
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Dini dan Dimas berada di salah satu restoran yang tak jauh dari rumah mereka.
Setelah selesai makan malam, Dimas membawa Dini ke alun alun kota yang saat itu sedang menggelar acara.
Di sana banyak stand yang menjual berbagai macam barang dan makanan dengan diiringi dengan live music dan lampu sorot yang memecah malam.
Dimas menggandeng tangan Dini, mengajaknya untuk berkeliling di sana.
Mereka lalu duduk di salah satu bangku yang ada di sana, memperhatikan setiap langkah yang berjalan dengan raut wajah bahagia.
Entah mereka sedang berjalan sendiri, bersama pasangan atau bersama sahabat mereka, mereka semua tampak bahagia tanpa terlihat beban yang mengganggu.
"Sayang, kamu yakin lusa udah balik kerja?" tanya Dimas pada Dini.
"Iya, sebenarnya kak Adit kasih aku cuti satu Minggu, tapi karena kamu lusa udah kerja jadi aku juga mau kerja aja," jawab Dini menjelaskan.
"Kamu bisa nikmati waktu kamu dulu di rumah sayang!"
"Enggak Dimas, aku pasti bosen banget kalau di rumah seharian," balas Dini.
"Kamu bisa kemana aja sayang, ada supir yang akan antar kamu kemana pun kamu mau," ucap Dimas.
Dini menggelengkan kepalanya pelan, ia lalu membawa pandangannya pada Dimas, berniat untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan.
"Dimas, apa aku bener bener butuh supir?" tanya Dini.
"Aku nggak bisa selalu antar jemput kamu Andini, itu kenapa kamu butuh supir," jawab Dimas.
"Aku bisa naik bis atau taksi, aku....."
"Andini, aku suami kamu, aku punya kewajiban buat menjaga kamu dengan baik dan salah satu usahaku buat menjaga kamu adalah kasih kamu supir, supaya kamu bisa kemana mana dengan mudah dan aman, apa kamu keberatan?"
"Maaf Dimas, aku cuma belum terbiasa aja dengan kehidupan baru aku yang sekarang," balas Dini dengan menundukkan kepalanya.
"Nggak papa sayang, aku mengerti, kamu memang butuh adaptasi dengan banyak hal baru yang akan jadi kebiasaan baru dalam hidup kamu," ucap Dimas dengan membelai rambut Dini.
Dini hanya menganggukkan kepalanya tanpa berucap sepatah kata pun.
"Kamu tau aku sengaja pekerjain banyak orang di rumah kita biar kamu nggak terlalu banyak kerjain kerjaan rumah, kamu udah sibuk dengan pekerjaan kantor kamu, aku nggak mau kamu semakin sibuk dengan pekerjaan rumah sayang, aku nggak mau kamu terbebani dengan rumah tangga kita," ucap Dimas.
"Aku nggak akan merasa terbebani dengan apa yang sudah seharusnya aku lakukan Dimas, aku istri kamu, sudah sewajarnya aku siapin semua kebutuhan kamu, masak buat kamu dan....."
"Apa kamu mau pecat mereka?" tanya Dimas memotong ucapan Dini.
Seketika Dini terdiam, ia tidak mungkin meminta Dimas untuk memecat pekerja di rumahnya.
"Aku tau kamu istri yang baik Andini, aku sangat berterima kasih karena disamping kesibukan kamu di kantor kamu masih bisa bagi waktu kamu dengan baik sebagai istri, tapi sekali lagi, aku ngelakuin ini karena aku peduli sama kamu, aku nggak mau kamu kecape'an nantinya," ucap Dimas.
Dini masih terdiam, ia berusaha melihat situasi yang ada dari sudut pandang yang berbeda.
"Tapi kalau kamu memang mau aku pecat mereka, aku akan lakuin itu, kamu tau apapun akan lakuin buat bahagiain kamu," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
"Kasih aku waktu buat bisa beradaptasi dengan semua ini Dimas," ucap Dini yang hanya dibalas anggukan kepala Dimas.
