Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Tamparan


__ADS_3

Di tempat kerja Dimas sebelum Dini di rumah sakit.


Dimas masih sibuk dengan pekerjaannya saat jam sudah melewati pukul 5 sore. Beberapa berkas tampak menumpuk di meja kerjanya.


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Dimas berdering, jika saja bukan panggilan yang penting Dimas pasti mengabaikan panggilan itu.


Namun melihat nama Pak Yusman di layar ponselnya membuat Dimas segera menghentikan kesibukannya dan menerima panggilan pak Yusman.


"Halo pak, ada apa?" tanya Dimas yang sudah khawatir dengan keadaan Dini, karena pak Yusman hanya akan menghubunginya jika terjadi sesuatu pada Dini.


"Saya lagi di rumah sakit sama mbak Dini mas," jawab pak Yusman.


"Andini kenapa pak? gimana keadaannya sekarang?" tanya Dimas yang semakin khawatir.


Pak Yusman pun menjelaskan apa yang terjadi pada Dini sampai Dini berada di rumah sakit bersamanya.


"Mas Dimas tenang aja, sepertinya lukanya tidak begitu serius, saya akan kabari mas Dimas lagi setelah Dokter selesai memeriksa keadaan mbak Dini," ucap Pak Yusman di akhir penjelasannya.


"Baik pak, saya tunggu!"


Panggilan berakhir. Dimas membolak balikkan ponsel di tangannya. Ia tidak bisa fokus dengan pekerjaan yang menumpuk di hadapannya, ia mengkhawatirkan Dini.


"Apa aku pulang sekarang? aku harus bilang apa kalau aku tiba tiba pulang? Andini udah ketemu pak Yusman, dia bisa curiga kalau aku tiba tiba pulang, tapi..... aaarrgghhh....."


Tooookkk tooookkk tooookkk


Seseorang masuk ke dalam ruangan Dimas dan mengingatkan Dimas untuk bersiap menghadiri meeting para pemegang saham 10 menit lagi.


Dimas hanya menganggukkan kepalanya tak bersemangat lalu segera menghubungi sang papa setelah seseorang itu pergi.


"Halo pa, Dimas kayaknya nggak bisa ikut meeting!" ucap Dimas saat sang papa sudah menerima panggilannya.


"Meeting mana yang kamu maksud? bukannya hari ini ada 3 meeting penting yang harus kamu datangi?"


"Iya pa, tapi Dimas harus pulang sekarang, Andini di rumah sakit, dia....."


"Papa udah tau, dia baik baik aja, nggak ada yang harus kamu khawatirkan!"


"Tapi pa......"


"Dimas, pernikahan kamu tinggal dua bulan lagi kalau kamu bisa pindah tepat waktu, kalau kamu mengulur kepindahan kamu, pernikahan kamu akan semakin jauh!"


Dimas diam beberapa saat. Ia ingin pulang dan melihat keadaan Dini, namun ia juga tidak ingin menunda kepindahannya yang artinya menunda pernikahannya.


"Dini baik baik aja Dim, papa bisa pastikan itu!" ucap papa Dimas meyakinkan.


"Kamu harus fokus sama pekerjaan kamu Dimas!" lanjut papa Dimas.


"Iya pa," balas Dimas pasrah.


Panggilan berakhir, Dimas memutuskan untuk tidak menemui Dini saat itu. Ia harus melanjutkan pekerjaannya agar ia cepat pindah.


2 menit sebelum meeting dimulai, Dimas menghubungi Dini. Tanpa ia sadar kekhawatirannya membuat Dini curiga.


Tuuuuutttt tuuuuutttt tuuuuutttt


Panggilan terputus. Dimas kembali menghubungi Dini namun tidak bisa. Ia pun menghubungi pak Yusman dan sedikit bisa bernapas lega karena Dini baik baik saja dan tidak mendapat luka yang serius.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Pintunya kembali diketuk oleh seseorang yang mengingatkannya untuk segera datang ke ruangan meeting.


Dimaspun mengambil berkas berkasnya dan segera keluar dari ruangannya untuk melakukan meeting di ruangan lain.


