Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Canggung


__ADS_3

Malam telah datang. Andi berada di ruang baca dengan buku di tangannya. Tiba tiba ia kembali mengingat kejadian di bukit saat ia hampir saja berciuman dengan Dini.


Namun bersamaan dengan itu, ia ingat apa yang Dini ucapkan padanya yang membuat perih di hatinya semakin terasa.


"dua bulan lagi aku akan menikah sama Dimas,"


Ucapan Dini seperti pedang tajam yang menghunus jauh ke dalam hatinya, memporak porandakan cinta dalam hatinya.


"apa ini jawaban dari keraguanku? apa artinya aku harus mundur dari cinta ini? iya, kamu emang bahagia sama aku, tapi kamu hanya menganggap aku sebagai sahabat, bukan masa depan yang akan selalu bersama kamu, harusnya aku sadar, harusnya aku nggak berniat buat ungkapin perasaanku," batin Andi dalam hati.


Andi menyandarkan kepalanya di sofa dan memejamkan matanya. Rasa dalam hatinya semakin besar dan menggelora namun ia harus bisa menahannya agar tidak membuat semuanya kacau.


Kebahagiaan Dini adalah tujuan hidupnya dan itu tidak akan pernah berubah meski ia tau kebahagiaan Dini bukanlah bersamanya.


"Galau lagi!"


Suara seseorang membuat Andi segera membuka matanya dan membawa pandangannya pada Adit yang berdiri di hadapannya.


"Mobil gue udah balik?" tanya Andi.


"Udah barusan," jawab Adit.


"Mama nggak nanya apa apa?"


"Enggak, mama juga nggak tau kalau lo balik sama gue," jawab Adit.


"By the way thanks udah jemput gue tadi," ucap Andi berterima kasih.


"Lo harus ganti rugi karena udah ganggu waktu gue sama Ana!" ucap Adit.


"Ganti rugi? caranya?"


"Jawab pertanyaan gue dengan jujur," jawab Adit.


"Mmmm.... oke," balas Andi ragu.


"Gue tau apa yang terjadi di jalan raya tadi bukan karena lo ngantuk, pasti ada sesuatu yang lo pikirin sampe lo nggak fokus nyetir, iya kan?"


"Kenapa lo berpikir sejauh itu? gue emang ngantuk karena....."


"Masih nggak mau jujur? apa perlu gue cari tau sendiri?"


Andi mendengus kesal lalu menaruh buku yang ia pegang.


"Iya, lo bener," jawab Andi dengan nada kesal.


"Hahaha..... kenapa? apa Dini nolak lo? apa dia marah sama lo?"


"Gue bahkan belum ungkapin perasaan gue," jawab Andi.


"Belum? gue pikir lo abis ketemu Dini!" ucap Adit.


"Iya, gue emang abis ketemu dia, gue jemput dia dari apartemen Dimas dan nganterin dia pulang," balas Andi.


"Terus yang bikin lo sampe nggak fokus nyetir apa?" tanya Adit penasaran.


"Gue nggak tau apa gue harus bilang ini sama lo atau enggak, karena cuma gue yang tau hal ini," jawab Andi.


"Oke, gue nggak akan maksa lo kalau gitu, setidaknya gue tau kalau lo belum ungkapin perasaan lo sama Dini!" ucap Adit memahami.


"Gue nggak akan ungkapin perasaan gue, sampe kapanpun!" ucap Andi.


"Kenapa? Dini juga berhak tau Ndi, lo udah terlalu lama nyimpen perasaan lo sendiri!"


"Gue nggak mau ngerusak kebahagiaan Dini kak, dia udah bahagia sama Dimas, mereka udah tunangan dan akan menikah, kalau Dini tau perasaan gue seperti apa, Dini akan bimbang dan bisa jadi gue malah hancurin kebahagiaan Dini."


"Dan lo biarin diri lo sendiri yang hancur?"


