
Waktu berlalu, Andi sudah berada dalam perjalanan pulang bersama Dini dan Alana.
Sepanjang perjalanan, ia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang Dini ucapakan saat mereka masih berada di taman.
"Iya, Tante mau jadi mamanya Alana,"
Entah itu hanya sebuah ucapan untuk menyenangkan Alana atau memang Dini mengucapkannya dengan bersungguh sungguh.
Sesampainya di rumah Dini, merekapun keluar dari mobil. Andi membawa barang barang milik Dini yang dibawa piknik, sedangkan Dini menggendong Alana yang sedang tertidur.
Dini membawa Alana masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan Alana di ranjangnya.
Tak lama kemudian Andi masuk ke kamar Dini, berniat untuk mengajak Alana pulang.
"Kamu nggak mau bilang sesuatu sama aku?" tanya Dini pada Andi.
"Sesuatu? sesuatu apa?" balas Andi bertanya.
"Hmmmm...."
Dini hanya menggelengkan kepalanya lalu berjalan ke arah jendela kamarnya. Andi kemudian mengikuti langkah Dini dan berdiri di samping Dini.
"Tentang apa yang Alana ucapin tadi, aku minta maaf, aku....."
"Kenapa kamu minta maaf? kamu nggak mau aku jadi mamanya Alana?" tanya Dini memotong ucapan Andi.
"Bukan, bukan itu maksudku, aku takut kamu terganggu sama ucapan Alana, aku....."
Andi menghentikan ucapannya dan membawa pandangannya ke arah sebuah foto yang ada di meja Dini.
Dinipun mengikuti arah pandangan Andi yang melihat foto dirinya dan Dimas disana.
"Aku harus pulang Din," ucap Andi lalu segera menggendong Alana dan keluar dari kamar Dini.
Dini hanya diam membiarkan Andi pergi bersama Alana.
**
Hari demi hari berganti, setelah mengalami pergulatan batin yang cukup sulit, Andi akhirnya memutuskan sesuatu yang sudah lama menggangu pikirannya.
Malam itu, ia pergi menemui Dini tanpa Alana. Andi mengajak Dini pergi ke bukit yang dulu sering mereka datangi.
__ADS_1
"Kenapa tiba tiba ngajak aku kesini?" tanya Dini saat mereka sudah tiba disana.
"Kamu inget, dulu kita sering ngabisin waktu disini!"
"Tentu aku inget, banyak hal yang udah terjadi disini," balas Dini.
Andi lalu menarik tangan Dini ke dalam genggamannya, menatap jauh ke dalam mata Dini.
Mereka saling diam dan menatap untuk beberapa saat sebelum Andi mengutarakan maksud dan tujuannya mengajak Dini kesana.
"Din, mungkin aku terlalu pengecut karena udah menyimpan perasaan ini lama tanpa berani mengungkapkannya, tapi malam ini aku akan ungkapin semuanya sama kamu," ucap Andi dengan serius.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum canggung. Jantungnya berdetak begitu cepat, perasaan aneh yang dulu sering ia rasakan saat bersama Andi kini kembali memenuhi hatinya.
"Aku cinta sama kamu Din, aku sayang sama kamu dan aku mulai berharap kalau aku bisa memiliki kamu lebih dari sekedar sahabat, aku nggak akan berusaha buat menggantikan posisi Dimas di hati kamu, tapi aku berharap aku bisa menjadi bagian dari hati kamu," ucap Andi pada Dini.
Dini yang mendengar hal itu hanya bisa diam. Sahabat yang dikenalnya dari kecil malam itu mengungkapan perasaan yang sudah lama dipendamnya.
"Aku akan selalu mencintai kamu Din, membahagiakan kamu tanpa membuat kamu melupakan Dimas, jadi, apa kamu mau melanjutkan hidup kamu sebagai istriku?" tanya Andi dengan tatapan penuh cinta.
Dinipun menganggukan kepalanya dengan tersenyum, membuat Andi segera membawa Dini ke dalam dekapannya.
