Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Malam


__ADS_3

Gelap telah menghantarkan bulan dan bintang menemani bentang malam. Kerlip kecil indah yang mampu membuat senyum tergambar pada wajah yang tengah bersedih.


Dini duduk di depan rumahnya bersama Andi. Mereka baru saja menghabiskan makan malam mereka.


"Aku pingin jadi bintang Ndi," ucap Dini sambil memandang kumpulan bintang di langit gelap.


"Kenapa?" tanya Andi.


"Karena dia nggak pernah sendirian," jawab Dini.


"Kamu udah jadi bintang Din, kamu nggak akan pernah sendirian, ada aku yang selalu ada buat kamu, ada Dimas yang selalu di samping kamu," balas Andi.


"Tapi suatu saat nanti kamu pasti pergi, sedangkan aku sendiri nggak tau gimana kelanjutan hubunganku sama Dimas, aku akan sendirian Ndi."


"Enggak Din, kamu nggak akan sendirian, kapanpun kamu butuh aku, aku akan selalu ada buat kamu, kapanpun Din!"


Dini lalu membawa pandangannya menatap mata sahabatnya dan hanya tampak ketulusan yang terlihat dari mata laki laki di hadapannya.


"Aku emang cewek paling beruntung karena punya kamu," ucap Dini dengan masih menatap mata Andi.


"Dan aku adalah cowok paling beruntung karena bisa jadi sahabat kamu," balas Andi dengan senyum manisnya.


Kedua pasang mata saling menatap, debaran dalam hati tak bisa diterka kehadirannya. Ia begitu saja mengguncang dada, menumbuhkan rasa yang semakin tertanam kuat dan merajalela.


Di sisi lain, ada sepercik rasa yang menggelitik hati, entah sebatas sahabat atau lebih, ia tak bisa mengerti. Yang ia rasakan hanya semerbak wangi bunga yang mekar dalam hati.


Untuk beberapa saat mereka saling menatap dalam diam, membiarkan hati merasakan gejolak rasa yang semakin menggema dalam dada.


"aku sayang sama kamu lebih dari sahabat Din, tapi aku tau siapa aku dan siapa kamu, aku bahkan nggak berhak untuk berharap memiliki kamu, aku......"


"Aku sayang sama kamu Ndi, sayang banget sampe aku rasa nggak ada yang lebih sayang sama kamu daripada aku, bahkan pacar kamu nanti," ucap Dini dengan senyum manisnya, senyum yang selalu berhasil meluluhkan hati Andi, senyum yang selalu memupuk cinta dalam hatinya.


"Kamu yakin?" tanya Andi meragukan.


"Yakin dong, kamu sosok laki laki pertama yang ada di hati aku," ucap Dini dengan kembali menatap ke dalam mata Andi.


"Sayangnya kamu perempuan kedua yang ada di hati aku" balas Andi dengan berusaha keras untuk menguasai hatinya.


"Yang pertama?"


"Ibu lah hehe...."


"Hmmmm, kirain Anita," balas Dini mengejek.


"Bukanlah, udah malem nih, sana masuk!"


"Besok berangkat bareng ya!"

__ADS_1


"Nggak sama Dimas?"


"Enggak, dia berangkat pagi pagi mau keluar kota, nawarin produk kalian katanya!"


"Oh iya, aku lupa, ya udah besok aku jemput."


"Oke, aku masuk dulu ya!"


"Iya Din, aku juga mau pulang."


Kebersamaan malam itu pun berakhir. Andi pulang ke rumahnya dan Dini masuk ke rumahnya.


Setelah mengunci pintu, Dini segera masuk ke kamarnya dan mengambil ponselnya. Ada puluhan panggilan tak terjawab dan juga pesan dari Dimas.


Dinipun segera menghubungi Dimas, namun tak ada jawaban.


"Angkat dong Dim, masak ngambek sih!"


Dini mencoba menghubungi Dimas lagi hingga panggilan yang ke lima baru ia mendapat jawaban.


"Maaf sayang abis dari ruang kerja papa, ada apa?" tanya Dimas begitu ia menerima panggilan Dini.


"Kamu tadi telfon aku ada apa?" balas Dini balik bertanya.


"Nggak papa, kangen aja," jawab Dimas.


