Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Hasil Masak Dini


__ADS_3

Andi masih bersama Dini saat asisten rumah tangga Anita menghubungi nya. Ia tau ia tidak mungkin meninggalkan Dini saat itu, Andipun mencoba mencari jalan keluar agar tidak ada yang kecewa dengan pilihan yang diambilnya.


Andi lalu menghubungi panggilan darurat agar ambulans datang ke rumah Anita. Dengan begitu Anita bisa segera dibawa ke rumah sakit tanpa harus menunggu dirinya yang bisa saja terjebak macet saat dalam perjalanan ke sana.


"Aku nggak akan ninggalin kamu Din, nggak akan pernah," ucap Andi dengan menatap ke dalam mata Dini.


Dini hanya diam. Dalam hatinya ia bersyukur karena Andi tidak meninggalkannya malam itu.


Dini dan Andipun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit bersama. Sesampainya di sana, mereka segera berjalan ke arah ruang UGD dan mendapati asisten rumah tangga Anita di sana.


"Gimana keadaan Anita bi?" tanya Andi.


"Dokter belum keluar den, mudah mudahan nggak ada hal buruk yang terjadi," jawab bibi.


Tak lama kemudian Dokter keluar dan memberi tahu jika keadaan Anita baik baik saja. Hanya saja kakinya mengalami cedera yang membuatnya tidak bisa berjalan untuk beberapa waktu.


"Tapi dia pasti bisa jalan kan Dok?" tanya Andi memastikan.


"Iya, sebaiknya dia sering diajak berlatih berjalan untuk mempercepat kesembuhannya," jawab Dokter.


"Baik Dok terima kasih," ucap Andi yang dibalas anggukan kepala Dokter.


"Bibi mau masuk dulu?" tanya Andi pada bibi saat Anita sudah dipindahkan ke ruang rawat.


"Bibi tunggu di sini aja den, maaf sudah merepotkan den Andi."


"Nggak papa bi, Andi sama Dini masuk dulu ya Bi!"


"Iya den, silakan!"


Andi lalu menggandeng tangan Dini untuk diajak masuk ke ruangan Anita.


Andi dan Dini berjalan ke arah Anita yang masih berbaring di ranjangnya.


"Gimana keadaan kamu Nit?" tanya Dini pada Anita.


"Aku nggak papa Din," jawab Anita dengan tersenyum meski ia kesulitan untuk menggerakkan kakinya.


"Kamu bikin aku khawatir," ucap Andi dengan mengusap rambut Anita.


"Iya maaf, aku pikir bibi hubungin nomor darurat, nggak taunya malah hubungin kamu, maaf aku jadi ganggu waktu kamu sama Dini," balas Anita dengan membawa pandangannya pada Andi dan Dini bergantian.


"Kamu nggak ganggu Nit, aku sama Dini juga udah selesai beli buku kok waktu bibi hubungin aku," ucap Andi.


Setelah berbincang beberapa lama, Andi dan Dinipun meninggalkan ruangan Anita karena malam semakin larut.


Andi mengantarkan Dini pulang ke rumahnya. Entah kenapa sepanjang perjalanan tak banyak yang mereka bicarakan.


Sesampainya di depan rumah, Dini segera turun dari mobil Andi.


"Kamu baik baik aja?" tanya Andi pada Dini.


"Iya, kenapa?" balas Dini bertanya.


Andi hanya tersenyum lalu memeluk Dini.


"apa aku boleh iri sama kedekatan kamu dan Anita?" tanya Dini dalam hati.


"Aku pulang dulu ya!" ucap Andi lalu melepaskan Dini dari pelukannya.


Dini hanya tersenyum dan melambaikan tangannya pada Andi. Setelah mobil Andi meninggalkan rumahnya, Dinipun masuk ke dalam rumah.


Dini segera mengisi daya ponselnya karena ponselnya sudah kebahisan daya sedari tadi.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.


"Halo sayang, kamu dari mana kok dari tadi aku hubungin nggak bisa?"


"Maaf Dimas hpnya lowbatt jadi aku matiin, abis beli buku sama Andi, aku sama Andi ke rumah sakit tadi," jawab Dini.


"Ke rumah sakit? kenapa? siapa yang sakit?"


"Anita," jawab Dini singkat.