Dimas lalu melepaskan tangan Dini dari genggamannya dan beranjak dari duduknya.
"Aku beliin kamu minum ya, kamu tunggu di sini!" ucap Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
Dimas lalu berjalan sedikit menjauh dari Dini untuk membeli minuman. Saat sedang mengantre minuman, ia tidak sengaja bertemu Aletta.
"Aletta, sendirian?"
"Hai Dim, aku sama Andi, kamu sama Dini?"
"Iya, Andi mana?" balas Dimas sekaligus bertanya.
"Dia........."
Aletta menghentikan ucapannya sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan Andi.
"Tadi dia di sana, tapi sekarang nggak tau, hilang hehehe......"
Dimas hanya tertawa kecil lalu segera membayar minuman pesanannya.
"Aku duluan ya Al!" ucap Dimas.
"Oke," balas Aletta.
Dimas lalu membawa langkahnya ke arah Dini menunggunya dengan membawa dua minuman.
__ADS_1
Namun ia menghentikan langkahnya saat ia melihat Andi yang sedang duduk di samping Dini.
Mereka tampak mengobrol dan sesekali terlihat tertawa.
"Sejak pagi aku belum liat kamu tertawa Andini dan baru aja kamu ketemu Andi, dia udah bisa bikin kamu ketawa," batin Dimas dalam hati.
Di sisi lain, Andi dan Dini sedang membicarakan masa lalu mereka saat mereka masih kecil.
"Kamu yang maksa aku naik, padahal aku nggak mau," ucap Dini pada Andi.
"Tapi setelah naik kamu nggak menyesal kan? kamu bisa lihat pemandangan lampu lampu kota dari bianglala," balas Andi.
"Iya sih, kalau waktu itu aku tetep nggak mau naik pasti aku nggak akan liat keindahan itu," ucap Dini.
"Terkadang kamu harus melawan rasa takut kamu sendiri Din, apa yang kamu takutkan itu terkadang cuma ada dalam pikiran kamu, setelah kamu menjalaninya kamu akan bisa lihat banyak keindahan dibalik hal yang kamu takutkan itu," ucap Andi.
Dini menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum.
Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Andi, ia terlalu takut untuk keluar dari zona nyamannya, ia terlalu takut untuk menemui hal baru dalam hidupnya.
Ia lalu mengingat saat ia pertama kali bekerja bersama Adit. Banyak hal yang membuatnya ingin menyerah dan meninggalkan perusahaan Adit.
Namun saat ia berhasil melihat Adit dari sisi lain, ia bisa menyadari ada banyak hal baik yang bisa ia dapatkan dari sikap tegas Adit yang sempat membuatnya down.
"Aku duluan ya Din, Aletta pasti udah nyari aku!" ucap Andi membuyarkan lamunan Dini.
"Kamu sama Aletta?"
"Iya, dia lagi beli minum tadi, waktu aku nunggu dia aku liat kamu sendirian, makanya aku kesini," jawab Andi.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis, membiarkan Andi pergi meninggalkannya.
Tak lama setelah kepergian Andi, Dimas datang dan duduk di samping Dini. Dimas memberikan satu minuman yang ia pegang pada Dini.
"Makasih," ucap Dini yang hanya dibalas anggukan kepala Dimas.
Dimas sengaja tidak membicarakan atau menanyakan tentang Andi, ia ingin mendengar sendiri dari Dini tanpa ia harus bertanya.
"Andi juga lagi di sini, dia sama Aletta," ucap Dini yang membuat Dimas lega karena Dini tidak menyembunyikan hal itu.
"Kamu liat mereka?" tanya Dimas
Dimas hanya menganggukkan kepalanya lalu mengajak Dini untuk meninggalkan tempat itu dan pulang.
Sesampainya mereka di rumah, Dini dan Dimas segera masuk ke kamar mereka.
Dini membuka lemari dan mengambil baju tidurnya lalu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Saat ia baru saja keluar, dia begitu terkejut karena Dimas berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.
