
Hari masih pagi dan Dimas masih berada di rumah Dini. Setelah beberapa lama berusaha untuk menelan hasil masakan Dini akhirnya piring di hadapannya pun bersih tak bersisa.
Dini lalu mengambilkan Dimas minum dan tanpa ragu Dimas meminumnya sampai habis.
"Gimana?" tanya Dini bersemangat.
"Mmmm.... kamu bisa belajar lagi sama Andi," jawab Dimas dengan tersenyum.
"Nggak enak ya?" tanya Dini.
"Kayaknya kamu lupa kasih garam hehe...."
"Haaahhh, apa iya?"
Dimas menganggukkan kepalanya pelan menjawab Dini.
"Maaf Dimas," ucap Dini yang kehilangan semangatnya.
"Nggak papa sayang, ini nggak begitu buruk kok, kamu masih bisa belajar lagi sama Andi," balas Dimas.
"Nggak bisa, Andi selalu sibuk sama Anita," ucap Dini.
"Tapi Andi nggak mungkin nolak permintaan kamu sayang," ucap Dimas.
"Hmmm.... entahlah, aku mandi dulu ya, kamu tunggu di sini!"
"Oke," balas Dimas.
Dinipun meninggalkan Dimas untuk pergi mandi.
Setelah beberapa lama menunggu, Dimaspun melihat Dini keluar dari kamarnya. Dimas segera berdiri dan menghampiri Dini lalu memeluknya.
"Hmmmm..... sayangku wangi banget," ucap Dimas saat memeluk Dini.
"Kemana kita sekarang?" tanya Dini.
"Jalan jalan keliling kota," jawab Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya.
Merekapun keluar dan meninggalkan rumah Dini.
**
Di tempat lain, Andi masih berada di rumah Anita. Setelah Anita menyelesaikan sarapannya, Andi menggendong Anita ke atas kursi rodanya lalu membawa Anita ke taman belakang.
"Aku udah lama banget nggak pernah ke sini," ucap Anita.
"Kamu emang selalu ngabisin waktu kamu di kamar kan?" balas Andi.
"Bener banget!" jawab Anita.
Andi lalu menghentikan kursi rodanya dan menguncinya. Andi berdiri di hadapan Anita dengan mengulurkan kedua tangannya pada Anita.
"Aku belum siap Ndi," ucap Anita.
"Kamu harus siap Nit, kamu harus cepet sembuh," ucap Andi.
"Aku.... aku takut," ucap Anita ragu.
"Ada aku di sini, aku nggak akan biarin kamu jatuh," ucap Andi meyakinkan.
Anita hanya diam dengan memegang kursi rodanya erat erat. Andi lalu memegang tangan Anita dan perlahan melepaskan tangan Anita yang menggenggam pegangan kursi roda.
"Percaya sama diri kamu sendiri Nit, kamu pasti bisa, ada aku yang jagain kamu di sini," ucap Andi yang berusaha memberikan Anita keberanian.
Anita lalu menganggukkan kepalanya pelan. Perlahan Anita mulai menggerakkan kakinya untuk turun ke tanah.
"aku pasti bisa, aku nggak cacat, aku masih gerakin kakiku, itu artinya aku masih bisa jalan, jadi jangan takut Anita," batin Anita dalam hati.
Andi lalu memegang pinggang Anita dan membantunya berdiri.
"Kamu pasti bisa Nit," ucap Andi saat Anita sudah berdiri namun masih berada dalam dekapannya.
Anita mencengkeram dengan kuat bagian belakang baju Andi, ia takut Andi akan melepaskan nya tiba tiba karena perlahan dekapan Andi padanya semakin melonggar.
"Jangan lepasin aku Ndi, jangan lepasin aku," ucap Anita gugup.
"Tenang Nit, kamu pasti baik baik aja," ucap Andi meyakinkan.
"Pegang tanganku Nit, aku yakin kamu bisa," lanjut Andi.
Saat Anita melepaskan cengkeraman tangannya dari punggung Andi, Andi juga melepaskan Anita dari dekapannya.