**


Di tempat lain, Dini masih berada di kamar Andi. Ia tertidur dalam dekapan Andi setelah beberapa lama menangis.


Andipun membaringkan Dini di ranjangnya. Ia membelai pelan rambut Dini penuh kasih sayang.


"Kamu harus selalu bahagia Din, dengan atau tanpa Dimas, aku hanya berharap kamu bisa jalanin hidup kamu dengan penuh kebahagiaan," batin Andi dalam hati.


Andi lalu keluar dari kamarnya tepat saat Adit baru saja membuka pintu kamarnya.


"Kenapa muka lo asem gitu?" ledek Adit lalu masuk ke kamarnya.


Andi hanya diam dan mengikuti Adit masuk ke dalam kamar. Andi merebahkan badannya di ranjang Adit dengan memejamkan matanya.


"Kak, apa selama ini mbak Ana baik baik aja dengan keadaanya yang kayak gini?" tanya Andi tanpa membuka matanya.


"Keadaan kayak gini gimana maksud lo?" tanya Adit sambil melepas dasinya di depan cermin.


"Lo ngurung mbak Ana di rumah itu, apa lagi setelah kejadian kemarin lo bahkan nggak ngebolehin mbak Ana buat keluar sedetikpun!"


"Gue ngelakuin itu buat dia," balas Adit sambil membuka satu per satu kancing kemeja putihnya.

__ADS_1


"Lo yakin mbak Ana nggak keberatan dengan hal itu?" tanya Andi.


Adit lalu berbalik dan melihat ke arah Andi yang masih terpejam di atas ranjangnya.


"Apa yang sebenarnya mau lo tanyain?" tanya Adit yang sudah duduk di tepi ranjangnya.


Andi lalu membuka matanya dan menatap nanar langit langit kamar Adit.


"Lo beneran cinta sama mbak Ana atau cuma mau milikin mbak Ana?" tanya Andi dengan membawa pandangannya pada Adit.


"Gue cinta sama Ana, kalau gue cuma mau milikin dia, gue udah usahain itu sejak lama!" jawab Adit.


"Apa lo yakin mbak Ana bahagia dengan apa yang lo lakuin sama mbak Ana sekarang?"


"Gue ngelakuin ini karena gue sayang sama dia, gue cuma mau jagain dia dari orang orang yang punya niat buruk sama dia, gue kasih semua yang dia butuhkan, gue emang belum bisa kasih seluruh waktu gue buat dia, tapi setelah kita menikah dia satu satunya prioritas buat gue," jawab Adit.


"Lo nggak jawab pertanyaan gue!" ucap Andi.


Adit menghela nafasnya lalu ikut berbaring di samping Andi.


"Gue nggak tau apa dia bahagia saat ini, sebagai seseorang yang mencintai dia gue cuma bisa berusaha buat bahagiain dia dan berharap kalau apa yang gue lakuin bener bener bisa bikin dia bahagia," ucap Adit.


Andi hanya diam mendengarkan ucapan Adit.


"Ada apa sebenarnya? kenapa lo tiba tiba tanyain hal itu?" tanya Adit pada Andi.


Andi hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari ranjang Adit. Andi keluar dari kamar Adit begitu saja dan pergi ke ruang baca.


Sedangkan Adit segera mandi dan berganti pakaian lalu keluar dari kamarnya berniat untuk menemui Andi di kamarnya karena ia pikir Andi sedang tidak baik baik saja.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Aditpun membuka pintu kamar Andi dan begitu terkejut saat melihat Dini yang sedang tertidur di ranjang Andi.


"Dini!"


Aditpun kembali menutup pintu kamar Andi dengan pelan lalu berlari ke arah ruang baca. Ia yakin jika Andi berada di sana.


Adit naik ke lantai dua dan mendapati Andi duduk di salah satu kursi dengan membaca buku.


"Ngapain sih lari lari?" tanya Andi tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya.


"Gue abis dari kamar lo!" jawab Adit yang membuat Andi seketika membawa pandangannya pada Adit.