"Anita? dia kenapa?"


"Dia jatuh dari tangga, dokter bilang buat sementara dia masih belum bisa jalan, tapi kalau sering berlatih dia cepet bisa jalan lagi," jawab Dini menjelaskan.


"Andi pasti khawatir banget tuh!" ucap Dimas.


"Kenapa?" tanya Dini.


"Kamu bilang dia akhir akhir ini sering sama Anita kan? mereka kayaknya lagi deket!"


"Hmmmm.... mungkin," balas Dini.


"Karena Anita sering sama Andi, dia juga udah nggak pernah ganggu aku," ucap Dimas.


"Baguslah kalau gitu, kamu nggak pulang Dimas?"


"Masih ada yang harus aku kerjain sayang, besok pagi aku baru bisa pulang, tunggu aku ya!"


"Iya, aku akan tunggu kamu di sini," balas Dini.


Panggilan pun berakhir. Dini merebahkan badannya dan menutup matanya. Sekelebat bayangan Andi dan Anita muncul dalam gelap pandanganya. Entah kenapa melihat kedekatan Andi dan Anita membuatnya tidak nyaman.


"aku cuma nggak mau kamu masuk perangkapnya Anita lagi Ndi, aku masih belum yakin kalau dia beneran bisa lupain Dimas," ucap Dini dalam hati.


Dini lalu mengambil bantal dan menutup wajahnya dengan bantal sampai ia terlelap.

__ADS_1


**


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Andi, Adit dan sang mama sedang menikmati sarapan mereka di meja makan.


"Ndi, nanti bantuin gue beresin buku yang di ruang baca ya!" ucap Adit pada Andi.


"Sorry nggak bisa, gue udah ada janji," balas Andi.


"Sama siapa? nggak mungkin sama Dini kan?" tanya Adit.


"Kenapa nggak mungkin?" balas Andi bertanya.


"Weekend itu waktunya Dini ngabisin waktu sama Dimas, nggak mungkin dia mau keluar sama lo kecuali kalian mau keluar bareng!" jawab Adit.


"Lo tau banget ya tentang Dini!" ucap Andi.


"Gue kan kakaknya, jadi dia selalu cerita sama gue," balas Adit menyombongkan diri.


Andi hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Adit.


"Gue mau jemput Anita di rumah sakit," ucap Andi.


"Anita? emang dia kenapa?"


"Dia jatuh dari tangga semalem, dokter bilang dia nggak papa, cuma belum bisa jalan buat beberapa hari ini, karena papanya nggak di rumah, jadi nggak ada yang jemput dia," jawab Andi menjelaskan.


"Awas bikin anak orang baper loh!" ucap Adit.


"Nggak mungkin," balas Andi dengan mengunyah makanannya.


"Nggak ada yang nggak mungkin Ndi, perhatian yang datang di saat yang tepat itu adalah waktu yang paling rentan buat menumbuhkan cinta, iya kan ma?"


"Cinta memang selalu punya jalannya, dia bisa tumbuh tanpa kita sadari," balas mama Siska dengan membawa pandangannya pada Andi.


Andi hanya tersenyum canggung sambil melanjutkan makannya.


Setelah selesai sarapan, Andipun meninggalkan rumahnya dan pergi ke rumah sakit untuk menjemput Anita.


Kini tinggal Adit dan sang mama di sana.


"Kamu tau banyak tentang Dini Dit?" tanya mama Siska.


"Dini banyak cerita sama Adit, tapi tetep Andi yang lebih tau tentang Dini daripada Adit," jawab Adit.


Mama Siska hanya tersenyum kecil lalu meninggalkan meja makan.


"gue nggak bermaksud ikut campur masalah pribadi lo Ndi, tapi gue juga nggak akan biarin lo masuk ke tempat yang salah, karena tugas gue di sini adalah pastiin kebahagiaan mama dan adik gue, itu yang udah gue janjiin sama papa," batin Adit dalam hati.


**


Di rumah sakit, Andi segera membawa langkahnya ke arah ruangan Anita.


Di sana sudah ada bibi dan sebuah kursi roda.


"Udah bisa pulang sekarang?" tanya Andi yang dibalas senyum dan anggukan kepala Anita.


"Bibi juga sudah urus administrasi nya den," ucap bibi.


