Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Seseorang Siapa?


__ADS_3

Dini, Dimas, Andi dan Aletta berjalan keluar dari restoran. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam mereka.


Dimas mengantarkan Dini pulang, sedangkan Andi mengantar Aletta pulang.


Sepanjang perjalanan, Aletta hanya diam memperhatikan Andi. Ia memang melihat Andi tertawa namun ia tidak tau pasti seperti apa hati Andi saat itu.


"Kenapa Ta?" tanya Andi yang merasa Aletta sedang memperhatikannya.


"Nggak papa, aku lagi mikir aja apa aku harus seneng liat kamu ketawa," jawab Aletta.


"Kenapa kamu mikirin itu?"


"Karena aku nggak tau apa kamu ketawa karena memang kamu bahagia atau kamu ketawa cuma buat nutupi sakit hati kamu," jawab Aletta.


Andi hanya tersenyum tipis dan membawa pandangannya pada Aletta beberapa saat.


"Aku harap kamu bisa temuin seseorang yang bener bener bisa bikin kamu bahagia Ndi," ucap Aletta.


"Aku udah nemuin orang itu," balas Andi.


"Oh ya? siapa?" tanya Aletta penasaran.


"Kamu," jawab Andi dengan tersenyum pada Aletta.


Aletta lalu memukul lengan tangan Andi berkali kali membuat Andi mengaduh kesakitan.


"Kenapa? kamu emang orang yang bikin aku bahagia, apa ada yang salah?" tanya Andi.


"Terserah kamu aja, asal kamu bahagia," balas Aletta dengan menyembunyikan wajahnya yang merona karena malu.


Andi hanya tertawa melihat Aletta yang tampak salah tingkah. Ia beruntung karena bisa mengenal gadis sebaik Aletta.


Meskipun hubungan mereka harus berakhir karena perasaan yang berbeda, namun Aletta tetap bisa menjadi seseorang yang selalu bisa membangkitkan mood Andi.


Sesampainya di depan apartemen yang ditinggali Aletta, mereka turun dari mobil.


"Jadi kamu tinggal di sini?" tanya Andi.


"Iya, kamu bisa main ke sini kalau ada waktu," jawab Aletta.


"Aku sih selalu ada waktu, tapi kamunya yang sibuk," balas Andi.


"Iya sih, kamu kan bosnya, jadi ya bebas aja kan kerjanya, sedangkan aku cuma pegawai yang harus nurut sama atasan," ucap Aletta.


Andi hanya tersenyum dengan mengacak acak rambut Aletta.


"Iiihhh kebiasaan dari dulu nggak hilang hilang!" ucap Aletta kesal sambil kembali merapikan rambutnya.


"Hahaha..... sana masuk, besok aku jemput pulang kerja," ucap Andi.


"Oke, aku masuk dulu ya!"


Andi menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya pada Aletta lalu kembali masuk ke mobilnya dan mengendarai mobilnya ke arah rumah.


Sesampainya di rumah, Andi berjalan menaiki tangga dengan bersenandung kecil.


"Anak mama lagi bahagia kayaknya," ucap mama Siska dari bawah tangga.


Andi yang mendengar suara sang mamapun kembali turun dan menghampiri mamanya.


"Mama belum tidur?" tanya Andi yang mengikuti sang mama untuk duduk di ruang tengah.


"Belum, mama nunggu kamu," jawab mama Siska.


"Ada apa ma?"


"Mama belum tau kenapa kamu batalin kepergian kamu kemarin," jawab mama Siska.


"Apa mama marah sama Andi?" tanya Andi yang merasa bersalah pada sang mama.


"Enggak sayang, mama nggak marah, mama cuma harus tau aja apa yang membuat kamu bisa merubah keputusan kamu tiba tiba," jawab mama Siska.


"Andi minta maaf ma, sebenarnya Andi nggak bener bener mau kuliah di Amerika, Andi cuma cari cara buat kabur dari masalah yang sedang Andi hadapi, Andi memang pengecut karena nggak berani menghadapi masalah yang Andi buat sendiri," ucap Andi menjelaskan.


