
Hari masih belum terlalu siang. Terik mentari pun tak cukup terasa hangat. Entah karena itu daerah pegunungan atau memang mentari masih enggan untuk meluapkan kehangatannya.
Dimas yang baru saja mengisi daya ponselnya segera keluar dari kamar untuk membantu Andi menyiapkan pesta nanti malam di halaman belakang.
Saat akan membuka pintu, ia mendengar suara yang tak asing di telinganya.
"Saya cuma mau ingetin, Dini sama Dimas udah tunangan, nggak lama lagi mereka akan menikah dan....."
"Saya tau, tante nggak perlu ingetin lagi," ucap Andi memotong ucapan mama Dimas.
"Kalau tau seharusnya kamu menjauh!" ucap mama Dimas yang sedikit terdengar emosi.
"Apa menurut tante dengan menjauhnya saya dari Dini dan Dimas akan membuat semunya lebih baik? apa Dini bisa jauh dari sahabat kecilnya? apa Dimas bisa menjaga Dini tanpa saya?"
Suasana hening beberapa saat.
"Tolong tante pikir baik baik, apa kehadiran saya merusak kebahagiaan mereka? enggak tante, sekali lagi saya tegaskan, kebahagiaan Dini itu yang paling utama buat saya, nggak peduli dengan siapapun dia bahagia saya cuma mau liat dia bahagia."
Dimas mendengar dengan jelas percakapan Andi dan mamanya. Ia tidak menyangka jika sang mama akan mengatakan itu pada Andi.
Dimaspun memilih untuk diam di tempatnya sampai salah satu dari mereka pergi.
Di sisi lain, setelah berhasil membungkam mama Dimas, Andi meninggalkan mama Dimas yang masih berdiri di halaman belakang vila begitu saja. Ia berjalan masuk dan saat membuka pintu ada Dimas yang sudah berdiri di balik pintu.
Entah sejak kapan Dimas berdiri di sana, apakah Dimas mendengar pembicaraannya dengan mamanya atau tidak, Andi tak peduli. Andi melewati Dimas begitu saja.
Dalam hatinya ada sedikit rasa kesal karena ucapan mama Dimas padanya. Ia tau mama Dimas mengetahui perasaan yang disembunyikannya pada Dini, tapi mama Dimas tidak pernah tau sejauh dan sedalam apa ia mencintai Dini.
Andi lalu masuk ke dalam kamar mandi lalu membasuh wajahnya dengan kasar.
"bukan aku yang minta buat jatuh cinta sama Dini, bukan aku yang mau rasa ini tumbuh sendiri dan bukan aku yang biarin perasaanku semakin dalam tiap hari, Tuhan tolong tunjukkan jalanMu, hapus dia dari hatiku jika memang dia bukan untukku," batin Andi dalam hati.
Setelah lebih tenang, Andi keluar dan duduk di ruang tamu bersama Dini dan Anita yang sedang beristirahat.
Andi duduk di sofa panjang dengan menyadarkan kepalanya dan menutup matanya. Dini yang berada di sofa lain segera mendekat dan menempelkan telapak tangannya di kening Andi.
"Kamu sakit?" tanya Dini.
Andi tak menjawab, ia menarik tangan Dini dan menggenggamnya dengan mata yang masih tertutup.
"Kamu pasti kecape'an abis nyetir, aku ambilin minum ya!"
Andi menggeleng, namun matanya masih tertutup.
"apa aku salah jatuh cinta sama kamu Din? sedangkan ini bukan kemauan ku, aku cuma mau jadi sahabat kamu, tapi hatiku meminta lebih," batin Andi dalam hati.
"Kamu nggak papa Ndi?" tanya Anita.
Andi lalu membuka matanya dan menatap gadis di sampingnya.
"aku sayang sama kamu Din, aku cinta sama kamu," ucap Andi dalam hati.
"Apa? kamu mau bilang apa?" tanya Dini yang seolah mengerti jika sahabatnya sedang gelisah saat itu.
