Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Belajar Masak (2)


__ADS_3

Mentari pagi telah menyapa, rutinitas di tempat kerja siap menunggu.


Dini baru saja menyelesaikan sarapannya bersama sang ibu lalu mengambil tasnya dan berpamitan untuk berangkat ke kantor.


Saat ia baru saja membuka pintu, seseorang berjalan ke arah rumahnya dengan senyum di bibirnya.


Dini lalu terdiam dengan tersenyum melihat seseorang itu semakin mendekat ke arahnya.


"Aku anter kamu ya!" ucap Andi.


Dini menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Andi berjalan ke arah ia memarkirkan mobilnya.


"Kamu dari kapan di sini?" tanya Dini.


"Tadi pagi, cuma numpang sarapan, kangen masakan ibu hehe...."


"Ibu kamu pasti seneng banget waktu kamu datang," ucap Dini.


"Iya, aku juga sengaja dateng pagi pagi biar bisa ketemu ayah juga," balas Andi.


"Biar bisa nganterin aku juga kan?"


"Bener banget hehe....."


Andi lalu mengendarai mobilnya ke arah tempat kerja Dini.


"Kamu biasanya pulang kerja jam berapa Ndi?" tanya Dini


"Nggak tentu sih, kenapa?"


"Aku mau minta tolong, tapi ini akan menyita banyak waktu kamu," jawab Dini.


"Minta tolong apa?" tanya Andi.


"Ajarin aku masak," ucap Dini dengan menunjukkan deretan giginya.


"Masak? sejak kapan kamu tertarik sama dunia dapur?"


"Sebenarnya aku udah lama pingin belajar masak, udah beberapa kali coba tapi gagal terus, ujung ujungnya diomelin sama ibu karena buang buang bahan jadinya," jawab Dini.


"Otak kamu itu encer dalam segala hal kecuali dapur emang hahaha....."


"Iiissshhh, nyebelin banget, aku itu cepet belajar tau', sekali kamu ajarin juga pasti bisa!"


"Yakin?"


"Yakinlah, liat aja nanti!"


"Oke, kapan kita mulai?"


"Kamu kapan ada waktu?"


"Kapanpun kamu ada waktu luang, aku pasti bisa," jawab Andi.


"Oke, nanti sore?"


"Oke, kamu tentuin dulu mau masak apa terus kita belanja bahannya, nanti aku jemput kamu!"


Dini lalu mengacungkan dua jempolnya pada Andi.


Tak lama kemudian mereka sampai. Setelah Dini turun, Andipun melanjutkan perjalannya ke arah tempat kerjanya.


Dini masuk ke dalam setelah mobil Andi sudah tak terlihat lagi.


Waktu berlalu, pekerjaan kantor membuat jam terasa berputar begitu cepat. Saat jam makan siang, Dini masih mengerjakan pekerjaannya.


Tak lama kemudian pintu ruangannya diketuk, seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangannya.


"Apa mama ganggu?" tanya mama Siska sebelum duduk.


"Enggak kok ma, silakan duduk," balas Dini sambil mempersilakan mama Siska untuk duduk.


"Mama ke sini karena dua hal, mama bawain kamu makan siang dan mama mau minta maaf sama kamu, maaf karena kata kata mama kemarin menyinggung kamu, mama nggak bermaksud seperti itu," ucap mama Siska.


"Dini udah lupain kok ma," balas Dini canggung.


"Jangan bohong Din, mama tau ucapan mama kemarin keterlaluan sama kamu dan mungkin ucapan mama menggangu pikiran kamu beberapa hari ini, mama tulus minta maaf sama kamu Din, maafin mama ya!"


"Iya ma, mama nggak perlu sampe kayak gini, Dini mengerti maksud mama baik," ucap Dini.


"Mama sekarang tau kalau kalian memang bersahabat dan hubungan kalian memang murni sebatas sahabat yang saling menyayangi karena kalian udah sama sama dari kecil, mama baru menyadarinya setelah Andi cerita sama mama," ucap mama Siska.


"Andi cerita apa ma?" tanya Dini.


"Dia bilang apapun yang kalian rasain sekarang adalah perasaan seorang sahabat dan cinta yang akan dia gapai untuk masa depannya ternyata bukan kamu, mama sangat merasa bersalah karena udah salah paham," jawab mama Siska.


