Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Cerita Adit


__ADS_3

Dini dan Dimas berjalan dengan bergandengan tangan keluar dari mall, mereka lalu pergi ke salah satu taman yang tak jauh dari mall.


"Kamu baik baik aja sayang?" tanya Dimas pada Dini.


"Iya, aku baik baik aja, makasih udah dateng hari ini, makasih udah ngajak aku nonton dan ketemu sama Anita," jawab Dini.


"Ini kamu lagi sarkas ya?"


"Enggak, aku emang ketemu Anita dan kebetulan hari ini aku ketemu dia tanpa harus ngajak dia ketemu," jawab Dini.


"Kenapa kamu mau ketemu dia?"


"Aku udah ambil keputusan Dimas, kalau dia emang mau berteman lagi sama aku, aku akan terima, walaupun aku nggak tau apa yang sebenarnya dia rencanain, tapi kalau dia ngelakuin sesuatu yang buruk lagi, aku nggak akan tinggal diam," jawab Dini.


"Dia bukan cewek baik baik Andini, kamu harus hati hati sama dia!" ucap Dimas.


"Aku tau Dimas, aku juga pingin kita bisa berteman lagi, tapi aku nggak akan jatuh ke lubang yang dia buat," balas Dini.


"Aku selalu dukung kamu sayang," ucap Dimas membelai rambut Dini.


"Makasih Dimas," balas Dini lalu memeluk Dimas.


"Jadi kalian akan berteman lagi?" tanya Dimas.


"Iya, itu yang kita mau," jawab Dini.


"Andi gimana?"


"Andi percaya banget sama Anita, kalau emang Anita punya niat yang buruk, aku akan pastiin kalau Andi nggak akan terpengaruh sama dia, aku nggak akan biarin Andi masuk perangkapnya," jawab Dini.


"Aku nggak ngerti kenapa kamu sama Andi masih mau berteman sama dia," ucap Dimas.


"Kita dulu pernah dekat Dimas, kita pernah lewati hari hari kita sama sama, terlepas dari semua hal buruk yang udah dia lakuin, aku akan sangat bersyukur kalau dia beneran mau berubah," balas Dini.


"Tapi jangan paksa aku buat mau terima dia lagi di kehidupan ku Andini, sebagai teman atau apapun itu, aku nggak mau lagi berurusan sama dia!"


"Aku mengerti Dimas, tapi dia nggak akan mudah menyerah, dia akan terus berusaha deketin kamu dengan alasan 'untuk mendapatkan maaf dari kamu'," ucap Dini.


"Dan aku nggak akan pernah maafin dia," balas Dimas.


"Jangan terlalu benci sama seseorang Dimas," ucap Dini dengan menggenggam tangan Dimas dan bersandar di bahu Dimas.


"Nggak ada alasan buat aku nggak benci sama dia Andini," balas Dimas.


"Oke, stop bahas Anita, sekarang kamu harus antar aku pulang dan kamu harus balik ke apartemen!" ucap Dini.


"Oke," balas Dimas tak bersemangat.


"Yang semangat dong!" ucap Dini dengan menarik tangan Dimas untuk diajak berlari ke arah tempat parkir.


Dimas hanya tersenyum dan berlari mengikuti Dini.


"Aku butuh penyemangat," ucap Dimas dengan mengedipkan satu matanya saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Close your eyes!" ucap Dini.


Dimas lalu menutup matanya dan Dini segera memberikan kecupan singkat di pipi Dimas.


"Udah semangat?" tanya Dini.


Dimas lalu melepas seatbelt nya dan mendekat ke arah Dini, mendaratkan kecupan nya di bibir Dini. Bukan sebuah kecupan singkat, karena pada hitungan detik setelahnya mereka masih bertaut, entah berapa lama sampai sebuah lampu dari mobil di depan mereka menyorot ke arah mereka.


Dimas segera menyudahi aksinya dan segera meninggalkan tempat parkir. Mereka lalu tertawa, mentertawakan apa yang baru saja mereka lakukan di tempat parkir.


