Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Senja di Pantai


__ADS_3

Masih malam yang sama dengan bintang dan bulan yang semakin bersinar. Dimas sudah memutuskan apa yang menurutnya terbaik, tidak hanya untuknya tapi juga untuk mereka yang dicintainya.


"Dimas setuju!" ucap Dimas yang membuat mama dan papanya sedikit terkejut.


"Sayang, kamu yakin?" tanya mama Dimas.


"Dimas yakin ma, apapun akan Dimas lakuin buat pertahanin Andini," jawab Dimas penuh keyakinan.


"Oke, papa nggak akan ikut campur masalah kamu lagi, tapi satu yang harus kamu inget, kapanpun kamu butuh papa, papa akan selalu siap," sahut papa Dimas.


"Terima kasih pa, terima kasih ma," balas Dimas.


Dimas lalu keluar dari ruang kerja sang papa dan masuk ke kamarnya. Ia segera menghubungi Yoga untuk menentukan langkah selanjutnya.


**


Di tempat lain, di tempat parkir sebuah rumah sakit seorang laki laki dan perempuan sedang berdebat di dalam mobil.


"Gue baik baik aja An, gue cuma kecape'an aja!" ucap Adit pada Ana.


"Lo sendiri yang bilang kalau akhir akhir ini dada lo sering nyeri, apa itu artinya baik baik aja? gimana kalau lo punya penyakit jantung? kanker? tumor?"


"Pikiran lo jelek banget sih!"


"Udah deh jangan bawel, buruan keluar atau gue teriak nih!"


"Oke oke, gue keluar!"


Adit mengalah, ia menuruti permintaan Ana untuk memeriksakan kesehatannya.


Setelah antre beberapa menit, Adit mulai diperiksa oleh sang Dokter.


"Gimana keadaannya Dok?"


"Dia baik baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi untuk lebih memastikannya lagi kita perlu melakukan CT scan dan hasilnya bisa dilihat esok hari," jelas Dokter.


"Baik Dok, terima kasih."


Setelah melakukan semua pemeriksaan yang diperlukan, Adit dan Ana meninggalkan rumah sakit.


"Udah gue bilang kan gue baik baik aja!" ucap Adit.


"Selama hasil CT scan belum keluar, gue belum tenang," balas Ana.


"Gue heran deh sama lo, suami lo nggak cemburu lo kayak gini sama gue?"


"Apa yang harus dicemburuin? dia tuh tau kalau nggak ada yang peduli sama lo selain gue hahaha...."


"Lo bener, cuma lo yang paling ngerti apapun tentang gue, karena gue nggak bisa cerita semua hal yang gue alami sama mama."


"Gimana keadaan mama? udah sehat?"


Adit mengangguk.


"Mama sehat, mama keliatan seneng banget waktu gue kenalin sama Dini, tapi dibalik semua itu gue tau ada kesedihan yang mama sembunyiin dari gue."


"Kenapa lo nggak tinggal di rumah aja sih? kasian mama kalau......"


"Gue nggak sanggup liat mama sedih An, gue juga udah janji sama papa buat pulang setelah gue......"


Biiiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Adit berdering, panggilan dari seseorang yang sangat ia hindari.


"Siapa? nggak diangkat?" tanya Ana.


Adit tak menjawab, hanya menunjukkan tampilan layar ponselnya pada Ana.


"Jenny? seneng dong yang akhirnya ketemu sama cinta lama," goda Ana.


"Baru sehari ketemu dia udah bikin masalah di kantor, Dini pasti udah cerita kan?"


"Enggak, Dini belum cerita apa apa soal masalah di kantor."


"Gue pikir dia udah cerita semuanya sama lo!"


"Lo suka sama dia?" tanya Ana tanpa basa basi.


"Dia siapa? Jenny?" balas Adit balik bertanya.


"Dini."


Adit tersenyum kecil sebelum ia menjawab pertanyaan Ana.


"Gue suka sama kecerdasannya, gue suka dia jadi partner kerja yang baik buat gue!"


PLAAAKKK


Satu pukulan mendarat di kepala Adit. Siapa lagi yang bisa memukul kepala CEO tampan itu selain Ana? tidak ada.


