Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Tanda Tanya


__ADS_3

Pagi yang hangat. Seperti biasa Dini menaruh minuman hangat di meja kerja Adit sebelum Adit datang. Namun sampai jam 7 lebih 15 menit Adit tak kunjung memasuki ruangannya, membuat Dini khawatir.


Dini segera mengambil ponselnya dan menghubungi Adit.


"Halo kak, kak Adit dimana? kenapa belum nyampe kantor?"


"Ehem, jam berapa sekarang?"


"Jam 7 lebih 15 menit kak, kenapa kak Adit......"


Dini menghentikan ucapannya. Jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih, itu artinya ia sekarang pegawai Adit, bukan adiknya.


"Maaf pak," ucap Dini.


"Saya masih di ruangan CCTV, apa ada jadwal meeting pagi ini?"


"Tidak pak," jawab Dini.


"Oke, lanjutkan pekerjaan kamu!"


"Baik pak."


Klik. Dini memutus sambungan ponselnya dan kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas lalu mulai mengerjakan pekerjaannya.


"tumben pagi pagi di ruangan CCTV, ada apa?" batin Dini bertanya.


Di sisi lain, Adit yang sedang berada di ruangan CCTV tengah mencari supir yang mengantarkan mawar merah Dini beberapa hari yang lalu.


Setelah beberapa lama menunggu akhirnya Adit menemukan rekaman video yang dicarinya. Aditpun mencatat plat nomor dan kode taksi itu untuk mencari tau keberadaan si supir taksi.


"Kirim videonya ke sini!" perintah Adit pada kepala bagian keamanan sambil memberikan sebuah flashdisk.


"Baik pak."


Setelah mendapatkan rekaman video itu, Adit segera keluar dan masuk ke ruangannya.


Melihat Adit yang baru datang, Dini segera pergi ke ruangan Adit, selain untuk memberikan jadwal Adit, ia juga berniat untuk menegur Adit yang telat masuk ke ruangannya.


"Pak Adit sudah menghadap Pak Iwan?" tanya Dini setelah ia memberikan jadwal pada Adit.


"Pak Iwan? kenapa saya harus menghadap Pak Iwan?"


"Pak Adit kan telat," jawab Dini dengan penuh percaya diri.


"Saya sudah di sini sebelum jam 7 Dini, saya tidak telat!"


"Pak Adit tetap telat, sama seperti saya dulu, saya sudah sampai di kantor sebelum jam 7 tapi saya belum masuk ke ruangan sampe jam 7 lebih 2 menit dan Pak Adit anggap saya telat waktu itu!" protes Dini.


"Jadi kamu pikir kasus kita sama?" balas Adit bertanya.


"Iya dong, Pak Adit harus adil, kalau Pak Adit salah ya harus dapat sanksi."


"Kamu benar, semua yang salah harus mendapat sanksi, termasuk bermain ponsel ketika jam kerja," balas Adit yang membuat Dini terdiam seketika.


"Asal kamu tau, kesalahan kamu waktu itu karena kamu belum absen, kalau kamu berangkat dan masuk ke ruangan kerja sebelum jam 7 tapi kamu tidak absen kamu akan tetap dapat sanksi karena kedatangan kamu tidak ter record."


"Tapi pak....."


"Dan saya berangkat lebih pagi, absen, lalu saya pergi ke ruangan CCTV sampai jam 7 lebih, kamu bisa cek absen kantor kalau tidak percaya, sekarang coba jelaskan dimana letak kesalahan saya?"


Dini menggeleng cepat.


"Lain kali cari tau dulu apa kesalahan kamu sebelum kamu cari tau kesalahan orang!"


"Baik pak, saya permisi."


"Eh, kemana? pergi ke ruangan Pak Iwan, kamu tau kesalahan kamu kan?"


Dini mengangguk lemah. Ia keluar dari ruangan Adit dengan raut wajah tak bersemangat. Sedangkan Adit hanya terkekeh melihat Dini yang gagal membuatnya terkena sanksi.