__ADS_1
Kaki Anita yang saat itu masih lemah pun belum mampu menopang berat tubuh Anita, membuat Anita seketika terhuyung dan hampir saja jatuh jika Andi tidak cepat menangkapnya.
Anita berteriak ketakutan saat ia menyadari jika ia tidak mampu berdiri.
"It's okay Nit, nggak papa, kamu baru belajar," ucap Andi berusaha menenangkan Anita.
"Aku nggak bisa berdiri Ndi, gimana aku bisa jalan kalau aku nggak bisa berdiri!" ucap Anita dengan suara bergetar.
"Bisa Nit, aku yakin kamu bisa," ucap Andi lalu membopong Anita ke arah kursi yang ada di taman.
"Aku takut Ndi, aku takut nggak bisa jalan," ucap Anita dengan menangis di bahu Andi.
Andi lalu membawa Anita ke dalam dekapannya dan berusaha menenangkannya.
"Kamu baru belajar sekali Nit, kita bisa ulangi lagi sampe kamu bisa berdiri dan berjalan normal seperti biasanya," ucap Andi.
"Sampai kapan Ndi? sampai kapan aku harus ngulangin hal ini terus menerus?"
Andi lalu melepaskan Anita dari dekapannya dan membawa pandangan Anita agar menatap ke arahnya.
"Anita, aku tau kamu bukan seseorang yang mudah menyerah, aku tau kamu selalu bisa ngelakuin apapun demi keinginan kamu dan sekarang aku akan ada di samping kamu buat temenin kamu raih keinginan kamu, aku akan selalu jaga kamu Anita, kamu nggak akan pernah jatuh selama ada aku di sini," ucap Andi dengan menatap ke dalam mata Anita.
"Tapi aku takut Ndi," ucap Anita dengan kedua mata berkaca kaca.
"Kamu lebih kuat dari ketakutan kamu Anita," balas Andi penuh keyakinan.
"Gimana kalau ternyata aku lumpuh? aku nggak bisa jalan selamanya dan......"
"Sssstttt.... jangan berpikir buruk tentang diri kamu sendiri, Dokter bilang kamu baik baik aja, kamu cuma perlu latihan berjalan biar kamu bisa kembali seperti biasanya," ucap Andi.
"Aku bahkan nggak bisa berdiri Ndi," ucap Anita menyerah.
Andi lalu menarik kedua tangan Anita dan menggenggamnya.
"Kita baru satu kali mencobanya Nit, kita masih punya banyak waktu buat mencobanya lagi," ucap Andi dengan membelai rambut Anita.
Anita hanya diam. Dalam hatinya ia takut jika tidak akan bisa berjalan lagi. Namun karena ada Andi di sampingnya, ketakutan nya sedikit mereda.
Entah kenapa ucapan Andi selalu bisa menenangkan dirinya. Andi selalu mengerti keadaannya dan membantunya untuk bisa lebih baik dalam segala hal.
"Maafin aku Ndi," ucap Anita.
"Kamu nggak perlu minta maaf Nit," ucap Andi.
Anita menghentikan ucapannya. Ia takut jika ia jujur pada Andi, ia akan kehilangan Andi saat ia benar benar membutuhkan Andi.
"Tapi apa Nit?" tanya Andi.
"aku harus jujur, apapun yang terjadi nanti, aku harus terima, anggap ini karma karena aku udah terlalu jauh ngelakuin hal buruk sama Dini dan Dimas dan mungkin juga sama Andi," ucap Anita dalam hati.
"Aku mau jujur sama kamu Ndi, aku nggak bisa bohongin kamu terlalu lama," ucap Anita.
"Jujur tentang apa Nit? kamu bohong apa sama aku?" tanya Andi.
"Sebenarnya aku belum bisa bener bener lupain Dimas, bahkan setelah kamu terima aku lagi dan aku berteman lagi sama Dini, aku masih berusaha buat dapetin Dimas, aku masih punya banyak rencana jahat buat pisahin Dimas sama Dini, aku emang jahat banget Ndi dan apa yang terjadi sama aku sekarang pasti karena perbuatan jahat ku sama mereka," ucap Anita dengan menundukkan kepalanya.
