Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Rasa Kecewa


__ADS_3

Goresan senja di langit sore itu perlahan membaur dengan gelap malam. Deburan ombak yang semakin mendekat mulai membasahi kaki Dini dan Andi.


Mereka masih berdiri saling menatap dengan disaksikan oleh cahaya senja yang akan pergi.


Dini hanya diam, ia tak menjawab satupun pertanyaan yang Andi berikan. Hingga satu tetes air matanya benar benar tumpah bersama hilangnya cahaya di ujung barat langit sore itu.


Dini lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Andi, ia berjalan dengan menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya.


Pedang tajam seolah telah menikam dadanya begitu dalam. Ada sebuah rasa kecewa yang membuat hatinya terasa perih dan sakit.


Sahabat yang selama ini bersamanya, sahabat yang selama ini selalu ada untuknya, sahabat yang selalu mengerti dirinya kini seperti orang lain di hadapannya.


Dini tidak mengerti kenapa ia bisa begitu bersedih karena hal itu. Entah karena ia sudah terlalu lama menjalani hidupnya dengan Andi, atau karena ada perasaan lain yang tidak disadari olehnya.


Tiba tiba Andi menarik tangan Dini dan memeluknya, membuat Dini semakin menumpahkan tangisnya dalam pelukan Andi.


Sesak di hati Dini seakan melonggar saat ia mendapatkan pelukan hangat dari sahabatnya. Meski terasa perih, ia tetap memeluk dengan erat sahabatnya itu.


"Maafin aku Din, maafin aku," ucap Andi yang masih memeluk Dini dengan erat.


Dini hanya diam, ia masih meluapkan semua sakit di hatinya dengan menangis di pelukan Andi.


"Aku sayang sama kamu lebih dari yang kamu tau Din, aku percaya sama kamu lebih dari siapapun, aku minta maaf karena tanpa aku tau sikapku nyakitin kamu, aku minta maaf karena apa yang lakuin udah bikin kamu sedih dan terluka, aku bener bener minta maaf," ucap Andi yang merasa begitu bersalah pada Dini.


Melihat Dini menangis di hadapannya membuat hatinya terasa sakit, terlebih saat air mata itu jatuh karena sikapnya yang tanpa sengaja melukai hati Dini, membuat Andi merasa gagal mencintai Dini.


Dini masih terisak dalam pelukan Andi, namun dalam rasa sakit yang ia rasakan, ada sekelebat angin sejuk yang menerpa sudut hatinya.


"saat kita terluka oleh cinta dan disembuhkan juga oleh cinta yang sama,"


Ucapan Adit tiba tiba terngiang dalam kepalanya. Ia tidak mengerti, apa yang sedang ia rasakan saat itu. Tapi satu yang ia tau, Andi masih ada di dalam hatinya, bahkan setelah ia memilih Dimas untuk menjadi masa depannya.


Untuk beberapa saat Andi dan Dini masih saling memeluk. Di bawah sinar bulan dan gemerlap bintang malam itu, angin membelai mereka dengan cinta yang tertiup masuk ke dalam hati mereka.


Jauh ke dalam sudut hati yang tidak akan mudah untuk digoyahkan, dikalahkan, dipatahkan ataupun dipisahkan.


Cinta telah tertanam dan mengakar kuat di dalam hati, tumbuh dan mekar seiring dengan kebersamaan yang selalu mereka ciptakan.


Semerbak cinta yang mampu menebarkan kebahagiaan dalam setiap langkah, membawa takdir menunjukkan jalannya dengan perlahan.


Cinta telah datang dan tinggal untuk selamanya dalam sebuah persahabatan. Entah bagi Andi dan Dini, atau hanya bagi salah satu di antara mereka.


Cinta telah menggaungkan gemanya, menyebarkan bahagia dalam setiap pelukan kehangatan yang tercipta.


