Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Penyesalan Ana


__ADS_3

Flashback 2 minggu yang lalu.


Goresan fajar terlukis indah menyapa pagi hari itu. Namun Ana terduduk di kamar mandi dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Test pack dengan dua garis merah itu seolah menjadi pedang tajam yang menghujam dirinya dengan sangat dalam.


Setelah beberapa lama berada di kamar mandi, ia lalu membasuh wajahnya dan keluar dari kamar mandi. Ana mengambil ponselnya, mencari nama Deva di penyimpanan kontaknya.


Sudah berkali kali ia menghubungi Deva namun tak pernah tersambung. Deva seolah menghilang begitu saja sejak 2 hari yang lalu.


Ana lalu memutuskan untuk mencari Deva ke tempat kerjanya. Ia tau Deva akan sangat marah jika Ana mendatangi tempat kerjanya, tapi ia tak peduli karena sudah 2 hari Deva menghilang tanpa kabar.


Ana pergi ke sebuah perusahaan di daerah X, namun bukan menemukan Deva, ia malah mendapat informasi yang membuatnya benar benar terkejut.


Ia mendengar jika Deva sudah resign dari perusahaan itu sejak 1 bulan yang lalu. Beruntung Ana bertemu teman dekat Deva di kantor itu, ia memberi tau Ana Jika Deva bekerja di sebuah bengkel yang tak jauh dari kantor itu.


Tanpa banyak berpikir lagi, Ana segera pergi ke bengkel yang dimaksud teman Deva.


"Deva udah nggak kerja di sini dari 2 minggu yang lalu, kalau boleh tau lo siapa ya? pacarnya? atau keluarganya?"


"Apa lo tau dia dimana sekarang?" balas Ana bertanya tanpa menjawab pertanyaan teman kerja Deva.


"Gue nggak tau dia dimana, yang jelas dia bawa kabur uang bengkel kemarin, untung aja bos gue baik jadi nggak memperpanjang masalah itu!"


Lagi lagi Ana dibuat terkejut dengan apa yang ia dengar tentang Deva.


Ana lalu pergi meninggalkan bengkel itu. Ia kembali ke rumah, berganti baju dan siap untuk pergi ke luar kota. Ia akan mencari Deva di rumah orangtuanya.


4 jam perjalanan Ana tempuh menggunakan bus karena mobilnya masih di bawa Deva. Ia hanya bisa berusaha tetap berpikir positif tentang laki laki yang akan menjadi calon suaminya itu.


Sesampainya Ana di daerah tempat tinggal Deva, ia segera mencari rumah Deva. Ia berjalan di tengah persawahan yang luas, sungguh pemandangan yang indah dan udara yang begitu segar. Namun semua itu tak bisa Ana rasakan mengingat hal buruk apa yang sedang terjadi padanya hari itu.


Tiba tiba, seseorang menarik tangannya dan membawanya ke dalam perkebunan yang sepi.


"Deva!"


"Kamu ngapain ke sini An?" tanya Deva yang tampak marah.


"Aku nyari kamu kemana mama Dev, kenapa kamu nggak bilang kalau kamu resign dari kantor?"


"Panjang ceritanya, yang jelas kamu harus pulang sekarang, jangan sampe ada yang liat kamu di sini!"


"Aku baru nyampe Dev, aku naik bis 4 jam dan kamu langsung nyuruh aku pergi sekarang?"


"Ini buat kebaikan kamu Ana, aku...."


"Kebaikan apa Dev? apa lagi yang kamu sembunyiin dari aku?"


"Ana, aku mohon kamu mengerti posisi ku saat ini, aku bener bener stres dan putus asa, ibuku sakit sakitan dan adik adikku butuh biaya buat sekolah, aku akan temuin kamu lagi nanti setelah masalahku selesai," jelas Deva.


"Kamu nggak mau tau kenapa aku ke sini?"


"Aku tau, kamu kangen kan sama aku? aku juga, aku juga kangen banget sama kamu, maaf karena aku pergi tanpa kasih kabar sama kamu, aku cuma nggak mau kamu cemas dan....."


