Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Melupakannya?


__ADS_3

Hari masih pagi, di bawah guyuran air dari shower kamar mandi, Anita terduduk dengan air mata yang kembali ia tumpahkan dari kedua sudut matanya.


Ia masih tidak bisa menerima apa yang terjadi padanya. Ia memang sudah siap untuk kehilangan apa yang sudah ia jaga, tapi ia memberikannya pada Dimas agar ia bisa mendapatkan Dimas, bukan pada Andi.


Kini ia hanya bisa meratapi apa yang sudah terjadi. Entah seperti apa masa depannya nanti ia sudah tidak peduli, ia membenci dirinya sendiri karena rencana bodohnya itu.


Tooookkkk tooookk tooookkk


Pintu kamar mandi diketuk dari luar oleh bibi, untuk memastikan jika Anita baik baik saja.


"Non Anita baik baik aja?" tanya bibi khawatir.


"Tinggalin Anita bi, Anita mau sendirian," jawab Anita tanpa beranjak dari bawah shower.


"Bibi udah siapin bubur di meja non, dimakan ya!" ucap bibi.


Anita hanya diam dengan menangis tanpa suara di bawah guyuran air.


"apa yang harus aku lakuin sekarang? bilang sama papa? nggak mungkin," batin Anita dalam hati.


Ia tau bagaimana sang papa sangat mempercayai Andi. Bagi papa Anita, Andi adalah sosok laki laki yang sempurna untuk Anita.


"papa nggak akan percaya kalau Andi ngelakuin itu sama aku," ucap Anita dalam hati.


Anita menyadari kesalahannya, semua itu karena ia terlalu terburu buru. Ia sangat mengenal Andi dengan baik, jika bukan karena pengaruh obat itu, tidak mungkin Andi akan melakukan hal itu padanya.


Waktu telah berlalu dan apa yang sudah terjadi tidak bisa lagi dikembalikan seperti semula, apa yang sudah dijaga sudah diambil paksa dan sekarang ia hanya bisa menerima semuanya.


Entah sudah berapa lama Anita berada di bawah guyuran air, wajahnya semakin terlihat pucat dan bibirnya membiru.


Samar samar ia mendengar suara ketukan pintu namun akhirnya semua suara semakin terdengar jauh dan semua yang ada di hadapannya menjadi gelap.


Pintu terbuka dan Andi segera mengangkat tubuh Anita untuk membawanya keluar dari kamar mandi.


Beberapa waktu yang lalu, bibi menghubungi Andi dan memberitahunya jika Anita tidak kunjung keluar dari kamar mandi.


Karena khawatir dan merasa bersalah, Andipun segera mendatangi rumah Anita dan mendapati Anita terduduk pingsan di bawah shower yang masih menyala.


Andi meminta bibi untuk mengganti pakaian Anita yang basah. Dalam hatinya ia berharap jika bibi tidak mengetahui hal buruk yang baru saja terjadi pada Anita.


Setelah bibi selesai mengganti pakaian Anita, Andi kembali masuk ke dalam kamar Anita dan menunggu Anita sampai dia tersadar dari pingsannya.


Setelah beberapa lama menunggu, kedua mata Anita tampak mengerjap, Andi segera mendekat ke arah Anita.


"Gimana keadaan kamu Nit? kamu mau ke rumah sakit?" tanya Andi yang hanya dibalas gelengan kepala Anita.


"Aku minta maaf Anita, aku janji aku akan bertanggung jawab atas apa yang udah aku lakuin, aku akan temui papa kamu dan jelasin semuanya, aku...."


"Jangan!" ucap Anita yang membuat Andi terkejut.


"Kenapa?" tanya Andi tak mengerti.


"Lupain aja, anggap kejadian itu nggak pernah terjadi," jawab Anita.


"Aku nggak mungkin bisa lupain kejadian itu Nit, aku bahkan nggak percaya sama diriku sendiri kenapa aku bisa ngelakuin hal itu!"