"Jangan sok polos deh, lo tau maksud pertanyaan gue bukan itu," ucap Ana kesal.


"Haha.... gue terlalu sibuk sama kerjaan dan masalah keluarga gue An, gue nggak ada waktu buat mikirin hal lain."


"Tapi lo....."


"Ana, lo tau gue kan? gue udah nggak percaya sama yang namanya cinta, buat gue cinta yang sebenernya cuma antara ibu dan anak, just it!"


"Jadi lo beneran nggak ada perasaan apa apa sama Dini?"


Adit menggeleng.


"Dia udah ada yang punya An, gue sama dia pure sebagai partner kerja, walaupun sebenarnya gue berharap lebih."


"Tuh kan! tuh kan!"


"Gue berharap bisa jadi temen buat dia di luar kantor, gue tau gue nggak bisa samain dia sama lo, tapi gue pingin bisa berhubungan baik sama dia kayak gue sama lo sekarang."


"Oh, gue pikir apa!"


"Apa lagi abis ini lo nikah, lo pasti sibuk sama keluarga baru lo dan ninggalin gue sendirian di sini!"


Ana tersenyum tipis lalu memukul lengan Adit.

__ADS_1


"Ini yang orang orang nggak tau, seorang Adit yang galak ini sebenernya melow banget," ucap Ana yang hanya dibalas senyuman oleh Adit.


"Kalau lo mau berhubungan baik sama Dini di luar kantor, lo harus perlakuin dia kayak lo perlakuin gue dong, lo aja masih kaku sama dia, jadi gimana dia bisa nyaman berteman sama lo!"


"Iya sih, tapi susah An, lo tau temen cewek gue cuma lo!"


"Makanya belajar, jangan cuma bisa marahin orang aja!"


"Dan kayaknya Dini nggak akan ngomelin gue kayak lo sekarang!"


"Tenang aja, gue yang bakalan ajarin dia ngomelin lo!"


Mereka lalu tertawa dan membicarkan banyak hal.


**


Pagi datang, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Dini sudah bersiap untuk pergi ke kantor setelah menghabiskan sarapannya bersama sang ibu.


Seperti biasa, ia berangkat bersama Andi. Mereka sudah duduk di dalam bus yang akan membawa mereka ke tempat kerja Dini.


"Kamu yakin udah bisa kerja?" tanya Andi pada Dini.


Dini mengangguk penuh semangat.


"Yakin banget, malah aku yang nggak yakin sama kamu!"


"Kenapa?"


"Terakhir kali aku tau tangan kamu basah itu udah lama banget Ndi, nggak tau kapan aku udah lupa."


"waktu kamu koma di rumah sakit karena Dika, waktu aku liat pertunangan kamu sama Dimas, itu yang terakhir," ucap Andi dalam hati.


"Aku baik baik aja kok," ucap Andi dengan senyum manisnya.


"Oke kalau kamu nggak mau cerita sekarang, nggak papa, nanti sore jemput aku ya, aku pingin ke pantai."


"Oke," balas Andi.


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Andi berdering ketika mereka baru saja turun dari bus, sebuah panggilan dari Dimas.


Andipun menggeser tanda panah hijau dan menekan tanda loudspeaker agar Dini mendengarkan suara Dimas.


"Lo dimana Ndi?"


Terdengar suara Dimas yang membuat Dini segera membawa pandangannya ke arah Andi.


Andi hanya tersenyum dan menjawab pertanyaan Dimas.


"Di depan kantor Dini, ada apa?"


"Gue hari ini masuk sore Ndi, ada yang harus gue selesaiin."


"Tapi ntar sore gue harus pulang cepet Dim, gue ada janji sama seseorang."


"Sama siapa? Anita?"


"Anita? kenapa yang ada dipikiran kamu Anita?" batin Dini kesal.


"Nggak ada, gimana keadaannya? baik baik aja kan?"


"Kalau mau tau ya temuin aja di pantai, bye!"


Klik. Andi mematikan sambungan ponselnya begitu saja.


"Kok dimatiin?" tanya Dini.