Andi menggeleng lalu berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari vila. Dinipun segera mengikuti Andi.
"Kamu mau kemana? aku ikut!"
"Jangan, kamu di sini aja."
"Kamu kenapa sih? ada apa?"
"Aku cuma capek Din, aku mau cari udara segar dulu."
"Aku ikut."
"Dimas nungguin kamu di halaman belakang, udah kamu samperin?"
"Emang iya?"
"Iya, aku lupa bilang tadi."
"Ya udah deh, kamu jangan jauh jauh ya, ntar ilang loh!"
Andi hanya tersenyum tipis lalu berjalan keluar area vila.
Andi berjalan ke arah bukit yang berada di dekat vila.
"Andi, tunggu!" teriak seseorang.
__ADS_1
Andi menghentikan langkahnya dan membiarkan Anita mengikutinya. Ia tau pasti akan terasa canggung bagi Anita untuk berkumpul lagi dengan keluarga Dimas setelah hal besar yang terjadi.
"Kamu mau kemana?" tanya Anita.
"Ke bukit, mau ikut?"
"Mau mau," jawab Anita bersemangat.
Andi dan Anitapun berjalan bersama ke arah bukit. Sampai di suatu titik, mereka berhenti. Mereka duduk di atas sebuah batu besar.
"Kenapa kamu ikut kesini Nit?" tanya Andi pada Anita.
"Ke sini? ke bukit?"
"Bukan, kenapa kamu mau ikut liburan ini!"
"Aku cuma mau buktiin kalau aku emang mau berubah, aku mau memulai semuanya dengan lebih baik, aku nggak akan malu buat minta maaf dan mengakui kesalahanku sama keluarga Dimas."
Andi hanya diam mendengarkan jawaban Anita. Matanya menatap kosong ke arah sungai kecil yang berada di bawah mereka.
"Pasti kamu mikir aku cewek nggak tau malu ya? nggak papa sih, kalaupun mereka nggak bisa Maafin aku, aku tetep nggak akan menyerah, aku nggak peduli kalau orang orang anggap aku cewek yang nggak baik."
"Kamu salah, justru aku salut sama kamu, nggak semua orang punya keberanian sebesar kamu, mungkin orang lain akan memilih buat lari dan melupakan masa lalu buruknya, tapi kamu enggak, kamu udah pilih pilihan yang benar dengan datang, minta maaf, mengakui kesalahan kamu dan yang terpenting kamu mau berubah buat lebih baik."
"Makasih Ndi," ucap Anita dengan menggenggam tangan Andi, namun Andi menarik tangannya.
"Aku tau ini hal yang berat buat kamu Nit, pesan aku cuma satu, gimanapun omongan orang di luar sana, kamu jangan berhenti berbuat baik, aku yakin kebaikan akan kembali datang buat kamu kalau kamu tulus berbuat baik."
Anita menganggukkan kepalanya mendengarkan ucapan Andi. Dalam hatinya ia beruntung karena ada Andi yang begitu mempercayainya. Namun sepertinya ia masih belum bisa mendekati Andi untuk lebih jauh lagi.
Kali ini, ia tidak akan terburu buru. Ia akan melakukannya dengan sangat hati hati.
**
Di sisi lain, ketika Andi baru saja meninggalkan mama Dimas, Dimas segera keluar menemui mamanya.
Ia ingin membicarakan tentang percakapan sang mama dengan Andi yang baru saja ia dengar. Namun tiba tiba papanya datang, membuat Dimas mengurungkan niatnya.
Merekapun membicarakan banyak hal tentang liburan hari itu. Tak lama kemudian Dini datang menghampiri Dimas.
"Ada apa?" tanya Dini pada Dimas.
"Apa?" balas Dimas balik bertanya.
"Enggak, kamu kan lagi istirahat sama Anita, kenapa?"
"Andi bilang Dimas nungguin aku, tapi kayaknya enggak, Andi bohong? kenapa? ada apa sebenarnya?" batin Dini bertanya tanya.
