
Malam yang gelap tanpa bintang dan bulan. Hanya ada hamparan pekat malam sepanjang mata memandang.
Dimas berjalan ke arah ia memarkir mobilnya dengan emosi dalam dirinya. Ia sangat mencintai Dini, itu kenapa ia akan melakukan segala cara untuk mempertahankan hubungan mereka.
Namun malam itu, ia kecewa, sangat kecewa pada apa yang baru saja dilihatnya. Ketika ia sedang berjuang dan berusaha, gadis yang diperjuangkan sedang bermesraan dengan laki laki lain di luar sana. Setidaknya, itulah yang ia pikirkan saat itu.
Pikirannya benar benar kacau malam itu. Ia masuk ke dalam mobilnya dan memukul keras setir mobilnya. Ia membenamkan kepalanya diantara kedua tangannya yang memegang setir mobil. Tak lama kemudian pintu mobilnya terbuka, seseorang masuk dan duduk di sampingnya.
"Andini,"
"Dimas," panggil seseorang itu dengan menggenggam tangan Dimas.
Namun Dimas segera menarik tangannya begitu ia sadar jika itu bukanlah suara Dini.
"Pergi Nit!" ucap Dimas yang terdengar dingin.
"Aku tau kamu masih marah sama aku, berapa kalipun aku minta maaf, kamu nggak akan pernah maafin aku kan? padahal aku bener bener tulus minta maaf sama kamu."
Dimas hanya diam tak mendengarkan ucapan Anita.
"Aku sebenernya tau tentang ini udah lama, tapi aku nggak berani bilang kamu karena aku takut kamu salah paham sama aku."
"Udah lama?" tanya Dimas meyakinkan.
Anita mengangguk.
"Aku beberapa kali liat mereka, tapi aku berusaha positif thinking aja, tapi semakin lama aku jadi semakin yakin kalau mereka ada hubungan khusus, tapi aku harus pastiin dulu sebelum aku kasih tau kamu, aku nggak mau kamu berantem sama Dini gara gara aku Dimas."
"Hentikan omong kosong kamu ini Nit, aku....."
"Aku bicara apa adanya Dimas, aku sengaja hubungin kamu sekarang biar kamu bisa liat sendiri apa yang selama ini aku sembunyiin dari kamu, lihat, aku ada beberapa foto yang bisa buktiin semuanya sama kamu," ucap Anita sambil memberikan ponselnya pada Dimas, namun Dimas tidak mau menerimanya.
"Oke, kalau kamu masih nggak mau percaya sama aku, tapi kamu liat sendiri kan, dia bahkan nggak ngejar kamu sekarang."
Dimas hanya diam, ia berusaha untuk tidak mengikuti egonya. Namun entah kenapa, emosi membuatnya mempercayai ucapan Anita begitu saja.
"Aku cuma mau jadi teman kamu Dimas, aku, Dini dan Andi, aku cuma mau kita temenan lagi kayak dulu," ucap Anita dengan memegang pundak Dimas.
Tak jauh dari sana, seorang perempuan menyaksikan adegan itu. Dini sengaja mengejar Dimas untuk memberitahukan yang sebenarnya terjadi. Ia memilih untuk meninggalkan Adit dan mamanya demi Dimas, namun apa yang dilihatnya di dalam mobil membuatnya menyesali pilihannya.
Dengan air mata yang berlinang, Dini berjalan gontai ke arah jalan raya. Hatinya terasa perih dan terluka. Berkali kali ia menghapus air mata di pipinya, namun air mata itu seakan tidak sabar untuk terus menetes dari kedua sudut matanya.
Entah sudah berapa lama Dini berjalan, ia sama sekali tidak merasa lelah. Hatinya terlalu sakit untuk bisa merasakan lelah.
"Dini!" panggil seseorang dari sebrang jalan raya.
Dini menghentikan langkahnya, dilihatnya Andi yang sedang menyebrang dan berjalan ke arahnya.
Sedikit senyum tergambar di kedua sudut bibir Dini, ia berjalan ke arah Andi dan membenamkan dirinya dalam pelukan Andi.