"Makasih Bi," balas Andi lalu menggendong Anita untuk didudukkan di kursi roda.


Andi lalu mendorong kursi roda Anita keluar diikuti bibi yang berjalan di samping Andi.


Sesampainya di rumah, Andi membawa Anita ke kamarnya dan menggendong Anita ke ranjang.


"Hari ini kamu nggak sibuk?" tanya Anita pada Andi.


"Aku sibuk banget hari ini, kenapa?"


"Maaf aku jadi ganggu kesibukan kamu, kamu bisa pulang sekarang," ucap Anita.


"Kamu ngusir aku?"


"Enggak, makasih karena udah jemput aku dari rumah sakit, tapi karena kamu sibuk kamu bisa pulang sekarang," jawab Anita.


"Kamu tau aku sibuk apa?" tanya Andi.


"Emang kamu sibuk apa?" balas Anita bertanya.


"Aku hari ini sibuk jagain kamu," jawab Andi dengan mengusap rambut Anita.


Anita hanya tersenyum tersipu karena ucapan Andi.


Tak lama kemudian bibi masuk ke kamar Anita dengan membawa bubur untuk Anita. Andi lalu menerima bubur dari bibi dan berniat untuk menyuapi Anita.


"Aku bisa sendiri Ndi, yang sakit kaki ku, bukan tanganku," ucap Anita.


"Hahaha.... oke oke," balas Andi lalu memberikan bubur di tangannya pada Anita.


"Kamu suka makan bubur?" tanya Andi.


"Kalau aku sakit mama selalu bikinin aku bubur, sejak mama nggak ada bibi yang selalu bikinin aku bubur, sakit apapun bibi selalu bikinin aku bubur, kayak sekarang ini," jawab Anita.


"Itu artinya bibi sayang sama kamu, kamu liat sendiri kan, masih banyak yang sayang sama kamu, jadi kamu nggak perlu lagi kejar masa lalu kamu, kamu akan bahagia dengan masa depan kamu Nit, aku yakin itu," ucap Andi.


"Apa kamu juga sayang sama aku?" tanya Anita.


Andi diam beberapa saat, ia harus memikirkan baik baik ucapannya agar tidak terjadi salah paham.


Ia tau Anita sudah lebih baik sekarang, Anita bahkan sudah tidak pernah membahas Dimas lagi di depannya.


"Kamu temen baik ku Nit, tentu aku sayang sama kamu," ucap Andi dengan senyumnya.

__ADS_1


Anita tersenyum tipis lalu melanjutkan makan buburnya.


"Dimas hari ini pasti pulang, kamu mau aku ajak dia ke sini?" tanya Andi mencoba memancing respon Anita.


"Enggak, jangan, aku nggak mau siapapun ke sini selain kamu," jawab Anita.


"Kenapa?" tanya Andi.


"aku udah berusaha buat hilangin Dimas dari pikiranku Ndi, dengan adanya kamu di sini itu udah bikin aku bahagia, walaupun aku tau kalau aku juga nggak bisa memiliki kamu tapi setidaknya kamu selalu bikin aku bahagia dan aku nggak butuh Dimas lagi," jawab Anita dalam hati.


"Aku.... aku cuma butuh kamu di sini, aku nggak perlu orang lain lagi selain kamu," jawab Anita.


"Oke kalau itu mau kamu, tapi setelah kamu selesai sarapan, kamu harus belajar berjalan, oke?"


Anita menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang.


"aku nggak akan mudah buat bener bener percaya sama kamu Nit, tapi aku nggak akan berhenti buat bawa kamu pergi dari bayang bayang Dimas, karena aku tau semakin kamu mengejarnya kamu hanya akan semakin terluka," batin Andi dalam hati.


**


Di tempat lain, Dini sedang menyiapkan bahan bahan masakan di dapur.


"Kamu yakin nggak mau ibu bantuin?" tanya ibu Dini.


"Dini yakin bu, Dini udah beberapa kali belajar satu menu ini sama Andi, ibu kan tau Dini cepet belajar!" jawab Dini yakin.


"Tapi kok ibu ragu ya Din hehe....."


"Iiiihhh, ibuu......"