"aaarrggghhh, bodoh banget sih Din, berani beraninya ngelawan pak Adit, sekarang jadi kena batunya kan, aaarrgghhh ngeseliiinn," batin Dini merutuki dirinya sendiri.


Setelah bertemu dengan Pak Iwan, Dini kembali ke ruangannya. Baru saja ia duduk, Adit sudah datang dengan membawa beberapa tumpuk map dan meletakkannya di meja Dini.


"Cek, revisi dan foto copy semua ini sebelum jam makan siang, ada hal lain yang harus saya lakukan sekarang," ucap Adit pada Dini.


"Baik pak," balas Dini pasrah.


Sebenarnya ia ingin menanyakan semua tanya yang memenuhi otaknya sedari tadi, namun ia tau itu bukanlah saat yang tepat untuk bertanya pada Adit.


"kalau kak Adit nggak ngajak aku, berarti bukan masalah kantor, bukan masalah pekerjaan, lalu apa? Jenny? kak Adit keluar kantor cuma buat pacaran sama Jenny? aaahhh enggak, nggak mungkin kak Adit kayak gitu, tapi apa? dan kenapa?" batin Dini bertanya tanya.


Di sisi lain, Adit pergi ke perusahaan taksi bersama Rudi yang menjadi supirnya.


"Kita ke alamat ini Rud, kamu tau?"


"Ini alamat perusahaan taksi ya pak?" tanya Rudi memastikan.


"Iya," jawab Adit.


"Oh, saya tau pak."


Merekapun segera berangkat. Dalam hatinya Rudi sedikit ragu jika Adit pergi ke perusahaan taksi itu untuk urusan pekerjaan, karena sepengetahuannya Adit selalu mengajak Ana ataupun Dini jika itu menyangkut pekerjaan.


Sesampainya di sana, Adit segera turun bersama Rudi.


"Ikut saya masuk Rud!"

__ADS_1


"Saya ikut?"


"Iya, buruan!"


"Baik pak."


Rudi semakin tidak mengerti apa yang akan Adit lakukan di sana.


Dengan bermodalkan plat nomor dan kode taksi itu, tak perlu waktu lama bagi Adit untuk mendapatkan kontak si supir taksi.


Aditpun segera menghubungi si supir taksi untuk mengajaknya bertemu. Namun ternyata tak semudah yang dibayangkan Adit. Adit sengaja memilih mendatangi perusahaan taksi itu pada jam kerja karena ia pikir kebutuhan taksi akan semakin tinggi saat jam makan siang nanti.


"Saya cuma minta waktunya sebentar pak, saya mohon," ucap Adit memohon.


"Maaf mas, kalau masnya nggak mau jelasin ada perlu apa saya nggak akan kesana, saya lagi kerja ini tolong jangan ganggu!" balas si supir taksi.


"Ceritanya panjang pak, saya akan jelasin kalau bapak sudah di sini!"


"Sekali lagi saya mohon maaf mas, saya....."


"Saya akan kasih imbalan buat bapak, anggap saja saya penumpang bapak tapi saya cuma mau bertemu bapak di sini, bapak jalankan saja argonya dari posisi bapak sekarang sampai urusan saya selesai dengan bapak," ucap Adit membujuk.


"Beneran nih? bohong apa enggak ini?"


Adit membuang napasnya kasar karena terlalu kesal pada si supir taksi.


"Saya pemilik perusahaan X pak, bapak mau saya tunjukin apa biar bapak percaya?"


"Oke lah, saya kesana sekarang, masnya dimana?"


"Saya di perusahaan taksi bapak, tolong jangan lama lama ya pak!"


"Oke siap," balas si supir taksi dengan santai.


Demi bertemu si supir taksi, untuk pertama kalinya Adit mengaku dirinya adalah pemilik perusahaan, terdengar sombong memang, tapi itu lah kenyataannya.


Selama ini Adit lebih suka dikenal sebagai seorang laki laki pekerja pada umumnya, namun nyatanya banyak faktor yang membuatnya dikenal oleh banyak orang.


Setelah hampir satu jam menunggu, taksi yang ditunggu Adit datang. Dengan senyum mengembang si supir datang menghampiri Adit.