"Aku hamil," ucap Ana memotong ucapan Deva.


"Apa? hamil? jangan bercanda An!"


"Aku nggak bercanda Deva, kamu nggak inget apa yang udah kita lakuin?"


"Kita cuma ngelakuin itu satu kali, nggak mungkin kamu hamil anak aku!" kilah Deva.


"Maksud kamu apa? kamu pikir aku cewek macam apa Deva?"


"Bisa aja kan kamu tidur sama laki laki lain selain aku, atau jangan jangan kamu ada hubungan sama bos kamu itu? itu kenapa kamu nunda pernikahan kita supaya kamu bisa......"


PLAAAAKKKKK


Satu tamparan mendarat keras di pipi Deva.


"Apa kamu pikir aku serendah itu? apa selama ini seperti itu kamu menilai aku? ini anak kamu Deva, aku nggak pernah ngelakuin hal itu sama orang lain selain kamu!"


"Terus mau kamu sekarang apa? apa aku harus nikahin kamu? jangan mimpi Ana, aku nggak mungkin nikahin cewek yang udah hamil!" ucap Deva dengan mendorong tubuh Ana lalu melangkah pergi, namun Ana menahannya.


"Kenapa kamu kayak gini Deva? aku bersumpah demi apapun ini anak kamu, aku mohon jangan kayak gini, kita selesaiin masalah kamu sama sama setelah kita menikah!"


"Aku nggak tau ya An, apa aja yang udah kamu lakuin sama bos kamu itu, kamu sering kerja lembur, kamu bahkan nunda pernikahan kamu demi dia, jadi besar kemungkinan kalau kamu memang udah berhubungan sama dia dan itu adalah anak dia!"


"Cukup Dev, selama ini aku kerja keras buat kita, kamu selalu minta uang buat modal bisnis kamu, berapapun aku kasih walaupun nggak pernah ada hasil dari bisnis kamu itu, aku juga yang udah persiapin semua keperluan pernikahan kita, katering, undangan, gaun, semuanya aku sendiri yang siapin dan sekarang kamu nuduh aku sekeji itu?"


"Aku emang bukan laki laki mapan seperti bos kamu itu, jadi kamu bisa gugurin kandungan kamu sebelum kamu semakin malu karena hamil tanpa suami!"


Ana semakin geram mendengar ucapan Deva, tangannya sudah bersiap untuk menampar Deva namun Deva menahannya.


"Tangan kotor kamu ini nggak berhak buat nyentuh aku, cewek murahan!"


Ana lalu menarik tangannya dengan kasar.

__ADS_1


"Dimana mobilku?" tanya Ana.


Deva lalu mengambil satu lembar uang seratus ribu dari dalam sakunya dan memberikannya pada Ana.


"Apa maksud kamu?"


"Aku udah jual mobil kamu, ini sisanya, kamu bisa pake ini buat pulang!" jawab Deva lalu berjalan meninggalkan Ana.


Ana lalu berjalan mendahului Deva. Ia menghapus air matanya. Ia tidak ingin orang lain melihat kesedihan yang dalam dari wajahnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Deva menahan Ana.


"Ketemu ibu kamu!"


"Eh, nak Deva, ini siapa? kok nggak diajak ke rumah?" tanya salah seorang tetangga Deva.


"Iya bu, ini mau diajak ke rumah," jawab Deva dengan sopan.


Ia lalu membiarkan Ana berjalan ke arah rumahnya. Ia sudah tidak bisa menyembunyikan apapun lagi dari Ana. Ia tau saat itu adalah saat bagi bangkai yang sudah ia sembunyikan rapat rapat tercium oleh Ana.


Ana mengetuk pintu rumah Deva beberapa kali sampai seorang perempuan membuka pintu. Perempuan cantik dengan wajah khas gadis desa itu tampak sedang hamil besar, perut buncitnya sudah jelas terlihat di mata Ana.


"Mbak cari siapa ya?" tanya si perempuan.


"Saya....."


"Ini teman mas dek, dia dari kota mampir ke sini sebentar," jawab Deva.