Dimas mengendarai mobilnya ke arah rumah Dini.


Sesampainya di depan rumah Dini, Dimas mencegah Dini yang hendak membuka pintu mobilnya.


"Tunggu!" ucap Dimas.


"Kenapa?" tanya Dini.


"Aku belum semangat," jawab Dimas dengan tersenyum nakal.


Dini yang mengerti maksud Dimas lalu menutup kedua matanya, membiarkan Dimas kembali mendaratkan kecupan nya di bibir Dini.


Beberapa menit berlalu, mereka masih tenggelam dalam tautan mesra indah yang mereka ciptakan.


"Love you Andini," ucap Dimas setelah ia menyudahi aksinya.


"Love you too Dimas," balas Dini dengan senyum manisnya.


Dimas lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Dini.


Mereka lalu berpelukan sebelum Dimas meninggalkan rumah Dini.


"Aku balik dulu sayang," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.


Dini hanya berdiri di tempatnya sampai mobil Dimas sudah menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Dini lalu berjalan masuk ke dalam rumah dengan memegangi bibirnya dan tersenyum sebelum lampu ruang tamu yang tadinya mati tiba tiba menyala.


"Ibu!"


"Iya, kenapa kaget gitu?"


"Ibu dari kapan di sini? Dini pikir ibu udah tidur karena lampunya mati."


"Ibu di sini dari tadi benerin lampu, kamu pulang sama siapa? ibu denger suara mobil tadi!"


"berarti ibu nggak liat kejadian tadi, huufftt untung aja," batin Dini dalam hati.


"Dini sama Dimas Bu," jawab Dini.


"Ya udah sana mandi!" ucap ibu Dini yang dibalas anggukan kepala Dini.


Setelah selesai mandi, Dini lalu menghampiri ibunya yang sedang menonton tv.


"Bu, Dini mau tanya sesuatu," ucap Dini pada ibunya.


"Mau tanya apa?"


"Kalau ibu tau ada seseorang yang nggak suka sama ibu, apa yang akan ibu lakuin?" tanya Dini.


"Pertama, ibu akan tanya dulu kenapa dia nggak suka sama ibu, ibu nggak akan ragu buat minta maaf kalau memang ibu salah," jawab ibu Dini.


"Kalau seseorang itu emang sifatnya jahat gimana?"


"Dia pasti punya alasan kenapa dia nggak suka sama ibu kan? kalau ibu nggak salah apa apa tapi dia benci sama ibu ya terserah dia, tapi ibu nggak akan biarin dia ngelakuin sesuatu yang buruk sama ibu ataupun orang orang yang ibu sayang," jawab ibu Dini menjelaskan.


"berarti apa yang Dini lakuin sekarang nggak salah kan Bu?" tanya Dini dalam hati.


"Kenapa kamu tanyain itu Din? apa ada seseorang yang nggak suka sama kamu?" tanya ibu Dini.


"Anita Bu, dia nggak suka sama Dini karena Dini adalah perempuan yang dicintai laki laki yang dia cintai, karena Dini punya Dimas yang cinta sama Dini dan Andi yang sayang juga peduli sama Dini," jawab Dini dalam hati.


"Enggak kok Bu, Dini cuma nanya aja," jawab Dini berbohong.


"Din, selama kamu benar, kamu jangan takut, walaupun kamu sendirian tapi kalau kamu yakin kamu benar, jangan mundur, jangan menjadi kalah hanya karena kamu sendirian, seseorang yang benar benar mencintai dan menyayangi kamu nggak akan pernah ninggalin kamu terlepas dari kamu benar ataupun salah, jadi jangan khawatir dan takut sendirian," ucap ibu Dini memberi nasihat.


"Iya Bu, Dini akan selalu ingat kata kata ibu," balas Dini dengan memeluk sang ibu.


Malam semakin larut, Dini lalu masuk ke kamarnya dan merebahkan badannya di ranjang.


Ia terlelap bersama detik jam yang mengantarnya ke alam mimpi.