Adit lalu memastikan jika yang ditemuinya adalah supir yang sama dengan yang ada di video.


Aditpun menjelaskan maksud dari dirinya mencari sang supir. Setelah dipastikan sesuai, Aditpun mulai melancarkan rencananya.


"Saya ke sini karena mau minta bantuan bapak, bapak ingat pernah dapat customer yang minta tukar mobil dengan bapak?"


"Ingat banget, soalnya dia penumpang spesial saya, ada apa ya mas?"


"Saya mau bapak jelaskan kronologi kejadian hari itu dari pertama bapak datang jemput Dimas sampe bapak kembaliin bunga mawar ke perusahaan saya, perusahaan X, bisa pak?"


"Saya perlu penjelasan bapak untuk hal yang baik pak, saya mohon bapak mau bantu saya."


"Untuk hal baik apa? kamu mau nipu saya ya?"


"Bapak nggak tau lagi ngomong sama siapa?" tanya Rudi pada si supir taksi.


"Nggak kenal, kalau yang kemarin jelas anaknya Pak Aditama, saya kenal."


"Coba deh bapak browsing CEO dan pemilik perusahaan X, bapak baca dan bapak liat profilnya!" ucap Rudi.


Si supir pun mengambil ponselnya dan mulai melakukan apa yang Rudi katakan.


"Ayo lah pak, saya sudah membuang banyak waktu saya di sini!" ucap Adit yang semakin kesal dengan sikap si supir taksi.


"Aditya Putra, wajahnya mirip, beneran ya ternyata, waaah maaf, saya nggak tau kalau...."


"Oke, sekarang bapak mau bantu saya kan?"


"Tapi argonya masih jalan, jadi dibayar kan?"


"Saya akan kasih 2 kali lipat!"


"Oke oke, saya akan jelaskan dengan detail apa yang terjadi hari itu."


"Rud, rekam!" pinta Adit pada Rudi.


"Baik pak."


Si supir taksi pun menjelaskan apa yang terjadi hari itu, mulai dari ia bertemu Dimas lalu Dimas memintanya bertukar mobil dan Dimas meminjam seragamnya, sampai ia kembali bertukar mobil dan seragam di depan perusahaan X. Tak lupa ia juga menjelaskan jika tak lama setelah itu ia mendapat panggilan dari Dini jika barangnya tertinggal di taksi, yaitu setangkai bunga mawar pemberian Dimas.


Si supir taksi juga menjelaskan jika saat ia mengantarnya kembali ke perusahaan X, Adit yang menerima bunga mawar itu.


"Oke cukup," ucap Adit.


"Gimana Rud? udah terekam kan?" tanya Adit pada Rudi.


"Sudah pak, saya kirim ke ponsel pak Adit."


"Oke, tolong kamu ambilkan uang cash yang kamu tarik sebelum ke sini tadi," pinta Adit pada Rudi.


"Baik pak," balas Rudi lalu segera mengambil segepok uang dari dalam mobil lalu memberikannya pada Adit.


"Apa ini cukup?" tanya Adit pada supir taksi sambil memberikan segepok uang.


Tanpa menghitungnya terlebih dahulu, si supir segera menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Lebih dari cukup, terima kasih banyak," jawab si supir kegirangan.

__ADS_1


"Kalau gitu saya permisi, terima kasih atas waktunya," ucap Adit pada si supir sebelum ia pergi.


Rudi hanya bisa geleng geleng kepala melihat Adit dengan mudahnya memberikan uang yang cukup banyak pada supir yang sangat menyebalkan itu.


Adit dan Rudi lalu kembali ke kantor.


"Apa yang kamu pikirkan Rud?" tanya Adit pada Rudi.


"Tidak pak, tidak ada," jawab Rudi berbohong.


"Saya pasti mendapat sanksi karena meninggalkan kantor saat jam kerja untuk urusan pribadi saya, kamu tenang aja!" ucap Adit.


Rudi tau, Adit selalu melakukan hal itu saat tiba-tiba ia harus meninggalkan kantor karena masalah pribadinya, termasuk masalah keluarga.


**


Di tempat lain, Andi sedang berada di home store bersama Dimas.