Tapi cinta tak selalu bisa dijamah dengan mudah oleh seseorang yang ragu akan rasa dalam hatinya.


Perasaan ragu itu yang membuat Dini bertahan dengan hubungan yang mereka namakan persahabatan.


Andi lalu melepaskan Dini dari pelukannya, tangannya menghapus dengan lembut air mata di pipi Dini.


"Maafin aku Din," ucap Andi dengan bersungguh sungguh.


Dini masih diam dengan menundukkan kepalanya, ia tidak mengerti dengan perasaan nya saat itu.


Andi lalu menggenggam tangan Dini dan mengajaknya duduk di kursi di bawah remang cahaya lampu bohlam.


Andi masih menggenggam tangan Dini. Mereka masih terdiam dengan segala macam pikiran mereka.


"Aku mau pulang," ucap Dini dengan menarik tangannya dari genggaman Andi lalu berdiri.


"Ayo," balas Andi yang juga ikut berdiri.


"Aku pulang sendiri," ucap Dini lalu berjalan meninggalkan Andi begitu saja.


"Aku antar kamu pulang," ucap Andi dengan menahan tangan Dini.


"Aku nggak tau apa yang sebenarnya aku rasain sekarang Ndi, yang aku tau aku kecewa sama kamu, jadi tolong kasih aku waktu buat memahami perasaan aku sendiri," ucap Dini dengan menarik tangannya dari Andi lalu berjalan ke arah taksi yang baru saja menurunkan penumpang nya.


Dinipun pergi meninggalkan Andi, sedangkan Andi segera masuk ke dalam mobil dan meminta Rudi untuk mengikuti taksi yang Dini naiki, sekedar untuk memastikan jika Dini akan sampai di rumah dengan baik baik saja.


"Ikutin taksi di depan pak!" ucap Andi pada Rudi.


"Baik mas," balas Rudi tanpa banyak bertanya.


Melihat Dini yang pulang dengan menggunakan taksi, cukup membuat Rudi mengerti jika Andi dan Dini sedang tidak baik baik saja.

__ADS_1


Sesampainya Dini di depan rumahnya, ia segera turun. Andi yang saat itu baru saja sampai juga segera turun dan berlari menghampiri Dini namun Dini segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya.


"Din, tolong buka pintunya, aku tau kamu pasti masih dengerin aku, aku minta maaf karena udah kecewain kamu, tapi yang harus kamu tau, aku sayang sama kamu Din, aku selalu percaya sama kamu," ucap Andi dari depan pintu rumah Dini.


Di dalam rumah, Dini berdiri di belakang pintu. Ia hanya diam mendengar dengan jelas apa yang Andi ucapkan padanya.


"Aku pulang Din, jaga diri kamu baik baik, setelah kamu bangun tidur lupain apa yang terjadi hari ini, kamu harus bahagia kamu harus selalu tersenyum Din," ucap Andi lalu berbalik dan meninggalkan rumah Dini.


Sepanjang perjalanan pulang, Andi hanya diam, kepalanya dipenuhi dengan Dini. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Dini.


Melihat Dini menangis karena kesalahannya, membuatnya merasa sangat tidak berguna.


"aku sayang sama kamu Din, andai kamu tau itu, andai kamu tau seberapa besar cinta aku buat kamu, aku bahkan nggak bisa mencintai perempuan lain selain kamu, aku juga nggak peduli gimana masa depanku nanti tanpa kamu, yang aku tau aku sayang dan cinta sama kamu walaupun aku nggak bisa memiliki kamu," batin Andi dalam hati.


"Mas Andi baik baik aja?" tanya Rudi memberanikan diri.


Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum yang dipaksakan.


"aku bahagia dengan cinta di hati aku, aku bahagia dengan cinta yang kadang nyakitin aku, karena kebahagiaan kamu lah yang akan menyembuhkanku, maafin aku Din, maafin aku," ucap Andi dalam hati dengan membawa pandangannya ke arah langit malam yang seolah sedang menertawakan kebodohan nya.


