Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Minta Maaf


__ADS_3

Selama perjalanan ke kantor, Dini masih berusaha menghubungi Dimas. Entah kenapa ia merasa Dimas mengabaikan panggilannya pagi itu.


"Kenapa Din? kamu gelisah banget kayaknya!" tanya Andi.


"Dimas nggak jawab panggilanku dari tadi," jawab Dini yang tampak bersedih.


"Nanti aku coba hubungin dia, aku...."


"Jangan, aku nggak mau dia makin salah paham," ucap Dini memotong ucapan Andi.


"Maaf Din, harusnya aku bangunin kamu sampe bangun semalem," ucap Andi.


"Bukan salah kamu," balas Dini dengan masih berusaha menghubungi Dimas.


Tak lama kemudian mereka sampai di tempat kerja Dini. Dinipun segera turun dari mobil Andi.


"Makasih tumpangannya," ucap Dini pada Andi.


"Jaga diri kamu baik baik Din!" ucap Andi.


"Oke, makasih ya Pak Rudi!"


"Sama sama mbak Dini," balas Rudi.


Rudi lalu membawa mobilnya meninggalkan tempat kerja Dini dan melajukannya ke arah rumah mama Siska.


Dini yang masih fokus dengan ponselnya tidak memperhatikan jalannya, membuatnya tersandung dan hampir saja terjatuh jika seseorang tidak dengan sigap menarik tangan Dini.


"Hati hati Din!"


"Kak Adit, makasih kak!" ucap Dini yang masih memegang erat tangan Adit.


"Kamu nggak akan tampar kakak lagi kan?"


"Hehehe... enggak," balas Dini dengan terkekeh mengingat kejadian saat ia baru pertama kali datang ke perusahaan itu.


Saat Dini baru saja melangkahkan kakinya, ia baru sadar jika heels nya terlepas.


"Lepas sepatu kamu!" ucap Adit yang sudah berjongkok di depan Dini.


"Tapi kak....."


"Kamu mau kakak jongkok terus?"


Dinipun segera melepas kedua sepatunya. Adit lalu menarik paksa heels yang ada di sepatu kiri Dini, alhasil kedua sepatu Dini sudah sejajar tanpa heels.


Meski tampak aneh dan kurang nyaman, setidaknya itu lebih baik daripada ia harus berjalan dengan satu heels.


"Gimana?" tanya Adit.


"Makasih kak, lain kali Dini harus beli yang lebih bagus kualitasnya hehe...."


Adit hanya terkekeh, lalu masuk ke dalam bersama Dini.


Tanpa Dini dan Adit tau, seseorang memperhatikan mereka dari dalam mobil.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 siang, satu jam lagi Dini dan Adit harus mendatangi meeting dengan klien penting.


Namun Dini tampak begitu resah mengingat sepatunya yang rusak saat itu.


Tak lama kemudian Adit masuk ke ruangan Dini dan menaruh sebuah kotak di meja kerja Dini.


"Ini apa pak?" tanya Dini.


"Buka!" balas Adit.


Dini lalu mengambil kotak itu dan membukanya. Sebuah high heels yang cantik dari merk ternama itu tampak mengisi kotak di hadapannya.


Dini seketika tersenyum melihat sepatu yang indah di hadapannya.


"Kamu pakai itu, saya nggak mau punya asisten pribadi yang sepatunya rusak!" ucap Adit lalu segera keluar dari ruangan Dini


"Terima kasih pak," ucap Dini setengah berteriak karena Adit sudah keluar dari ruangannya.


Dinipun segera memakai sepatu pemberian Adit.


"waahh, bagus banget, aku mana mungkin beli sepatu kayak gini, sayang uangnya hehe...." batin Dini dalam hati.


Di sisi lain, Adit sedang membuka ponselnya dan mencari artikel tentang kehamilan. Ia membaca beberapa artikel dan ia menemukan sebuah artikel yang bisa menjawab rasa penasarannya.