"Apa mama boleh tau masalah apa yang membuat kamu sampai memutuskan untuk pergi ke luar negeri?"


Andi membawa pandangannya pada sang mama dan hanya diam beberapa saat sebelum ia menjawab pertanyaan sang mama.


Ia tidak mungkin menceritakan pada sang mama apa yang sebenarnya membuatnya memutuskan untuk pergi ke luar negri


"Masalah Andi udah selesai kok ma, semuanya udah baik baik aja sekarang, Andi janji nggak akan melakukan hal yang kekanak-kanakan seperti itu lagi, Andi akan jadi laki laki yang lebih bertanggung jawab dan nggak mudah berpikiran sempit seperti kemarin," ucap Andi pada sang mama.


"Kamu bisa cerita sama mama apapun masalah yang kamu hadapi sayang, mama nggak mau kamu menanggung beban kamu sendiri, selama ada mama, mama selalu siap mendengar keluh kesah kamu dan membantu kamu sebisa mama," ucap mama Siska.


"Makasih ma, maaf karena sudah mengecewakan mama."


"Kamu nggak mengecewakan mama sayang, kamu dan Adit adalah anak kebanggan mama," balas mama Siska.


Andi hanya tersenyum lalu memeluk sang mama. Ia sangat beruntung karena memiliki keluarga yang sangat mengerti dirinya.


"Masih ada satu hal yang mengganjal di hati mama," ucap mama Siska dengan melepaskan diri dari pelukan Andi.


"Apa ma?" tanya Andi.


"Apa Dini yang membuat kamu membatalkan kepergian kamu?"

__ADS_1


Andi menghela napasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan sang mama.


"Andi nggak bisa lihat Dini menangis di depan Andi ma, itu kenapa Andi nggak mau Dini tau tentang kepergian Andi, tapi ternyata Dimas kasih tau Dini dan..... iya, Dini yang bikin Andi buat nggak jadi pergi," jawab Andi.


"Apa sebegitu besar rasa sayang kamu sama dia sampe kamu dengan mudahnya batalin kepergian kamu!"


Andi menganggukkan kepalanya pelan.


"Andi sayang banget sama Dini ma, Andi selalu mau Dini bahagia, Andi nggak bisa liat Dini sedih apa lagi kalau dia sedih karena Andi, Andi nggak mau menyesal karena tetap ninggalin Dini waktu itu," ucap Andi.


"Dan apa sekarang kamu tidak menyesali keputusan kamu itu?" tanya mama Siska yang dibalas gelengan kepala Andi.


"Andi justru bersyukur karena Dini cegah Andi pergi," jawab Andi.


"Kenapa?"


"Karena dengan batalnya Andi ke luar negeri, Andi jadi bisa ketemu sama teman lama Andi, teman lama yang udah lama banget nggak ketemu," jawab Andi dengan tersenyum bahagia.


"Apa dia perempuan?" terka mama Siska yang membuat Andi segera membawa pandangannya pada sang mama.


"Kok mama tau?"


"Mama cuma nebak aja, kamu keliatan lagi seneng, apa kamu abis ketemu dia?"


"Iya, dia nyamperin Andi di home store tadi," jawab Andi yang tidak bisa menahan senyumnya di hadapan sang mama.


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Andi berdering, Andi lalu mengambil ponselnya dari saku dan melihat nama Aletta di layar ponselnya.


"Dia hubungin Andi ma," ucap Andi pada sang mama.


"Ya udah angkat aja, mama mau masuk ke kamar dulu!" balas mama Siska lalu beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke kamar.


Sedangkan Andi segera menerima panggilan Aletta sambil berjalan ke arah kamarnya. Mereka mengobrol beberapa lama sebelum akhirnya Aletta mengakhiri panggilannya.


Andi lalu merebahkan badannya di atas ranjang dengan memejamkan matanya. Ia memegang dadanya dan mengusapnya pelan seolah meminta hatinya untuk segera sembuh dari sakitnya.


