
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Dini sudah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap untuk meninggalkan meja kerjanya.
"Ke kantin Din?" tanya Cika.
Dini menggeleng dengan senyum mengembang.
"Jangan bilang mau makan siang sama Dimas!"
"Emang iya, kamu mau ikut?"
"Beneran makan siang sama Dimas?" teriak Cika.
"Sssttttt.... jangan berisik, kamu mau ikut nggak?"
"Enggak lah, aku ke kantin aja!"
"Ya udah kalau gitu, aku duluan ya!"
Cika menganggukkan kepalanya dengan tatapan heran karena untuk pertama kalinya sejak mereka bekerja di sana, Dini menerima ajakan Dimas untuk makan siang di luar kantor.
Sepengetahuan Cika, Dini memang sengaja menyembunyikan hubungannya bersama Dimas, namun tampaknya Dini sudah berubah pikiran mulai hari itu.
Di lobby, Dini berlari kecil menghampiri Dimas yang sudah menunggunya di sofa panjang depan resepsionis. Dimas menarik Dini dan mendaratkan ciuman singkatnya di kening Dini, tak peduli dimana mereka berada saat itu.
"Ini kantor Dimas!" ucap Dini dengan memukul lengan Dimas.
"Biarin, biar mereka tau kamu milikku," balas Dimas dengan berbisik.
Mereka lalu meninggalkan kantor dan makan siang bersama Andi di home store mereka.
"Tumben nih mau makan siang di luar," ucap Andi pada Dini.
Belum sempat Dini menjawab, bel berbunyi. Andi segera keluar menemui calon customer nya.
"Hai Ndi, Dimas ada ya?"
"Diimaasss..... mmm.... itu....."
"Itu mobil Dimas kan?" tanya Kintan.
"Iya sih, tapi....."
"Dimas, aku bawain kamu makan siang nih!" teriak Kintan dari depan.
Dini dan Dimas yang berada di dalam kompak menghentikan kegiatan makan mereka begitu mendengar teriakan Kintan.
"Sana keluar, klien kamu tuh!" ucap Dini lalu kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ada Andi di luar," balas Dimas.
Dini lalu beranjak dari duduknya dan segera keluar.
"Loh mbak Kintan, ada perlu apa mbak?" tanya Dini yang kini berdiri di samping Andi.
"Kamu kok di sini Din?" balas Kintan balik bertanya.
"Lagi makan siang mbak, mau gabung juga?"
"Kalian......" ucap Kintan dengan menunjuk Dini dan Andi bergantian.
__ADS_1
"Dia sahabat ku mbak, namanya Andi, udah kenal kan?" balas Dini.
"Udah udah, aku sering ke sini jadi kenal sama Andi," jawab Kintan.
"oh jadi Dini di sini karena ada sahabatnya, Dimas sendirian dong di dalem, apa aku gabung aja ya? sekalian minta maaf karena kejadian kemarin," batin Kintan.
"Ayo masuk mbak, keburu habis jam makan siangnya," ajak Dini.
Kintan mengangguk lalu segera masuk. Di dalam sudah ada Dimas yang sedang menikmati makan siangnya.
"Hai Dim," sapa Kintan yang membuat Dini memutar kedua bola matanya karena kesal.
Mereka lalu duduk, Dini dan Kintan duduk di sebelah kanan dan kiri Dimas, sedangkan Andi duduk di sebelah Dini.
"Aku bawain makan siang buat kamu," ucap Kintan memberikan satu kotak makan siang untuk Dimas.
"Makasih mbak, tapi Dimas udah beli sendiri tadi," balas Dimas.
"Oh, ya udah nggak papa, aku ke sini mau minta maaf soal kemarin," ucap Kintan yang membuat Dini mengernyitkan keningnya.
"soal kemarin? soal apa?" batin Dini bertanya tanya.
"Nggak papa mbak, Dimas juga minta maaf udah kebawa emosi kemarin," balas Dimas.
"Nggak papa Dim, saya yang salah," balas Kintan tanpa bisa berhenti menatap Dimas, membuat Dini semakin cemburu melihatnya.
"Sayang, tolong ambilin minum!" ucap Dimas pada Dini.
"Yang dingin apa yang biasa?" tanya Dini.
"Yang dingin sayang," jawab Dimas.
"sayang? Dimas panggil Dini sayang?" batin Kintan tak mengerti.
"Aku juga dingin Din," jawab Andi.