Tiba tiba sebuah mobil datang dan berhenti di depan home store saat Andi dan Dimas sedang berada di depan.


"tante Siska," batin Andi dalam hati.


Benar saja, wanita paruh baya itu turun dari mobil dan menghampiri mereka.


Entah kenapa sejak pertemuannya dengan mama Siska beberapa waktu yang lalu Andi merasa begitu lega. Ada secuil rasa bahagia yang hinggap di hatinya.


Sedangkan Dimas hanya diam dengan membawa pandangannya pada Andi yang tak berkedip melihat wanita itu turun dari dalam mobil.


"Selamat siang, Andi Dimas, tante boleh minta waktunya sebentar?"


"Bisa tante, ada apa?" balas Dimas bertanya.


Mama Siska lalu mengeluarkan 2 lembar undangan dari dalam tasnya dan memberikannya pada Andi dan Dimas.


"Kalian datang ya di acara ulang tahun tante, tante juga undang Dini," ucap mama Siska.


"Andini?" tanya Dimas meyakinkan.


"Iya, kalian saling kenal kan?"


Dimas dan Andi kompak mengangguk.


"Ya udah kalau gitu, tante kesini cuma mau nyampe'in itu aja, jangan lupa datang ya, tante tunggu!"


"Makasih tante," balas Dimas.


Setelah mama Siska pergi, Dimas membuka undangan itu dan melihat tanggal yang tertulis di sana.


"Ulang tahunnya barengan sama lo!" ucap Dimas yang membuat Andi segera menoleh ke arah Dimas.


"Tuh, liat aja!" ucap Dimas.


Andipun membuka undangan miliknya dan benar saja, ia lahir di tanggal dan bulan yang sama dengan mama Siska.


"Kebetulan lo sama tante itu banyak banget sih, jangan jangan lo anaknya lagi!"


"Ngaco banget sih!" balas Andi lalu pergi ke kamar mandi.


Di kamar mandi, Andi menarik bajunya dan melihat tanda lahir yang ada di perutnya. Ia ingat tanda lahir itu mirip seperti lukisan yang ada di rumah mama Siska. Lukisan seorang bayi dengan tanda lahir di perut, persis seperti tanda lahir miliknya.


"semua orang bisa punya tanda lahir yang sama kan?" batin Andi bertanya.


Sebenarnya ia sempat memikirkan hal itu sebelumnya, namun karena baru mengenal mama Siska, ia sudah tak pernah memikirkannya lagi.


Namun sekarang pertanyaan itu kembali muncul dalam otaknya, membuat jantungnya seketika berdetak cepat. Entah apa yang membuatnya gelisah saat itu.


"Kebetulan lo sama tante itu banyak banget sih, jangan jangan lo anaknya lagi!"


Ucapan Dimas tiba tiba terngiang di kepalanya. Ucapan yang sangat jauh dari sebuah fakta, setidaknya itu yang Andi pikirkan saat itu.


"pasti ada orang yang nggak saling kenal punya tanggal lahir sama kan? itu hal biasa, tapi....."


"Ndi, lo lama banget sih, gue udah nungguin nih dari tadi!"


"Iya iya bentar."


Andi lalu membasuh wajahnya dan keluar dari dalam kamar mandi.


Ia kembali mengerjakan pekerjaannya.


"Andini kayaknya deket ya sama mamanya Adit," ucap Dimas setelah ia keluar dari kamar mandi.


"Lo nanya apa ngasih tau?" balas Andi bertanya.


"Menurut lo?"


"Hahaha.... mereka emang deket karena setau tante Siska, Dini pacarnya Adit."


"Tapi kan mereka udah jujur!"


"Terus kenapa? tante Siska emang baik, tante Siska tetep baik sama Dini walaupun tante Siska tau kalau Dini bukan pacarnya Adit!"


"Ciiieee..... tau banget lo ya tentang tante tante itu!"


"Namanya tante Siska, jangan panggil tante tante!"


"Hahaha.... oke oke," balas Dimas dengan tertawa puas karena berhasil menggoda Andi.

__ADS_1


__ADS_2