"Dini bahagia, aku juga harus bahagia, kebahagiaan Dini akan jadi kebahagiaanku juga, sampai kapanpun akan tetap seperti itu," batin Andi dalam hati.


**


Pagi telah datang, Andi keluar dari kamarnya dan turun untuk sarapan bersama sang mama dan Adit.


"Ini nih yang lagi jatuh cinta," ucap mama Siska menggoda Andi.


"Emang iya? sama siapa ma?" tanya Adit pada sang mama.


"Enggak enggak, mama cuma bercanda," ucap Andi menjawab pertanyaan Adit.


"Mama bukannya harus balik ke rumah mbak Ana?" tanya Andi.


"Mama mau di sini dulu satu Minggu, Ana juga nggak keberatan kok," jawab mama Siska.


Andi hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban sang mama.


"Emang lo lagi deket sama siapa sekarang?" tanya Adit yang masih penasaran.


"Bukan deket kayak yang lo pikirin, dia temen kuliah gue yang udah lama nggak ketemu dan kemarin dia cari gue ke rumah ibu," jawab Andi.


Adit hanya tersenyum tipis dan menepuk bahu Andi. Setidaknya ia tidak melihat Andi murung lagi seperti beberapa hari kemarin sebelum kepergiannya.


"Kamu harus ajak dia ke rumah sebelum mama balik ke rumah Ana!" ucap mama Siska.


"Dia sibuk ma, dia...."


"Mama maksa," ucap mama Siska memotong ucapan sang anak.


Andi hanya menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya pasrah.


"Iya, nanti Andi coba bilang sama dia," ucap Andi yang membuat Adit dan sang mama kompak melakukan tos.


Setelah selesai sarapan, Andi segera meninggalkan rumah untuk berangkat ke home store, begitu juga Adit yang segera berangkat ke kantornya.


"Materi meetingnya sudah kamu siapkan Din?" tanya Adit saat Dini memberikan jadwal hariannya.


"Sudah pak," jawab Dini.


"Bagus, kita berangkat sebelum jam 10 sama Rudi," ucap Adit.


"Baik pak," balas Dini.


Dini lalu kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10 siang saat Adit dan Dini masuk ke ruangan meeting.


Dini duduk di samping Adit seperti biasanya. Tak lama kemudian seseorang masuk dan duduk di samping Dini.


Dini hanya diam karena fokus membaca berkas di tangannya sebelum seseorang di sampingnya menyenggol kakinya.


Dini lalu membawa pandangannya ke arah sampingnya dan begitu terkejut saat melihat Dimas yang duduk di samping nya dengan tersenyum.


Sebelumnya ia tidak tau jika Dimas juga menghadiri meeting hari itu.


"Fokus Din!" ucap Adit pelan yang bisa di dengar dengan jelas oleh Dini.

__ADS_1


Dini hanya menganggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan Adit.


Meeting selesai tepat pukul 12 siang, semua orangpun meninggalkan ruangan meeting satu per satu.


"Kita makan siang bareng Dim?" ajak Adit pada Dimas.


"Sorry gue nggak bisa, lain kali ya!" balas Dimas.


"Oke."


"Aku balik dulu sayang, nanti sore aku jemput," ucap Dimas pada Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum lalu keluar dari ruangan itu bersama Adit.


"Pacar kamu sibuk banget," ucap Adit pada Dini.


"Iya, tapi dia masih bisa bagi waktunya dengan baik," balas Dini.


"Kita makan siang di deket sini aja ya, sekalian ada yang mau kakak tanyain sama kamu," ucap Adit.


"Oke," balas Dini.


Merekapun makan siang di restoran yang tak jauh dari perusahaan tempat mereka meeting.


"Kak Adit mau tanya apa?" tanya Dini saat mereka sudah sampai di restoran.


"Apa Andi sekarang lagi deket sama seseorang?" tanya Adit tanpa basa basi.


"Seseorang siapa? dia....."