"Gue nggak punya pilihan, buat gue nggak ada yang lebih penting dari kebahagiaan Dini, selama Dini bahagia gue akan baik baik aja, luka ini akan cepet sembuh selama gue tau Dini baik baik aja," jawab Andi.


Adit menghembuskan napasnya kasar. Ia tau apa yang Andi rasakan saat itu sangatlah menyakitkan. Ia pun pernah memendam rasa pada perempuan yang dianggap sahabat olehnya.


Adit tau bagiamana rasanya mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain. Ia hanya bisa terdiam dengan rasa perih dalam hatinya. Seiring berjalannya waktu, cinta selalu bisa menyembuhkan lukanya sendiri dan itu lah yang juga Andi rasakan saat itu.


"Gue harap lo nggak menyesali keputusan lo ini Ndi!" ucap Adit yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.


Adit lalu berjalan meninggalkan Andi, mengembalikan buku dan keluar dari ruang baca. Ia tau adiknya itu sedang butuh waktu untuk sendiri.


Saat Adit baru saja keluar dari ruang baca, sang mama memanggilnya. Aditpun berjalan ke arah sang mama dan duduk di samping sang mama.


"Gimana masalah kamu sayang?" tanya mama Siska.


"Adit udah selesaiin semuanya ma," jawab Adit.

__ADS_1


"Kamu harus tetap berhati hati Dit, terlebih sekarang kamu tau kalau ada partner kamu yang berkhianat, mama takut dia nggak akan diam setelah kejadian ini," ucap mama Siska.


"Mama tenang aja, mereka nggak akan ngelakuin hal itu lagi kalau mereka mau perusahaan mereka tetap berdiri," balas Adit.


"Padahal dulu mereka sahabat dekat papa kamu Dit, mereka juga yang membantu papa kamu buat mulai dari nol," ucap mama Siska.


"Sekarang nggak sedikit orang yang buta karena harta ma, kalau bukan mereka teman baik papa dan mama, Adit pasti udah hancurin perusahaan mereka yang nggak seberapa itu," ucap Adit berusaha menahan emosinya.


"Tapi kamu nggak akan ngelakuin hal itu kan sayang?" tanya mama Siska.


"Adit nggak sejahat itu ma, bagaimanapun juga mereka pernah bantu papa, tapi kalau sekali lagi mereka ganggu Adit dan orang orang yang Adit cintai, Adit nggak akan ragu buat jadi jahat, bahkan lebih jahat dari yang mereka pikir," jawab Adit penuh keyakinan.


"Anak anak mama adalah anak yang baik, mama percaya itu," ucap mama Siska.


Adit tersenyum ke arah mamanya lalu memeluk mamanya.


"Adit dan Andi akan jadi anak kebanggan mama dan papa, kita nggak akan kecewain mama dan papa," ucap Adit.


"Iya, mama percaya sama kalian," balas mama Siska.


"maafin Adit ma, maaf karena harus berbohong sama mama tentang Ana, Adit sayang dan cinta sama Ana, Adit nggak mau kehilangan Ana karena keadaan ini ma, suatu saat Adit akan ceritain semuanya sama mama, Adit janji ma," batin Adit dalam hati.


Setelah selesai mengobrol bersama sang mama, Adit naik ke lantai dua untuk masuk ke kamarnya.


Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Ana.


"Halo cantik."


"Halo papa tampan," balas Ana yang membuat Adit semakin ingin menemui Ana.


"Gimana keadaan Andi? dia baik baik aja kan?" tanya Ana.


"Dia baik baik aja kok, dia nabrak traffic cone karena ngantuk, untungnya nggak ada yang terluka karena pekerjanya lagi pada istirahat," jawab Adit menjelaskan.


"Syukurlah kalau gitu, itu bisa jadi pelajaran buat kamu juga biar kamu nggak nyetir kalau lagi ngantuk," ucap Ana.


"Iya aku tau, aku akan selalu berhati hati dimanapun dan kapanpun karena aku tau ada orang yang aku cintai nunggu aku pulang," balas Adit.