Wajar saja bila ibu hamil jadi lebih mudah marah, sedih, atau tersinggung terhadap berbagai perkataan yang ditujukan kepadanya. Perasaan ibu hamil yang sensitif dapat terjadi akibat perubahan hormon selama kehamilan. Hal ini membuat neurotransmiter yang mengendalikan suasana hati menjadi terganggu


"pantesan Ana tiba tiba berubah, apa aku ngelakuin kesalahan yang aku nggak sadar? apa gara gara aku belum ajak dia liburan? atau ada hal lain yang aku nggak tau?" batin Adit bertanya tanya.


Adit lalu membuka aplikasi pembelian tiket pesawat dan hotel online untuk mengajak Ana berlibur saat weekend nanti.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Dini kembali menghubungi Dimas namun lagi lagi nihil, Dimas tidak menjawab panggilannya.


Bahkan pesan yang ia kirim dari pagi pun belum dibaca oleh Dimas, membuat Dini semakin merasa bersalah.


Dini lalu menghubungi ibunya, meminta izin untuk tidak pulang ke rumah.


"Kamu mau ketemu Dimas lagi?" tanya ibu Dini.


"Ada masalah yang harus Dini selesaiin Bu, nggak papa kan?"


"Jaga diri kamu baik baik Din, jangan lupa kasih kabar ibu!"


"Makasih Bu!"

__ADS_1


"kalau kamu nggak mau jawab panggilan aku, aku yang akan ke sana buat jelasin langsung di depan kamu," ucap Dini dalam hati.


Dini lalu membuka satu per satu fotonya bersama Dimas di ponselnya. Ia benar benar merasa bersalah pada Dimas, membuatnya tidak menyentuh sedikitpun makanan di hadapannya.


Setelah jam makan siang selesai, Dini kembali ke ruangannya. Saat ia baru saja membuka pintu ruangannya, tiba tiba ia merasa begitu pusing.


Ia mengerjapkan matanya, lalu berjalan pelan ke arah tempat duduknya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya sampai jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.


Dinipun segera keluar dari ruangannya bersama Adit.


"Kamu sakit Din?" tanya Adit yang melihat Dini tampak pucat.


"Enggak kak, cuma kecape'an aja kayaknya," jawab Dini.


"Kakak antar kamu pulang ya!"


"Nggak perlu kak, Dini bisa pulang sendiri!"


"Kakak minta Rudi antar kamu, oke?"


"Enggak kak, Dini nggak papa kok!" jawab Dini yang bersikeras menolak Adit.


"Tunggu kakak di depan, kakak akan anter kamu!" ucap Adit lalu berlari mengambil mobilnya.


Dini lalu mengirimkan pesan pada Adit saat bus yang akan Dini naiki datang.


Maaf kak, Dini pulang duluan, makasih sepatunya ☺️


Dini menaiki bus ke arah terminal. Dari sana ia menaiki bus yang akan membawanya ke kota dimana Dimas tinggal. Selama perjalanan, ia masih berusaha menghubungi Dimas, namun tak pernah ada jawaban.


4 jam berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Dini lalu turun dari bus dan mencari taksi untuk membawanya ke apartemen Dimas.


Sesampainya di apartemen Dimas, Dini segera menekan bel yang ada di pintu. Ia memegangi kepalanya yang terasa begitu pusing saat itu.


Tak lama kemudian pintu terbuka. Dimas yang sedang mengerjakan pekerjaannya benar benar terkejut melihat Dini berdiri di hadapannya.


"Dimas," panggil Dini dengan senyum manisnya.


Belum selesai keterkejutan Dimas, Dini tiba tiba pingsan. Beruntung Dimas bisa menahan tubuh Dini dan segera membopongnya ke kamar.


"Andini, bangun sayang," ucap Dimas dengan membelai rambut Dini.


Dimas duduk di samping Dini dengan menatap gadis yang dicintainya itu. Wajah cantik di hadapannya itu tampak pucat, seperti bunga mawar yang telah layu.


Waktu berlalu, entah sudah berapa lama Dini terpejam di hadapan Dimas, membuat Dimas merasa bersalah karena sudah mengabaikan Dini.