"Apa kamu pikir aku bisa lupain kejadian itu dengan mudah? enggak Ndi, tapi aku nggak mau masalah ini semakin jauh, anggap kejadian semalam cuma mimpi buruk buat kita, aku nggak mau bahas masalah ini lagi!"


"Tapi Nit....."


"Ndi, tolong kamu ngertiin aku!"


Andi menghela napasnya panjang dan menganggukan kepalanya.


"Kamu harus makan, aku suapin ya!" ucap Andi sambil mengambil bubur dari atas meja Anita.


Anita hanya menggelengkan kepalanya dengan mengalihkan pandangannya dari Andi.


"Apa yang harus aku lakuin buat nebus kesalahanku Nit? kasih tau aku, aku akan lakuin apapun itu!"


"Lupain Ndi, jangan dibahas lagi!" jawab Anita.


Andi tidak mengerti kenapa Anita memintanya untuk melupakan hal itu saat dirinya dipenuhi dengan rasa bersalah atas apa yang sudah dilakukannya pada Anita.


"Apa kita masih bisa berteman?" tanya Andi ragu.


"Asalkan kamu nggak bahas masalah itu lagi dan jangan ceritain masalah itu ke siapapun, termasuk papa!"

__ADS_1


"Kamu minta aku buat nggak bertanggung jawab?"


"Aku minta kamu janji sama aku!" jawab Anita.


"Oke, aku nggak akan bahas masalah ini lagi dan aku nggak akan kasih tau siapapun tentang masalah ini termasuk papa kamu," ucap Andi.


Anita hanya diam mendengarkan ucapan Andi. Baginya itu lebih baik daripada ia harus menjalani hidupnya sebagai istri Andi saat sang papa tau apa yang sudah Andi lakukan padanya.


Andi memang laki laki yang baik, dia tampan, berpendidikan dan mempunyai masa depan yang baik, tapi yang Anita inginkan bukan Andi, melainkan Dimas.


Setelah benih benih cintanya pada Dimas kembali tumbuh, yang ia inginkan hanya Dimas, bahkan ia tidak peduli jika ia harus menjadi yang kedua dalam rumah tangga Dimas.


Namun setelah kejadian malam itu, ada sepercik api amarah dalam dirinya. Jika saja malam itu Dimas tidak memberikan minumannya pada Andi, kejadian itu tidak akan terjadi dan rencananya akan berjalan sebagaimana mestinya.


"dari dulu kamu emang jahat Dimas, kamu selalu merusak semua rencanaku," batin Anita dalam hati.


Waktu berlalu dan Anita lebih banyak diam saat Andi berbicara padanya. Ia tau, apa yang sudah terjadi pada dirinya sedikit banyak akan merubah hidupnya.


Tapi ia sudah tidak memikirkan bagaimana masa depannya nanti, entah seperti apa dan dengan siapa ia menghabiskan masa tuanya. Ia bahkan sudah tidak mengharapkan Dimas lagi.


"Kamu pulang aja Ndi, aku mau sendirian!" ucap Anita pada Andi.


"Kamu yakin?" tanya Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Anita.


"Ya udah, aku pulang, habisin bubur kamu, jangan bikin bibi khawatir!" ucap Andi lalu keluar dari kamar Anita.


Andi memberi tahu bibi jika Anita baik baik saja dan bibi tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Anita.


Andi lalu meninggalkan rumah Anita dan mengendarai mobilnya ke arah home store. Hari itu adalah hari pertama pembukaan home store barunya, namun pikirannya kacau karena apa yang sudah terjadi semalam.


Terlebih saat Anita memintanya untuk melupakan kejadian itu, hal itu membuatnya semakin merasa bersalah karena sikap Anita membuatnya seolah melepas tanggung jawabnya begitu saja.


"mungkin seperti ini lebih baik, anggap kejadian itu nggak pernah terjadi dan kita masih bisa berteman baik seperti sebelumnya," batin Andi dalam hati.


Kini Andi harus bisa fokus dengan apa yang ada di hadapannya.


