
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Dini masih berada di samping Dimas. Ia membaringkan kepalanya di tepi ranjang Dimas sampai ia tertidur.
Sedangkan Andi tertidur dengan posisi duduk di depan ruangan Dimas.
Perlahan Dimas mengerjapkan matanya, kepalanya terasa berdenyut dan pusing. Saat Dimas menyadari keberadaan Dini di sampingnya, ia membelai rambut Dini pelan.
Dini yang menyadari sentuhan Dimas pun segera mengangkat kepalanya.
"Dimas," ucap Dini yang baru terbangun dari tidurnya.
"Maafin aku Andini," ucap Dimas dengan suara lemah.
Dini menggelengkan kepalanya lalu menggenggam tangan Dimas dan menciumnya.
"Jangan bahas itu lagi, apa yang kamu rasain sekarang? masih pusing?"
Dimas menggeleng pelan dengan senyum di wajahnya. Ia tidak ingin membuat gadis yang dicintainya khawatir.
"Kamu mau minum?" tanya Dini yang dibalas anggukan kepala Dimas.
Dinipun membantu Dimas untuk duduk di ranjangnya lalu memberikan segelas air minum pada Dimas.
"Aku belum kasih tau papa dan mama kalau kamu di sini, aku sama Andi buru buru bawa kamu ke rumah sakit sampe kita lupa bawa hp dan hp kamu lowbatt," ucap Dini.
"Nggak papa, kapan aku bisa pulang?"
"Besok Dokter harus periksa keadaan kamu dulu sebelum pastiin kapan kamu bisa pulang," jawab Dini.
"Maafin aku Andini, harusnya aku....."
"Jangan bicarain itu dulu, kita bahas itu lain kali," ucap Dini memotong ucapan Dimas.
Dini tidak ingin membuat keadaan Dimas memburuk karena membahas masalah itu.
"Kamu sama Andi yang bawa aku ke sini?" tanya Dimas.
"Iya, sama kak Adit juga," jawab Dini.
"Makasih sayang," ucap Dimas.
Dini hanya diam dengan menundukkan kepalanya menahan kesedihan dalam hatinya.
Wajah pucat Dimas membuat Dini merasa bersalah karena membiarkan Dimas mengalami banyak hal beratnya seorang diri.
"Andini, aku baik baik aja, maaf udah bikin kamu khawatir," ucap Dimas dengan memegang dagu Dini, membawa pandangan Dini ke arahnya.
"Aku yang minta maaf Dimas, aku pikir aku udah jadi pasangan yang baik buat kamu, tapi nyatanya aku nggak tau apa apa tentang kamu," balas Dini dengan mata berkaca kaca.
"Kamu memang yang terbaik buat aku Andini, nggak ada yang lain selain kamu yang akan jadi pasangan hidupku," ucap Dimas dengan mengusap air mata Dini yang perlahan membasahi pipi.
"Tapi aku udah nampar kamu tadi," ucap Dini menyesal.
"Aku emang pantas dapetin itu," balas Dimas dengan tersenyum.
Dini menggelengkan kepalanya lalu berdiri dan duduk di tepi ranjang Dimas. Dimaspun mendekat dan memeluk Dini.
"Kamu pernah tidur di ranjang rumah sakit berdua?" tanya Dimas.
"Dimas, jangan aneh aneh!" ucap Dini tanpa melepaskan dirinya dari pelukan Dimas.
Dimas hanya tersenyum dan membawa Dini membaringkan badannya di ranjang rumah sakit yang tidak terlalu lebar itu.
Dini hanya diam mengikuti Dimas, ia berbaring dengan membelakangi Dimas sampai ia tertidur, begitu juga Dimas.
Waktu berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi saat Andi terbangun dari tidurnya. Ia berdiri dan meregangkan otot ototnya yang terasa kaku karena tertidur dengan posisi duduk.
Andi lalu melangkah ke arah pintu dan membuka pintu ruangan Dimas dengan perlahan.
Seketika rasa sesak terasa menghimpit dadanya. Oksigen di sekitarnya seakan perlahan menipis tiba tiba.