"Ada apa sayang? kamu kangen sama aku?"
"Kalau kangen kenapa?"
"Kalau kangen aku peluk," jawab Dimas sambil memeluk Dini lalu mencium keningnya.
Dini segera mendorong Dimas karena di sana ada mama dan papa Dimas yang menyaksikan adegan itu.
"Kenapa sih, biasanya juga gitu kan?" protes Dimas yang hanya dibalas cubitan kecil di pinggang Dimas.
Mereka semua pun tertawa melihat Dini yang malu.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, Dini dan Dimas sudah masuk ke kamar mereka masing masing untuk beristirahat, begitu juga mama dan papa Dimas yang sudah masuk ke kamar lain.
Karena Anita tak kunjung masuk ke dalam kamar, Dinipun keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Anita.
Baru saja ia keluar dari vila, ia melihat Andi dan Anita yang sedang berjalan berdua. Mereka tampak semakin dekat dengan canda tawa mereka.
"jadi ini alasan kamu kenapa aku nggak boleh ikut? kamu sengaja bohong biar kamu bisa berdua sama Anita?" batin Dini kesal dalam hati.
Entah kenapa ia merasa kesal atas apa yang dilihatnya saat itu. Entah karena Andi berbohong padanya atau karena kedekatan Andi dan Anita di depannya.
"Dari mana?" tanya Dini dengan nada yang dingin pada Andi.
"Dari bukit," jawab Andi.
"Oh," balas Dini lalu kembali masuk ke dalam kamar.
"Apa menurut kamu dia cemburu?" tanya Anita pelan pada Andi.
__ADS_1
Andi hanya menaikkan kedua bahunya sebagai jawaban lalu masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, sudah ada Dimas yang duduk di tepi jendela menunggu kedatangan Andi.
"Sorry Ndi," ucap Dimas dengan memandang ke arah luar jendela.
"Lo ngomong sama gue?" tanya Andi.
Dimas lalu menoleh ke arah Andi.
"Sorry atas sikap mama tadi, lo nggak perlu dengerin mama, tentang hubungan gue, Andini dan lo, itu bukan urusan mama," ucap Dimas serius.
"Gue ngerti niat tante Angel baik, tante Angel cuma nggak mau ada masalah lagi antara lo sama Dini dan menurut tante Angel gue ada adalah salah satu masalah diantara hubungan lo sama Dini."
"Enggak Ndi, gue nggak pernah anggap lo masalah dalam hubungan gue sama Andini, justru lo yang sering jadi penengah kalau gue sama Andini berantem, sekali lagi gue minta maaf dan gue harap lo nggak menghindar dari Dini karena ucapan mama tadi!"
Andi mengangguk lalu membaringkan badannya di tempat tidur.
"Tapi ada yang mau gue tanyain, mama tau dari mana kalau lo ada perasaan sama Andini?" tanya Dimas.
Andi diam beberapa saat. Memori membawanya pada masa beberapa tahun yang lalu saat Dimas tiba tiba pergi. Saat sebelum ia dan Dini tau jika Dimas sedang koma di rumah sakit karena insiden kecelakaan besar yang terjadi pada Dimas.
Ia ingat, saat itu ia sedang berada di rumah sakit bersama mama Dimas karena Dini pingsan di depan rumah Dimas.
Ia ingat dengan jelas percakapannya dengan mama Dimas waktu itu.
"Bukannya ini kesempatan ya buat kamu!"
"Maksud tante?"
"Saya tau kamu suka sama Dini, dengan perginya Dimas sekarang, ini kesempatan besar buat kamu dapetin hatinya Dini, nggak ada lagi saingan buat kamu dapetin Dini, iya kan?"
Dan dengan pasti Andi selalu menjawab bahwa kebahagiaan Dini adalah yang terpenting baginya. Tak peduli dengan siapapun Dini akan melabuhkan hatinya, jika itu bisa membuatnya bahagia maka itu sudah cukup bagi Andi.
"Tante Angel udah lama tau," jawab Andi.