"Belum, aku cuma bahas soal clothing arts aja sama papa, kamu dari mana aja, dari tadi nggak bisa dihubungi!"


"Nggak kemana mana kok, cuma di depan, tapi nggak bawa HP."


"Sama Andi?" terka Dimas.


"Iya," jawab Dini.


"Ngapain aja?"


"Cuma duduk duduk aja, cemburu?"


"Iya, aku cemburu, aku iri karena dia bisa duduk berdua sama kamu," jawab Dimas.


"Tapi kamu masa depanku, bukan dia," balas Dini.


"Sayang, apa kamu masih nggak bisa pilih antara aku sama Andi?" tanya Dimas serius.


"Kenapa kamu nanyain itu sih!"


"Ibu kamu lebih suka Andi daripada aku Andini, aku......"

__ADS_1


"Tapi aku udah pilih kamu buat jadi masa depan aku Dimas, apa itu masih nggak cukup?"


"Di hati kamu masih ada namanya, di hati kamu masih ada dia, sekarang kita semakin berjarak Andini, aku takut situasi ini akan bikin dia mendominasi hati kamu."


"Dia sahabat aku Dimas, dia laki laki pertama yang aku kenal dan selalu jagain aku, dari dia aku tau yang namanya kasih sayang seorang laki laki untuk pertama kalinya, dari dia aku mengenal banyak hal untuk pertama kalinya, tapi untuk yang terakhir hatiku tetep pilih kamu, apa kamu masih meragukan itu?"


"Enggak sayang, bukannya aku ragu, aku cuma....."


Tuuuuttt Tuuuuttt Tuuuuttt


Panggilan terputus. Dini sengaja memutuskan panggilannya karena ia merasa jika Dimas meragukannya.


Dini lalu menonaktifkan ponselnya agar Dimas tidak menghubunginya.


"kita udah sama sama berjuang Dimas, banyak hal udah kita lewati sama sama, tapi kenapa kamu nggak percaya sama aku? aku harus gimana biar kamu percaya? gimana Dimas? gimana?" batin Dini dengan memukul mukul boneka pemberian Dimas.


Dini lalu merebahkan badannya di ranjang. Menutup matanya dan memikirkan hubungannya dengan Dimas yang semakin rumit.


"ada dua hal yang kita nggak pernah tau, semua ujian ini untuk memperkuat cinta kita atau malah pertanda kalau kita emang nggak ditakdirkan untuk bersama," batin Dini dalam hati.


Toooookk Toookk Toookk


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Dini. Ia membuka matanya, melebarkan telinganya dan mendengarkan baik baik arah suara ketukan itu berasal.


Dini segera menyibak gorden jendela kamarnya dan mendapati Dimas yang berdiri di depan jendela kamarnya yang tertutup. Ya, suara ketukan itu bukan berasal dari pintu, melainkan dari jendela kamar Dini.


Dinipun membuka jendela kamarnya.


"Dimas, kamu ngapain disini?" tanya Dini dengan suara yang pelan karena tak ingin menarik perhatian orang di sekitar rumahnya meski saat itu sudah sangat sepi.


"Aku kangen," jawab Dimas berbisik.


"Kamu pulang aja deh, ini udah malem!" balas Dini dengan menarik kembali jendela kamarnya namun ditahan oleh Dimas.


"Apa cuma Andi yang bisa duduk berdua sama kamu?"


Dini lalu membuka kedua jendela kamarnya dan duduk di atasnya. Dimas hanya tersenyum lalu melompat untuk duduk di atas jendela kamar Dini.


"Mobil kamu mana?" tanya Dini.


"Aku nggak bawa mobil, aku cuma bawa ini," jawab Dimas sambil menunjukkan tangannya yang tergenggam.


"Apa itu?" tanya Dini penasaran.


Dimas menarik tangan Dini lalu menaruh tangannya yang tergenggam dalam genggaman Dini.


"Aku cuma bawa segenggam cinta buat kamu," jawab Dimas lalu mencium tangan Dini.

__ADS_1


Dini hanya tersenyum, tersipu menahan malu. Malam itu, lagi lagi Dimas membuat bulan dan bintang menjadi saksi betapa ia benar benar jatuh hati pada wanita di hadapannya.


__ADS_2