"Ada apa Din? kenapa kamu di sini? Pak Adit mana?" tanya Andi.
Dini hanya menggeleng, ia tidak ingin melepaskan Andi dari pelukannya.
"Kamu kenapa Din? ada apa? berantem sama Pak Adit? apa tante Siska udah tau hubungan kalian?"
Lagi lagi Dini hanya menggelengkan kepalanya. Ia semakin erat memeluk Andi, begitu juga Andi yang kini sudah tidak menanyakan apapun pada Dini. Ia hanya memeluk sahabat yang dicintainya itu, berusaha menenangkan sahabat dalam pelukannya.
Dari salah satu lalu lalang mobil itu, Dimas melihat Dini dan Andi yang sedang berpelukan di sana.
"apa emang semua ini sia sia Andini? apa semua yang aku lakuin ini percuma? aaarrrghhh sialan!!"
Dimas memacu kendaraannya dengan kecepatan maksimal, sebelum ponselnya berdering karena sebuah panggilan dari mamanya.
Seketika Dimas mengurangi kecepatan mobilnya. Ia tidak ingin kejadian buruknya di masa lalu terulang lagi.
Dimas membawa mobilnya ke arah home store. Sesampainya di sana, ponselnya berdering, sebuah panggilan dari Yoga.
"Halo Dim, lo dimana?"
"Di home store," jawab Dimas tak bersemangat.
"Oke, gue kesana sekarang!"
"Nggak perlu Ga."
"Gue udah dapetin apa yang lo minta Dim, data data...... "
"Nggak perlu, gue udah nggak butuhin itu!"
"Kenapa? lo udah selesaiin semuanya?"
"Udah, semuanya udah selesai Ga, thanks udah banyak bantuin gue!"
Klik. Dimas mengakhiri sambungan ponselnya. Dengan ragu, ia membuka pesan Anita yang berisi banyak foto Dini bersama Adit. Sebuah kebersamaan yang tak hanya terlihat sebagai seorang pegawai dan atasan.
__ADS_1
Di sisi lain, Yoga yang merasa aneh dengan Dimas segera membawa mobilnya ke arah home store. Sesampainya di sana ia mendapati Dimas yang hanya duduk melamun di depan home store.
"Lo ngapain di sini? mau pulang?" tanya Yoga.
Dimas hanya menggeleng dengan tatapan kosong.
"Ada apa Dim?"
"Semuanya udah selesai Ga, semua yang gue lakuin percuma."
"Kalian berantem?"
Dimas kembali menggeleng.
"Gue tau lo cinta banget sama Dini, gue tau betul gimana perjuangan lo buat bisa sama Dini dan gue yakin lo nggak akan nyerah gitu aja."
Dimas hanya diam. Ia masih tidak bisa menyangka Dini akan melakukan hal itu dibelakangnya. Ia kecewa, ia marah, ia terluka.
"Ini data yang lo minta, terserah lo mau pake apa enggak, tapi Dimas yang gue kenal, pasti nggak akan mudah menyerah," ucap Yoga sambil memberikan sebuah flashdisk di genggaman Dimas lalu pergi.
Dimas hanya diam menggenggam flashdisk pemberian Yoga. Entah sampai jam berapa dia di sana, ia akhirnya masuk ke mobilnya dan menaruh flashdisk pemberian Yoga di dalam saku hoodie yang dipakainya.
Dimas mengendarai mobilnya ke arah rumah. Ia hanya ingin segera tidur dan menganggap semua yang terjadi malam itu hanyalah sebuah mimpi buruk.
Namun sampai mentari menyapa, Dimas tak kunjung memejamkan matanya. Dalam hatinya ada sebuah keraguan tentang apa yang dilihatnya semalam. Meski matanya melihati dengan jelas, meski ia merasakan sakit karena hal itu, tapi jauh dalam hatinya ia meragukan semuanya.
Dalam hatinya ia mempercayai Dini, dalam hatinya ia tetap mencintai Dini dan dalam hatinya ia tidak ingin meninggalkan Dini.
"kenapa Andini? kenapa kamu ngelakuin ini? apa semua ini cuma main main buat kamu?"