Mereka berpelukan erat seolah baru saja bertemu setelah sekian lama terpisah. Bulir air mata kebahagiaan menetes begitu saja membasahi pipi keduanya.
"Makasih Din, makasih," ucap Andi yang semakin erat memeluk Dini.
Sedangkan Dini hanya menganggukkan kepalanya dalam dekapan Andi.
Andi kemudian melepaskan Dini dari pelukannya dan mencium kening Dini dengan lembut dan penuh cinta.
Di bawah langit malam berbintang itu, Andi dan Dini duduk berdua bersama cinta yang merekah dalam hati mereka.
Andi merengkuh Dini ke dalam dekapannya dengan satu tangannya menggenggam tangan Dini.
"Maaf karena udah terlalu lama menyakiti hati kamu Ndi," ucap Dini pada Andi.
"Jangan minta maaf, itu bukan salah kamu," balas Andi.
"Apa Dimas sekarang udah bahagia? apa Anita rela kalau kamu sama aku?"
"Dimas akan selalu bahagia selama kamu bahagia Din dan aku janji nggak akan kecewain Dimas dengan selalu bahagiain kamu, tentang Anita, aku yakin ini juga yang dia mau karena dia tau gimana aku simpan perasaan aku buat kamu," jawab Andi.
__ADS_1
"Aku emang bodoh banget karena nggak tau tentang perasaan kamu sama sekali, padahal aku juga merasakan hal yang sama," ucap Dini.
"Merasakan hal yang sama, maksud kamu?"
"Aku nggak tau kenapa terkadang ada perasaan aneh yang aku rasain waktu sama kamu, entah jantungku yang tiba tiba berdebar atau aku yang nggak suka liat kamu deket sama perempuan lain, sekarang aku tau kalau apa yang aku rasain itu karena sebenernya aku juga punya perasaan yang sama sama kamu," jawab Dini menjelaskan.
Andi hanya diam mendengarkan Dini, selama ini ia tidak tau jika Dini juga merasakan hal yang sama sepertinya.
"Aku selalu menyangkal semua perasaan itu karena yang aku sadari saat itu adalah aku milik Dimas dan aku cuma cinta sama dia, tapi sekarang aku rasa ada cinta di hati aku selain buat Dimas," ucap Dini.
"Apa aku boleh merasakan perasaan ini Ndi? aku masih simpan Dimas di hatiku tapi aku juga ngerasain cinta yang lain buat kamu!" tanya Dini dengan mendongakkan kepalanya menatap Andi.
Andi hanya tersenyum dengan menganggukan kepalanya.
"Biarkan Dimas selalu ada di hati kamu Din, aku nggak akan keberatan buat berbagi tempat sama Dimas di hati kamu," balas Andi.
Dini tersenyum lalu semakin menenggelamkan dirinya dalam dekapan Andi.
Setelah malam semakin larut, merekapun meninggalkan bukit. Andi mengendarai mobilnya ke arah rumah Dini.
Sesampainya di rumah Dini, merekapun turun dari mobil.
"Kamu masuk, istirahat!" ucap Andi pada Dini.
"Mmmm.... Ndi, masih ada sesuatu yang harus aku lakuin," ucap Dini.
"Apa?" tanya Andi.
"Aku.... aku harus bilang sama mama dan papa tentang hubungan kita," jawab Dini ragu.
"Iya, aku ngerti, besok aku akan temenin kamu buat temuin mama dan papanya Dimas," balas Andi.
"Beneran?"
"Iya, aku juga harus minta izin sama mereka," jawab Andi.
"Makasih Ndi!" ucap Dini dengan memeluk Andi.
"Sekarang kamu harus masuk dan istirahat, besok malem aku kesini lagi," ucap Andi lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Dini.
Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan masuk. Andipun mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.
__ADS_1
"gue harap lo nggak keberatan dengan hal ini Dim, semoga apa yang gue dan Dini jalani sekarang nggak akan menyakiti siapapun, termasuk lo dan Anita," ucap Andi dalam hati.