"Kamu bikin aku kaget," ucap Dini dengan memukul pelan dada Dimas.
Dimas hanya tersenyum lalu menggendong Dini tiba tiba dan menjatuhkannya di ranjang.
"Apa kamu bahagia sayang?" tanya Dimas dengan menatap ke dalam mata Dini.
"Kenapa kamu tanyain itu? tentu aku bahagia," balas Dini dengan memainkan rambut Dimas.
"Kasih tau aku kalau aku salah, aku akan memperbaiki kesalahan ku," ucap Dimas.
"Kamu juga kasih tau aku kalau aku nggak sadar sama kesalahanku," balas Dini.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum lalu memberikan kecupan singkatnya di bibir Dini.
"Sayang, apa kamu masih nggak mau pake baju tidur yang udah aku siapin?" tanya Dimas dengan manja.
Dini mengernyitkan keningnya mengingat baju tidur apa yang Dimas maksud. Seketika Dini segera mendorong tubuh Dimas saat ia mengingat baju tidur seperti apa yang Dimas siapkan untuknya.
"Jangan aneh aneh deh!" ucap Dini lalu menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
Dimas hanya tertawa kecil lalu menyusup masuk ke dalam selimut.
Dini dan Dimaspun berada di dalam satu selimut yang sama. Mereka saling menatap untuk beberapa saat sebelum akhirnya Dimas menjatuhkan kecupannya di bibir Dini.
Mereka bertaut di dalam kehangatan selimut. Perlahan tangan Dimas yang mengusap rambut Dini semakin turun sampai ia menyentuh dengan sengaja sesuatu yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.
Seketika Dini membelalakkan matanya saat Dimas menyentuh miliknya. Namun Dimas tidak mengindahkannya, Dimas masih menjaga Dini dalam tautannya dan membiarkan tangannya mengusap dengan lembut meski masih tertutup oleh baju tidur Dini.
Dini lalu mendorong tubuh Dimas, membuat Dimas melepaskan tautannya dan menarik tangannya.
__ADS_1
"Maaf sayang," ucap Dimas lalu beranjak dari ranjang dan berjalan ke arah balkon yang ada di kamar mereka.
Sedangkan Dini masih terdiam dengan degupan jantung yang tidak beraturan. Dini mengacak acak rambutnya kesal pada dirinya sendiri.
Ia sudah menikah dengan Dimas dan sudah sepatutnya mereka melakukan hubungan yang lebih jauh setelah mereka sah menjadi suami istri.
Dini beranjak dari ranjangnya pelan dan melihat Dimas yang hanya diam di balkon. Ia merasa bersalah karena sudah membuat Dimas menjauh darinya.
Perlahan Dini membuka lemarinya, ia menatap geli pakaian tidur yang Dimas siapkan untuknya.
"Apa aku harus pake ini?" batin Dini bertanya dalam hati.
Dengan ragu Dini mengambilnya dan menempelkannya di badannya.
"Kecil banget, mana tipis banget, apa yang bisa ditutupi dengan pakaian kayak gini?" protes Dini dalam hati.
Dini lalu menghela napas panjang. Bagiamanapun juga ia adalah istri Dimas dan malam itu adalah malam kedua setelah pernikahan mereka. Ia tidak ingin mengecewakan Dimas meski Dimas bisa menahannya dengan baik.
Dini lalu mengambil remot AC dan memencetnya beberapa kali agar suhu kamarnya tidak terlalu dingin.
"Kan nggak lucu kalau besok pagi masuk angin gara gara kedinginan," batin Dini dalam hati lalu mulai melepas kancing baju tidurnya.
Namun saat ia baru melepas satu kancingnya, Dimas berbalik dan berjalan ke arahnya.
"AC nya mati sayang?" tanya Dimas yang menyadari suhu kamarnya berubah.
"Eee.... enggak, aku.... aku kedinginan tadi," jawab Dini gugup dengan menyembunyikan baju tidur yang Dimas siapkan untuknya.