Anita tidak cukup berani untuk menatap wajah Andi yang sudah pasti akan sangat marah padanya.
"Aku tau kamu pasti marah banget sama aku, kamu juga menyesal karena udah percaya sama aku, aku minta maaf Ndi, aku tulus minta maaf sama kamu tanpa berharap apapun, bahkan kalau sekarang kamu ninggalin akupun aku nggak papa, aku emang nggak pantas buat dapetin kebaikan dari siapapun," lanjut Anita.
Andi hanya diam lalu memegang bahu Anita dan membawanya dalam dekapannya, membuat Anita begitu terkejut.
"Buat aku yang paling penting adalah bagaimana kamu sekarang, kamu harus lupain masa lalu kamu Anita, masa depan yang indah udah nunggu kamu di depan, jadi jangan sekali kali kamu kembali ke belakang," ucap Andi.
Anita lalu melepaskan dirinya dari dekapan Andi, ia menatap Andi dengan tatapan tak percaya.
"Kamu nggak marah sama aku?" tanya Anita.
"Aku sempat kecewa sama kamu, tapi sekarang aku tau kalau kamu bener bener tulus buat minta maaf, jadi nggak ada alasan buat aku marah sama kamu," jawab Andi.
"Aku nggak akan kecewain kamu lagi Ndi, aku janji," ucap Anita.
"Iya, karena kamu akan menyesal kalau kamu kecewain aku lagi," balas Andi.
"Dan itu nggak akan terjadi," ucap Anita.
Andi hanya tersenyum dengan membelai rambut Anita.
"Aku pingin ketemu Dimas sama Dini Ndi, aku mau minta maaf sama mereka," ucap Anita.
"Aku minta mereka ke sini ya? Dimas pasti lagi sama Dini sekarang!"
__ADS_1
Anita menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
Andi lalu menghubungi Dimas dan meminta Dimas untuk ke rumah Anita bersama Dini. Meski awalnya menolak, Dimas akhirnya mengiyakannya.
Saat matahari mulai panas, Andi membawa Anita kembali ke kursi roda dan mendorongnya kembali ke dalam rumah.
Setelah beberapa lama menunggu, Dimas dan Dinipun datang. Anita dan Andi menyambut mereka di teras rumah.
"Gimana keadaan kamu Nit?" tanya Dini pada Anita.
"Masih kayak gini, tapi aku baik baik aja," jawab Anita.
Mereka lalu masuk ke ruang tamu. Setelah berbasa basi, Anitapun menyampaikan maksud dirinya meminta Dimas dan Dini untuk datang.
"Sebelumnya aku minta maaf karena ganggu waktu kalian berdua," ucap Anita.
"Nggak papa, aku sama Dimas nggak lagi sibuk kok," balas Dini.
"Aku mau ketemu kalian karena aku mau minta maaf, aku nggak tau apa aku masih layak buat kalian maafin atau enggak, tapi aku bener bener minta maaf sama kalian berdua," ucap Anita.
Dini dan Dimas hanya diam dengan saling pandang. Mereka tidak mengerti kenapa Anita tiba tiba minta maaf pada mereka berdua.
"Dimas, aku minta maaf karena aku masih ganggu kamu dan aku juga minta maaf sama kamu Din karena aku masih berusaha buat deketin Dimas, aku udah bohong sama kalian semua, aku sengaja berteman sama kalian karena aku mau deketin Dimas lagi, aku minta maaf," ucap Anita.
"Ada apa ini sebenarnya? kenapa kamu tiba tiba bilang semua itu?" tanya Dini pada Anita.
"Selama beberapa hari ini aku udah banyak berpikir Din, selama beberapa hari ini juga aku berusaha buat bener bener lupain Dimas, aku berusaha menyadarkan diriku kalau apa yang aku lakuin selama ini salah dan adanya Andi di sampingku semakin menguatkan keberanian ku buat ungkapin semua ini, aku nggak mau lagi hidup dengan beban iri dengki dalam diriku," jawab Anita menjelaskan.
"Kamu selalu kayak gini Nit, kamu selalu minta maaf tapi ternyata kamu punya banyak rencana di belakang kamu!" ucap Dini.