Hari pertama pembukaan cabang clothing arts nya adalah hal yang sudah lama ia tunggu, ia berusaha untuk tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Ia harus memastikan semuanya berjalan sesuai dengan rencana yang sudah disusunnya.


**


Waktu berlalu, hari berganti.


Andi tidak berniat untuk mencari Anita, karena Andi berpikir jika ia sudah melakukan kesalahan besar yang membuat Anita menjauh darinya.


Hal terakhir yang Anita ucapkan padanya adalah agar dia melupakan kejadian malam itu jadi Andi memutuskan untuk membiarkan Anita pergi jika memang itu yang terbaik bagi Anita.


Di sisi lain, Anita sengaja menjauh dari Andi agar ia benar benar bisa melupakan kejadian itu.


Hingga pada suatu pagi, Anita terbangun dari tidurnya dengan rasa mual yang mengganggunya. Anita masuk ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya.


Setelah dirasa membaik, ia keluar dari kamar dan meminta bibi untuk membuatkannya bubur hangat seperti biasa saat ia sedang sakit.


"Non Anita sakit?" tanya bibi.


"Cuma nggak enak badan aja bi," jawab Anita.


Setelah bubur selesai dibuat, Anita segera menghabiskan bubur buatan bibi. Anita lalu bersiap untuk berangkat kursus seperti biasanya.


Waktu berlalu seperti biasa, tidak banyak hal baru yang terjadi. Namun esok paginya Anita kembali mual dan muntah, hal itu terus terulang sampai beberapa hari berikutnya.


Tapi Anita tidak ambil pusing, selama itu tidak berpengaruh dengan kegiatan sehari harinya karena ia hanya merasa mual setiap bangun tidur.


Pagi itu, seperti biasa, Anita dibangunkan oleh rasa mual yang mengganggunya. Biasanya rasa mual itu akan hilang setelah ia makan bubur hangat buatan bibinya.


Namun hari itu bibi belum juga pulang dari pasar sampai Anita berangkat kursus. Anitapun memutuskan untuk mengambil selembar roti tawar dan memakannya sambil berjalan ke arah garasi lalu meninggalkan rumah dengan mobilnya.


Dalam perjalanan ke tempat kursus, ia kembali merasa mual. Anitapun menepikan mobilnya di salah satu pom bensin dan berlari masuk ke toilet umum yang berada di sana.


Setelah menghabiskan waktunya beberapa lama di dalam toilet, Anitapun keluar dengan keadaan lemas.


"pasti gara gara aku belum makan, jadi lemes banget rasanya," batin Anita dalam hati.


Saat ia berjalan ke arah mobilnya, tiba tiba kepalanya terasa pusing dan pandangannya mulai kabur.


Anita menghentikan langkahnya di jalur antrean kendaraan yang hendak mengisi bahan bakar, ia memegangi kepalanya yang terasa pening saat itu.


Di sisi lain, Andi yang baru saja memasuki area pom bensin itu dibuat kesal karena bunyi klakson mobil yang memekikkan telinganya.

__ADS_1


Ia lalu keluar dari mobilnya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Saat Andi membawa langkahnya ke arah mobil di depannya, ia melihat Anita yang hanya diam di tempatnya berdiri.


"Anita!"


Andipun berlari menghampiri Anita dan saat ia baru saja sampai, Anita menjatuhkan badannya ke arahnya dengan tiba tiba.


Dengan sigap Andi menahannya dan membawanya menepi dari jalur antrean kendaraan.


Dengan dibantu beberapa orang yang berada di sana, Andi membawa Anita masuk ke dalam mobilnya dan segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, Anita segera mendapatkan penanganan dari dokter. Setelah beberapa lama menunggu, Dokterpun keluar dari ruangan Anita.


"Gimana keadaannya Dok? apa yang terjadi sama teman saya?" tanya Andi pada Dokter.


"Dia baik baik saja, mual dan pusing sudah menjadi kebiasaan perempuan saat hamil di trimester pertama," jawab Dokter.