**


Di sisi lain, Dini yang baru saja menghabiskan waktunya di bawah guyuran shower segera mengambil handuknya dan masuk ke kamarnya.


Saat sedang mengambil pakaian di lemari, tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah mini dress.


Dini lalu mengambilnya, Dini diam beberapa saat menatap mini dress yang ia pegang.


"Kamu cantik Andini,"


Ucapan Dimas kembali terngiang di kepala Dini. Ia ingat saat pertama kali ia memakai pakaian itu adalah saat Dimas menjemput nya untuk menghadiri ulang tahun Anita ketika mereka SMA.


Dini lalu tersenyum mengingat bagaimana teman temannya menggodanya karena mengenakan pakaian yang bermotif sama dengan pakaian yang Dimas kenakan malam itu.


Dini kemudian melipat mini dress itu dan kembali menaruhnya ke dalam lemari. Dini lalu mengambil ponselnya dan melihat foto foto kebersamaan nya bersama Dimas.


"aku nggak tau sejak kapan aku jatuh cinta sama kamu Dimas, aku juga nggak tau kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu yang dulu sangat aku benci, apa karena perjuangan kamu buat aku? apa karena sikap kamu sama aku? atau karena hal lain? tapi yang pasti aku milik kamu sekarang, nggak seharusnya aku memikirkan laki laki lain selain kamu," batin Dini dalam hati.


Biiiippp Biiiiiipppp biiiipppp


Tiba tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan dari Andi. Dini lalu menaruh ponselnya dan mengabaikan panggilan Andi.


Dini lalu mengambil ponselnya dan segera menghubungi Dimas. Ia butuh Dimas untuk ada di sampingnya saat itu, ia ingin menguatkan rasa cinta dalam hatinya pada Dimas dan menyingkirkan semua perasaan yang tidak ia mengerti saat ia bersama Andi beberapa waktu yang lalu.


"Halo Dimas, kamu sibuk?" tanya Dini saat Dimas sudah menerima panggilannya.


"Enggak, cuma lagi baca baca aja," jawab Dimas.


"Apa kamu ketemu Anita lagi?" tanya Dini.


"Enggak kok, kamu jadi ketemu Anita?"


"Iya jadi, tapi kayaknya masalahnya makin rumit," jawab Dini.


"Rumit? kenapa? dia bilang apa sama kamu?"


"Aku cuma nanya dia satu pertanyaan, tapi seolah olah aku menyudutkan dia dan nggak percaya sama dia, aku nggak ngerti kenapa dia kayak gitu."


"Tapi kamu baik baik aja kan sayang? dia nggak berbuat macem macem kan sama kamu?"


"Secara fisik aku baik baik aja, tapi secara mental aku kayaknya sakit, aku butuh pelukan kamu buat jadi obatnya," jawab Dini dengan suara manja di akhir kalimatnya.


"Uuuuhhh, kamu bikin aku pingin cepet pulang ke sana, apa aku harus kesana sekarang?"


"Enggak enggak, jangan gila deh!"


"Aku akan ngelakuin semua hal gila buat kamu Andini hehe...."


"Aku harus sabar nunggu weekend, kamu juga!"


"Hmmmm.... sayangnya aku bukan orang yang penyabar," balas Dimas.


"Aku nggak akan mau temui kamu kalau kamu ke sini sekarang!"


"Kok gitu?"

__ADS_1


"Ini udah malem Dimas, besok pagi kamu kerja, dari tempat kamu ke sini butuh waktu 4 jam, jadi tunggu sampe weekend nanti ya!"


"Yaaaahh, lama banget," balas Dimas kesal.


Dini hanya terkekeh, mereka lalu membicarakan banyak hal sampai malam semakin larut.