"dan cinta yang akan dia gapai untuk masa depannya ternyata bukan kamu,"


Ucapan mama Siska seperti menusuk ke dalam hati Dini. Entah kenapa ia merasakan perih di hatinya. Matanya terasa panas ingin menangis menahan sesak di dadanya.


"Sekali lagi mama minta maaf ya Din, mama nggak akan berharap apa apa lagi dari hubungan kamu dan Andi," ucap mama Siska.


Dini masih terdiam dengan pandangan kosong. Ia berusaha menata hatinya agar tetap baik baik saja.


"Ya udah mama balik dulu, jangan lupa dimakan ya!" ucap mama Siska yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.


Dini bahkan tidak mengucapakan terima kasih karena lidahnya yang terasa kelu.


"dan cinta yang akan dia gapai untuk masa depannya ternyata bukan kamu,"

__ADS_1


Dini masih terdiam dengan pandangan kosong. Setelah mama Siska sudah meninggalkan ruangannya, air matanya luruh begitu saja.


Dini segera menghapus air matanya dan tersenyum pilu. Ia menertawakan dirinya yang tiba tiba menangis.


"Kenapa aku nangis sih, apa yang harus ditangisi!" ucap Dini dengan mendongakkan kepalanya menatap langit langit agar air matanya berhenti menetes.


Ucapan mama Siska seperti tulisan tebal yang semakin memperkuat jika apa yang Dini mimpikan beberapa hari yang lalu hanyalah sebuah mimpi belaka, mimpi yang tidak akan pernah menjadi nyata untuk selamanya.


"harusnya aku seneng, itu artinya apa yang aku mimpiin itu nggak bener, itu artinya aku nggak perlu khawatir lagi, itu artinya aku nggak perlu mikirin mimpi itu lagi, itu artinya....."


Air mata Dini kembali luruh bersama sesak di dadanya. Ia merasa dirinya sedang tidak baik baik saja. Ada sesuatu yang salah dalam dirinya yang tidak ia mengerti.


Di sisi lain, Adit yang melihat Dini tampak sedang tidak baik baik saja segera beranjak dari duduknya dan masuk ke ruangan Dini.


Adit membuka pintu ruangan Dini begitu saja lalu melangkah ke arah Dini, memutar kursi Dini dan membawa Dini dalam dekapannya.


Dini hanya diam dengan apa yang dilakukan Adit. Ia memang sedang butuh sebuah pelukan saat itu. Ia butuh tempat bersandar yang bisa menyadarkan dirinya.


Untuk beberapa saat Dini masih duduk di kursinya dengan Adit yang berdiri di hadapannya mendekap tubuhnya dengan erat.


Setelah Dini lebih tenang, ia melepaskan dirinya dari dekapan Adit.


"Minum dulu," ucap Adit sambil memberikan minuman yang ada di meja Dini.


"Kak Adit kenapa ke sini?" tanya Dini dengan suara parau.


"Kamu kenapa? apa mama bilang sesuatu yang nyakitin kamu?" tanya Adit tanpa menjawab pertanyaan Dini.


Dini menggeleng pelan dengan menghapus sisa air matanya dengan tissue.


"Mama ke sini minta maaf sama bawain Dini makan siang," jawab Dini.


"Tapi kenapa kamu kayak gini? apa yang bikin kamu sesedih ini?"


Dini kembali menggelengkan kepalanya dengan mata yang kembali berkaca kaca.


"Oke oke, kakak nggak akan nanya lagi, sekarang kamu tenangin diri kamu dulu lalu habisin makan siang kamu!"


"Dini nggak nafsu makan kak."


"Kamu mau kakak suapin?"


Dini menggeleng cepat lalu membuka kotak makanan di hadapannya.


"Dini bisa makan sendiri, kak Adit keluar aja," ucap Dini setelah ia merasa lebih baik.


"Kakak ambil makanan kakak dulu, kakak mau makan siang di sini buat pastiin kalau kamu habisin makan siang kamu!" ucap Adit lalu kembali ke raungannya untuk mengambil kotak makannya dan kembali masuk ke ruangan Dini.