"Kamu masih simpen nomernya kan? hubungi aja sendiri hehe....."


"Iiissshh nyebelin, ya udah aku duluan ya!" ucap Dini lalu menyebrang ke arah kantornya.


Dini segera masuk ke ruangannya seperti biasa. Tepat jam 7 pagi, Adit sudah memasuki ruangannya namun belum ada air hangat di mejanya.


Adit melihat ke arah ruangan Dini dan tersenyum tipis melihat Dini yang sudah sibuk dengan komputer di hadapannya.


Setidaknya ia tidak akan sekacau hari kemarin karena ketiadaan Dini di kantornya.


Adit lalu memanggil orang lain untuk menyiapkan minumnya.


Dini melihat ke arah ruangan Adit dan begitu terkejut melihat kedatangan Adit. Ia ingat ia harus segera ke pantry untuk menyiapkan minuman Adit. Ia tidak ingin mendapatkan amukan Adit di hari pertamanya bekerja setelah sakit.


Ketika Dini akan menyiapkan air hangat, sudah ada seseorang yang juga sedang menyiapkan air hangat.


"Hai Din, kamu mau ngapain? siapin minuman Pak Adit? telat, Pak Adit udah minta aku buat siapin minumannya!"


Dini menghela napasnya pasrah. Ia sudah siap menerima konsekuensi dari kelalaian yang ia perbuat.


"kamu emang ceroboh, bodoh, bisa bisanya hari pertama malah bikin masalah lagi," batin Dini mengumpat dirinya sendiri.


Dini lalu kembali ke ruangannya dan mengambil map yang berisi jadwal harian Adit lalu membawanya ke ruangan Adit bersama dengan perempuan cantik yang dilihatnya di pantry.


"Permisi pak, ini jadwal Pak Adit hari ini, saya juga minta maaf karena lupa menyiapkan minuman Pak Adit," ucap Dini.


Adit hanya mengangguk anggukkan kepalanya sambil membaca jadwalnya hari itu.


"Kamu kenapa masih di sini?" tanya Adit pada si perempuan cantik.


"Saya.... saya......"


"Keluar!" ucap Adit pada si perempuan.


Perempuan cantik itupun segera meninggalkan ruangan Adit dengan kesal.


"Kosongkan jadwal makan siang saya, mama minta saya ajak kamu makan siang bersama di rumah," ucap Adit pada Dini.


Dini masih diam, ia berusaha mencerna kata kata Adit dengan baik.


"Apa kamu keberatan?" tanya Adit.


"Tidak pak, saya akan kosongkan jadwal makan siang pak Adit," jawab Dini.


Adit lalu memberi isyarat dengan tangannya agar Dini keluar. Dinipun kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Saat Dini sedang memfoto copy beberapa berkasnya, seseorang datang mendekatinya.


"Enak ya jadi pacar bos, nggak kena marah walaupun salah!" ucap seseorang itu.


Dini yang mendengarnya hanya diam. Meski ia tau jika ucapan itu ditujukan untuknya ia tidak memberi respon apapun karena ia merasa bukan pacar dari bosnya.


"Dasar cewek murahan!" ucap seseorang itu ketika Dini sudah pergi, namun Dini masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"nggak usah dipeduliin Din, fokus aja sama kerjaan kamu," ucap Dini menasehati dirinya sendiri.


Jam makan siang tiba. Dini dan Adit meninggalkan kantor untuk makan siang bersama di rumah mama Adit.


Sesampainya di sana, mereka disambut langsung oleh sang mama. Mama Adit segera menghampiri Dini dan menggandeng tangannya untuk diajak masuk.


"Adit cemburu loh ma," ucap Adit yang ditinggalkan begitu saja oleh mamanya.


Merekapun makan siang dengan tenang lalu duduk di halaman rumah yang dipenuhi bunga bunga.


"Mama suka bunga ya?" tanya Dini.


"Iya sayang, nggak cuma mama, Adit sama papanya juga suka, itu kenapa ada banyak bunga di sini?"


"Pak Adit suka bunga?" tanya Dini pada Adit dengan raut wajah tak percaya.


"Iya, ada yang salah?"