Dimas memang sengaja tidak menghiraukan Dini dari pagi, ia mengabaikan semua panggilan dan pesan dari Dini, tapi ia tidak menyangka jika Dini akan melakukan hal sejauh itu.


Sikap bodohnya itu benar benar membuatnya menyesal.


"maafin aku sayang, maafin aku," ucap Dimas dalam hati.


Tak lama kemudian Dini mengerjap, matanya terbuka dengan perlahan.


Dini hanya diam, ia masih mengerjapkan matanya, kepalanya masih terasa pusing saat itu.


"Kita ke rumah sakit ya?"


Dini menggeleng dengan wajah pucat nya itu.


"Apa yang kamu rasain sekarang sayang? pusing?"


Dini mengangguk pelan. Dimas lalu melepaskan genggaman tangannya pada Dini lalu mengambil obat untuk Dini.


Ia membantu Dini duduk lalu memberikan obat dan minuman pada Dini. Setelah meminum obat Dini duduk dengan bersandar pada sandaran ranjang Dimas.


"Dimas, aku minta maaf," ucap Dini yang masih merasa bersalah karena tertidur di kamar Andi.


"Kenapa kamu tiba tiba ke sini Andini? kenapa kamu ke sini padahal keadaan kamu lagi nggak baik baik aja kayak gini!"


"Aku udah bikin kamu marah, aku udah bikin kamu nggak peduli sama aku, aku salah dan aku minta maaf."


"Aku minta maaf sayang, harusnya aku nggak bertingkah kayak anak kecil," ucap Dimas.


"Aku nggak tidur sekamar sama Andi semalem, dia tidur di ruang tamu, kamu bisa tanya ayah dan ibunya Andi kalau kamu nggak percaya, aku......"


"Udah sayang, jangan dibahas lagi, aku udah lupain itu."


"Tapi kamu masih marah?"


"Enggak, marah sama kamu cuma bikin aku makin marah sama diriku sendiri Andini, aku minta maaf karena mengabaikan kamu dari pagi," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


"Jangan gitu lagi Dimas, aku mohon jangan," ucap Dini dengan mata berkaca-kaca.


"Maafin aku sayang," balas Dimas lalu memeluk Dini.


Mereka saling diam dalam pelukan. Sama sama menyesali apa yang sudah mereka lakukan yang tanpa sadar menyakiti satu sama lain.


Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan memberikan kecupan singkatnya di bibir gadis yang dicintainya itu.


"Aku sayang sama kamu Andini," ucap Dimas yang kembali memberikan kecupannya di bibir Dini.


Bukan sebuah kecupan singkat, karena Dini membalasnya. Mereka bertaut setelah menyesali hal yang menjadi masalah diantara mereka berdua.


**


Di tempat lain, Andi mengetuk pintu kamar Adit sebelum ia masuk.


"Masuk!" ucap Adit.

__ADS_1


Andipun masuk dengan membawa beberapa buku miliknya.


"Gue mau nitip buku di ruang baca!" ucap Andi.


"Masuk aja!" balas Adit.


Andi lalu masuk ke ruang baca diikuti oleh Adit.


"Lo baca buku psikologi juga?" tanya Adit saat ia melihat beberapa buku psikologi milik Andi.


"Iya," jawab Andi singkat.


"Kenapa?"


"Nggak papa, suka aja," jawab Andi.


"Papa pasti seneng kalau liat anak anaknya suka baca buku, karena dari kecil papa selalu bilang kalau pengetahuan nggak cuma di dapat dari bangku sekolah, tapi juga dari membaca."


"Jangkauan pengetahuan akan semakin luas kalau kita suka baca buku, iya kan?"


"Bener banget!"


"Sayang, ayo makan malam!" ucap mama Siska setengah berteriak.


"Iya ma."


"Iya ma," balas Andi dan Adit bersamaan.


Adit dan Andipun keluar dari ruang baca dan segera turun untuk makan malam.


"Kalian dari mana? kok nggak ada di kamar?" tanya mama Siska.