"Udah lama? dari kapan? sebelum gue tunangan?"
"Jauh sebelum itu," jawab Andi.
"Apa sebelum gue ke Singapura?"
Andi mengangguk pelan.
"Lebih tepatnya waktu lo tiba tiba hilang gitu aja, liat Dini yang selalu nangis tiap hari bikin hati gue hancur Dim, gue berusaha bantu dia buat cari lo tapi tetep nggak ada jalan sama sekali," ucap Andi.
"Apa yang udah terjadi Ndi? apa yang gue nggak tau?"
"Lo yakin mau dengerin ini?" tanya Andi memastikan.
Dimas mengangguk cepat.
"Lo tau kan kecelakaan lo disimpan baik baik sama keluarga lo, termasuk Anita, Sintia, Kak Yoga dan Toni, mungkin alasan mereka bener karena mereka nggak mau lo trauma setelah lo sadar nanti, tapi yang pasti tante Angel nggak mau Dini tau tentang itu dan berusaha jauhin Dini dari lo," jelas Andi.
"Apa yang terjadi sama Andini Ndi?"
"Lo pasti tau Dim, dia menyesali kata terakhirnya sebelum kalian pisah di sekolah, dia hancur, dia nggak berhenti buat nyari lo sampe akhirnya dia berhasil keluar dari kesedihannya itu, tapi gue tau jauh di dalam hatinya dia masih berharap kalau lo akan dateng dan peluk dia."
"Kenapa lo nggak ungkapin perasaan lo saat itu Ndi? dia butuh pengganti gue di hidupnya."
"Gue tau dia masih bertahan sama harapannya Dim, harapan kalau suatu saat nanti lo akan kembali dan berakhir dengan happy ending, walaupun setelahnya lo datang dengan memori baru lo dan Anita sebagai tunangan lo, gue tau dalam hatinya tetep ada lo!"
Dimas diam beberapa saat. Hatinya terasa perih membayangkan bagaimana tersiksanya gadis yang dicintainya saat itu.
"Thanks Ndi, makasih banget karena udah jaga Andini buat gue, gue janji akan membahagiakan Andini lebih dari yang gue bisa," ucap Dimas lalu keluar dari kamar.
"gue jaga dia bukan buat lo Dim, gue ngelakuin itu karena gue cinta sama dia dan dia cinta sama lo," batin Andi dalam hati.
Di sisi lain, Dimas mengetuk pintu kamar Dini beberapa kali sampai akhirnya pintu terbuka. Seorang gadis cantik berdiri di belakang pintu, namun Dimas segera masuk dan menarik tangan Dini yang sedang berdiri di tepi jendela kamar.
Dimas lalu memeluknya begitu saja, tak peduli dengan Anita yang masih terdiam terpaku dengan memegang handle pintu.
"Aku nggak akan sia siakan kesempatanku lagi Andini, aku nggak akan biarin apapun dan siapapun pisahin kita lagi, aku nggak akan berhenti berjuang buat hubungan kita," ucap Dimas dengan memeluk Dini.
"Dimas, kamu kenapa?" tanya Dini yang begitu terkejut dengan kedatangan Dimas yang tiba tiba.
Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya, ia memegang kedua pipi Dini dan menatapnya dalam dalam.
"Aku mau kamu tau sayang, bahkan setelah jantungku nggak berdetak lagi, kamu akan tetap ada di hati ku, mataku akan tetap lihat kamu walaupun aku udah terpejam selamanya, aku sayang dan cinta sama kamu nggak cuma hari ini, tapi selamanya sampai waktu mempertemukan kita lagi di dunia yang baru," ucap Dimas dengan suara bergetar.
__ADS_1
Dini hanya diam mendengarkan ucapan Dimas yang seperti angin hangat membelai hatinya yang dingin.
Dimas semakin mendekat dan memberikan kecupannya di bibir mungil Dini. Sesaat mereka bertaut tanpa mempedulikan apapun dan siapapun yang ada di sana saat itu.