Adit dan Dini pun makan siang bersama. Sesekali Dini tampak tertawa mendengar cerita Adit yang sengaja berusaha merubah suasana hati Dini agar membaik.


Setelah jam makan siang selesai, Adit kembali ke ruangannya. Sedangkan Dini pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya yang tampak berantakan.


Setelah hatinya lebih tenang dan wajahnya kembali segar, Dini melanjutkan pekerjaannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, namun Adit masih tampak sibuk di depan komputer nya sedangkan Dini sudah menyelesaikan pekerjaannya.


Dini lalu membereskan barang barangnya dan masuk ke ruangan Adit.


"Kamu mau langsung pulang?" tanya Adit saat Dini baru saja membuka pintu ruangan Adit.


"Dini mau keluar sama Andi, apa masih ada yang harus Dini kerjain?"


"Nggak ada kok, bentar lagi juga kakak pulang," jawab Adit.


"Dini duluan ya kak!"


"Oke," balas Adit.


Dini lalu turun ke lobby dan sudah ada Andi yang menunggunya di sana.


Dini mengentikan langkahnya dan berdiri di tempatnya beberapa saat. Ia memegang dadanya yang terasa bergemuruh, ia berusaha untuk menghilangkan semua perasaan yang mengganggunya.


Di sisi lain, Andi yang melihat Dini hanya diam di tempatnya lalu melambaikan tangannya pada Dini. Dini lalu tersadar dan kembali berjalan dengan melemparkan senyumnya pada Andi.


"tenang Din, dia sahabat kamu, suatu saat nanti dia akan menemukan cintanya seperti kamu yang menemukan Dimas sebagai cinta kamu, jangan egois, biarkan Andi bahagia, selama Andi nggak lupain kamu semuanya akan baik baik aja," batin Dini dalam hati sambil melangkahkan kakinya ke arah Andi.


Andi lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri Dini, menggandeng tangannya untuk diajak keluar dari kantor.


"Jadi kamu masak apa?" tanya Andi pada Dini.


"Aku belum kepikiran sih, yang simple aja dulu," jawab Dini.


"Mmmmm.... nasi goreng?"


"Itu terlalu simpel Ndi, aku bisa beli bumbu instan di toko," balas Dini.


"Tapi aku yakin Dimas lebih suka buatan kamu daripada bumbu instan, lagian kalau kamu emang mau pake bumbu instan sekalian aja semuanya pake bumbu instan!" ucap Andi.


"Emang semua masakan ada bumbu instan nya?"


"Ada dong Din, kamu mau apa? opor? soto? kare? ada semuanya, emang kamu nggak pernah liat waktu ke mini market?"


"Nggak pernah perhatiin bagian bumbu hehe...."


"Jadi gimana nih? mau belajar masak apa langsung pake bumbu instan aja?"


"Kalau aku pake bumbu instan jadi nggak ada effort dong, aku harus bikin semuanya dari nol biar nggak effortless!"


"Nah itu tau, jadi mau bikin apa?"

__ADS_1


"Mmmm.... nggak tau hehe....."


Andi hanya tersenyum kecil lalu membawa mobilnya ke arah supermarket.


"Kita bikin nasi goreng aja, menu paling simpel yang disukai Dimas," ucap Andi.


"Kamu tau Dimas suka nasi goreng?"


"Tau lah, nasi goreng sama telur mata sapi kan?"


"Waaahhh, kamu emang sahabat baiknya," ucap Dini dengan bertepuk tangan kecil.


Andi lalu memasukkan satu pack ayam fillet, beberapa sosis, sayur dan telur. Tak lupa ia membeli semua bumbu yang ia perlukan.


"Bumbu ini ada semua di dapur, kamu nggak perlu beli!" ucap Dini.


"Nggak papa, biar kamu nggak diomelin ibu kamu karena buang buang bumbu!"


Dini lalu mengangguk anggukkan kepalanya. Setelah selesai membayar, merekapun pulang ke rumah Dini.


Sesampainya di sana, mereka segera masuk ke dalam rumah.


"Ibu kamu nggak di rumah?" tanya Andi sambil mengeluarkan semua barang belanjaannya.