"Iya kamu bener, aku selalu nunggu kamu di sini."


Setelah beberapa lama mengobrol, panggilan berakhir karena mama Siska memanggil Adit untuk makan malam.


**


Baru saja Adit sampai di basement kantornya, ia ingat berkasnya tertinggal di kamarnya. Ia pun menghubungi Andi, meminta tolong Andi untuk mengantarnya ke kantor karena kebetulan hari itu Rudi izin untuk datang terlambat.


"Halo, lo udah berangkat?" tanya Adit saat Andi menerima panggilannya.


"Belum, kenapa?"


"Tolong bawain berkas yang ada di meja kamar gue dong, urgent!"


"Oke, gue kesana sekarang!" balas Andi.


Setelah beberapa lama menunggu Andi, Aditpun memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan masuk ke ruangannya karena sebentar lagi jam akan menunjukkan pukul 7 pagi.


Adit membuka pintu ruangannya dan duduk di kursi kerjanya, minum air hangat yang sudah Dini siapkan, menyalakan komputer dan membuka beberapa map yang menumpuk di mejanya.


Tak lama kemudian pintu terbuka, Dini masuk dan memberikan jadwal harian Adit seperti biasa.


Baru saja Adit menerima map dari Dini, Andi masuk dan berjalan ke arahnya dengan ragu.


"Ini berkas yang lo minta!" ucap Andi sambil memberikan berkas yang dibawanya pada Adit.


"Thanks," balas Adit singkat.


Dini yang masih berada di sana merasa canggung mengingat kejadian di bukit hari kemarin.


Tanpa Dini sadar ia mencuri pandang ke arah bibir Andi saat Andi berbicara pada Adit, membuat Dini semakin gugup dan canggung.


"sadar Din, sadar!" batin Dini berusaha menyadarkan kebodohannya sendiri.


"Hai," sapa Andi canggung.


"Hai," balas Dini yang tak kalah canggung.


Adit hanya mengernyitkan dahinya melihat kekakuan antara Andi dan Dini di hadapannya. Ia lalu sengaja meminta Andi untuk membantu Dini membawa beberapa tumpuk berkas ke ruangan Dini.


"Saya bisa bawa sendiri pak," ucap Dini pada Adit.


Namun Andi segera mengambil berkas berkas itu dan membawanya keluar dari ruangan Adit.


"Saya permisi," ucap Dini sebelum ia mengikuti Andi keluar dari ruangan Adit.

__ADS_1


Dini lalu masuk ke ruangannya bersama Andi.


"Taruh sini aja," ucap Dini dengan menunjuk meja kerjanya.


Andipun menaruhnya di sana, namun salah satu map itu terjatuh dari meja. Andi dan Dinipun reflek menunduk untuk mengambil map itu namun karena mereka melakukannya dengan bersamaan, kepala Andi dan Dini terbentur satu sama lain.


"Maaf Din, aku nggak sengaja," ucap Andi yang merasa bersalah.


"Nggak papa, aku juga minta maaf," balas Dini sambil mengusap keningnya yang terbentur kepala Andi.


"Kamu nggak papa kan?" tanya Andi dengan menyibakkan rambut di kening Dini.


"Aku nggak papa," balas Dini.


Entah kenapa Andi menundukkan kepalanya menatap Dini yang juga sedang membawa pandangan ke arahnya. Mata mereka bertemu dan mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum telepon di ruangan Dini berdering, membuat Andi dan Dini saling menjauh.


"Aku.... aku pulang dulu!" ucap Andi lalu berbalik dan meninggalkan ruangan Dini.


Sedangkan Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu segera menerima panggilan dari teleponnya.


Tuuuuutttt tuuuuutttt tuuuuutttt


Panggilan terputus. Dini lalu kembali menaruh telepon di tempatnya dan kembali mengerjakan pekerjaan nya.