"Gue pikir lo lagi di kamar, makanya gue masuk, gue nggak tau kalau ada Dini di sana," ucap Adit.


"Apa dia bangun?" tanya Andi.


"Ya udah biarin aja," balas Andi santai.


"Kenapa dia ada di sini? kenapa dia tidur di kamar lo?" tanya Adit penasaran.


"Nggak semua hal yang terjadi sama Dini lo harus tau!" jawab Andi.


"Iya sih, tapi......"


"Dan kali ini lo nggak perlu tau," ucap Andi memotong ucapan Adit.


"Oke, gue bisa tanya sendiri sama dia!" ucap Adit.


Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan fokus membaca buku di tangannya.


**


Waktu berlalu, Dini mengerjapkan matanya dan melihat ke sekelilingnya.


"Aku ketiduran di kamar Andi? tapi Andi kemana?"


Perlahan Dini beranjak dari ranjang Andi, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan lalu masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Ia menatap wajahnya di cermin yang ada di kamar mandi. Ia tersenyum tipis mengingat apa yang baru saja terjadi padanya.


"apa kamu harus ngelakuin hal sejauh ini cuma buat jagain aku Dimas? apa kamu nggak pernah berpikir kalau apa yang kamu lakukan itu berlebihan dan keterlaluan?" batin Dini dalam hati.


Matanya kembali berkaca kaca meski bibirnya tampak tersenyum. Ia berusaha untuk tetap tegar di hadapan semua orang jika memang pernikahan impiannya tidak berjalan sesuai dengan rencana.


Tooookkkk tooookk tooookkk


Pintu kamar mandi diketuk oleh seseorang dari luar.


"Din, kamu di dalam?" tanya Andi dari depan pintu kamar mandi.


"Iya, sebentar," jawab Dini dengan menghapus air mata di pipinya.


Dini kembali membasuh wajahnya dan mengusapnya dengan tissue lalu keluar dari kamar mandi.


"Kamu baik baik aja?" tanya Andi dengan memegang kedua bahu Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu menjatuhkan dirinya dalam pelukan Andi.

__ADS_1


"apa Dimas memang ditakdirkan untuk aku Ndi? apa Dimas memang masa depan yang Tuhan berikan buat aku? atau dia cuma salah satu laki laki yang terlalu lama singgah dan pada akhirnya nanti akan pergi?" batin Dini bertanya tanya.


"Semuanya akan baik baik aja Din, kamu harus ketemu Dimas buat bicarain hal ini," ucap Andi dengan mengusap punggung Dini.


"Aku nggak mau ketemu dia Ndi," ucap Dini dengan suara lirih.


"Kamu harus ketemu Dimas Din, hubungan kalian bukan sekedar pacaran yang bisa tiba tiba putus dan balikan, kalian udah jauh dari itu, dua bulan lagi kalian akan menikah dan....."


"Dan Dimas masih nggak bisa kasih kepercayaannya buat aku, itu kenyataannya Ndi!"


"Oke, kamu butuh waktu buat mikirin hal ini, setelah kamu lebih tenang kamu harus temuin Dimas dan bicarain semua ini, jangan biarin pikiran buruk mengganggu kamu terlalu jauh Din!"


Dini lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi dan mendorong Andi dengan kasar. Ia kesal karena ucapan Andi yang terdengar selalu membela Dimas.


"Kamu lebih percaya Dimas daripada aku? kamu nggak tau seberapa besar kekecewaan aku sama Dimas saat aku tau hal ini Ndi, kamu nggak tau gimana rasanya sakit yang aku rasain saat aku tau orang yang aku cintai nyatanya nggak pernah bisa percaya sama aku!" ucap Dini penuh emosi.


Andi menghela nafasnya panjang melihat Dini yang salah paham terhadapnya. Andi lalu menarik tangan Dini, namun Dini menolaknya dan melangkah keluar dari kamar Andi.


"Din, tunggu!" ucap Andi dengan menahan tangan Dini, namun lagi lagi Dini melepas paksa tangannya dari Andi.