**


Hari itu ia begitu bersemangat dalam menjalani harinya. Tidak ada lagi over thinking, tidak ada negatif thinking, yang ada hanya semangat baru yang siap untuk menaklukkan rintangan apapun yang ada di hadapannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Dini ke ruangan Adit sambil menyerahkan berkas yang harus Adit tanda tangani.


"Kamu semangat banget kayaknya, ada apa?" tanya Adit pada Dini.


"Nggak ada apa apa, kak Adit jangan lupa ya, kak Adit punya janji sama Dini dan Andi," jawab Dini sekaligus mengingatkan janji Adit padanya.


"Kamu udah ketemu Andi?" tanya Adit.


"Belum, mungkin nanti malem," jawab Dini.


"Oke, ayo berangkat," ucap Adit sambil berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangannya bersama Dini.


Mereka pergi ke arah kafe yang kemarin mereka datangi bersama Andi. Sesampainya di sana, Adit dan Dini tidak melihat Andi. Aditpun menghubungi Andi.


"Halo, lo dimana?" tanya Adit saat Andi sudah menerima panggilannya.


"Udah on the way ke sana kok, abis nganterin Anita pulang," jawab Andi.


"Oke, buruan, gue nggak punya banyak waktu," ucap Adit.


"Iya iya, bentar lagi nyampe'!"


Adit lalu mengakhiri panggilannya pada Andi dan memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.


"Andi masih dimana kak?" tanya Dini pada Adit.


"Udah di jalan, abis nganterin Anita katanya," jawab Adit.


"Anita? emang mereka dari mana?"


"Mana kakak tau Din, kamu tanya Andi aja sendiri!"


Dini hanya tersenyum tipis lalu memanggil waiters.


"Dini mau pesen minum dulu, keburu haus nungguin Andi," ucap Dini.


"Kenapa? panas ya? kebakar cemburu?" goda Adit.


"Apaan sih kak Adit," balas Dini kesal.

__ADS_1


Dini lalu memesan 3 minuman, untuk dirinya, Andi dan Adit.


Setelah minuman datang, tak lama kemudian Andi tiba.


"Maaf telat," ucap Andi lalu duduk.


"Oke, jadi siapa dulu yang mau tanya?" ucap Adit bertanya.


"Semua pertanyaan kamu sama kayak aku Din, jadi kamu aja yang tanya," ucap Andi pada Dini.


"Oke, jadi bener kak Adit pacaran sama mbak Ana?" tanya Dini pada Adit.


"Enggak, kita nggak pacaran, lebih tepatnya kita berkomitmen," jawab Adit.


"Komitmen buat?" tanya Andi.


"Buat..... menjadi teman hidup, kalian pasti ngerti lah maksudnya," jawab Adit.


"Tapi bukannya mbak Ana udah punya calon suami ya kak?" tanya Dini.


"Tentang itu kakak akan ceritain dari awal, tapi kalian harus denger semuanya baru kalian berkomentar, kakak akan terima semua komentar kalian entah baik ataupun buruk, tapi satu yang kakak minta, jangan men-judge Ana, kalian boleh ucapin semua kata kata kasar buat kakak, tapi jangan buat Ana," ucap Adit serius.


Andi dan Dini lalu saling pandang dan sama sama menganggukkan kepala mereka.


Adit lalu menceritakan apa yang terjadi pada Ana dan calon suaminya, tentang kehamilan Ana, tentang perginya Deva, tentang Deva yang ternyata sudah memiliki istri dan tentang bagaimana terpuruknya Ana saat itu hingga ia harus pergi dari rumah yang selama ini ia tinggali.


"Kakak nggak pernah membenarkan apa yang Ana dan Deva lakukan, tapi di sini Ana korban, kakak harap kalian bisa mengerti posisi Ana," jelas Adit di akhir ceritanya.


Dini yang mendengarkan cerita Adit tanpa sadar mata nya berkaca kaca. Ia tidak menyangka hal buruk itu terjadi pada Ana yang ia tau adalah perempuan yang sangat baik.


