Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Andi dan Adit (2)


__ADS_3

Biiiiippp biiiipp biiipp


Ponsel Dini berdering saat ia masih berada di mobil bersama Jaka. Sebuah panggilan dari Dimas membuyarkan lamunannya tentang laki laki misterius yang menolongnya tadi.


"Halo Dimas, ada apa?"


"Nggak papa, cuma kangen, kamu dimana?"


"Di jalan, mau balik ke kantor, ini kan masih jam kerja, tumben kamu hubungin aku!"


"Udah kangen banget, kamu sama Adit?"


"Enggak, aku sama pak Jaka, kak Adit masih libur soalnya."


"Ya udah kalau gitu jaga diri baik baik ya, love you sayang."


"Love you too."


Klik. Sambungan berakhir.


"tumben banget," batin Dini dalam hati.


"Pacar kamu?" tanya Jaka.


Dini hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Kamu yakin nggak mau makan siang di luar aja? bentar lagi kan udah jam makan siang!"


"Saya balik ke kantor aja pak, ada yang harus saya kerjakan."


"Jangan lupa makan siang Din, pak Adit nggak mau kamu terlalu banyak bekerja."


"Iya pak."


Sesampainya di kantor, Dini segera masuk ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Andi sedang berada di kamarnya seorang diri. Menatap nanar sebuah foto yang hanya bisa ia lihat. Foto yang membuatnya bisa melunturkan sedikit rasa rindunya pada sang papa.


Tooookkk tooookkk tooookkk


"Masuk," ucap Andi saat ia mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang.


Seseorang itu lalu masuk dan duduk di sebelah Andi.


"Lo harus tau, walaupun papa nggak pernah liat lo tapi papa sayang banget sama lo," ucap Adit.


Andi hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya dari foto di tangannya.


Adit lalu menarik album foto dari tangan Andi dan menunjukkan sebuah foto pesta ulang tahun di sana.


"Ini ulang tahun mama, karena ulang tahun lo sama mama barengan, papa selalu kasih mama dua kue ulang tahun yang sama," ucap Adit.


"Gue banyak belajar dari papa, belajar arti hidup dan perjuangan, setelah papa meninggal gue janji sama diri gue sendiri kalau gue akan selalu ada buat mama, jagain mama dan akan selalu bahagiain mama," lanjut Adit.


"Walaupun itu bahayain diri lo sendiri?"


"Iya, gue nggak peduli gimana sikap mama sama gue, gue tau masih ada sedikit rasa sayang dari mama buat gue."


"Mama sayang banget sama lo Dit," ucap Andi.


"Mama juga sayang banget sama lo, tapi ada satu hal yang belum bisa gue penuhi sesuai permintaan mama!"


"Apa?"


"Pacar, dari dulu mama selalu minta gue buat cari pacar tapi gue nggak pernah mau, sampe akhirnya gue bohong sama mama, gue bawa Ana ke rumah dan kenalin dia sebagai pacar gue, tapi akhirnya ketahuan juga sama mama," jelas Adit.


"Itu juga yang lo lakuin sama Dini?"


"Iya dan berakhir sama, mama suka banget sama Ana dan Dini, mama sayang sama mereka, tapi kenyataannya mereka bukan pacar gue beneran, gue emang payah banget masalah cewek haha...."


"Lo nggak pernah pacaran?"


Adit menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.


"Serius?" tanya Andi tak percaya.


"Gue nggak punya waktu buat pacaran," jawab Adit.


"Sok sibuk banget lo!"


"Gue emang sibuk Ndi, gue berusaha bangun perusahaan papa supaya lebih baik dan perhatian yang gue punya cuma gue kasih buat mama."


"Lo nggak takut dikira 'belok'?"


"Lo apa apaan sih, lo sama aja kayak temen temen arisan mama!"


"Hahaha.... kenapa emang? mereka bilang lo 'belok'?"


"Itu yang bikin mama selalu minta gue buat punya pacar!"


"Serius? hahahaha..... hahaha......"