Ia berusaha menghalau Andi dari pikirannya agar ia bisa fokus menyelesaikan pekerjaannya.


"Kak Adit kenapa kasih aku berkas sebanyak ini?"


Dini lalu membuka satu per satu berkas yang dibawa Andi dari ruangan Adit namun tak ada satupun dari berkas itu yang bisa dikerjakannya karena memang semua itu adalah file yang sudah clear yang seharusnya tetap berada di ruangan Adit.


Dini mendengus kesal menyadari kejahilan Adit padanya. Ia menatap tajam ke arah Adit, tak peduli jika saat itu Adit adalah atasannya.


**


Di sisi lain, mama Siska dan Lukman sedang keluar dari rumah. Mereka menuju ke sebuah kafe yang lumayan jauh dari rumah.


Mama Siska memberi tahu Lukman jika ia akan menemui teman lamanya di sana agar Lukman tidak curiga dan melaporkannya pada Adit.


Sesampainya di kafe itu, mama Siska memilih untuk mencari bangku di dalam agar Lukman tidak bisa melihatnya.


Setelah menunggu beberapa lama, seseorang yang ditunggu mama Siska pun datang.


"Bu Siska?" tanya seseorang memastikan.


"Iya, saya yang minta kamu datang, silakan duduk!" jawab mama Siska.


Seseorang itu lalu duduk di hadapan mama Siska dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Seseorang itu menaruh beberapa foto di atas meja dan menggesernya ke depan mama Siska.


Ada beberapa foto saat Adit menemui teman papa Adit yang berkhianat dan di foto lain tampak mobil Adit memasuki sebuah rumah dengan gerbang menjulang tinggi.


Terdapat beberapa foto yang sama namun diambil dengan waktu yang berbeda yang artinya tidak hanya sekali Adit mendatangi rumah itu.


Di foto lain Adit tampak sedang membeli buku tentang persalinan dan pergi ke rumah yang sama setelah ia membeli buku itu.


Yang membuat mama Siska membelalakkan matanya tak percaya adalah saat Adit duduk di sebuah taman bersama seorang perempuan yang tampak sedang hamil besar.


Mama Siska tidak bisa melihat dengan jelas siapa perempuan itu namun ia bisa pastikan jika Adit memiliki hubungan khusus dengan perempuan itu.


Orang suruhan mama Siska juga memberikan rekamam video pada mama Siska yang menunjukkan apa yang Adit dan perempuan itu lakukan saat di taman.


Namun lagi lagi wajah perempuan itu selalu terhalang dan tidak bisa tampak dengan jelas karena orang suruhan mama Siska hanya bisa mengambil foto dan video dengan posisi seadanya.


"Jadi alamat yang kamu kasih ke saya kemarin adalah alamat rumah perempuan ini?" tanya mama Siska dengan suara bergetar.


"Iya Bu, saya bisa mengantar Bu Siska ke sana jika ibu berkenan!"


"Saya akan kesana sendiri, terima kasih atas bantuan kamu, saya akan segera transfer uangnya," ucap mama Siska.


Mama Siskapun keluar dari kafe dan meminta Lukman untuk mengantarnya ke alamat tempat tinggal Ana.


Lagi lagi mama Siska memberi tahu Lukman jika ia akan mendatangi rumah teman lamanya.


Sesampainya di sana, mereka dihentikan oleh satpam dan dilarang untuk masuk.


"Saya mamanya Adit, kamu pasti tau kan siapa Adit?" ucap mama Siska pada satpam yang menghentikannya.


Satpam hanya diam tak menjawab dan segera menghubungi Adit, namun mama Siska segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelinap masuk meninggalkan Lukman yang masih berada di balik kemudi.


Mama Siska berjalan ke arah pintu dan mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya seseorang membuka pintu.


Mama Siska terdiam terpaku saat melihat siapa yang membuka pintu dengan keadaan hamil besar seperti pada foto yang baru saja dilihatnya.

__ADS_1


"Ana!"


__ADS_2