah kepergian Andi.

__ADS_1


"Mama kenapa?" tanya Adit yang menyadari hal itu.


"Nggak tau kenapa mama merasa kalau Andi lagi sedih, padahal mama liat dia senyum dari tadi, tapi rasanya senyumnya menyedihkan buat mama," jawab mama Siska.


"Andi baik baik aja ma, sahabatnya sudah menikah dengan laki laki yang menurutnya tepat buat Dini, jadi dia pasti bahagia," ucap Adit pada sang mama.


"Yaahh semoga saja, mama selalu berdo'a untuk kebahagiaan kalian," balas mama Siska dengan membawa pandangannya pada Adit.


Adit hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu mengajak sang mama untuk segera berangkat.


**


Di sisi lain, Andi terdiam di tempatnya berdiri melihat Aletta yang berjalan ke arahnya dengan gaun pestanya yang tampak cantik.


Make up tipis yang terpoles di wajahnya membuat wajah yang biasanya tomboy itu semakin terlihat cantik dengan sepatu berhak tinggi yang Aletta pakai.


"Cantik," ucap Andi dengan tersenyum pada Aletta.


Baru saja Aletta menunduk malu, Andi melanjutkan ucapannya.


"Gaunnya hehehe....." lanjut Andi yang membuat Aletta melayangkan tinjunya di lengan Andi.


"Hehehe.... bercanda Ta, kamu emang cantik kok, cantik banget," ucap Andi dengan menatap wajah Aletta, membuat Aletta kembali tersipu.


"Udah ah, ayo berangkat!" ucap Aletta sebelum ia menjadi salah tingkah karena pujian Andi.


Andi lalu mengendarai mobilnya ke arah gedung tempat resepsi Dini dan Dimas dilaksanakan.


Sesampainya mereka di sana, Andi tidak segera turun dari mobil. Ia menyiapkan hatinya agar bisa menerima jalan yang sudah digariskan untuknya.


Aletta lalu menggenggam tangan Andi, memberikan Andi kekuatan untuk bisa menguasai hatinya yang Aletta tau sedang terluka.


"Aku nggak tau seperti apa sakit yang kamu rasain sekarang Ndi, tapi aku yakin ada kebahagiaan yang terselip dalam luka kamu," ucap Aletta dengan menatap wajah Andi.


Andi lalu tersenyum dan membalas genggaman tangan Aletta.


"Makasih Ta, makasih udah ada disaat aku bener bener butuh kamu saat ini," ucap Andi.


Aletta hanya tersenyum lalu keluar dari mobil bersama Andi.


Andi berjalan memasuki gedung dengan menggenggam tangan Aletta. Ia benar benar menggenggamnya erat seolah tak ingin Aletta pergi meninggalkannya.


Saat itu hatinya benar benar rapuh, perih yang ia rasakan seperti perlahan menggerogoti senyum di wajahnya. Namun kehadiran Aletta seperti sebuah penopang yang siap menahannya saat ia akan terjatuh.


Ia sangat bersyukur karena Aletta datang disaat ia benar benar membutuhkan dukungan untuk menyembuhkan luka hatinya.


Saat mereka tiba di sana, mata Andi segera tertuju pada gadis cantik dengan gaun putih yang berkilau di atas pelaminan.


Gaun yang sudah lama ia buat, ia simpan dan ia siapkan untuk masa depannya kini sudah ada di hadapannya.


Dipakai oleh sahabat yang ia cintai bersama laki laki lain yang juga merupakan sahabat baiknya.


Raut kebahagiaan terlihat jelas dari wajah Dini dan Dimas. Senyum penuh rasa bahagia seolah memberikan energi positif yang membuat seisi ruangan dipenuhi dengan aura kebahagiaan.


"Anggap ini adalah waktu buat kamu menemukan jalan kamu yang baru Ndi, aku nggak akan minta kamu buat buka hati kamu dan melupakannya, aku cuma berharap kalau kamu akan menemukan kebahagiaan kamu sendiri," ucap Aletta.


Andi lalu membawa pandangannya pada Aletta yang berdiri di sampingnya.


"Kamu harus bahagia Ndi, kamu berhak mendapatkan kebahagiaan kamu," ucap Aletta dengan menatap wajah Andi.


Andi tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu membawa Aletta untuk berjalan ke arah pelaminan.


Andi masih menggenggam tangan Aletta sampai ia berdiri di hadapan Dimas dan memeluk Dimas.


"Selamat Dim, semoga kalian selalu bahagia sebagai sebuah keluarga," ucap Andi.


"Thanks Ndi, lo juga harus cari kebahagiaan lo!" ucap Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.


Andi lalu bergeser ke arah Dini, ia tersenyum lalu memeluk Dini.


"Selamat Din, semoga kebahagiaan selalu bersama kamu," ucap Andi.


"Makasih Ndi, semoga kita masih bisa bersahabat dengan baik," balas Dini.


Andi menganggukkan kepalanya lalu melepaskan pelukannya pada Dini.


"Selamat ya Din, semoga langgeng sampe kakek nenek!" ucap Aletta lalu memeluk Dini


"Makasih Al," balas Dini.


Andi menghela napasnya dan tersenyum sebelum turun dari pelaminan. Aletta lalu menarik tangan Andi ke dalam genggamannya, berusaha untuk tetap menguatkan Andi.


"Aku ke toilet bentar Ta," ucap Andi dengan melepaskan tangan Aletta lalu berjalan mendahului Aletta.


Namun diam diam Aletta mengikuti Andi yang keluar dari tempat acara resepsi.


Andi berjalan ke arah tangga darurat dan duduk dengan menenggelamkan kepalanya di atas kakinya yang ditekuk.


Dadanya terasa sesak, hatinya benar benar telah hancur. Cinta yang selama ini ia jaga telah meninggalkan dirinya bersama luka yang tidak akan sembuh dengan mudah.

__ADS_1


Seberapakeraspun ia mencoba untuk bahagia, luka dan sakit dalam hatinya seolah menyeretnya untuk kembali jatuh ke dalam jurang penuh derita.


Andi memukul dadanya berkali kali, berusaha untuk menahan kesedihan yang tidak seharusnya ia rasakan di hari kebahagiaan sahabatnya.


__ADS_2