Dini berlari menuruni tangga dengan semua rasa kesal, kecewa dan amarah dalam dirinya.


Sedangkan Andi masih berlari mengejar Dini dan berhasil meraih tangan Dini lalu mendekapnya dengan erat.


"Aku minta maaf Din, aku minta maaf," ucap Andi dengan memeluk Dini erat.


Dini hanya diam dan menangis dalam pelukan Andi. Untuk saat itu ia hanya ingin didengarkan dan dimengerti oleh sahabatnya itu.


Andi melepaskan Dini dari pelukannya, memegang wajah Dini dan menatap jauh ke dalam mata Dini.


"Aku minta maaf," ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.


Andi lalu kembali membawa Dini masuk ke dalam rumah dan mendudukkan Dini di sofa ruang tamunya.


"Aku ambilin kamu minum dulu," ucap Andi lalu pergi mengambilkan Dini air minum.


"Minum dulu Din, setelah ini aku antar kamu pulang," ucap Andi sambil memberikan Dini segelas air minum.


"Aku nggak mau pulang Ndi," ucap Dini setelah ia meneguk air dari gelas di tangannya.


"Kabarin ibu kamu dulu biar ibu kamu nggak khawatir," ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.


"Sekarang kamu ikut aku!" ajak Andi dengan menarik tangan Dini.


"Kemana?"


"Ke ruang baca," jawab Andi.


Andi dan Dini lalu pergi ke ruang baca. Andi mengajak Dini berkeliling di ruang baca yang terdiri dari dua lantai dengan banyak deretan rak buku di dalamnya.


Andi sengaja mengajak Dini membaca buku agar kesedihan Dini bisa sedikit teralihkan.


Waktu berlalu, sudah hampir satu jam Andi dan Dini menghabiskan waktu di ruang baca. Andi lalu mengajak Dini keluar dari ruang baca.


"Malam ini kamu tidur di kamarku, aku tidur di kamar kak Adit," ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.


Meski waktu telah berlalu, buku telah dibaca, nyatanya kesedihan masih tampak jelas di raut wajah Dini.


Andi lalu mengajak Dini duduk di teras rumahnya, melihat lampu lampu kecil di taman bunga sang mama.


"Mama suka duduk di sini tiap malem, kadang sampe aku sama kak Adit maksa mama masuk kalau mama udah terlalu lama duduk di sini," ucap Andi.


Dini hanya diam mendengarkan Andi berbicara. Dalam hati dan pikirannya ia hanya memikirkan Dimas dan pernikahannya yang tinggal 2 bulan lagi.


Pernikahan impiannya bersama laki laki yang dicintainya kini tampak sangat jauh darinya. Kekecewaan dalam dirinya membuatnya ragu atas apa yang sudah ia yakini selama ini.


"kamu cinta sama aku, atau kamu cuma mau memiliki aku Dimas?" batin Dini dalam hati.


Melihat Dini yang masih tampak sedih, Andi lalu menggeser duduknya dan membawa Dini ke dalam dekapannya. Ia menggenggam tangan Dini, berusaha memberikan kekuatan pada Dini.


Tiba tiba sebuah mobil masuk ke halaman rumah Andi. Sebuah mobil yang Andi dan Dini tau siapa pemiliknya.


Andi dan Dini kompak berdiri saat melihat Dimas keluar dari mobilnya.


Dimas berjalan cepat ke arah Dini dan menarik tangan Dini.


"Kita pulang sekarang!" ucap Dimas dengan tegas, namun Dini menarik tangannya dengan kasar membuat pegangan Dimas terlepas dari tangan Dini.


"Nggak mau," ucap Dini dengan pandangan tajam pada Dimas.


"Aku akan jelasin semuanya tapi nggak di sini, aku....."


PLAAAKKK


Satu tamparan keras dari Dini mendarat di pipi Dimas.


"Aku nggak butuh penjelasan kamu," ucap Dini lalu pergi meninggalkan Dimas dan Andi.

__ADS_1


Dimaspun mengejar Dini, meraih tangan Dini dan mencengkeramnya dengan kuat.


__ADS_2