"Agak kurang cocok hehe...."


"Jangan kamu pikir cuma perempuan yang suka bunga Din, saya sama papa....."


"Tunggu, mama mau tanya sesuatu," ucap mama Adit memotong ucapan Adit.


"Apa ma?"


"Udah berapa lama kalian pacaran?" tanya mama Adit yang merasa ragu dengan hubungan Adit dan Dini.


Adit dan Dini saling pandang seolah saling mencari jawaban.


"Mama kenapa tiba-tiba tanyain itu sih?" balas Adit dengan nada kesal.


"Jawab bareng, satu dua tiga!"


"2 minggu," jawab Adit.


"Baru," jawab Dini.


Mereka menjawab dengan bersamaan namun dengan jawaban yang berbeda.


"Baru 2 minggu, iya kan Din?" lanjut Adit.


"Iya, 2 minggu," jawab Dini.


"Tapi cara kalian ngobrol bikin mama ragu," ucap mama Adit lalu beranjak dari duduknya, meninggalkan Adit dan Dini.


"Gimana Pak?" tanya Dini berbisik pada Adit.


"Kamu di sini aja," ucap Adit lalu mengejar sang mama.


Beberapa menit menunggu, Adit keluar dan mengajak Dini untuk kembali ke kantor.


"Mama marah pak?" tanya Dini.


"Tidak, kamu tenang aja," jawab Adit.


"Syukurlah kalau begitu."


"Din, saya mau bilang sesuatu sama kamu, ini di luar pekerjaan," ucap Adit ketika mereka sudah berada dalam perjalanan ke kantor.


"Silakan pak," balas Dini.


"Saya mau kita berhubungan baik Din, entah itu dalam hal pekerjaan ataupun di luar pekerjaan, saya mau kita berteman seperti saya sama Ana, itu jika kamu tidak keberatan," ucap Adit dengan sesekali membawa pandangannya pada Dini.


Dini menggeleng pelan.


"Maksud kamu?" tanya Adit.


"Saya tidak keberatan pak," jawab Dini dengan senyum manisnya.


"Jangan panggil saya 'pak' di luar kantor, apa saya terlihat setua itu?"


"Maaf pak, saya...."


"Kita bisa ngobrol santai di luar pekerjaan Din, jangan anggap saya atasan kamu, selama kita di luar jam kerja kamu harus aktifkan 'mode teman' kamu, oke?"


Dini mengangguk dengan senyum mengembang di bibirnya. Meski pada awalnya mereka masih sering berbicara dengan formal, lambat laun mereka akan lebih terbiasa dengan obrolan santai selayaknya teman.


**


Tepat pukul 5 sore, Dini dan Andi sudah berada di pantai. Mereka duduk berdua menikmati hembusan angin sore di bawah langit jingga.


"Gimana hari ini?" tanya Andi.


"Menyenangkan," jawab Dini.


"aku harap aku selalu bisa liat senyum kamu ini Din," ucap Andi dalam hati.


"Menurut kamu, apa Dimas kesini?" tanya Dini pada Andi.


"Pasti, aku yakin dia ke sini," jawab Andi penuh keyakinan.


"Apa dia nggak cemburu liat aku sama kamu?"


"Oke aku pergi, aku duduk yang jauh di sana!" ucap Andi sambil berdiri namun Dini menarik tangan Andi.


"Jangan, aku mau kamu di sini aja," ucap Dini dengan memeluk Andi yang sudah kembali duduk di sampingnya.


"Kalau kamu peluk kayak gini Dimas bisa cemburu!" balas Andi dengan melepaskan tangan Dini yang memeluknya.


"Ya udah, oke, aku pergi," ucap Dini lalu berdiri dan berlari pergi.


Andi berlari mengejar Dini lalu menangkapnya dan menggelitikinya.


Mereka tampak bahagia, bercanda dan tertawa di bawah langit yang semakin gelap.

__ADS_1


Di sana, di bawah pohon kelapa, sebuah senyum tergaris di wajah tampannya. Rasa bahagia melihat keceriaan gadisnya mengalahkan rasa cemburu dalam hatinya.


__ADS_2