"Dari ruang baca Adit ma," jawab Andi.


"Andi juga suka baca buku loh ma, nanti kalau ada waktu Adit mau bikin ruang baca yang lebih luas lagi ya ma!"


"Iya, mama akan minta tolong Lukman nanti!"


Biiiipp biiipp biiipp


Ponsel Adit berdering saat ia baru saja akan makan. Sebuah panggilan dari Candra, satpam di rumah yang ditempati Ana.


"Halo, ada apa?" tanya Adit yang mulai tidak tenang.


Ia takut terjadi sesuatu pada Ana.


"Maaf pak, mbak Ana nggak ada di rumah, saya...."


"Apa maksud kamu?"


"Mbak Ana keluar dari rumah bawa barang barangnya pak, mbak Ana juga ninggalin surat buat pak Adit," jelas Candra.


"Saya kesana sekarang, saya nggak akan maafin kalian semua kalau sampai terjadi hal buruk sama dia!" ucap Adit lalu segera meninggalkan meja makan dan berlari ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil.


"Ada apa Dit? kamu mau kemana?" tanya mama Siska yang tampak panik melihat sang anak yang begitu emosi.


"Adit harus pergi ma, Ndi lo jaga mama!"


Andi hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan Adit pergi.


"Kakak kamu mau kemana Ndi? kenapa dia semarah itu?"


"Andi juga nggak tau ma, mama tenang aja, biar dia selesaiin masalahnya dulu," jawab Andi lalu membawa sang mama kembali ke meja makan.


"Mama udah nggak selera makan," ucap mama Siska yang masih memikirkan Adit.


"Mama harus makan ma, Adit pasti baik baik aja kok, Andi akan coba tanyain kalau dia udah pulang," ucap Andi.


"Tapi......"


"Ma, Andi sama Adit nggak mau liat mama sedih apa lagi sakit, jadi mama harus makan ya, Andi suapin!"


Mama Siska mengangguk pelan meski sebenernya ia sudah kehilangan ***** makannya.


Di sisi lain, Adit sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke rumah yang ditinggali Ana. Sesampainya di sana ia segera masuk ke kamar Ana.


Ia membuka lemari pakaian Ana dan hanya melihat beberapa pakaian yang tersisa. Ia lalu membawa pandangannya ke meja dan medapati sebuah surat di bawah kalung pemberian nya.


Adit mengambil surat itu dan membacanya. Ia lalu membawa kalung dan surat itu keluar dari kamar Ana.


Di depan kamar Ana, semua pekerjanya sudah berjejer dengan menundukkan kepalanya.


"Kalian benar benar nggak bisa diandalkan, kalau sampai terjadi sesuatu pada Ana, kalian harus segera pergi dari tempat ini!" ucap Adit dengan menunjuk wajah mereka satu per satu.


"Maafkan kami pak," ucap Candra.


"Permintaan maaf kamu nggak akan bikin Ana kembali ke sini, cepat keluar dan cari Ana sampai ketemu!"


"Bb... baik pak!"


"Agus, kamu juga cari Ana, jangan pulang sebelum kalian menemukan Ana!"


"Bu Desi, Lisa, kalian jaga rumah dan segera kabari saya kalau Ana pulang!"


"Bb... baik mas," jawab Bu Desi.


Adit lalu keluar dari rumah itu. Ia benar benar tidak menyangka jika Ana akan pergi meninggalkan nya seperti itu.


Ia pikir perubahan sikap Ana terjadi karena perubahan hormon selama kehamilan terjadi. Ia tidak menyangka jika Ana memang sudah merencanakan hal itu dari jauh jauh hari.

__ADS_1


Adit benar benar merasa begitu kacau. Ia merasa menjadi laki laki yang tidak berguna sama sekali saat itu.


Ia pikir ia sudah menjadi laki laki yang baik untuk Ana. Ia pikir ia sudah memberikan Ana semua hal yang terbaik yang ia miliki, namun kenyataanya Ana pergi meninggalkan nya.


__ADS_2