"Oh ayo mbak, silakan masuk!"


Anapun masuk ke dalam rumah itu. Sepi, tak ada siapapun di sana.


"Ibu lagi di rumah sakit mbak, adik adiknya mas Deva juga lagi sekolah, jadi rumahnya sepi," ucap si perempuan yang hanya dibalas anggukan Ana.


Ana berusaha untuk tetap tersenyum meski dalam otaknya sudah dipenuhi dengan praduga yang menyakitkan tentang siapa perempuan di hadapannya itu.


"Oh iya, perkenalkan nama saya Siti, saya istrinya mas Deva," ucap si perempuan dengan mengulurkan tangannya.


DEG!!


Dunia Ana seketika runtuh. Hatinya terasa begitu sakit dan perih. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, ia masih berusaha menahan air mata yang memenuhi kedua sudut matanya.


Dengan bergetar Ana menerima uluran tangan Ana, ia tak mampu berucap apapun lagi, hatinya benar benar sudah terkoyak.


"Mbak nggak papa?" tanya Siti yang menyadari tangan Ana bergetar, ia juga melihat mata Ana yang memerah menahan tangis.


"Baik mas, saya beli gula sebentar ke toko karena kebetulan gula di rumah habis," jawab Siti lalu pergi meninggalkan Deva dan Ana.


Ana lalu menutup kedua matanya dengan tangan, ia menangis dengan menggigit bibirnya kuat kuat, tak ingin suara tangisnya terdengar oleh orang lain.


Deva lalu mendekat dan memeluk Ana, namun Ana mendorong Deva.


"Aku minta maaf An," ucap Deva.


"Apa salahku sama kamu Dev? apa yang udah aku lakuin sampe kamu tega sama aku?" tanya Ana dengan terisak.


"Kamu baik An, aku bahagia sama kamu, tapi aku terpaksa menikah sama dia, karena....."


"Cukup Dev, aku nggak mau denger apa apa lagi," ucap Ana dengan air mata yang tak berhenti menetes dari matanya.


"Kamu harus gugurin kandungan kamu An, kamu liat sendiri aku udah punya istri dan dia lagi hamil besar, satu bulan lagi dia akan melahirkan, aku nggak mau dia stres karena masalah ini, ibu juga lagi di rumah sakit, aku nggak mau kesehatan ibu makin buruk kalau sampe ibu tau tentang kamu!"


"Aku mau jenguk ibu!"


"Jangan An, aku udah bilang ibu kalau hubungan ku sama kamu udah lama selesai, jadi aku mohon jangan temui ibu lagi, jangan temui aku dan keluarga ku lagi, aku mohon sama kamu," ucap Deva memohon.


Ana lalu beranjak dari duduknya.


"Ini, kasihkan istri kamu," ucap Ana sambil memberikan uang seratus ribu yang tadi diberi oleh Deva.


Ana lalu pergi meninggalkan rumah Deva. Dengan sisa kekuatan yang ia punya, ia berjalan seorang diri menyusuri jalanan pedesaan sampai di jalan raya.


Sejak saat itu, Ana seperti hidup dalam ruang gelap yang mengurungnya. Ia sering menangis dan merutuki dirinya sendiri. Masa depannya telah hancur, laki laki yang dicintainya telah menggores hatinya dengan sangat dalam.


Baginya, ia hanya bisa menangis, menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sudah ia perbuat bersama laki laki yang kini mengkhianatinya.


Flashback off


**


Pagi itu di home store.


Pagi pagi sekali Dimas sudah sampai di home store. Ia sengaja tidak mengantarkan Dini ke kantor karena ia juga harus bertanggung jawab pada home storenya sebelum ia benar benar pergi.


Tak lama kemudian Andi datang dan sedikit terkejut melihat Dimas yang tengah merapikan rak dan etalase.

__ADS_1


"Tumben lo rajin banget!"


"Biar nggak lo omelin mulu!" balas Dimas.


Andi hanya terkekeh lalu masuk dan menaruh tasnya di meja kerja.