Andi tertawa terpingkal pingkal saat mengetahui fakta memalukan itu. Bagaimana mungkin seorang Adit yang tampak sempurna itu menjadi bahan gosip ibu ibu arisan karena belum pernah berpacaran sama sekali.


"Puas lo ketawain gue?"


"Hahaha.... puas banget hahaha......"


Adit hanya tersenyum kecil lalu meninggalkan kamar Andi.


Sebelum ia menutup pintu kamar Andi, Adit kembali menoleh ke arah Andi.


"Jangan sedih di depan album itu lagi, papa nggak akan bahagia kalau dia lihat lo sedih," ucap Adit sebelum ia benar benar pergi meninggalkan kamar Andi.


Andi hanya mengangguk dengan tersenyum tipis. Ia lalu kembali membuka album itu dan melihat foto sang papa.


"Sekarang Andi tau Andi mirip siapa, papa emang ganteng banget, wajar kalau Andi juga ganteng kayak papa hehe...."


"Dari cerita mama, Adit lebih mirip papa kayaknya, dia cerdas, ramah dan pandai bersosialisasi, persis banget kayak papa, beda sama Andi yang susah bergaul dan lebih pendiam, mungkin Andi setengah dari papa dan setengah dari mama, iya kan pa?"

__ADS_1


"Adit bener, Andi nggak boleh sedih, kita sudah berkumpul sesuai keinginan papa, papa pasti seneng kan di sana? tapi Andi tetep minta tolong sama papa, tolong peluk Andi walaupun cuma dalam mimpi," ucap Andi dengan mata berkaca kaca.


Andi lalu menutup album foto itu. Matanya memandang ke arah langit langit kamarnya, ia tidak ingin meneteskan air matanya lagi.


Andi lalu membasuh wajahnya dan keluar dari kamarnya.


**


Di tempat lain, Dini sedang berada di depan tv bersama sang ibu.


"Bu, ada yang mau Dini tanyain sama ibu," ucap Dini pada ibunya.


"Ada apa Din?"


"Bu, kenapa ibu nggak mau kalau hubungan Dini dan Dimas diketahui banyak orang? selain karena ibu nggak mau privasi kita di ketahui media, apa ada alasan lain?"


"Kenapa tiba tiba kamu nanyain itu?"


"Nggak papa, Dini cuma pingin tau aja."


"Dimas dan keluarganya bukan orang sembarangan Din, berita besar tentang hubungan kalian pasti akan jadi sorotan media, mereka pasti cari tau perempuan seperti apa yang berhasil jadi menantu Adhitama, ibu nggak mau mereka cari tau masa lalu kamu Din, masa lalu pahit yang udah ibu coba kubur dalam dalam," batin ibu Dini dalam hati.


"Kalau ibu nggak mau jawab nggak papa kok, tapi ibu pasti tau siapa keluarga Dimas dan pernikahan kita nanti mau nggak mau akan diketahui banyak orang."


"Iya, ibu tau, itu juga udah jadi kesepakatan ibu dengan keluarga Dimas," ucap ibu Dini.


"Apa ada sesuatu yang ibu sembunyikan dari Dini?"


"Ini cuma masalah waktu Din, ibu belum siap kalau akan banyak orang yang cari tau tentang keluarga kita," jawab ibu Dini beralasan.


Dini hanya tersenyum lalu memeluk ibunya.


Biiiipp biiipp biiipp


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.


"Dimas?" tanya ibu Dini.


"Iya Bu, Dini masuk dulu ya!"


Ibu Dini hanya tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya.


Di dalam kamar, Dini segera berbaring di ranjangnya lalu menerima panggilan Dimas.


"Halo Dimasku, kangen banget ya sama aku?"


"Banget, pingin kesana tapi kerjaanku masih numpuk."


"Selesaiin dulu kerjaan kamu, fokus sama kerjaan kamu biar cepet selesai dan pindah ke sini!"


"Kamu tetep nungguin aku kan walaupun aku lama di sini?"


"Pertanyaan macam apa itu? kamu ragu sama aku?"