Dimas pergi ke kamar mandi, membasuh badannya dengan air hangat dan berdiam diri di bawah guyuran shower di dalam kamar mandinya.
**
Di tempat lain.
Setelah selesai sarapan, Dini dan Andi pergi ke bukit. Karena hari itu adalah hari Minggu, Dini dan Andi sama sama libur.
"Kamu masih nggak mau cerita tentang semalam?" tanya Andi pada Dini.
"aku nggak mau kamu sama Dimas berantem Ndi, aku tau kalian bersahabat dan aku nggak mau kalian berantem cuma karena aku," batin Dini dalam hati.
"Aku udah lupain itu Ndi, jangan dibahas lagi ya!"
Andi mengangguk meski sebenernya ia masih penasaran.
"Kamu masih sering makan siang sama mama Siska Ndi?" tanya Dini.
"Iya, kenapa?"
"Nggak papa, agak aneh aja karena kak Adit bilang mama Siska itu susah deket sama orang yang baru dikenal."
"Tapi tante Siska deket sama kamu."
"Itu karena mama Siska anggap aku pacarnya kak Adit."
"Apa menurut kamu aku sama tante Siska berlebihan?"
Dini menggeleng.
"Yang tau jawabannya cuma kamu sama tante Siska sendiri Ndi, orang di luar cuma bisa menilai apa yang mereka liat tanpa tau kebenarannya."
"Apa kamu termasuk dari mereka?"
"Terkadang mungkin iya, kadang kita terlalu takut buat tau kebenarannya dan berakhir dengan asumsi asumsi yang kita ciptakan sendiri, tapi aku berusaha buat nggak gitu lagi Ndi, pasti ada alasan dari setiap kejadian yang terjadi, iya kan?"
Andi menganggukkan kepalanya.
"Gue tau lo mirip sama anaknya, tapi kalian kan nggak ada hubungan apa apa, gue cuma takut orang di luar sana anggap lo cowok nggak bener"
Ucapan Dimas tiba tiba terngiang di telinga Andi. Sejak saat itu ia sedikit menghindar dari mama Siska. Mulai dari jarang membalas pesan hingga tidak menerima panggilannya.
"Ndi, kamu inget waktu aku pertama kerja sama kak Adit? aku sama sekali nggak pernah kepikiran buat jadi pacar pura puranya, aku juga nggak pernah kepikiran bisa sedeket ini sama dia!"
"Kenapa kalian bisa deket banget sih?"
"Aku juga nggak tau, awalnya cuma karena dia suka sama hasil kerjaku dan aku jadi pacar pura puranya gitu aja, sekarang kita malah jadi kakak adik!"
"Kamu nggak takut kalau dia suka sama kamu?"
"Mana mungkin Ndi, kak Adit nggak pernah mikirin hal itu, kalaupun dia suka sama cewek, itu pasti mbak Ana, karena mbak Ana yang paling mengerti kak Adit."
"Tapi mereka kan cuma temen Din!"
"Apa menurut kamu cowok cewek yang berteman nggak bisa saling jatuh cinta?"
__ADS_1
Deg. Pertanyaan Dini sangat menohok bagi Andi.
"bisa, aku yakin bisa karena aku sendiri jatuh cinta sama kamu, sahabat ku!" ucap Andi dalam hati.
"Semuanya bisa aja terjadi Ndi, kamu nggak bisa cegah hati kamu buat jatuh cinta sama siapa aja, termasuk temen kamu!" ucap Dini.
"Iya, kamu bener, aku nggak bisa cegah hati aku," balas Andi dengan menatap Dini dari samping.
"Tapi sayangnya mbak Ana mau nikah, tapi acaranya diundur akhir bulan depan," ucap Dini.
"Kenapa? bukannya mbak Ana resign karena mau nikah?"
"Aku juga nggak tau kenapa Ndi, aku nggak berani tanya, itu privasi mbak Ana," jawab Dini.
"Iya sih, tapi kalau diinget inget, waktu hari pertama kamu kerja di perusahaan Pak Adit, kamu kenapa tampar dia?"