"Aku ke ruang baca bentar ya, kamu tidur aja dulu!" ucap Dimas lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Dini.
Dini hanya diam melihat Dimas berjalan keluar dari kamar, sebelum Dimas benar benar meninggalkan kamar, Dini memanggilnya.
"Dimas!"
"Kenapa sayang?" tanya Dimas sambil berbalik menghadap Dini.
"Kamu marah sama aku?" tanya Dini dengan berjalan ke arah Dimas.
Dimas hanya tersenyum lalu membawa Dini ke dalam pelukannya.
"Aku nggak marah, aku akan tunggu sampai kamu siap, aku nggak akan maksa kamu," ucap Dimas lalu kembali mencium kening Dini dan keluar dari kamar.
Dini hanya terdiam di tempatnya berdiri. Ia benar benar merasa bersalah pada Dimas.
Selama ini ia tau Dimas sangat menjaganya dengan baik. Beberapa kali mereka tidur berdua di atas ranjang yang sama namun Dimas tidak pernah melakukan hal yang di luar batas padanya.
Hingga saat mereka sudah sah menjadi suami dan istri, Dimas masih meredam kesabarannya untuk Dini.
Dini lalu kembali duduk di ranjangnya, menatap nanar foto pernikahan yang terpajang di meja.
Ia tau Dimas sangat mencintainya, bahkan mungkin Dimas lebih mencintainya daripada dirinya sendiri.
Dini lalu pergi ke kamar mandi, mandi di bawah guyuran air hangat, lalu mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, mengenakan lotion di seluruh tubuhnya, menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya lalu mengenakan pakaian tidur yang sudah Dimas siapkan untuknya.
Dini menatap dirinya di depan cermin besar yang ada di kamarnya, ia sedikit malu saat melihat pantulan dirinya sendiri di cermin.
Dini lalu mengambil sisir, merapikan rambutnya dan kembali duduk di tepi ranjang untuk menunggu kedatangan Dimas.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun Dimas tidak kunjung kembali. Beberapa kali Dini mencoba menguping di balik pintu berharap ada langkah kaki yang mendekat ke arah kamarnya.
Namun sampai hampir jam 12 tidak ada tanda tanda kedatangan Dimas. Dinipun mulai kesal, bukan pada Dimas tapi pada dirinya sendiri yang sudah membuat Dimas keluar dari kamar.
"Kamu pasti marah kan sama aku, kamu pasti kecewa sama aku!" ucap Dini dengan mata berkaca kaca.
Saat Dimas sudah melakukan langkahnya dengan baik, Dini malah menolaknya. Sekarang ia berusaha mempersiapkan dirinya dengan baik saat Dimas sudah kecewa dan pergi dari kamarnya.
"Kamu emang bodoh Din, bodoh banget!" ucap Dini merutuki kebodohannya sendiri.
Dini lalu merebahkan dirinya di ranjang dengan posisi sekenanya, ia benar benar kesal dengan situasi saat itu hingga tanpa sadar Dinipun tertidur.
Di sisi lain, Dimas yang baru saja keluar dari ruang baca segera kembali ke kamarnya. Ia sedikit merasa bersalah karena sudah meninggalkan Dini sendirian di kamar.
Saat Dimas baru saja membuka pintu kamar, semerbak wangi menusuk hidungnya. Dimas benar benar terkejut saat melihat Dini yang tertidur di ranjang dengan posisi yang membuat matanya fokus dengan otomatis.
Dimas terdiam di tempatnya berdiri tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu. Saat Dini menggeliat, seketika Dimas tersadar dari pikiran kotornya.
Dimas segera menutup pintu kamar dengan perlahan sebelum orang lain melihat istri yang dicintainya.
Dimas membawa langkahnya dengan perlahan ke arah Dini tanpa berkedip. Entah sudah berapa kali ia menelan ludahnya sendiri sejak ia membuka pintu kamarnya tadi.
__ADS_1