**


Pagi telah datang menggantikan gelap malam. Dini sudah berada di tempat kerjanya. Tumpukan map di meja Dini sudah menunggu untuk segera dikerjakan.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Saat Dini baru saja mengambil ponselnya untuk menghubungi Dimas, Adit masuk ke ruangannya, membuat Dini mengurungkan niatnya untuk menghubungi Dimas.


"Ikut kakak!" ajak Adit.


"Kemana?" tanya Dini.


"Makan siang di rumah," jawab Adit lalu keluar dari ruangan Dini begitu saja.


Dini lalu berdiri dari duduknya dan segera mengikuti Adit. Merekapun meninggalkan kantor untuk makan siang bersama mama Siska.


"Kenapa mama sering ajak Dini makan siang ya kak?" tanya Dini pada Adit saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Mungkin mama mau kamu jadi menantunya," jawab Adit enteng.


Dini hanya mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Adit.


"Tapi jangan berharap buat nikah sama kakak ya, mending sama Andi aja hehe...."


"Kak Adit apaan sih, Dini maunya nikah sama Dimas!" balas Dini yang kesal dengan candaan Adit.


"Kenapa nggak mau nikah sama Andi? apa Andi bukan tipe suami yang baik buat kamu?" tanya Adit menggoda Dini.


"Kak Adit nggak jelas banget sih, nggak penting banget yang dibahas," ucap Dini dengan membawa pandangannya ke arah jalan raya.


Sesampainya di rumah mama Siska, sudah ada Andi dan mama Siska yang menunggu di meja makan.


"Maaf ma lama, tadi lumayan macet," ucap Dini lalu menggeser kursi untuk duduk di samping mama Siska, namun Adit segera merebut tempat duduk Dini dan langsung duduk di sebelah sang mama.


"Kamu di sana!" ucap Adit sambil menunjuk kursi di sebelah Andi.


"Tapi kan Dini yang duluan ke sini," balas Dini yang enggan untuk duduk di sebelah Andi.


"Ayo makan, sebelum makanannya dingin," ucap Adit mengabaikan Dini.


Dini hanya mendengus kesal lalu duduk di samping Adit.


Andi yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis. Ia cukup menyadari kesalahannya memang tidak akan mudah untuk Dini maafkan.


"Kok di sini sih?" protes Adit pada Dini.


"Ma, Dini boleh duduk di sini?" tanya Dini pada mama Siska.


"Boleh sayang, ayo makan, jangan berantem terus," jawab mama Siska.


Mereka lalu menikmati makan siang mereka dengan tenang.


"Ma, Dini boleh numpang ke toilet?" tanya Dini pada mama Siska.


"Masuk aja sayang, tau kan dimana tempatnya?"


"Iya, Dini permisi sebentar ma."


Dini lalu berjalan ke arah toilet. Saat ia keluar dari toilet sudah ada Andi yang berdiri menunggunya.


Dini lalu berjalan melewati Andi begitu saja, namun Andi menarik tangan Dini.


"Aku harus gimana biar kamu maafin aku Din?"


"Lepas Ndi," ucap Dini dengan menarik tangannya dari genggaman Andi.


"Kamu pasti akan pergi kalau aku lepasin tangan kamu, iya kan?"


Dini hanya diam, ia memang sedang menjaga jarak dengan Andi. Ia masih kecewa pada sikap Andi.


Andi lalu menarik tangan Dini agar mereka semakin dekat, ia lalu memeluk Dini dan Dini hanya diam tanpa perlawanan.

__ADS_1


"Kamu pasti tau aku sayang sama kamu Din, tapi kamu nggak pernah tau sedalam apa aku sayang sama kamu, jadi tolong jangan siksa aku dengan rasa bersalah ini, kasih tau apa yang harus aku lakuin buat nebus kesalahanku itu," ucap Andi dengan memeluk Dini erat.


Tanpa Dini dan Andi tau, seseorang melihat dan mendengar apa yang Andi dan Dini lakukan di sana.


__ADS_2