"Kamu masih inget itu?"
"Inget lah, udah lama aku mau nanya tapi selalu lupa."
"Aku jawab tapi kamu jangan marah ya?"
Andi mengangguk cepat.
Dini lalu menggeser posisi duduknya ke arah Andi dan berbisik di telinga Andi.
"Dia pegang dadaku," ucap Dini sangat pelan namun bisa didengar dengan jelas oleh Andi.
"Apa? dia pegang......"
Dini segera menutup mulut Andi agar Andi tidak melanjutkan ucapannya yang memalukan bagi Dini.
"Huuusstttt, nggak sengaja kok!"
"Kurang ajar banget dia, itu pasti cuma modus Din!"
"Enggak Ndi, emang nggak sengaja kok, dia bantuin aku waktu itu."
"Nggak ada bantuin pake pegang pegang situ, itu namanya modus!" balas Andi yang semakin kesal.
"Lupain aja, kan udah lama, kak Adit juga udah minta maaf, dia kan sekarang baik banget sama aku!"
"Itu modus Din, jangan jangan semua yang dia lakuin selama ini cuma modus? dia sengaja deketin kamu, minta kamu pura pura jadi pacarnya biar....."
"Ssssstttt..... pikiran kamu terlalu jauh Ndi!"
"Liat aja besok, kalau sampe aku liat dia, habis dia!" ucap Andi dengan mengepalkan tangannya penuh emosi.
"Jangan marah marah, ntar cepet tua hehe...." ucap Dini dengan memeluk Andi untuk meredakan amarahnya.
"aku seneng kamu ketawa lagi," ucap Andi dalam hati.
Karena hari masih panjang, Dini mengajak Andi untuk ke pantai.
Sesampainya di sana, Dini segera berlari ke arah bibir pantai. Namun tiba tiba Dini menghentikan langkahnya. Dari jarak yang tak terlalu jauh, Dini melihat Dimas yang sedang memeluk Anita di bibir pantai.
Buih ombak yang menyapu pantai tampak membasahi kaki mereka berdua. Hal itu tak membuat pelukan mesra itu terlepas sampai akhirnya Dini memilih pergi.
Dengan air mata dan sesak dalam hatinya. Dini berjalan menjauhi pantai. Andi yang membawa dua kelapa muda segera menaruh kelapanya dan mengahampiri Dini yang terlihat menangis.
"Ada apa Din? kamu kenapa?"
"Kita pulang Ndi!"
"Tapi...."
"Kita pulang dan jangan pernah kesini lagi," ucap Dini setengah berteriak.
Suaranya terdengar parau karena tangis kesedihan dalam hatinya.
Andi membawa pandangannya ke arah bibir pantai dan mendapati Dimas yang sedang membelai rambut Anita di sana.
"sejak kapan mereka deket lagi?" batin Andi bertanya.
Andi lalu berlari mengejar Dini.
"tanyakan apa yang mau kamu tanyakan? apa lagi yang harus ditanyakan? semuanya udah jelas, mereka deket lagi dan Dimas bohong, kenapa? kenapa harus bohong Dimas?" batin Dini bertanya tanya dengan berusaha menahan isak tangisnya.
Dini dan Andi lalu kembali ke rumah. Andi ingin menemani Dini, namun Dini ingin berdiam diri sendiri di dalam kamarnya.
Sebagai sahabat, Andi harus bisa menghargai itu. Andipun membiarkan Dini pulang sedangkan ia sendiri segera menghubungi Dimas.
Sampai panggilan ke lima, Dimas belum juga menerima panggilannya. Andi juga berusaha menghubungi Anita namun sama saja, tidak ada jawaban.
Andi lalu pergi ke home store. Ia akan menunggu Dimas di sana dan meminta penjelasan atas apa yang sebenarnya terjadi antara Dimas dan Anita.
__ADS_1
Meski ia tau bagaimana Dimas sangat mencintai Dini, tapi Dimas selalu melakukan kesalahan yang sama yang membuat Dini terluka dan itu tidak akan ia biarkan berlarut larut lagi.