Andi tersenyum tipis dengan memegang dadanya. Perih di hatinya sudah tak terhitung lagi berapa kali ia rasakan.
Andi lalu melangkah mendekat ke arah Dini dan Dimas. Ia harus membangunkan Dini sebelum Dokter datang untuk memeriksa keadaan Dimas.
Andi menyentuh pelan tangan Dini dan mengusapnya, namun tiba tiba Dini menggenggam tangannya begitu saja membuat Andi sedikit terhenyak.
"Din, bangun," ucap Andi pelan.
Dini lalu mengerjapkan matanya dan begitu terkejut saat melihat Andi di hadapannya. Ia lebih terkejut lagi saat ia menyadari tangannya yang menggenggam tangan Andi.
Belum selesai keterkejutannya, ia baru menyadari jika ia tertidur di ranjang bersama Dimas.
"Dimas!"
"Ssssttt.... pelan pelan," ucap Andi pada Dini yang baru mengumpulkan nyawanya.
Dini menganggukkan kepalanya lalu perlahan keluar dari pelukan tangan Dimas. Dini lalu merapikan pakaian dan rambutnya yang sedikit berantakan lalu pergi ke kamar mandi, meninggalkan Andi yang masih berdiri di samping ranjang Dimas.
"kenapa bisa ketiduran sih? pasti Andi mikir macem macem sekarang!" batin Dini merutuki dirinya sendiri.
Dini lalu membasuh wajahnya di toilet. Ia memandang sejenak wajahnya di hadapan cermin dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Jalan kita sangat berliku Dimas, aku nggak tau apa ini jalan yang akan menempa kita supaya memperkuat hubungan kita atau ini jalan yang
menunjukkan kalau kita nggak bisa bersama," batin Dini dalam hati.
"Aku cinta sama kamu, aku bahagia sama kamu, terlepas dari semua yang udah kita lewati, apa akhir kisah ini akan happy ending?"
Dini menepuk nepuk pelan pipinya dan kembali menyunggingkan senyumnya. Ia berusaha mengalirkan energi positif dari dalam dirinya.
Ia tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Dimas.
Di sisi lain, Andi hanya duduk di samping ranjang Dimas dengan memperhatikan Dimas.
"gue nggak ngerti kenapa hubungan kalian sangat rumit, gue tau lo cinta sama Dini dan Dini juga cinta sama lo, tapi kenapa masalah seperti nggak bisa lari dari kalian berdua?" batin Andi bertanya dalam hati.
Perlahan Dimas mengerjapkan matanya dan terbangun dari tidurnya.
"Andini mana?" tanya Dimas saat ia melihat Andi di sampingnya.
"Dia ke toilet bentar," jawab Andi.
"Thanks udah bawa gue ke sini," ucap Dimas pada Andi.
"Gimana keadaan lo sekarang? apa masih pusing?" tanya Andi.
"Enggak, gue udah nggak papa," jawab Dimas berbohong.
"Nggak usah ada yang ditutupi lagi Dim, Dokter udah jelasin semuanya, apa yang bikin lo kayak gini? pekerjaan? Dini?"
Dimas menggeleng pelan lalu berusaha untuk duduk, Andipun membantu Dimas duduk di ranjangnya.
"Jangan lo pendam masalah lo sendiri Dim, kalau lo nggak bisa cerita sama Dini, lo bisa cerita sama gue!" ucap Andi.
Dimas menghela nafasnya panjang lalu membawa pandangannya pada Andi.
"Sorry atas sikap gue kemarin, gue datang karena gue tau Andini salah paham sama apa yang gue lakuin diam diam, gue cuma mau jelasin hal itu sama dia, tapi gue nggak bisa nahan diri gue waktu gue liat kalian......"
Dimas mengentikan ucapannya saat ia mengingat kejadian di rumah Andi, saat ia melihat Andi yang memeluk Dini dengan hangat dan itu membuat rasa cemburu berkobar dalam dirinya.
"It's okay Dim, gue ngerti," ucap Andi.
"Apa Andini nanyain soal yang gue bilang di rumah lo kemarin?" tanya Dimas.
"Soal apa?" balas Andi bertanya.