"Hamil? dia hamil?" tanya Andi tak percaya.


"Dari hasil pemeriksaan dia sedang hamil dan dia pingsan kemungkinan karena kurangnya asupan makanan atau dehidrasi, untuk lebih jauhnya nanti bisa menunggu pemeriksaan dari Dokter Obgyn," jawab Dokter menjelaskan.


Andi hanya terdiam mendengarkan penjelasan Dokter, ia bahkan tidak sempat berterima kasih saat Dokter sudah meninggalkannya.


"hamil? Anita hamil?" batin Andi bertanya tanya.


Andi lalu masuk ke ruangan Anita dan melihat Anita yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


"Anita, kenapa kamu nggak bilang apa apa sama aku?" tanya Andi saat ia sudah berada di samping Anita.


Anita hanya diam dan mengalihkan pandangannya dari Andi. Jika saja tidak sedang lemas, ia pasti sudah pergi menjauh dari Andi.


"Anita, apa itu anak aku?" tanya Andi yang membuat Anita segera membawa pandangannya pada Andi.


"Apa maksud kamu?" tanya Anita tak mengerti.


"Apa bayi yang ada dalam kandungan kamu itu anak aku?" tanya Andi memperjelas pertanyaannya.


"Bayi? apa maksud kamu Ndi? kamu jangan ngaco!"


"Jawab aku Anita, apa itu beneran anak aku?"


"Aku nggak ngerti maksud kamu, bayi apa? anak apa?"


Andi menghela nafasnya dan menatap Anita dengan tajam.


"Dokter bilang sama aku kalau kamu hamil," ucap Andi yang membuat Anita begitu terkejut.


"Hamil? aku? enggak, nggak mungkin, Dokter pasti salah!" balas Anita tak percaya.


"Kalau kamu nggak percaya kita temui Dokter kandungan sekarang!" ucap Andi.


Anita menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari ranjang untuk keluar dari ruangannya, namun Andi menahan tangannya.


"Kamu mau kemana? kamu...."


"Aku harus pergi!" ucap Anita dengan menarik tangannya dari Andi.


"Enggak, kamu harus tetep disini sampai aku tau kepastian ini dari Dokter Obgyn!" ucap Andi, namun Anita menarik tangannya dengan kuat dan berlari pergi meninggalkan Andi.


Andipun mengejar Anita, namun ia diberhentikan oleh petugas rumah sakit karena harus membayar biaya administrasi sebelum pergi.


Alhasil, Andi kehilangan Anita.


Di sisi lain, Anita segera menghentikan taksi di depan rumah sakit. Karena tidak tau dimana mobilnya berada, ia memilih untuk pulang.


Di rumah, Anita masih memikirkan pertanyaan Andi yang dinilainya tidak masuk akal.


Dokter bilang sama aku kalau kamu hamil


Anita tertawa kecil mengingat ucapan Andi padanya.


"hamil? nggak mungkin, kita cuma melakukannya sekali dan itupun karena paksaan, nggak mungkin aku langsung hamil kan? dokter pasti salah kan?" batin Anita dalam hati.


Meski begitu, jauh dalam hatinya sebenarnya Anita khawatir. Ia tidak ingin apa yang Andi ucapkan itu benar benar terjadi padanya saat itu.


Anita lalu membuka laptopnya dan mencari tau tentang tanda tanda kehamilan. Ia membaca banyak artikel dan dari semua artikel yang ia baca mual saat pagi adalah salah satu tanda awal kehamilan yang paling umum terjadi.


Anita lalu mengambil kalender kecil di mejanya dan melihat tanggal datang bulannya.

__ADS_1


"telat, ini wajar kan? bisa jadi karena aku terlalu stres jadi tanggalnya mundur," ucap Anita yang masih berusaha berpikir positif.


Tak lama kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumahnya, saat Anita melihatnya dari jendela, ia segera mengunci pintu kamarnya agar tidak ada siapapun yang masuk ke kamarnya.


__ADS_2