Dini mengehentikan ucapannya, ia lalu mengingat Aletta yang baru saja kembali hadir dalam hidup Andi.


"Kenapa kak Adit nanyain hal itu?" tanya Dini tanpa melanjutkan ucapannya.


"Mama bilang kalau Andi lagi jatuh cinta, tapi Andi bilang kalau dia abis ketemu temen lamanya, kamu tau dia siapa?"


"Iya Dini tau, dia juga temen kos Dini waktu kuliah," jawab Dini.


"Mereka deket? pacaran?"


"Kak Adit tanya Andi aja, jangan tanya Dini!" balas Dini dengan nada kesal.


"Kakak kan cuma nanya Din, kok kamu marah?"


Dini menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskan pelan lalu menyeruput minuman di hadapannya.


"Dini nggak marah kak, Dini cuma kesel karena kak Adit ganggu Dini makan," ucap Dini dengan berusaha mengontrol emosinya.


"Hahaha.... oke oke sorry," balas Adit.


"apa kamu cemburu? apa mereka memang sangat dekat sampe kamu bisa kesel kayak gini cuma karena kakak tanyain hal itu?" batin Adit dalam hati.


"Namanya Aletta, dia.... dia pacar pertama Andi," ucap Dini.


"Pacar pertama?" tanya Adit tak percaya.


"Iya, mereka nggak pacaran lama karena Aletta yang mutusin Andi, tapi mereka tetap berhubungan baik setelah mereka putus sebelum akhirnya Aletta menghilang saat kita udah lulus kuliah," jawab Dini menjelaskan.


"Kenapa mereka putus?" tanya Adit penasaran.


"Andi bilang dia sebenarnya nggak bener bener cinta sama Aletta, tapi dia juga nggak bermaksud mempermainkan Aletta, dia cuma merasa nyaman dan seneng tiap lagi sama Aletta tapi itu nggak cukup buat bikin dia jatuh cinta sama Aletta," jawab Dini.


"Mungkin udah ada seseorang di hatinya Andi, yang bikin Andi susah buka hatinya buat perempuan lain," ucap Adit.


"Seseorang siapa maksud kak Adit?"


"kamu, kamu satu satunya yang bikin Andi nggak bisa buka hatinya buat cewek lain," jawab Adit dalam hati.


"Kamu pasti tau, kamu kan sahabatnya," jawab Adit sekenanya.


"seseorang yang ada di hati Andi, yang bikin Andi nggak bisa buka hatinya buat perempuan lain, apa iya? seseorang siapa? Anita?" batin Dini dalam hati.


"Enggak, nggak mungkin," ucap Dini dengan menggelengkan kepalanya.


"Apanya yang nggak mungkin?" tanya Adit yang terkejut mendengar ucapan Dini yang tiba tiba.


"tapi bisa jadi sih, dulu Andi sama Anita emang sempet deket dan Andi juga orang pertama yang bisa nerima Anita kembali, dia yang paling percaya sama Anita dan....."


"Din, kamu mikirin apa sih?" tanya Adit yang melihat Dini hanya diam melamun.


"Enggak, Dini nggak mikirin apa apa, kak Adit jangan bilang Andi ya kalau Dini kasih tau kak Adit tentang Aletta!"


"Iya, kakak nggak akan bilang dia," balas Adit.


Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Dini dan Adit segera kembali ke kantor.


Dini dan Adit masuk ke ruangan masing masing untuk melanjutkan pekerjaan mereka.


"Mungkin udah ada seseorang di hatinya Andi, yang bikin Andi susah buka hatinya buat perempuan lain,"


Ucapan Adit kembali terngiang di telinga Dini, membuat Dini tidak bisa berhenti memikirkan hal itu.


"jadi apa bener Anita yang bikin Aletta sama Andi putus?" batin Dini bertanya dalam hati.


Dini lalu menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk kembali fokus pada pekerjaannya agar pekerjaannya cepat selesai tanpa harus menghabiskan waktunya untuk lembur.

__ADS_1


__ADS_2