"Mbak mau minum juga?" tanya Dimas menyadarkan lamunan Kintan.
"Eh, apa? minum ya? iya aku juga."
Dinipun kembali dari dapur dengan membawa tiga botol minuman dingin untuk Dimas, Andi dan Kintan.
"Loh kamu nggak ambil juga?" tanya Dimas pada Dini.
"Lupa hehe..."
"Ya udah ini aja sama aku," ucap Dimas dengan menggeser minuman miliknya ke depan Dini.
"Oh ya, kalian ini satu kantor ya?" tanya Andi pada Dini dan Kintan. Ya, Andi berpura pura tidak tau apa apa saat itu.
"Iya, kita satu divisi," jawab Kintan.
"Oh ya, mbak Kintan bawa makan siang buat Dimas?" tanya Dini.
"Ini.... mmmm... iya, aku sengaja bawa buat Dimas," jawab Kintan.
"Kalian keliatan deket ya!" balas Dini dengan membawa senyumnya pada Dimas dan Kintan, senyum yang mengandung sianida bagi Dimas.
"Nggak sedeket yang kamu pikir sayang, mbak Kintan ini klien aku, dia bantuin saudaranya buat pesen seragam di sini," ucap Dimas.
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu aku balik dulu ya, masih ada kerjaan numpuk gara gara bawahan nggak ada yang fokus kerja," ucap Kintan dengan tersenyum pada Dini, senyum yang sangat tidak bersahabat.
"Ayo mbak, aku anter ke depan," ucap Andi.
Kintan lalu segera meninggalkan ruangan itu dengan kesal.
"Mereka pacaran Ndi?" tanya Kintan pada Andi ketika mereka sudah berada di luar.
"Udah tunangan mbak," jawab Andi.
"Tunangan?" tanya Kintan tak percaya.
"Iya, mereka pacaran dari SMA mbak bentar lagi mau nikah," jawab Andi yang sengaja membuat Kintan semakin kesal.
Kintan lalu membuang kotak makanan yang ia bawa ke tong sampah dan segera pergi meninggalkan tempat kerja Andi dan Dimas.
Andi lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Dimas segera mengantarkan Dini kembali ke kantor.
"Apa aku tadi keterlaluan?" tanya Dini pada Dimas ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Enggak dong, biar mbak Kintan juga nggak balik lagi ke tempat kerjaku!"
"Tapi dia kan klien kamu!"
"Kalau dia berhenti jadi klien ku karena masalah pribadi ya terserah dia sayang, yang penting aku sama Andi udah ngelakuin yang terbaik buat mbak Kintan dalam hal bisnis," balas Dimas.
Dini tersenyum lalu segera turun dari mobil Dimas karena mereka sudah sampai di depan kantor.
"Sayang!" panggil Dimas sebelum Dini semakin jauh.
Dini menghentikan langkahnya dan menunggu Dimas yang menghampirinya.
"Love you," ucap Dimas dengan berbisik di telinga Dini dan mencium pipi Dini dengan cepat.
"Love you too," balas Dini dengan berjinjit dan mencium pipi Dimas.
Dini sengaja melakukan hal itu karena ia tau Kintan sedang memperhatikan mereka dari jauh.
"Nanti aku jemput ya!" ucap Dimas dengan mengusap rambut Dini.
Dini mengangguk lalu membiarkan Dimas pergi.
Di tempat lain, Kintan melihat hal itu dengan tatapan kesal.
Sesampainya Dini di meja kerjanya, Kintan segera datang dengan membawa setumpuk pekerjaan yang harus segera diselesaikan Dini.
"Ini selesaiin sebelum kamu pulang, jangan pulang sebelum kamu selesai!" ucap Kintan tegas.
Dini segera membuka beberapa map dihadapannya.
"Ini bukan tugas saya mbak, saya....."
"Kamu mau nyuruh saya? di luar kantor kamu boleh anggap saya teman tapi di sini kamu bawahan saya, jadi jangan pernah bantah apa yang saya suruh, ngerti!"
"Baik mbak," balas Dini.
Setelah Kintan pergi, Cika segera mendekat ke arah Dini.
"Sabar ya Din, orang tua emang suka emosi hehe...."
__ADS_1
"dan aku yang bikin dia makin emosi," batin Dini dalam hati.
Dini lalu segera mengerjakan pekerjaan yang mustahil bisa ia selesaikan tepat waktu.