"Ini punya lo?" tanya Andi yang melihat sebuah tas dengan logo merk terkenal di atas meja kerjanya.


"Punya lo!" jawab Dimas lalu duduk di meja kerja Andi.


"Bukan, gue mana mungkin beli barang mahal kayak gini!" ucap Andi dengan menggesernya ke arah Dimas.


"Buat lo!" ucap Dimas sambil menggesernya ke arah Andi.


"Lo serius? lo yang beli?"


Dimas hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Romantis banget sih lo, tapi gue kan belum ulang tahun!" ucap Andi sambil membuka isi tas itu dan mendapati sebuah iPad yang sangat ia inginkan.


"Anggap aja ini hadiah ulang tahun dari gue, karena gue nggak bisa kesini waktu ulang tahun lo nanti!"


"Thanks Dim, gue emang butuh ini," ucap Andi pada Dimas.


"Gue tau lo lagi pingin beli ini, jadi gue yakin sih pilihan gue nggak akan fail!"


"Lo tau darimana?"


"Gue liat history pencarian lo di hp hehe....."


"Kali ini gue maafin, tapi awas aja kalau lain kali lo buka HP gue lagi!"


"Hahaha.... iya sorry!"


Waktu berlalu, jam makan siang sudah tiba.


Dimas segera menjemput Dini untuk makan siang bersama. Tak lama setelah menunggu di depan tempat kerja Dini, Dini datang.


"Kita kemana sekarang?" tanya Dini ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Aku akan ajak kamu makan siang tempat yang bagus!"


"Oke, aku nggak akan nanya lagi karena aku tau kamu pasti nggak mau jawab kan?"


"Aku jawab kok, coba aja tanya!"


"Oke, kita mau kemana?"


"Liat aja nanti!"


"Tuh kan, kamu nyebeliiiiin!!" ucap Dini dengan memukul lengan Dimas.


Dimas hanya tertawa melihat Dini yang kesal. Ia lalu menangkap tangan Dini dan menciumnya.


"Love you sayang!" ucap Dimas dengan menatap mata Dini saat mereka sedang berhenti di lampu merah.


"Love you too," balas Dini dengan senyum manisnya.


Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah tempat makan bergaya klasik tradisional.


Dimas lalu menggandeng tangan Dini dan membawanya berjalan ke area belakang tempat itu. Tampak beberapa gazebo yang berada di tepi danau dengan bunga bunga berwarna warni di sekitarnya.


Mereka melangkah di jalan setapak menuju ke salah satu gazebo yang sudah tersedia beberapa menu masakan dan minuman di sana.


"Aku baru tau ada tempat makan seindah ini di deket kantor," ucap Dini.


"Aku sengaja cari tempat makan yang deket sama kantor kamu biar kita bisa lebih lama di sini," balas Dimas.


"Ini pesanan kamu?" tanya Dini.


"Iya, tenang aja, mereka baru siapin waktu kita di tempat parkir tadi kok, aku udah reservasi tempat ini," jelas Dimas.


"Kamu niat banget ya!"


"Pasti, ayo makan, aku juga sengaja pesen pake hot plate biar nggak cepet dingin!"


Dini hanya menganggukkan kepala mendengar penjelasan Dimas. Ia tidak menyangka Dimas akan menyiapkan semuanya sedetail itu hanya untuk makan siang mereka.


"Jangan diliatin mulu, nanti jatuh cinta loh!" ucap Dimas yang merasa sedang diperhatikan Dini.


"Kamu emang selalu bikin aku jatuh cinta," balas Dini dengan masih menatap laki laki di hadapannya.


Dimas lalu mengambil satu potong ikan dan menyuapkannya pada Dini.


"Tapi itu nggak akan bikin kamu kenyang sayang," balas Dimas dengan mencubit hidung Dini.

__ADS_1


Dini hanya terkekeh lalu menikmati makan siangnya bersama Dimas.


Tanpa Dini tau, Dimas sudah menyewa semua tempat yang ada di tepi danau itu hanya untuk dirinya dan Dini, karena ia tidak ingin ada orang lain di sana selain mereka berdua.


__ADS_2