"Jangan sampe Dimas nggak berani ke sini lagi karena takut sama makanan kamu hehe....." ucap ibu Dini sambil berjalan meninggalkan dapur.


"Ibu kok malah menjatuhkan Dini sih!" ucap Dini yang mulai pesimis dengan kemampuannya.


Ibu Dini hanya terkekeh mendengar ucapan Dini.


"Ibu ke rumah Bu RT dulu ya Din!" ucap ibu Dini.


"Iya Bu, hati hati," balas Dini.


Sekarang hanya ada Dini di rumahnya, ia pun mulai berperang dengan peralatan dapur untuk menghasilkan nasi goreng yang enak untuk Dimas.


"Ini nasi goreng dengan bumbu cinta, pasti rasanya lebih enak daripada waktu bikin sama Andi," ucap Dini penuh percaya diri.


Setelah beberapa lama akhirnya bau masakan mulai tercium dari dapur Dini.


"Mmmmm.... baunya sih lumayan," ucap Dini lalu mencoba mencicipi nasi goreng buatannya.


"Kok aneh ya rasanya, perasaan udah sama deh bumbunya, nggak mungkin ada yang salah, kan aku udah ikutin resepnya dengan bener," ucap Dini yang merasa rasa nasi gorengnya tidak seenak saat ia membuatnya bersama Andi.


Dini lalu memutuskan untuk membuat telur mata sapi terlebih dahulu sambil mengingat ingat kesalahannya.


Saat akan memasukkan telur ke dalam penggorengan panas, Dini terlalu keras memecahkan telurnya sehingga kuning telurnya pecah.


"Yaaahhh, rusak!"


Dini lalu melanjutkan menggorengnya, namun ia kembali mencoba membuatnya lagi dan sampai 5 telur tergoreng, tak ada satupun yang bisa berbentuk bulat sempurna seperti buatan Andi.


Tak lama kemudian pintu rumahnya di ketuk, Dinipun segera meninggalkan dapur untuk membuka pintu rumahnya.


"Pagi sayang."


Dini tersenyum senang saat melihat laki laki di hadapannya, ia tidak menyangka jika Dimas akan datang sepagi itu.


Dini lalu menghambur dalam pelukan Dimas dan memeluknya dengan erat.


"Kenapa bisa sepagi ini?" tanya Dini tanpa melepas pelukannya pada Dimas.


"Aku langsung pulang setelah selesaiin pekerjaan ku semalem," jawab Dimas.


"Pasti malem banget ya?"


"Demi kamu," ucap Dimas sambil mencubit hidung Dini.


"Aku......."


"Sayang, rumah kamu berasap!" ucap Dimas memotong ucapan Dini.


"Haaahhh, dapur ku!" ucap Dini lalu segera berlari ke dapur.


Dengan cerobohnya Dini membiarkan telur di atas penggorengan dengan api menyala, membuat penggorengannya berasap sampai memenuhi dapurnya.


Dimas lalu segera mematikan kompor dan menjauhkan Dini dari dapur.


"Kamu masak?" tanya Dimas pada Dini.


"Iya, tadinya aku mau kasih tau kamu hasil belajar ku sama Andi, tapi malah jadi kayak gini," jawab Dini tak bersemangat.


Dimas hanya tersenyum kecil lalu mengambil nasi goreng yang sudah ada di piring.


"Telurnya sebanyak ini?" tanya Dimas.


"Itu semua telur gagal Dimas, aku udah berkali kali coba buat mata sapi tapi nggak pernah bisa," jawab Dini.


Dimas lalu mengambilnya satu dan menaruhnya di atas nasi goreng.


"Itu juga nasi goreng gagal, jangan...."


"Sassttt.... aku laper," ucap Dimas lalu menyendokkan makanan buatan Dini ke dalam mulutnya.


Dimas berusaha untuk tetap menjaga ekspresi nya agar tidak mengecewakan Dini karena pada kenyataannya telur buatan Dini terasa hambar dan nasi goreng buatan Dini juga terasa aneh.

__ADS_1


Di sisi lain, Dini hanya diam melihat Dimas yang tampak menikmati makanan buatannya. Tanpa ia tau, ia lupa memberi garam pada semua telur nya dan salah memasukkan MSG yang dianggapnya garam ke dalam nasi gorengnya.


__ADS_2