Ia bisa mengingat dengan jelas bagaimana Ana sangat bahagia saat ia akhirnya bisa resign dan akan segera menikah. Namun takdir telah merenggut kebahagiaan itu dengan cepat. Takdir bahkan meninggalkan luka yang teramat dalam di hidup Ana.


Laki laki yang sangat dicintai, laki laki yang sangat dipercaya nyatanya memberinya kepedihan hidup dan merusak masa depan yang sudah diimpikan oleh Ana.


Andi yang melihat Dini bersedih lalu menggenggam tangan Dini di bawah meja.


"Maaf, Dini terlalu terbawa perasaan," ucap Dini dengan menghapus air matanya yang sudah menetes.


"Jadi mbak Ana sekarang tinggal dimana kak?" tanya Andi pada Adit.


"Di daerah X, kakak beli rumah di sana buat dia tinggal," jawab Adit.


"Apa mbak Ana sendirian di sana?" tanya Dini.


"Di sana ada 2 asisten rumah tangga, supir dan satpam yang jaga dia, kakak nggak mungkin biarin dia sendirian," jawab Adit.


"Dini sedih banget kak, Dini nggak tau gimana jadinya Dini kalau ada di posisi mbak Ana, tapi mbak Ana beruntung karena punya kak Adit," ucap Dini.


"Jadiin ini pelajaran juga buat kamu Din, kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi di depan nanti dan yang bisa jaga diri kamu adalah kamu sendiri, bukan orang lain," ucap Adit.


"Iya kak, Dini mengerti," balas Dini.


"Apa karena hal itu lo nggak ceritain hubungan lo sama mbak Ana ke mama?" tanya Andi.


Adit menganggukkan kepalanya pelan.


"Gue tau mama suka sama Ana, tapi karena keadaan Ana yang kayak gini gue nggak yakin apa mama masih bisa terima Ana atau enggak," jawab Adit.


"Terus rencana kakak sekarang apa? apa kakak akan sembunyiin mbak Ana terus? nggak mungkin kan?" tanya Dini.


"Setelah Ana melahirkan kakak pasti akan nikahin dia, kakak akan bilang sama mama kalau Ana udah cerai sama suaminya setelah dia melahirkan, menurut kakak itu lebih baik daripada kakak harus menikahi Ana saat Ana hamil anak laki laki lain karena mama pasti nggak setuju," jawab Adit menjelaskan.


"Kak Adit bener bener udah rencanain semua ini ya?" tanya Dini.


"Semua ini terlalu tiba tiba, tapi kakak yakin Tuhan akan menunjukkan jalanNya buat kakak dan Ana," jawab Adit.


"Jadi selama ini lo sering pulang pagi karena tidur di rumah mbak Ana?" sahut Andi bertanya.


"Iya, gue cuma mau nemenin dia," jawab Adit.


"Mbak Ana pasti bosen banget di rumah tiap hari, karena Dini tau mbak Ana suka kerja, suka berkegiatan di luar," ucap Dini.


"Iya, tapi keadaanya juga nggak memungkinkan buat dia ngelakuin banyak kegiatan karena awal awal kehamilan kandungannya lemah jadi rentan keguguran dan kakak nggak mau hal itu terjadi," balas Adit.


Dini tersenyum kecil lalu menatap Adit.


"Kenapa kamu liatin kakak?" tanya Adit yang merasa diperhatikan oleh Dini.


"Mbak Ana beruntung karena mendapatkan cinta sebesar itu dari kak Adit," jawab Dini.


"Kakak yang beruntung karena bisa mendapatkan cinta dari Ana," balas Adit.


"Dini jadi makin bangga sama kak Adit."


"Kakak harap kamu juga akan menemukan seseorang yang mencintai kamu dengan tulus," ucap Adit dengan menggenggam tangan Dini di atas meja.


Andi yang melihat hal itu segera memukul tangan Adit, membuat Adit terkekeh dan segera menarik tangannya.


"Sahabat kamu cemburuan banget!" ucap Adit pada Dini.

__ADS_1


Dini hanya tersenyum tipis dengan membawa pandangannya pada Andi, sahabat yang selama ini ada di hatinya.


__ADS_2