"Aku tau pasti susah buat kalian percaya sama aku, tapi nggak papa, aku mengerti, aku memang minta kalian buat datang ke sini cuma buat denger permintaan maaf ku, aku nggak akan maksa kalian buat maafin aku, aku akan terima kalau emang kalian udah nggak mau kenal lagi sama aku, aku tau kesalahan ku emang terlalu besar buat bisa kalian maafin," ucap Anita.
Dini kembali diam. Ia tidak mengerti apakah Anita benar benar menyesali perbuatannya atau hanya kembali menjalankan rencana jahatnya.
Dalam hatinya ia ingin mempercayai Anita tapi ia ragu, ia tidak ingin kembali masuk dalam perangkap Anita.
"Kamu boleh memilih buat nggak percaya sama aku Din, itu hak kamu, begitu juga kamu Dimas, aku akan berhenti ganggu kalian, aku akan memulai lagi kehidupanku dari awal tanpa kalian, termasuk kamu Ndi," ucap Anita dengan membawa pandangannya pada Andi di akhir kalimatnya.
"Aku?" tanya Andi.
Anita menganggukkan kepalanya.
"Aku udah banyak berpikir Ndi, mungkin emang nggak seharusnya aku ketemu kamu, Dini dan Dimas, makasih karena kamu udah baik banget sama aku, aku......"
"Tunggu tunggu, bukan ini rencana kamu kan? kamu minta Dimas dan Dini ke sini buat minta maaf dan jelasin semuanya sama mereka kan?" tanya Andi memotong ucapan Anita.
"Iya, sekaligus aku mau pamit sama mereka, sama kamu juga," jawab Anita dengan berusaha tersenyum.
"Pamit? apa maksud kamu Nit? kita dari tadi nggak pernah bicarain hal itu, kenapa kamu...."
"Andi," ucap Anita dengan menggenggam tangan Andi.
"Anita, please..."
"Makasih karena udah kasih aku banyak hal indah yang belum pernah aku rasain sebelumnya, makasih udah percaya sama aku dan aku berterima kasih buat banyak hal lainnya yang udah kamu lakuin buat aku," ucap Anita.
"Kamu bisa berterima kasih lain kali Nit, aku...."
"Ndi, dengerin aku!" ucap Anita memotong ucapan Andi.
"Kamu yang bilang sama aku kalau aku harus lupain masa laluku, aku harus menatap masa depanku tanpa melihat ke belakang lagi dan aku akan ngelakuin itu sekarang, aku akan pergi dari masa laluku, aku akan memulai masa depanku dari sekarang, karena itu aku harus pergi ninggalin masa laluku dan kamu adalah bagian dari masa laluku," ucap Anita.
Tiba tiba sebuah mobil berhenti di halaman rumah Anita, seorang laki laki paruh baya masuk ke dalam rumah.
"Papa pikir kamu sendirian," ucap papa Anita yang menghampiri Anita.
"Ada temen temen Anita pa, Anita mau say good bye dulu sama mereka," balas Anita.
"Papa ambil koper kamu dulu ya, udah disiapin kan?"
"Udah pa," jawab Anita.
"Ada apa ini Nit? kenapa kamu nggak bilang apa apa sama aku?" tanya Andi tak mengerti.
"Aku akan ikut papa Ndi, kamu nggak perlu khawatir sama aku, aku akan ikut terapi setiap hari biar aku bisa cepet sembuh," jawab Anita.
"Ayo, papa udah bawa barang barang kamu ke mobil," ucap papa Anita.
"Makasih kalian udah dateng, sekali lagi aku minta maaf sama kalian semua, Dimas, Dini dan Andi, aku harap kalian bisa maafin aku," ucap Anita dengan membawa pandangannya pada Dimas, Dini dan Andi bergantian.
Anita lalu memutar kursi rodanya dibantu dengan sang papa.
__ADS_1
Sedangkan Dimas dan Dini masih terdiam tak percaya dengan apa yang terjadi, terlebih Andi yang sedari pagi bersama Anita namun ia tak tau jika hal itu akan terjadi.