"Di rumah Bu RT kayaknya, ayo mulai masak!"


"Cuci tangan dulu!" ucap Andi dengan menarik tangan Dini dan membasuhnya di wastafel.


Untuk beberapa saat pikiran Dini kosong saat Andi membasuh tangannya di wastafel.


"Jangan ngelamun!" ucap Andi dengan menyipratkan air ke wajah Dini.


Dini hanya menggeleng pelan lalu menyalakan kompor dan menaruh wajah di atasnya. Namun Andi segera mematikannya.


"Kok dimatiin?" tanya Dini.


"Sebelum kamu nyalain kompor, kamu siapin dulu bahan bahannya, kamu belum siapin nasinya, bumbunya dan banyak lainnya lagi!"


"Oke, sekarang aku harus ngapain?"


"Siapin bumbunya, terus halusin!"


Andi lalu memberi tahu Dini apa saja yang harus ia kupas dan potong kecil kecil sebelum ia haluskan, sedangkan Andi mencuci ayam dan memotongnya kecil kecil.


Waktu berlalu, bau nasi goreng sudah memenuhi dapur Dini.


"Baunya enak banget Ndi," ucap Dini.


"Yang terakhir nih, kasih minyak wijen dikit aja!" ucap Andi lalu menuangkan sedikit minyak wijen membuat aroma nasi goreng semakin menusuk hidung.


"Waaahhh, baunya kayak nasi goreng yang dijual, ini sih pasti enak!" ucap Dini yang bangga dengan hasil masakannya bersama Andi.


Setelah menyelesaikan nasi gorengnya, kini waktu bagi Dini untuk membuat telur mata sapi.


"Jangan terlalu keras pecahin telurnya, nanti kuningnya ikut pecah!" ucap Andi.


"Oke!" balas Dini lalu memecahkan telur dengan sendok dan melemparnya ke arah penggorengan yang berisi minyak panas.


Alhasil minyak panas pun mengenai tangan Dini. Andi mematikan kompor dan membawa Dini ke dalam kamar mandi untuk mengoleskan pasta gigi di bagian kulit Dini yang terkena minyak panas.


"Jangan dilempar dong Din, pelan pelan aja!" ucap Andi.


"Aku takut kena minyak panasnya Ndi kalau terlalu deket!" balas Dini.


Andi lalu kembali menyalakan kompor dan mengambil telur buatan Dini yang gagal karena cangkang telurnya ikut masuk ke dalam penggorengan.


"Perhatiin baik baik!" ucap Andi pada Dini.


Andi lalu membuat telur mata sapi dengan sempurna.


Merekapun membawa hasil masakan mereka ke meja makan.


Biiiippp Biiiiiipppp biiiipppp


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas. Dini lalu menerima panggilan Dimas dan mengubahnya menjadi mode video.


"Dimaaaass, aku udah selesai masak, nasi goreng kesukaan kamu!" ucap Dini memamerkan hasil masakannya bersama Andi.


"Enak tuh kayaknya, kamu lagi sama Andi?"


"Iya, dia yang ngajarin aku bikin ini," jawab Dini.


"Itu sebenarnya gue yang bikin, Dini cuma ngerecokin," sahut Andi.


"Kan aku yang bikin bumbunya!" ucap Dini.


"Baru beberapa detik potong bawang kamu udah nangis Din, aku yang lanjutin," ucap Andi.


"Itu tangan kamu kenapa sayang?" tanya Dimas yang menyadari tangan Dini terkuka.


"Oh ini, kena minyak panas hehe...."


"Ndi, lo nggak bener ya ngajarinnya? gue nggak mau ya cewek gue luka lagi gara gara masak sama lo!" ucap Dimas menyalahkan Andi.


"Kok jadi salah gue?"


"Kamu makan sendiri sayang, jangan biarin Andi ikut makan," ucap Dimas pada Dini.


"Iya, aku makan sendiri," balas Dini lalu menggeser piring di hadapan Andi.

__ADS_1


Setelah perdebatan kecil dan candaan mereka, Dimas lalu mengakhiri panggilannya pada Dini karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya.


Dini dan Andipun menikmati nasi goreng buatan mereka berdua.


__ADS_2