"Enggak gitu, aku....."


"Aku akan nunggu kamu selama apapun kamu di sana, jadi fokus aja sama pekerjaan kamu dan jangan terlalu memikirkan hal hal yang negatif tentang hubungan kita, oke?"


"Gitu dong, materi meeting kamu gimana? udah selesai?"


"Belum sayang, udah ngerjain setengah tapi setelah aku cek masih banyak yang harus di revisi."


"Fokus Dimas, fokus!"


"Iya sayang, iyaaaa....."


Tak terasa, Dimas dan Dini saling melepas rindu melalui sambungan ponsel mereka sampai larut malam.


**


Hari berganti, Adit masih cuti dan masih berada di rumah sang mama.


"Sayang, kapan kamu pindah ke sini?" tanya sang mama pada Adit.


"Mungkin weekend nanti ma, banyak barang barang Adit di sana."


"Kamu bawa pulang ke sini semuanya, kamu nggak akan tinggal di apartemen lagi kan?"


"Iya ma, Adit kan udah janji juga sama papa," jawab Adit.


"Bagus!"


Tooookk tooookkk tooookkk


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, mama Siska pun segera keluar.


"Rudi, bukannya kamu belum mulai kerja ya!"


Adit yang mendengar suara sang mama menyebut nama Rudi pun segera berlari keluar.


"Saya mau....."


"Adit, Adit yang panggil Rudi ma," ucap Adit sebelum Rudi menyelesaikan ucapannya.


"Oh, kamu mau keluar?" tanya mama Siska pada Adit.


"Enggak kok ma, Adit cuma ada perlu aja sama Rudi, iya kan Rud?"


"Iii... iya pak," jawab Rudi.


"Ayo masuk, jangan di luar!" ajak sang mama.


"Nggak perlu ma, Rudi juga buru buru pulang kok, iya kan Rud?"


"Iya Bu, saya nggak bisa lama lama," jawab Rudi yang mengerti kode dari Adit.


Adit lalu menarik tangan Rudi untuk diajak keluar ke halaman rumah.


"Hampir aja, kamu belum bilang apa apa kan sama mama?" tanya Adit pada Rudi dengan berbisik.


"Belum pak, aman, ibu pasti suka sama hadiah ini!"

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Ini perhiasan kejutan buat mamanya pak Adit kan?"


"Oh, iya... iya hehe..." jawab Adit canggung.


"Ini pak, pak Adit cek dulu," ucap Rudi sambil memberikan sebuah kotak perhiasan yang di dalamnya ada sebuah kalung yang sudah Adit pesan sebelumnya.


"Bagus kan Rud?"


"Bagus pak, yang bikin spesial karena ini cuma ada satu di dunia, desain nya nggak ada lagi yang kayak gini, sesuai permintaan pak Adit."


"Terima kasih banyak Rud, kamu boleh pulang sekarang!"


"Baik pak, saya permisi!"


Adit hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali masuk ke dalam rumah. Saat hendak memasukkan kotak perhiasan itu ke dalam jaket yang dipakainya, Andi tanpa sengaja menabrak Adit di dekat pintu, membuat kotak perhiasan itu jatuh dan menggelinding ke arah Andi. Andipun mengambil kotak perhiasan itu.


"Punya lo?" tanya Andi.


"Iya lah," jawab Adit sambil merebut kotak perhiasan itu dari tangan Andi, namun Andi lebih cepat menghindar.


"Buat siapa? bukannya lo nggak punya pacar?" tanya Andi.


"Bukan urusan lo, balikin nggak?"


"Gue boleh tau isinya nggak?"


"Enggak, balikin Ndi!" jawab Adit sambil berusaha merebutnya dari Andi, namun Andi selalu berhasil menahannya.


"Gue liat isinya bentar abis itu gue balikin, pelit banget sih lo!"


"Oke oke, tapi abis itu balikin, please, itu penting banget buat gue!"


"Iya iya bawel," balas Andi sambil membuka kotak perhiasan di tangannya.


Sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati dengan permata merah di tengahnya itu tampak begitu cantik. Jika diperhatikan lebih detail lagi, di dalam permata merah itu ada sebuah permata yang lebih kecil dengan warna yang lebih terang.


Saat Andi masih terpana dengan apa yang dilihatnya itu, Adit segera merebutnya dari tangan Andi.


"Ini sih nggak mungkin buat mama, buat siapa? pacar lo?" tanya Andi.


"Nggak usah banyak tanya, anak kecil nggak perlu tau!"


"Apa mama tau kalau lo punya pacar?"


"Lo ngomong apa sih, gue kan nggak bilang kalau gue punya pacar!"


"Hmmm.... berarti lo sembunyi sembunyi dari mama ya?"


"Apaan sih, nggak jelas banget!" balas Adit lalu merebut kotak perhiasan yang masih Andi pegang lalu memasukkan kalungnya ke dalam kotak itu dan menyimpannya ke dalam saku jaket.


Andi hanya tersenyum kecil karena ide jahilnya tiba tiba saja muncul.


"Maaa, mama....." panggil Andi dengan berteriak.


Aditpun menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Andi.


Andi hanya menunjukkan senyum manisnya pada Adit yang menatapnya dengan tatapan singa yang siap untuk memangsa.


"Ma, Adit udah punya pa......"


"Stoooppp, lo gila!" ucap Adit yang langsung membungkam mulut Andi dengan tangannya.


"Mmmmm.... mmmm......"


"Ada apa ini? kalian bertengkar lagi?" tanya mama Siska yang berjalan ke arah Andi dan Adit.


Adit hanya tersenyum dengan masih membungkam mulut Andi.


"Nanti malem gue anter ke rumah Dini, terus gue tinggal dan gue jemput lagi terserah lo sampe jam berapa, tapi jangan bilang mama soal perhiasan itu, oke?" ucap Adit dengan berbisik.


Andi lalu menganggukkan kepalanya dan seketika Adit melepaskan tangannya yang membungkam mulut Andi.


"Kalian kenapa lagi sih? berantem lagi?" tanya mama Siska yang kini sudah berada di hadapan Andi dan Adit.


"Enggak kok ma, kita cuma lagi bercanda aja hehe...." jawab Andi berbohong.


"Bener?" tanya mama Siska pada Adit.


"Iya ma, kita cuma lagi belajar jadi kakak dan adik yang baik, iya kan Ndi?" jawab Adit sambil merangkul pundak Andi.


"Iya, hehe....." balas Andi dengan tersenyum penuh paksaan.


"Mama nggak mau ya kalau liat kalian berantem!"


"Mama tenang aja, kita kan bukan anak kecil lagi!" ucap Adit.


"Ya udah, mama mau ke taman bunga dulu!"


Andi lalu segera melepas tangan Adit dari pundaknya saat mama Siska sudah pergi. Aditpun segera menjauh dari Andi.


"Geli banget," ucap Andi lalu berlari ke arah kamarnya di lantai dua.


"Gue juga terpaksa kali!" balas Adit yang mengikuti Andi naik ke lantai dua untuk masuk ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Andi.


Tanpa mereka tau, ada beberapa asisten rumah tangga yang memperhatikan Andi dan Adit sedari tadi.


Sejak kedatangan Andi, beberapa dari mereka semakin penasaran dengan kepribadian Andi yang sebenarnya, membuat mereka sering memperhatikan Andi secara diam diam.


"Iiihh, lucu banget sih mas Andi sama mas Adit," ucap salah satu dari mereka dengan berbisik.


"Iya, kayak kucing sama tikus!"


"Tom and Jerry maksudnya?"


"Iya itu, tapi dua duanya cakep, jadi bingung pilih yang mana hehe..."


"Aaahhh, indahnya dunia tiap hari bisa kerja sambil liat pangeran pangeran cakep!"


"Udah udah, jangan kelamaan halu, ayo balik kerja!"

__ADS_1


Merekapun kembali berpencar untuk melakukan pekerjaan mereka masing masing.


__ADS_2