"Soal gue bilang tentang perasaan lo sama dia," jawab Dimas.
Andi tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan Dimas.
Dimas tersenyum tipis dan bernapas lega karena Dini tidak mempertanyakan ucapannya itu.
"Jangan ucapin hal bodoh itu lagi di depan Dini!" ucap Andi pada Dimas.
"Iya, sorry gue kelepasan!" balas Dimas.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan Dini masuk.
"Aku bawa minuman dan roti buat kamu," ucap Dini sambil memberikan minuman dan roti untuk Andi.
"Buat aku?" tanya Dimas.
"Kamu harus nunggu diperiksa Dokter dulu, aku nggak tau makanan apa yang boleh dan nggak boleh kamu makan," jawab Dini.
"Yaaaahhh!!"
Andi dan Dini hanya tertawa kecil melihat sikap Dimas.
Ketika Dokter datang, Andi dan Dini keluar dari ruangan Dimas. Dokter pun memeriksa keadaan Dimas.
Bersamaan dengan keluarnya Dokter dari ruangan Dimas, mama dan papa Dimas datang.
Dokter menjelaskan jika keadaan Dimas baik baik saja. Hanya saja ia perlu beristirahat sampai keadaannya benar benar membaik.
Dokter juga menjelaskan pada mama dan papa Dimas tentang obat yang dikonsumsi Dimas secara berlebihan.
Mama dan papa Dimas lalu masuk ke ruangan Dimas setelah mendengar penjelasan dari Dokter.
"Dimas, anak mama!" ucap mama Dimas lalu segera memeluk anak semata wayangnya itu.
"Dimas baik baik aja ma, mama sama papa kenapa bisa tau Dimas disini?"
"Adit yang kasih tau papa," jawab papa Dimas.
"Adit?"
"Iya sayang, dia hubungin papa kamu tadi pagi," jawab mama Dimas.
"Ada apa sebenarnya Dim? kenapa kamu nggak pernah cerita apa apa sama papa?" tanya papa Dimas.
"Nggak ada apa apa pa, ma, Dimas baik baik aja," jawab Dimas.
"Dimas, mama dan papa nggak pernah mengajarkan kamu buat sembunyiin masalah sendirian, kita ini keluarga, kita harus saling terbuka dan menyelesaikan masalah kita sama sama, kamu ingat itu kan?" sahut mama Dimas.
__ADS_1
"Iya ma, Dimas minta maaf udah bikin mama dan papa khawatir," ucap Dimas.
"Mama tau ini pasti gara gara papa kamu kan? papa kamu terlalu keras sama kamu dalam hal pekerjaan, pasti itu yang bikin kamu tertekan dan stres, iya kan?"
"Enggak ma, bukan salah papa, justru papa yang ajarin Dimas bagaimana caranya jadi pemimpin yang baik, iya kan pa?"
"Iya dong, mama aja yang berlebihan, dari rumah sampai di depan rumah sakit mama kamu nggak berhenti ngomelin papa!" balas papa Dimas.
"Mama nggak mau tau, setelah kamu pulang dari rumah sakit, kamu harus pulang ke rumah, bed rest di rumah dan nikmati hari hari kamu tanpa mikirin kerjaan lagi, setelah itu kamu langsung masuk di perusahaan utama buat gantiin papa!" ucap mama Dimas.
"Tapi ma....."
"Iya, papa setuju," ucap papa Dimas memotong ucapan Dimas.
"Gimana sama pernikahan Dimas?" tanya Dimas.
"Selesaiin masalah kamu sama Dini dulu, kalian masih butuh waktu buat saling memahami, jangan terlalu terburu buru Dim, nikmati dulu prosesnya," jawab papa Dimas.
"Maksud papa apa? masalah apa?" tanya mama Dimas tak mengerti.
"Masalah apapun, agar tidak ada keraguan dalam hubungan kalian dan nggak ada yang tersakiti oleh pernikahan kalian," jawab papa Dimas.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan sang papa. Sedangkan sang mama hanya mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Yang penting sekarang jaga kesehatan kamu sayang, jangan ngelakuin hal ini lagi, kamu bisa cerita sama mama dan papa tentang masalah apapun yang sedang kamu hadapi," ucap mama Dimas.
"Iya ma, Dimas nggak akan ngelakuin ini lagi," balas Dimas.
**
Di sisi lain, Andi dan Dini masih duduk di depan ruangan Dimas saat mama dan papa Dimas masuk ke dalam ruangan Dimas.
"Apa kamu masih ragu?" tanya Andi pada Dini.
Dini menghela nafasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan Andi.
"Aku tau dia cinta sama kamu Din, dia cuma mau jagain kamu dengan caranya sendiri," ucap Andi.
Meski Andi sempat beberapa kali meragukan Dimas, pada akhirnya ia kembali mempercayai Dimas.
Terlebih saat ia melihat bagaimana Dimas memperlakukan Dini dengan kasar saat di rumahnya kemarin.
Hal itu membuat Andi kembali meragukan Dimas. Ia tidak bisa membiarkan Dimas berbuat hal yang menyakiti Dini, sekecil apapun itu.
Namun saat mendengar penjelasan Dokter mengenai obat yang Dimas konsumsi, Andi kini memahaminya.
Dimas sengaja mengkonsumsi obat itu karena ia tau keadaan tubuhnya sudah sangat lelah untuk melakukan banyak pekerjaan di luar batas sanggupnya.
Tapi Dimas tetap mengkonsumsi obat itu dan bekerja tanpa kenal waktu demi bisa segera menikahi Dini.
Ia tau jika Dimas benar benar mencintai Dini lebih dari Dimas mencintai dirinya sendiri dan hal itulah yang membuat kepercayaan Andi pada Dimas kembali tumbuh.
"Kenapa kamu bisa sepercaya itu sama Dimas?" tanya Dini.
"Aku tau bagaimana dia berjuang dan berusaha buat sama kamu, berkali kali hubungan kalian diterpa masalah pada akhirnya kalian tetap bersama," jawab Andi.
Dini tersenyum tipis mendengar jawaban Andi. Dalam hatinya ia membenarkan apa yang Andi ucapkan.
"Sekarang aku tau apa yang harus aku lakuin Ndi," ucap Dini.
"Apa?" tanya Andi.
"Aku akan nunggu Dimas keluar dari rumah sakit dan dengerin semua penjelasannya, aku akan berusaha buat mengerti kenapa dia ngelakuin itu sama aku," jawab Dini.
Tiba tiba raut wajah Andi berubah saat ia mengingat penjelasan Dokter tentang efek obat yang Dimas konsumsi.
"Kenapa Ndi?" tanya Dini yang melihat raut wajah Andi berubah.
"Aku cuma khawatir sama kamu Din!" ucap Andi.
"Khawatir? kenapa?"
"Kamu ingat waktu Dokter jelasin tentang efek obat itu buat Dimas kan? dia akan lebih emosional dan aku nggak mau dia nyakitin kamu lagi!"
"Dimas nggak akan nyakitin aku Ndi, kamu jangan khawatir," ucap Dini.
"Tapi......"
"Aku percaya cinta Dimas buat aku jauh lebih besar daripada efek obat itu," ucap Dini dengan tersenyum dan menggenggam tangan Andi untuk meyakinkan Andi.
"Iya kamu bener, saat ini yang dia butuhin cuma kamu dan pelan pelan efek obat itu akan hilang!"
Dini tersenyum dan tanpa sadar ia masih menggenggam tangan Andi. Dalam hatinya ia sangat beruntung memiliki Andi sebagai sahabatnya.
Tidak hanya baik dan peduli padanya, namun Andi juga sangat baik dan peduli pada Dimas, laki laki yang dicintainya.
"karena kamu sahabat terbaik ku, aku nggak mau kehilangan kamu, Andi Putra Prayoga," batin Dini dalam hati.
Tiba tiba pintu terbuka, mama dan papa Dimas keluar dan melihat Dini yang masih menggenggam tangan Andi.
Dini lalu melepaskan tangan Andi dari genggamannya dan berdiri dari duduknya. Sedangkan Andi masih duduk di tempatnya.
__ADS_1